48 Months Agreement With CEO

48 Months Agreement With CEO
Pijat



Hampir semalaman Jason tidak dapat tidur. Berkali-kali dia menghubungi Lia, tapi gagal. Handphone Lia sudah dimatikan. Jason menjadi resah. Dia berjalan bolak balik di dalam kamar hotel bagaikan setrikaan.


Jason bahkan berkali-kali meminta butler Bernard untuk mencari tahu keadaan Lia. Pria tua yang masih merasakan sakit di sekujur tubuhnya, akibat berjuang keras di lomba renang, akhirnya harus bolak balik naik turun tangga, hanya untuk mengetuk pintu kamar nona Lia.


Butler Bernard yang kelelahan akhirnya duduk di kursi yang berada di lorong. Kakinya sudah pegal semua. Dia kehabisan tenaga naik turun tangga, hanya karena urusan percintaan tuan muda nya. Dia bahkan menggerutu marah, karena Lia tidak juga mau membuka ointu kamar dan menjawab panggilannya.


Sayang sekali, hal yang tidak di ketahui butler Bernard adalah, Lia tidak tidur di kamar utama. Lia yang sedang sebal pada Jason, pindah kamar dan memilih tidur bersama Emely. Kamar Emely berada di lantai bawah. Di sana Lia dengan antusias mendengarkan cerita Emely, bagaimana dia bisa terdampar di Prancis dan memiliki butiq kecil itu.


Sungguh malang sekali nasib butler Bernard, harus menanti di depan pintu kamar yang kosong hingga tertidur. Di pagi hari dia dibangunkan oleh pelayan wanita. Akibat tertidur di kursi dia tidak dapat menggerakan tubuhnya.


Disaat pagi hari ketika Lia bangun dari tidur dan hendak kembali ke kamarnya untuk mandi. Dia terkejut melihat butler Bernad, sedang berjalan dengan di topang oleh dua orang pelayan pria. Lia merasa kasihan dan heran melihat keadaan butler Bernard.


"Apa yang terjadi pada mu butler Bernard?" tanya Lia dengan heran.


"Nonaaaa... nonaaaa. Anda darimana?" Keluh butler Bernard.


"Aku tidur di kamar Emely. Memangnya kenapa?"


"Ya Ampunnn. Tuan muda semalaman mencari anda. Dia berkali-kali meminta saya untuk menghubungkan telphone dengan anda. Saya sampai harus naik turun tangga semalaman. Ada apa dengan handphone anda?" Keluh butler Bernard dengan kesal. Orang yang membuatnya tersiksa semalaman ternyata berada di lantai bawah.


"Aku matikan." Jawab Lia acuh.


"Punya Handphone dimatikan, tidak ada handphone bingung mencari pinjaman." Kata butler Bernard lagi dengan kesal.


"Ih sewot banget sih. Aku lagi malas bicara dengan Jason." Jawab Lia judes.


"Tolong hidupkan handphone anda, nona. Tuan pasti akan mencari anda lagi." Pinta butler Bernard.


"Katakan pada Jason, handphone ku rusak. Katakan pula pada dia, aku masih terkurung dalam sangkar emas dan makan sangat banyak, jadi tidak perlu memperduliakanku." Kata Lia dengan acuh.


"Butler..." panggil Lia lembut.


"Ya nona?" Tanya butler Bernard dengan heran mendengar suara lembut Lia, menjadikan nya was-was.


"Pergilah berlibur. Kau bisa ke kota dan pergi ke spa. Minta lah mereka melayani mu dengan baik. Kau perlu di pijat oleh seorang profesional." Saran Lia.


"Tidak nyonya, saya baik-baik saja." Tolak butler Bernard.


"Jangan khawatir. Aku tidak akan kemana-mana. Kau bisa memastikan pada seluruh pengawal untuk memperketat penjagaan. Tapi, kau benar-benar perlu pijat. Kau harus kuat dan tangguh lagi untuk menghadapi diriku." Ujar Lia dengan bersungguh-sungguh.


Butler Bernard tidak percaya jika Lia begitu perhatian padanya.


"Tapi nona..." dia masih ragu.


"Jason tidak ada di rumah. Pergilah. Sayang sekali aku tidak memiliki uang untuk kuberikan padamu. Tapi, kau pasti memegang uang untuk biaya operational rumah ini kan? Tuliskan di catatan keuanganmu jika kau menggunakan nya sedikit untuk pijat, atas ijinku." Ujar Lia lagi dengan serius.


Butler Bernard menangkap kesungguhan dari perkataan Lia. Dan dia merasa senang mendapatkan perhatian itu. Butler Bernard terharu.


"Baiklah nona jika itu kemauan anda." Ujar Butler Bernard dengan patuh.


Lia tersenyum. Dia kembali berjalan menuju ke kamar nya di lantai atas. Lia merasa lega, karena berhasil membuat burung gagak tua itu mengambil waktu untuk dirinya sendiri. Lia merasa kasihan melihat kepala pelayan tua yang sudah menjaga Jason itu, tampak lemah.


Sebenarnya semua yang Lia katakan pada butler Bernard adalah tulus. Tetapi saat itu juga, seklebat rencana nakal terlintas di pikirannya ketika mengingat, jika butler Bernard tidak akan berada di mansion sepanjang siang hari ini.


Dan senyuman di wajah Lia tampak menyeringai lebar. Lia sudah tak sabar menanti keberangkatan butler Bernard. Lia sudah tak sabar mengajak Emely untuk melancarkam aksi gila nya. Aksi yang pasti disukai oleh sekelompok wanita. Aksi untuk membalas Jason.


...💖💖💖💖💖💖💖💖...