
"Ini buatmu." Jason datang dengan membawa dua kantong besar untuk Lia.
Dengan senang hati Lia menerima pemberian Jason. Sangat jarang Jason memberi kejutan kepadanya. Setiap harinya yang di bawa hanya majalah dan berbagai jenis kue, hingga Lia enggan menyentuh kue tersebut. Terlalu banyak lemak dengan sedikit aktifitas.
Lia setiap harinya juga harus menyambut kedatangan Jason, memberi ciuman selamat datang dan menggandeng pria itu menuju kekamar mereka. Sekarang dia lebih tersenyum ceria mendapatkan hadiah yang lain dari biasanya.
Dengan tidak sabar Lia membuka kantong belanja tersebut. Dari kantong nya saja tampak mahal, pasti isi nya luar biasa. Ketika semua isi di tuangkan di atas meja. Lia memandang kecewa.
Isinya adalah tshirt, celana kulot selutut, trainning panjang dan baju diving.
"Apa ini?" tanya Lia tak mengerti.
"Kaos dan boxer untuk kau lari di taman. Dan baju diving itu untuk kau berenang." Ujar Jason santai.
Lia memandang kesal dengan baju renang yang dibelikan oleh Jason. Lia memang tidak pernah suka mengenakan bikini atau pun baju renang segitga, dia masih memiliki rasa malu. Tetapi berenang di rumah sendiri dengan pakaian renang yang sangat tertutup begini, ya... mau bagaimana lagi.
"Kau tidak suka?" tanya Jason.
"Ehee.... suka." ujar Lia dengan senyum dipaksakan.
"Bagus. Lalu ... mana hadiahku."
"Hadiah?" Lia tidak mengerti.
"Aku tidak memiliki uang dan bahkan kau tidak pernah membiarkan diriku pergi keluar dari mansion ini." Sambung Lia lagi dengan sedih.
Jason membelai rambut Lia dan merapikan anak-anak rambut yang berjatuhan di kening gadis itu. Dia tahu apa yang diinginkan Lia, hanya saja Jason tidak mau memberikannya sekarang. Jason takut kebebasan akan membuat Lia meninggalkan dirinya.
"Hadiah untukku hanya dirimu," ujar Jason dengan lembut.
Pria tampan itu yang begitu mencintai wanita dihadapannya, ia mendaratkan ciuman lembut di bibir Lia. ******* penuh cinta dan memaksa Lia untuk membuka bibir manisnya.
Wajah Lia menegadah seriring dengan tangan Jason yang memegang dagunya. Kedua tangan Lia terkulai lemas di sisi tubuhnya. Mata Lia terpejam. Dia mulai terbiasa dengan ciuman Jason dan dia mulai menyukainya, hanya saja...
Lia masih menutup dirinya.
Lia mendorong tubuh Jason menyudahi ciuman. Lia menyeka bibirnya yang basah akibat ******* Jason dan memalingkan wajah. Lia mengganti pakaian nya di closet dengan mata berlinang. Dia menyembunyikan air matanya dari Jason.
Jason yang sudah terbiasa dengan penolakan Lia, tidak mengetahui jika gadis itu menyembunyikan tangis nya. Jason tidak menyadari kegundahan hati Lia
"Lia," Jason menghampiri Lia dan memeluknya dari belakang.
Gadis itu sudah berganti pakaian olah raga, dengan sweater yang membungkus tubuhnya tertutup. Jason meletakan dagu nya di pundak Lia. Ia mengecup lembut leher Lia yang jenjang.
"Bikin anak yukk," pinta Jason dengan suara serak.
"Aku mau berolahraga," ujar Lia menolak dengan tersenyum manis.
Lia melepaskan dirinya dari pelukan Jason dan meninggalkan kamar.
Jason termangu. Dia hanya bisa memandang pasrah pada burung rajawalinya yang pasti sangat kecewa . Lia turun ke arah taman untuk berlari. Sedangkan Jason memutuskan untuk masuk ke ruang fitnes. Jason memerlukan olah raga untuk meredam keinginan rajawali, selain untuk meregangkan otot dan menambah staminanya.
Lia seringkali menolak berolah raga bersama dengan Jason. Berada satu ruangan dengan Keringat yang membasahi otot Jason, sudah cukup membuat dadanya terasa pengap.
Lia berlari seperti biasanya dengan atribut lengkap. Tertutup. Dan seperti yang dia duga, begitu dirinya masuk ke taman belakang, sebagian besar pekerja taman langsung keluar, tanpa menatap dirinya.
Awalnya Lia mengira jika mereka tidak menyukai dirinya. Dan mulai mengambil jarak. Mungkin mereka menganggap dirinya hanya parasit bagi tuan muda. Tapi terakhir baru dia sadari jika semua itu ulah Jason.
Semenjak insiden, Lia berenang dengan menggunakan sports bra. Semua pelayan, otomatis sudah tahu diri. Terutama pelayan pria, mereka akan pergi menjauh dimana ada Lia.
Dan... Lia yang mudah bergaul menjadi terbiasa menyendiri.
Lia menghentikan putaran berlarinya, ketika dia melihat beberapa pelayan berpakaian bebas dan tertawa ceria.
Lia menghampiri mereka.
"Cicil, Adonia, Marsela, kalian mau kemana?" Tanya Lia sambil mendekati mereka.
"Kami..." Cicil menoleh ragu kepada Adonia dan Marsela yang juga bingung.
"Ayo katakan." Desak Lia.
"Kami mau keluar, nona." Ujar Cicilia akhirnya.
"Keluar kemana? Kenapa membawa keranjang. Apa isinya?" Lia membuka keranjang yang dibawa mereka tampak berisi roti, buah dan beberapa botol minuman.
"Kami.... " kembali mereka ragu.
Saat itu terdengar panggilan beberapa pelayan pria.
"Ayooo berangkat keburu gelap."
Dan pelayan pria yang berteriak, tercekat melihat nona Lia ada didekat pelayan wanita. Sontak dua orang pelayan pria itu menundukan kepalanya.
"Katakan, kalian mau kemana!!!. Ujar Lia dengan tegas.
"Kami mau ke danau nona." Sahut Cicil dengan terpaksa.
"Danau?" Mata Lia berbinar.
Ketika pelayan wanita itu mengangguk dengan ragu, sementara pelayan pria saling berpandangan.
"Apakah jauh?" Lia masih penasaran.
"Tidak nona, cukup berjalan kaki saja." Kata Adonia.
"Aku ikut!" Seru Lia dengan gembira.
"Tidak!" Jawab kelima pelayan itu serentak. Kemudian mereka serentak pula menundukan kepala nya, karena terkejut dengan suara mereka sendiri.
"Kenapa tidak? Ayoo berangkat aku ikut." Lia memaksa.
"Tapi nona..."
"Ayo berangkat. Tidak ada tapi- tapi an. Ayooo... " Mata Lia berbinar.
Lia menyeret tangan sisil dan Adonia, memaksa mereka untuk bergerak. Baru saja sampai di halaman, suara butler Bernard menghentikan.
"Nona mau kemana?"
"Hai butler, aku mau ikut mereka ke danau." Ujar Lia dengan gembira.
"Apa tuan Jason mengijinkan?" Tanya Butler Bernard tanpa expressi.
Lia lemas.
"Hmmm... butler saja nanti yang bilang yaaa." Rajuk Lia.
Dia harus keluar sebelum Jason mengetahuinya. Lebih baik menerima amarah Jason nanti daripada tidak berhasil keluar.
"Tidak. Nona harus meminta ijin terlebih dahulu." Tegas butler Bernard.
"Baiklah," ujar Lia lesu.
"Maaf, aku tidak jadi ikut kalian. Kalian pergilah," ujar Lia dengan lesu.
"Maafkan kami nona." ucap Adonia dan Marcela serempak.
Lia mengangguk.
"Bukan salah kalian. Nasibku saja yang tidak baik." sahut Lia lesu.
Ke lima pelayan itu saling berpandangan dengan rasa bersalah. Mereka kemudian pergi menuju gerbang. Gerbang besar itu terbuja perlahan.
"Ayo butΔΊer kita masuk," ajak Lia.
Butler Bernard mengangguk. Dia melangkah masuk kedalam mansion. Lia menoleh ke arah pintu gerbang. Kelima pelayan sudah mulai keluar. Dan perlahan gerbang mulai ditutup.
Lia menimbang sesuatu. Sejenak dia ragu antara keinginannya untuk berlari menembus pintu gerbang itu dan bersenang-senang dengan para pelayan di danau, atau diam bagaikan seorang putri yang dipingit.
Dan detik selanjutnya. Terdengar suara Jason menggelegar, membuat semua jenis burung, kupu, serangga bahkan semut yang mendengarnya lari ketakutan.
"Liaaaaaaaaaaaaaaa!!!!!!!!"
...ππππππππππ...
Apa yang terjadi ya ?
Jason terkena jebakan Lia di ruang fitnes
Lia berhasil keluar dari gerbang
Lia tidak berhasil keluar karena Jason sudah menangkap nya terlebih dahulu.
Ayooo bagaimana menurut kalian???
Author ucapkan Selamat Tahun Baru yaaaa
Semoga semuanya selalu sehat dan selalu bahagia.
Tetap Semangat, Selalu sehat dan Jangan lupa Bahagia.