48 Months Agreement With CEO

48 Months Agreement With CEO
Penculikan Lia



"Aaa ...." Lia menyuapkan sepotong roti yang sudah dibaluri madu untuk Jason. Pria itu mengunyah perlahan.


"Sudah tidak mual?" tanya Lia dengan penuh perhatian. Dia merasa kasihan melihat suaminya pagi ini sudah tiga kali mengeluarkan isi perutnya.


"Sudah baikan," jawab Jason dengan meraba perut kosongnya.


"Aku campur dengan pisang ya?" tanya Lia saat akan menyiapkan bubur gandum manis.


"Iya," Jason mengangguk lemah.


Lia menambahkan susu pada bubur gandum, mengaduknya dan menambahkan pisang juga walnut. Dia lalu menuangkan bubur gandum itu ke atas dua mangkok kecil.


"Makanlah, semoga bisa menenangkan perutmu," ucapnya dengan lembut.


"Trimakasih." Jason mulai menyuapkan bubur gandum itu di mulutnya.


Mereka berdua menikmati makan pagi berduaan. Hari ini, Jason akan kembali ke kantor dan tentunya segudang aktifitas sudah menanti.


Dia akhirnya bisa menikmati sarapan pagi dengan normal setelah mengeluarkan semua isi perutnya karena aroma strawberry.


"Aku mau mandi dulu, ya." Jason beranjak dari meja makan.


"Tunggu! Kemarikan kaosmu," pinta Lia.


"Kaos ini?" Jason menunjuk pada kaos putih polos dengan bentuk kerah leher V.


Lia mengangguk. Jason dengan heran melepaskan kaosnya dan memberikan ke Lia.


"Sengaja ingin melihatku telanjang dada?" ujar pria itu menggoda.


"Ih, sudah sering kau nodai mataku," sahut Lia sambil memalingkan wajahnya.


"Yakin tidak ingin saling menodai?" Jason melembutkan suaranya.


"Buruan mandiii, masa Ceo terlambat."


"Aku kan pimpinannya bukan masalah." Jason maju mendekati Lia dan dengan sengaja menyodorkan dadanya ke wajah wanita itu.


"Jason. Jangan mulai lagi!" protes Lia manja.


"Mulai apa ...."


"Mau aku gigit?" Ancam Lia dengan satu alis di angkat.


"Boleh. Di sini ya. Beri tanda merah." Jason menunjukan pada dada sebelah kirinya.


Lia yang sudah gemas, benar-benar menggigit dada suaminya.


"Aduh! Sakit!" teriak Jason terkejut. Dia tidak menyangka jika Lia akan benar-benar menggigit dirinya.


"Sakit ya? Mau lagi?"


Lia terkekeh melihat tanda gigi nya di dada Jason.


"Tidak!"


"Hahhah, ayooo gigi ku masih gemas." Lia menggerak-gerakan giginya.


Melihat bibir Lia yang bergerak lucu mengikuti gigi nya, Jason menjadi gemas. Ia langsung mencium bibir yang menggoda itu. Tautan diantara mereka berlangsung beberapa saat.


"Astaganagaaa matakuuu!" teriak kaget Adonia yang melihat tuan dan nyonyanya sedang berciuman, dengan tangan Lia di dada Jason dan tangan Jason menyusup masuk ke pakaian Lia.


Teriakan itu cukup mampu menghentikan aktiitas pagi mereka. Adonia segera kembali ke belakang dengan wajah yang memerah.


"Sudah sana, mandi." Lia merasa malu.


"Adonia pengganggu!" gerutu Jason kesal.


"Kerjaaa ... waktunya kerjaaa!!!"


"Baik. Baik." Jason dengan malas menuju ke kamar mandi. Dia masih kesal saat Lia mendahului dirinya mandi pagi ini.


Sepeninggal Jason, Lia memeluk dan menciumi kaos pria itu. Kegemarannya selama kehamilan ini, adalah menghirup aroma tubuh Jason. Kaos ini begitu lembut menggantikan tubuh pria itu.


"Nyonya kecil," bisik Adonia malu.


"Ya?"


"Bajunya mau di cuci?"


"Jangan dulu ah."


"Ooo oke." Adonia membereskan meja makan dengan senyum-senyum sendiri.


Suara bel terdengar, membuat Lia merasa heran. Siapa orang yang akan berkunjung di Penthouse sepagi ini? Lia melihat, Frans sudah berjalan ke arah pintu.


Lia pagi ini sudah rapi dengan celana panjang ketat dengan karet pinggang yang elastis dan sebuah sweater tipis. Dia tidak mengenakan daster, mengingat ada orang lain di Penthouse.


"Siapa Frans?" tanya Lia dengan heran. Frans setelah membuka pintu tak kunjung mencari dirinya. Merasa tidak ada jawaban Lia beranjak dari meja makan, menuju ke ruang tamu.


"Frans! Siapa kalian?!" teriak Lia dengan kaget ketika melihat dua orang bertubuh besar menodongkan senjata ke arah pengawal pribadi Jason.


"Apa mau kalian?" teriak Lia panik, dia berjalan mundur teratur hendak kabur mencari Jason, namun langkahnya terhenti ketika seorang pria lain sudah berada di belakangnya.


"Silahkan duduk, Nona. Tuan kami sebentar lagi datang. Dia hendak berbicara dengan anda," ujar pria yang menahan langkah Lia.


"Jangan ganggu dia!" teriak Frans dengan keras.______"Lari nyonya, cari tuan muda!" Frans dengan tegas memerintahkan Lia.


"Jangan gegabah, Nona. Tindakan anda menetukan keselamatan pengawal kesayangan tuan muda." Ancaman pria itu membuat kaki Lia membeku.


Wanita itu kemudian memilih duduk dengan meremas kaos Jason. Melihat situasi yang tidak menguntungkan, Lia berharap Jason tidak akan muncul. Dia takut pria berjas dan kacamata hitam akan menyakiti suaminya.


Beberapa saat menunggu, seseorang yang di tunggu datang. Pengawal tersebut dengan hormat menunduk ketika pria itu lewat. Dengan wajah angkuh, pria itu duduk di hadapan Lia.


"Tu_____an besar," ucap Lia dengan gagap.


"Hemmm. Kau masih mengingat diriku, berarti kau masih mengingat perkataanku. Ini sudah dua minggu." Pria itu dengan tenang berbicara pada Lia sambil mengetukan jarinya di lengan sofa.


Lia diam menatap pria setengah baya dihadapannya. Dia tentu saja mengingat dengam jelas tenggat waktu empat belas hari yang diberikan pria itu.


"Tinggalkan Jason. Dalam empat belas hari, aku akan menjemputmu. Bawa pergi jika anak itu perempuan dan berikan padaku jika bayi itu laki-laki. Empat puluh delapan juta dolar akan aku berikan padamu."


Lia meraba perutnya yang baru sedikit membuncit. Bahkan semenjak masih janin, bayi ini sudah menghadapi tantangan besar. Ujian menghadapi kakeknya sendiri.


"Jadi ... kau sudah mengetahui jenis kelamin bayi dalam kandunganmu?" Suara dingin pria itu kembali terdengar.


Lia meremas kaos Jason dan menggeleng.


"Apa maksudmu?!" Suara dingin itu meninggi.


"Laki-laki atau perempuan, anak ini adalah anakku. Anak Jason. Keturunan Madison. Anda tidak bisa menyangkal hal tersebut, Tuan Besar yang terhormat," ucap Lia dengan tegas dan berani.


"Benar. Aku adalah wanita materialistis. Aku tidak cukup hidup dengan kekayaan yang anda tawarkan. Aku lebih memilih cinta Jason daripada uang yang anda tawarkan, Tuan Besar," ucap Lia dengan tegas.


Tawa tuan besar Darrel Madison meledak dengan keras. Lia yang melihatnya menjadi kebingungan. Dia tidak mengerti kenapa pria tua itu harus tertawa.


"Ada apa ini?" Jason yang sudah rapi turun dari tangga lantai atas. Dia segera mempercepat langkah kakinya menghampiri Lia.


Sebelum sempay Jason mendekati Lia, pengawal tuan besar lainnya sudah mendekati Lia dengan menodongkan pistol. Langkah kaki Jason tercekat. Dengan mata khawatir dia mandang Lia yang mulai ketakutan. Jason sangat mengkhawatirkan istri dan anaknya.


"Apa maksud semua ini, Daddy?!" teriak Jason2 dengan penuh emosi.


"Wanita itu, sudah tidak mematuhiku," ucap Darrel Madison dengan tenang


"Lepaskan dia! Kau silahkan berurusan dengan diriku!" Jason dengan geram menghampiri ayahnya dan mencengkeram kerah baju priaa tua itu..


"Kau tidak akan berani melakukannya," ujar tuan besar terkekeh sambil menoleh ke arah Lia.


Jason yang menyadari taruhannya, mengendorkan cengkeraman tangamnya di kerah tuan besar.


"Apa mau mu, Dad?" tanya Jason dengan geram


"Membawa pergi wanita itu dan menempatkan dia di tempat yang pantas."


"Dia istriku! Dia mengandung keturunanmu!" Jason menggeram penuh amarah. Otot-otot di dahi dan rahangnya tampak mengeras.


"Aku tidak.pernah mengakuinya. Dia bukan wanita yang pantas untukmu!" sahut Darrel Madison tak kalah tegas.


"Daddy!"


"Seharusnya kau menikahi salah satu anak orang yang berpengaruh, makan aku tidak akan mengusik hidupmu," dengan tenang Darrel Madisom menepuk pundak Jason.


"Lepaskan dia! Jika yang kau inginkan adalah kedudukanku, aku akan menyerahkannya. Aku akan melepaskan nama Madison. Lepaskan istri dan anakku!" teriak Jason penuh amarah.


"Kau hendak menukar kedudukanmu, hak lahirmu hanya untuk wanita rendahan ini?" dengan sinis tuan besar menuding Lia.


"Dia bukan wanita rendahan. Dia wanita pilihanku, wanita yang mencintaiku dengan tulus!" Jason menyanggah semua tuduhan tuan besar.


"Tampaknya aku harus mencabut akar busuk ini dari dalam hatimu. Kau akan semakin lemah dengan wanita seperti dia disampingmu."


Tuan besar memberikan tanda kepada pengawalnya untuk membawa Lia pergi.


"Hentikan! JANGAN SENTUH ISTRIKU!" teriak Jason dengan.penuh penekanan.


Sementara Frans berusaha mencari celah dari dua pengawal yang sudah melumpuhkan dirinya. Dia merasa marah, karena tidak bisa membantu tuan mudanya.


"Jason ...," panggil Lia dengan lirih. Wanita itu merasa terharu mendengar perkataan Jason yang rela melepaskan semua atribut kekayaan demi dirinya. Lia sungguh tak menyangka jika pria itu sanggup melakukannya.


"Lia ...," panggil Jason dengan lirih melihat ke arah istrinya yang ditarik paksa keluar dari penthouse.


"Darrel Madison! Lepaskan istri dan anakku! Atau aku akan membencimu seumur hidupku dan mencari cara untuk menghancurkanmu!"


"Bencilah aku dengan sekuat tenagamu! Maka kau akan lebih kuat dan menjadi penguasa dengan.kebencianmu!" Darrel Madison tertawa keras menantang Jason.


"Jangan bawa dia keluar!" teriak Jasin histeris.


Saat itu dari arah dalur, Adonia dan Doreo datang. Adonia memukul salah satu kepala pengawal yang melumpuhkan Frans dengan penggorengan, sementara Doreo memukul pengawal lainnya dengan penyedot debu.


Perkelahian terjadi. Frans yang berhasil bebas mulai menyerang pengawal yang memegang Lia dan Jason bergerak maju mendekati Lia. Namun sayang, ternyata di luar Penthouse tuan brsar sudah membawa tujuh pengawal lainnya.


Perkelahian antara Jason, Frans dan Doreo melawan tujuh pengawal profesional, benar-benar tidak seimbang.


"Jasonn ... hentikan Tuan Besar. HENTKAN!" teriak Lia histeris melihat bagaiaman pengawal-pengawal itu memukuli Jason.


"Sudah cukup!" Perkataan tuan besar membuat para pengawal menghentikan pukulan kepada Jason, Frans dan Doreo.


"Bawa dia pergi!" perintah tuan besar kepada pengawalnya yang memegang Lia.


"Jangan bawa dia. Jangan sakiti istriku!" teriak Jason.


"Hiduplah dengan kebencian! Maka kau akan menjadi yang terkuat di dunia ini!" ujar Darrel Madison dengan tertawa lantang.


Pria itu kemudian mengikuti pengawalnya menuju ke atap bangunan mewah tersebut. Langakah Jason terhenti dengan tujuh pengawal yang menghadang.


"Minggirrrr!" teriaknya penuh amarah.


Setelah beberapa menit pengawal itu menyingkir. Mereka tampaknya memberi jedah hingga tuan besar bisa tiba di atap. Saat Jason melewati pengawal tersebut, mereka membungkuk hormat sebelum akhirnya menyusul.


Di lantai atas, Lia diseret menjuku ke helikopter yang sudah menanti wanita itu. Tuan besar sudah naik terlebih dahulu dengan tenang. Sementara Lia berkali-kali memberontak, meskipun usahanya sia-sia.


Saat dia sudah dekat dengan helikopter, terdengar teriakan Adonia.


"Jangan bawa nyonya kecilll. Nyonyaaaaa. Bawa aku bersamanya tuan besarrr ...." Adonia berlaro dengan kencang menyusul Lia yang diseret paksa menaiki helikopter.


"Adonia, jangan!" teriak Lia disela-sela isakan tangisnya.


"Kemana nyonya kecil pergi, aku akan ikut." tegas Adonia.


Pengawal yang hendak menahan pelayan itu, kemudian membiarkannya naik ke helikopter saat tuan besar memberi tanda untuk membiarkannya.


Baling- baling helikopter berputar semakin keras dan siap mengudara. Saat itu Lia yang duduk di dekat jendela, melihat pintu pemisah tangga dan atap terbuka. Dia melihat Jason lari denga? kencang ke arah helikopter. Di belakang Jason tampak Frans, Doreo dan pengawal tuan besar.


Tapi terlambat, helikopter sudah terbang menjauh. Lia melihat Jason dengan air mata yang menetes deras. Dia masih mendengar dengan jelas teriakan Jason yang penuh amarah


"Liaaa tunggu aku menemukanmu! Darrel Madison aku membencimu! Aku akan membunuhmu!"


Lia memaksakan diri untuk mengerluarkan kepalanya di jendela. Angin yang kencang tidak menutup keiinginannya untuk berteriak. Mungkin ini untuk yang terkahir kalinya.


"Jangan membenci siapapun Jasonnnn. Jangan membenciiii!!!!" teriak Lia.


Lia menagis dengan keras di dalam helikopter, dia terus menggumamkan kata, "Jangan membenci." Lia sungguh tidak ingin Jason tersiksa hidup dalam.kebencian. Adonia yang ada di sisi Lia hanya bisa merangkul nyonya kecil nya dengan menangis.


"Jangan membenci? Hahahha ... Dia sudah hidup membenciku sedari kecil." Tuan besar tertawa mencemooh.


...☕🌹☕🌹☕🌹❤🌹❤☕🌹☕🌹☕🌹...


JANGAN LUPA YA VOTE DAN POIN.


Saya berkarya anda membaca.


Saya menulis anda tekan like.


Saya berpikir anda tinggal beri hadiah poin.


Saya senang anda juga senang, update lancarrr.


Horeee!!!


Pahalanya besar lohhh ❤