48 Months Agreement With CEO

48 Months Agreement With CEO
Pertanyaan



Jason meremas kepalanya yang terasa sangat berat. Satu persatu permasalahan telah dia selesaikan, menyisakan permasalahan pribadi yang belum juga dia selesaikan


Pedro sudah keluar dari perusahaan dan Jason membiarkan pria itu untuk membawa uang yang dia curi. Jason menutup kasus hanya dengan syarat pria itu tidak lagi muncul dalam kehidupannya.


Anak-anak dari adik dan kakak Darrel Madison yang bersatu hendak menggulingkannya pun bisa dia selesaikan dengan baik. Tenti saja dewan pemegang saham akan tetap menaruh harapan padanya. Karena di bawah pimpinan Jason, Madison corp sudah semakin stabil.


Saat ini hanya bagian dari hatinya yang masih kosong. Dia belum bisa menemukan kekasih hatinya. Bahkan Jason sudah meminta pertolongan Andrew Knight, tapi jalan masih buntu.


Kapal-kapal pesiar Andrew yang berlayar di America, Eropa dan Asia terus berupaya mencari Lia. Kapal pesiar yang berkeliling di sekitar kepulauan Caribean pun sudah berusaha mencari informasi.


"Kemana lagi aku harus mencariii!!! Arghhh! Empat bulan yang menyebalkan!" Jason tidak dapat membendung rasa amarah dan kejengkelan dalam hatinya.


"Kakak ...." Laurent yang baru saja tiba di Mansion, segera menghampiri Jason yang sedang termenung di tepi kolam renang.


"Bagaimana keadaanmu?"


"Kau pikir?"


"Tentu saja buruk ... he..he.. aku bodoh ya?" Laurent tertawa hambar.


"Aku belum bisa menemukan mereka Laurent. Dimana pria tua itu membawa belahan jiwaku. Mengapa dia begitu kejam!" Jason mendengus kesal. Dia merebahkan tubuhnya yang penuh dengan keringat di atas rerumputan.


"Dulu aku tidak mengerti cinta dan perasaan kehilangan. Tapi melihatmu seperti ini, aku bisa merasakan betapa sakitnya kehilangan sesuatu yang sangat berharga," ujar Laurent yang lebih menyerupai gumaman.


"Kau, apakah Erick tidak bersikap baik padamu?" Jason menolehkan wajahnya pada Laurent.


"Dia lebih baik saat ini ...," ujar Laurent dalam senyuman tipis.


"Lalu kenapa kau tampak bersedih juga?"


"Aku bersedih karena Lia. Bahkan Lia tidak bisa melihat pernikahan Emely. Dia pasti kecewa sekali. Emely adalah teman pertama yang dia miliki di negara asing ini."


"Kau bukannya menghibur diriku, malah semakin membuatku sedih." Jason berdiri dari berbaring dan berlari kembali beberapa putaran.


"Kakak! Apa kau mendengar kabar ayah beberapa bulan ini?" teriak Laurent ketika Jason berlari melewatinya.


"Dia menghilang. Aku heran, setiap kali aku terbang dimana dia seharusnya berada, tapo tidak dapat menemukannya. Kehadirannya selalu saja diwakilkan." jawab Jason ketika sudah berlari mendekat.


"Dan Mom? Beberpa minggu ini akj kehilangan kontak dengan mom." ujar Laurent mengadu._____" Assistent mom mengatakan jika dia sedang pergi berlibur. Bagaimana bisa dia berlibur saat seperti ini?" tambah Laurent dengan jengkel.


"Berlibur? Frans mengatakan jika dia menemukan aktifitas mencurigakan dari assistent mom. Mereka menyewa sebuah helikopter. Untuk apa? Bukankah dia memiliki helikopter sendiri." Jason merenung kembali dengan duduk di sisi Laurent kembali.


"Kau tahu dia suka membuat sensasi terkadang."


"Helikopter di daerah Florida ...." gumam Jason pada dirinya sendiri.


"Kau tahu di mana terakhir mom berada?" tanya Jason lagi pada Laurent.


"London."


"London?"


"Kenapa, Kak?" Laurent menatap Jason tak mengerti.


"Camila, dimana dia berada?" tanya Jason lagi.


"Wanita itu terbang ke London juga setahuku, tapi dia sudah kembali beberapa hari yang lalu di Paris." Laurent mernatap Jason semakin tidak mengerti.


"Benar. London. Moms pasti meminta Camila untuk kesana. Hanya hal penting yang membuat dia menghubungi Camila. Wanita itu pasti tahu sesuatu. Aku harus menemuinya." Jason berlari meninggalkan Laurent.


"Kakak!!! Mandi dulu! Bauuuu!" teriak Laurent.


Melihat Jason penuh dengan semangat, membuat Laurent merasa gembira. Semua pasti akan baik-baik saja pada akhirnya. Wanita itu memutuskan untuk kembali ke Apartement beriringan dengan mobil Jason yang meninggalkan Mansion.


Apartement yang kecil dengan hanya dua kamar, tapi membuatnya merasa bahagia. Di tempat kecil itu dia memupuk perasaan cinta pada Erick. Di tempat itu pula dia belajar untuk menghargai dan merawat orang lain.


Laurent tiba di apartement, namun dia memutuskan untuk berjalan-jalan terlebih dahulu. Wanita itu menyerahkan kunci mobilnya untuk diparkirkan Valey.


Dia berjalan ke arah taman yang terdapat kolam buatan dengan beberapa pasang angsa. Udara mulai terasa lembab dengan aroma bau tanah yang menyengat. Hujan nampaknya akan segera turun.


Laurent tidak menghentikan langkahnya. Dia ingin merasakan tetesan hujan dengan bebas sekali saja dalam hidupnya. Dia duduk di sebuah kursi taman dibalik sebuah pohon besar. Suasana sangat sepi, mungkin dikarenakan hujan sebentar lagi akan turun.


Tiba-tiba Laurent mendengar suara teriakan seorang wanita dibelakangnya. Dia menoleh hendak melihat apa yang terjadi. Namun apa yang dia lihat adah sesuatu yang tak seharusnya dia saksikan.


Sekali lagi Laurent mengerjapkan matanya, memastikan apa yang dia lihat. Dia berjalan sedikit mendekat untuk memastikan, jika softelns yang dia kenakan tidak rusak.


Wanita itu tertegun. Air matanya mengalir tanpa dapat dia bendung. Batinnya bergejolak dengan segala perasaan marah dan kecewa. Jika saja dia memiliki keberanian dan tidak kalah oleh Cinta. Saat ini dia akan menghampiri Erick yang sedang dipeluk oleh Svetlana.


Rintik hujan mulai turun semakin keras. Membasahi wajah Laurent, berbaur dengan air mata waniya itu. Bibir Laurent bergetar, bahunya terguncang. Matanya dan mata Erick sudah saling bertemu.


Namun, tubuh mereka tampak sama-sama kaku, diam tanpa bergerak. Tampak berusaha untuk saling mendekati. Laurent tak kuasa lagi membendung perasaan dirinya. Gadis itu memutuskan untuk berlari meninggalkan kejadian yang baru saja dia lihat.


"Erick ... ternyata kau sudah memutuskan untuk memilih Svetlana. Aku mengaku kalah, aku tidak akan mengganggu kebahagian kalian. Maafkan aku yang sudah memaksakan pernikahan ini," gumam Laurent disela-sela isak tangisannya di bawah guyuran hujan yang semakin deras.


Tubuhnya menginggil dan sepatu hak tingginya pun sudah patah. Wanita itu memutuskan untuk melepaskan sepatu kesayangannya, seperti dia memutuskan meninggalkan Erick. Dengan tanpa alas kaki. Laurent berjalan menembus hujan.


********


"Camilaaaa! Keluar Kau!" Jason dengan penuh emosi masuk begitu saja ke dalam penthouse, menerobos pelayan yang baru saja membukakan pintu untuk dirinya.


Daniel yang berada di ruang depan segera menghalangi Jason.


"Mau apalagi kau, Kakak?" tanya Daniel.


"Mana Camila?" tanya Jason dengan tegas.


"Aunt! Jika kau tidak bisa memanggilnya mommy, setidaknya panggil dia mom!" teriak Daniel dengan tegas.


Jason yang sedang emosi hanya mengibaskan tangannya.


"Mana mommymu?"


"Ada apa kau mencari dirinya? Tidak cukup sudah kau menyakiti dan menghina kami berulangkali?"


Jason bahkan belum meminta maaf akan tuduhan pada Daniel, ketika pria muda itu datang dengan memberinya bukti sejumlah pengkhianatan Pedro.


"Sudahlah Daniel kau tidak perlu marah pada kakakmu." Camila keluar dari kamarnya menuju ke Jason.


"Kenapa kau berteriak mencariku?" tanya Camila dengan lembut.


"Katakan!" Jason memegang kedua pundak Camila.


"Kakak! Jangan kasar dengan mommyku!" Daniel bergerak maju hendak melepaskan pegangan Jason.


"Tidak apa-apa Daniel. Dia tidak menyakitiku," sahut Camila dengan sabar.


"Apa yang ingin kau tanyakan Jason?" Camila menatap Jason dengan sinar mata keibuan.


"Katakan di mana Darrel Madison saat ini?!"


Wajah Jasin sudah menegang dengan urat-urat di kepala yang menonjol keluar. Dia menatap Camila menanti jawaban yang tepat. Sementara Camila hanya menatap Jason dengan pandangan sendu.


"Jangan membenci Darrel, Jason."


Wanita itu mengatakan dengan suara sendu yang penuh dengan cinta, membuat Jason merasa heran. Sebegitu besarkah cinta Camila hingga bersedia menjadi wanita simpanan pria tua itu?


Jason masih menanti jawaban Camila akan pertanyaanya