48 Months Agreement With CEO

48 Months Agreement With CEO
9. Pingsan



Ini merupakan kisah sequel dari novel


HIDUPKU BERSAMA CEO


Ada beberapa part dari cerita ini yang berada di dalam kisah HIDUPKU BERSAMA CEO.


Disarankan untuk membaca kisah


ANDREW & DIANA di novel


HIDUPKU BERSAMA CEO terlebih dahulu agar tidak bingung dengan beberapa part di novel ini.


OH ya, jangan lupa dukung karya receh ini ya. Bantu share di IG, FB atau WA kalian.


Dan pastinya jangan lupa Rate bintang lima, like, coment dan VOTE.


Terimakasih & Selamat membaca.


LOVE YOU ALL 💗


💗💗💗💗💗💗💗💗💗💗💗💗💗💗💗💗


AUTHOR POV


Lia memandang Jason dan melihat bagaimana pria itu memperhatikan kakaknya dengan tatapan mata yang lembut. Hal itu membuatnya jengkel.


Bukannya dia tidak suka ada seseorang yang baik dan memperhatikan Diana, tetapi masalahnya Diana sudah ada yang memiliki. Ada stampel kepemilikan yang mengikat Diana dengan Andrew yaitu bayi yang ada dalam kandungan Diana.


Dan pria ini, seakan tidak perduli hal itu. Setiap saat muncul tiba-tiba semaunya. Seakan dia sengaja melupakan jikalau Diana adalah milik Andrew. Dia tidak perduli dengan penolakan Diana.


Hal yang menakjubkan adalah ternyata rumah pria ini hanya beradius beberapa ratus meter dari kediaman Andrew. Siapa mengikuti siapa atau hanya kebetulan?


Sekarang Lia menyadari sesuatu, pria ini sengaja menjadikan dirinya alasan. Dia sengaja menahan Lia di mansion milik nya agar memiliki alasan untuk bertemu dengan Diana lagi. Dasar tidak tahu malu!


Meskipun bangga memiliki kakak yang digandrungi oleh konglomerat. Siapa sangka anak yatim dan sudah dibuang oleh ibu sendiri bisa bernasib baik. Walaupun ternyata Andrew masih memiliki ikatan dengan wanita lain, tapi setidaknya ada Jason yang membuka tangan lebar bila terjadi sesuatu. Begitulah pikiran Lia.


Sambil memperhatikan Jason, Lia mengambil minuman yang ada dan menegaknya hingga habis. Dia tidak menyadari kalau minuman itu adalah lemon madu milik Diana.


Selama dua menit tidak terjadi apa-apa. Lia bahkan masih sempat menuangkan segelas air jeruk untuk Jason. Namun kemudian, bertepatan dengan Sandra yang pergi meninggalkan mereka, Lia merasakan perutnya melilit, amat sangat sakit sekali.


Satu tangannya meremas perut dan tangan satunya menggepal dengan keras. Wajahnya tiba-tiba pucat. Dia merasa ingin buang air besar tapi kakinya lemas sekali dan kepalanya pusing.


Sayangnya tidak ada seorang pun yang mengetahui keadaannya. Jason sibuk memandang Diana sedangkan Diana sibuk bermain dengan Conrad.


Dengan tertatih di menuju toilet terdekat, sakit tidak berhenti meskipun dia sudah membuang semua isi perut. Dan dia muntahkan semua mual yang melandanya. Kepalanya pusing badannya lemas. Lia melangkah keluar toilet dengan lemas. Kali ini matanya berkunang-kunang dan dia pingsan.


*


*


JASON POV


Hari ini aku berjanji mengantar Lia pulang. Gadis unik yang semakin menggemaskan ketika dia berbicara. Suaranya yang lantang dan berani, sorot mata tajamnya yang ceria, dan tawa yang lepas tanpa di filter.


Dia memekik kegirangan ketika naik di speed boot ini. Gadis ini, dia bahkan tidak berusaha bersikap anggun, lemah lembut dan sok berwibawa ketika disampingku. Dia memandang diriku setara dengan dirinya.


Tawanya begitu lepas ketika speedboat ini membelah lautan. Dia tidak malu dan gengsi hanya untuk menunjukan kalau ini pertama kalinya baginya mengendarai kendaraan ini.


Sejenak aku melihat dirinya yang begitu polos, melupakan keinginan untuk pulang. Jujur saja, mendengar tawa lepasnya, aku enggan mengantarnya pulang segera.


Aku melihat bagaimana matanya berbinar gembira ketika akhirnya dia sampai di Mansion Andrew dan Diana. Dan dengan lucunya dia menonjok bahu kekarku hanya untuk menunjukan kegemasan, hatinya. Imut. Gadis yang unik.


Biasanya aku dikelilingi oleh wanita kaku yang bersikap bagaikan robort dan wanita gatal yang gemar memamerkan aurat hanya untuk menarik perhatianku. Ah, satu lagi... wanita kalanfan konglomerat yang selalu bersikap lembut tapi dengan kuku dan taring yang mencengkeram.


Melihat mereka yang tampak natural dan ceria, kakak yang khawatir dan memarahi adiknya, adik yang bergelanyut manja, juga keramahan yang tidak dibuat- buat, membuat ku berpikir betapa beruntungnya Andrew memiliki Diana.


Apakah aku harus memilih Lia sebagai pengganti Diana. Apakah aku harus menyerah memiliki Diana? Dia begitu anggun dan tenang. Wanita yang mampu memberi ketenangan dan kenyamanan. Ah, pasti menyenangkan bisa berlabuh dalam pelukannya setiap saat.


Briant datang. Hemh... assistent Andrew ini memang tampan dan berwibawa, pantas saja Lia langsung akrab dengannya. Huh! Dia begitu ramah dan langsung bergelanyut pada pundak pria itu. Kenapa dia tidak bersikap seperti itu padaku. Bukannya aku lebih muda dan tampan daripada Briant?


Pedih rasanya mata ini melihat keakraban di antara mereka.


Lebih baik aku memperhatikan Diana yang asyik bermain dan merawat Conrad. Anak iyang bukan darah dagingnya dia rawat bagaikan seorang ibu. Heh! Seberapa banyak wanita yang aku kenal bisa menyayangi anak tiri apalagi begitu akrab? Cih! Bahkan mereka tidak begitu memperdulikan anak kandungnya.


Eh, kemana Lia, apa yang di lakukan gadis itu. Itu dia! Hei, kenapa dia tampak begitu pucat. Setahuku hari ini dia baik-baik saja. Hei... kenapa dia sempoyongan.


"Liaaaaa!" Jason berteriak dan dengan segera dia berlari menghampiri Lia yang tiba-tiba jatuh pingsan.


"Apa yang terjadi Jason?" tanya Diana dengan panik.


"Entahlah aku melihat dia tiba-tiba pingsan." jawab Jason sambil menepuk pipi Lia.


"Bawa ke dalam Jason."


Beberapa Pengawal sudah menghampiri mereka. Dan bersiap terhadap segala sesuatu.


"Aku rasa sebaiknya langsung ke rumah sakit. Lia wajahnya sangat pucat." saran Jason.


"Kau benar. Greg, siapkan mobil." Diana memerintahkan pengawalnya untuk segera bertindak.


Jason membopong Lia sambil mengikuti Greg. Diana yang panik mengikuti mereka. Sedangkan Jason dengan sudut matanya sempat melihat seorang pelaya duduk di rerumputan dengan tubuh gemetaran. Ada sebersit perasaan curiga terlintas dipikirannya.


Butler Jhon tergopoh-gopoh menghampiri Diana.


"Apa yang terjadi nyonya?" dia merasa bersalah karena sedari tadi dia sedang sibuk menghubungi kenalan lamanya untuk mau bekerja dan merawat Diana tang sedang hamil.


"Lia pingsan." sambil menjawab Diana menoleh kearah belakang, saat itu lah dia melihat Sandra bergegas membersihkan minuman dimeja. Hal yang membuatnya heran, ketika semua orang panik dan ingin tahu keadaan Lia, pelayan satu itu melakukan kegiatan yang bertolak belakang.


"Butler tolong hentikan wanita itu. Bawa semua makanan dan minuman, bahkan gelas kosong ke laboratorium untuk diperiksa."


Butler Jhon mengernyitkan keningnya, tapi tidak membantah. Dia pun mengetahui sikap mencurigakan Sandra. Seringkali Sandra dia temukan mengintip Diana ataupun Andrew secara diam-diam. Belum lagi bagaimana Sandra sering bersembunyi di taman dengan ponselnya. Kecurigaannya kali ini mungkin akan menemukan jawaban.


Tanpa banyak bicara butler Jhon menghampiri Sandra dan memerintahkan wanita itu untuk meletakan semuanya. Sementara dia juga memerintahkan pelayan lain untuk mengambil sampel dari semua makanan dan minuman.


Sandra hanya dapat diam dengan tubuh gemetaran sambil berpikir keras bagaimana melenyapkan botol kosong yang masih ada di saku baju.


( episode ini bisa dibaca dari sisi lain di episode 90 dari novel HIDUPKU BERSAMA CEO )


😥😥😥😥😥😥😥😥😥😥😥😥


Jangan lupa kasih rate bintang lima dan like ya atau kalau kalian tidak suka ceritanya bisa ditinggalkan saja, tanpa memberikan penilaian/ rate.


Setidaknya itu salah satu usaha kalian menghargai kerja keras seorang author.


Author enggak baper kok...


Hanya memohon dukungan dan semangat untuk menghadirkan karya yang bisa dinikmati semua nya.


Terimakasihhhh...


💗💗💗💗💗