
Jason berbaring kembali di tempat tidur dengan terlentang. Rajawali sudah terkulai, berkat kicauan Erick. Begh! Erick manusia tidak taju diri yang seenak jidat mengganggu keasyikannya. Bukan hanya itu, berita yang dibawa oleh Erick, semakin membuat Jason merasa kesal, hal itu membuat dirinya semakin lama tidak bisa bertemu dengan Lia.
Jason kembali mengambil laptop dan melihat jika Lia sudah kembali di kamar dan berbaring sambil memegang handphone. Gadis itu berguling kekanan dan kekiri. Dia menatap handphone ditangannya, lalu terkulai lemas. Berguling lagi dan berakhir dengan tengkurap sambil terus memandang handphone di tangannya. Tampaknya Lia sangay menantikan Telphone itu berdering. Dan tentu saja telphone dari Jason.
Sambil tersenyum tanpa mengalihkan pandangan matanya dari layar laptop, Jason mengambil handphone dan menghubungi Lia. Tampak jelas dari laptopnya jika saat itu juga Lia terkejut ketika telphone nya berdering. Apakah dia sedang melamun? Gumam Jason.
Gadis itu membiarkan handphone berdering beberapa saat. Lia tampak sibuk merapikan rambut dan menyusun pose dirinya. Dia berulang kali mencoba memasang senyuman, sebelum akhirnya menggeser tombol untuk menerima video call dari Jason. Hal itu tentu saja tampak sangat menggemaskan bagi Jason.
"Hai... " sapa Lia dengan senyuman kecil.
"Kau menantikan video call dari ku?" tanya Jason langsung tanpa menahan diri.
"Enggakk. Ih ge er." Sahut Lia dengan cepat.
Jason terkekeh. Gadis itu berkelit. Dan Jason suka raut wajah yang sok pintar itu.
"Aku merindukanmu." ujar Jason lembut.
"hemhh.." Lia hanya menjawab dengan gumaman namun matanya memancarkan kerinduan.
"Apakah kau merindukanku?" tanya Jason lembut.
"hemm.." Lia kembali menggumam lirih seraya mengalihkan pandangan matanya dari layar handphone. Lia menghindari tatapan mata hangat Jason yang seakan menghujam kedalam matanya.
"Tatap aku Lia," gumam Jason lirih.
Suara dan pandangan mata Jason yang lembut membuat Lia berdebar dan malu menatap pria itu balik. Dia tidak ingin Jason melihat semburat merah di wajahnya. Mendengar suaranya saja sudah membuat sekujur tubuh meremang apalagi jika harus bertatapan. Meskipun.... hanya lewat layar handphone.
"Liaaaaa.." panggil Jason tak sabar.
"Iya sebentar. Aku lagi membetulkan sarung bantal." Lia memberikan alasan tidak masuk akal.
Padahal Jason melihat dengan jelas melalui laptop dari layar cctv, bagaimana Lia mengibas-ngibaskan tangan pada wajahnya. Bagaimana gadis itu tersipu malu dan sibuk menepuk dadanya. Dan tersenyum-senyum simpul sambil mengigit bibir bawahnya. Menggemaskan sekali. Ingin rasanya Jason menembus pada layar laptop itu dan memeluk tubuh Lia serta ******* bibir sensual yang digigit Lia.
"Kau sudah menyelesaikan semua tugas mu di London? Ini sudah dua hari." Lia akhirnya berhasil menenangkan diri dan berbicara pada Jason kembali.
"Tampaknya aku tidak jadi kembali besuk. Maafkan aku. Aku harus terbang ke spanyol, ada masalah dengan pengeboran minyak di sana." ujar Jason dengan nada menyesal.
"Ah... " Lia menggumam kecewa.
"Maaf jika kau harus semakin merindukanku." ujar Jason percaya diri.
"Siapa bilang aku merindukanmu? Aku hanya... hanya kesal tidak ada teman beradu mulut."
sahut Lia menutupi kegelisahan hatinya.
Padahal dia saat ini jengkel sekali karena Jason menunda kedatangannya. Apa Jason tidak benar-benar merindukan dirinya? Padahal Lia sudah tidak sabar untuk bertemu dengan Jason dan.... Dan merasakan sentuhan pria itu. Ah, Lia merasa malu dengan dirinya sendiri.
"Aku juga rindu beradu mulut denganmu." sahut Jason mesra. sambil mengusap bibir Lia di layar handphone.
"Ih hi... Mesum. Bukan beradu mulut itu maksudku." sahut Lia cepat dengan manja.
"Kau pikir beradu mulut apa yang aku pikirkan?" Jason menggoda Lia dengan pertanyaan jebakan
"Mesum bagaimana maksudmu?" Jason pura-pura tidak mengerti. Hal itu tentu saja membuat Lia semakin gemas.
"Ih hi! Jason sudah jangan menggodaku. Nanti aku ngambek loh ya." Ancam Lia.
"Coba tunjukan wajahmu jika ngambek." Jason semakin senang menggoda Lia.
"Nih." Lia mencibirkan bibirnya pada Jason.
"Ah, kalau begitu, aku mau melihat kau ngambek setiap hari, biar bisa lebih mudah menghisap bibir mu." goda Jason dengan terkekeh.
Perkataan Jason membuat Lia melotot kesal. Tapi tampak manja dan semakin menggemaskan bagi Jason.
"Lia, kenapa kau mengenakan kimono. Lepaskan lah." pinta Jason karena Lia masih mengenakan jubah tidur untuk menutupi lingerie yang dia pakai. Jason terbayang dengan tubuh molek dan polos Lia yang dia lihat dari layar laptop. Mengingat hal itu, rajawali kembali menegang. Sungguh kasihan.
"Gak apa-apa aku suka." jawab Lia asal. Dia meletakan handphone kembali bersandar di bantal dan Lia berbaring di hadapannya.
Lia tidak sadar jika saat itu kimono yang dia kenakan sedikit tersibak dan dadanya menyembul keluar. Sedikit saja tapi mampu membuat Jason gelisah. Bersama Lia tingkat kemesuman Jason naik seratus persen.
"Dibuka sedikit dong, lagian aku kan gak ada dirumah gak bisa ngapa-ngapain. Di rumah juga gak boleh ngapa-ngapain." Ada nada mengeluh dari permintaan Jason yang penuh harap.
"Gak boleh. Dosa!" jawab Lia asal.
"Dosa apa? Kita kan sudah menikah. Yang aku lihat juga tubuh istriku. Meskipun .... hampir tidak pernah ku sentuh." sahut Jason memelas.
Lia terdiam. Dia merasa bersalah karena belum bisa menjadi istri yang sesungguhnya bagi Jason. Keinginan Jason bukan dosa. Tapi penolakan dirinya mungkin yang bisa dikategorikan dosa. Hanya saja Lia masih takut memberikan tubuh, jiwa dan raga seutuhnya pada Jason.
Dengan malu dan gelisah Lia akhirnya menarik tali bathrobe nya. Wajah Lia sudah sangat merah menahan diri dari rasa malu. Dia merasa seperti pemeran film biru yang menggoda pasangannya.
"Jasonn.. aku malu." ujar Lia. Tali kimono sudah terlepas. Tapi Lia masih mencengkeram kain kimononya.
"Aku suamimu, bukan pria lain." ujar Jason menenangkan.
Lia menghela nafas. Dengan gugup dia melakukan permintaan Jason.
Akhirnya Lia melepaskan genggaman kimono dan berbaring miring. Dia menutup wajahnya dengan bantal karena malu. Wajah Lia menjauh dari layar handphone.
Sementara Jason menyeringai senang, melihat bagaimana Lia akhirnya dengan patuh menuruti permintaan nya. Meskipun gadis itu tidak menampilkan wajahnya di layar handphone, Jason melihat dengan jelas jika Lia diam-diam menatap dirinya dari kejauhan.
"Kau membuat hari ku terasa semakin indah. Aku rasa aku akan bermimpi indah malam ini." ujar Jason dengan suara sengau.
"Jason..." Lia menggumam.
"Tunggu aku dengan sabar yaaa. Ah, aku ingin sekali memelukmu dan beradu mulut denganmu." ujar Jason lirih.
Lia menatap layar handphone nya. Dia melihat dada bidang Jason dan bibir sensual pria itu. Perlahan namun pasti Jason sudah menarik jiwanya menyatu dengan pria itu. Lia mengelus layar handphone dengan lembut.
Posisi mereka tidak berubah. Hanya saling menatap dengan penuh kerinduan. Tanpa bicara, karena pancaran mata mereka sudah menjelaskan banyak hal. Kerinduan.
Lia akhirnya terlelap dengan Jason yang masih menatap dirinya. Jason mematikan layar video call dan meletakan laptop di nakas. Jason masih berbaring sambil menatap Lia. Hingga akhirnya dia terlelap dan bermimpi mencium, meremas squishy montok milik Lia. Tangan Jason meremas bantal perlahan menikmati squishy dalam mimpinya.
...💗🌟💗🌟💗🌟💗🌟💗🌟💗...