48 Months Agreement With CEO

48 Months Agreement With CEO
Dua Jam saja



πŸŒŸπŸ’—VOTE yaaaaπŸ’—πŸŒŸ


Lia sangat senang sekali melihat wajah ceria bulter Bernard yang memenangkan lomba pertandingan. Wajah pria tua itu memerah. Hidungnya kembang kempis dan nafasnya terengah-engah.


Sebenarnya dia hampir kehabisan nafas berjuang untuk berenang di babak final. Tapi jika terngiang suara Lia yang meragukan kemampuannya, semangatnya berkobar-kobar lagi. Kata-kata ejekan Lia bagaikan lecutan semangat bagi butler Bernard.


Sorak sorai pelayan yang menyerukan namanya membuat dirinya semakin bangga. Meskipun sudah tua dia sanggup mengalahkan Fidel yang jauh lebih muda. Butler Bernard berjanji pada dirinya sendiri, akan sedikit lebih lunak kepada para pelayan yang sudah mengeluk-elukan dirinya.


Dengan menaiki kuda kemenangannya, butler Bernard mengacungkan kedua tangan tanda kemenangan. Dia memberikan ciuman jarak jauh kepada para pelayan yang bersorak sorai. Butler Bernard sangat bangga akan keberhasilan dirinya.


Lia sangat senang sekali melihat rona kebahagian pada wajah butler Bernard. Dia melompat-lompat dan bertepuk tangan sambil tertawa dengan ceria. Lia bersukacita karena berhasil membuat butler Bernard bisa lebih relax dan berbaur akrab dengan pelayan lainnya.


Tepuk tangannya terhenti ketika melihat Fidel dan Butler Bernard berhenti berlari. Mereka tampak takut dengan sosok yang ada dihadapannya. Lia tidak dapat melihat dengan jelas, karena sosok tersebut ditutupi oleh tubuh butler Bernard dan Fidel.


Lia melangkah maju dengan heran. Dari kejauhan dia memandang dengan ragu rambut dan kening yang dia kenal. Semakin dekat semakin dia yakin, sosok itu benar-benar dia kenal dan sangat dia rindukan.


"Jason?" Ucapnya ragu.


Butler Bernard dan Fidel menyingkir dari hadapan tuan muda nya, memberi ruang bagi Lia untuk melihat lebih jelas sosok yang sudah membuatnya gelisah, selama hanya dua hari.


Benar itu dia. Dia yang menghiasi mimpi dan membuat nafsu makannya menghilang. Dia yang membuat jantungnya berdetak kencang dan pipinya merona hanya karena sebuah sms. Dia yang membuatnya tersipu dengan tatapan dan kata-kata mesra meskipun hanya lewat sebuah handphone.


Dia yang mengatakan tidak akan pulang, tapi tiba-tiba saja muncul bagaikan mimpi di siang bolong. Sesaat Lia diam takut semua yang dia lihat hanyalah halusinasi. Tapi saat sosok itu tersenyum, Lia tidak dapat menahan diri lagi untuk berlari dan menghambur dalam pelukan pria tampan itu.


"Jaaaasssssoooooonnnnnnnnnnnnnnnn." Pekiknya dengan gembira.


Lia meloncat dalam pelukan Jason. Pria itu menangkap tubuh Lia dengan bahagia. Dia membawa tubuh mungil itu berputar, membuat Lia tertawa gembira. Putaran itu berakhir dengan menggendong Lia bagaiakan anak kecil. Lia melingkar kedua kaki nya di pinggang Jason sementara kedua lengannya di leher Jason.


Jason sangat bahagia sekali ketika wanita yang dia rindukan itu, tamoak sangat bahagia melihat dirinya. Jantung Jason berdetak dengan kencang mendengar teriakan Lia memanggil namanya, senyuman dan tawa gadis itu begitu memabukan.


Jason tertawa senang saat melihat kucing liar nya berubah menjadi kucing manis. Dan tertawa bahagia dalam pelukannya. Dia membawa gadis itu berputar dalam pelukannya. Rambut hitam legam yang indah itu ikut terbang dan melambai di udara. Tak ada kata yang bisa menggambarkan moment indah dan kebahagiaan yang terpancar dari kedua insan itu.


Perlahan semua pelayan dan pengawal, mundur menjauh. Memberi ruang kepada tuan dan nyonya nya. Mereka yang awalnya takut mendapatkan hukuman, mulai tersenyum senang melihat kebahagiaan yang terpancar dari wajah tuannya.


"Hahhaha hahhaha kau berhasil menipuku. Kau bilang tidak akan pulang hari ini." Kata Lia dengan manja dan senang.


Jason perlahan membawa Lia ke dalam ruangan dan naik ke lantai atas menuju kamar mereka. Dalam perjalanan naik ke lantai atas, Jason tak melepaskan pandangannya dari wajah Lia yang tertawa bahagia.


"Butler Bernard lanjutkan perayaan kemenanganmu, jangan takut dengan tuanmu. Aku akan mengamankannya." Seru Lia ketika Jason mulai membawanya masuk.


Tentu saja semua karyawan bernafas lega. Tanggung sekali bukan, pelayan wanita belum sempat menceburkan diri dalam kolam renang tuannya. Saat Lia dan Jason telah pergi dari taman belakang, pelayam wanita langsung bersorak dan masuk ke dalam kolam renang, sementara pelayan pria mulai menikmati makanan.


"Apakah kau senang melihatku?" Ujar Jason dengan mata yang menatapnya penuh kelembutan saat mereka sudah berada di dalam kamar.


"Iya aku senang. Aku hampir bosan tidak melakukan apapun dirumah sebesar ini." Sahut Lia dengan manja.


"Tidak kusangka kau bisa juga jujur." Jason menggoda Lia, karena biasanya Lia selalu menyangkal mengatakan betapa dia merindukan Jason.


"Ihhh kenapa gitu saja dibahas sih." Sahut Lia dengan kesal.


"Eh.. eh.. kalau marah semakin menggemaskan. Lebih baik aku buat marah saja ya tiap hari." Jason semakin menggoda Lia.


Saat ini mereka sudah berada di tempat tidur. Lia duduk di pangkuan Jason masih dengan posisi yang sama. Kedua kaki melingkar di pinggang Jason. Jason memandang Lia dengan penuh kerinduan. Dia membelai wajah Lia, menyingkirkan anak-anak rambut yang menutupi wajahnya dengan tangan kanan. Sementara tangan kiri sibuk menopang punggung Lia.


"Huh! Dasar lalat buah!" Geram Lia dengan manja.


Cup! Jason langsung mengecup bibir yang baru saja menyebutnya lalat buah tanpa peringatan. Kecupan ringan itu sanggup membuat mata Lia terbelalak dan wajahnya merona. Jason sangat menyukai expressi wajah itu. Terkejut dan malu.


"Aku meluangkan waktu hanya untuk dirimu. Aku sengaja merubah rute penerbanganku hanya demi melepas kerinduanku padamu." Ujar Jason dengan lembut.


"Benarkah? Jadi kau akan pergi lagi?" Tanya Lia dengan kecewa.


Jason mengangguk. Dia kembali membelai pipi dan bibir Lia yang mulai mengerucut kesal dan kecewa.


"Ayolah jangan cemberut sayang. Aku akan segera menyelesaikan tugasku di Spanyol dan kembali padamu." Rayu Jasoj dengan lembut.


"Benarkah? Berapa lama?"


"Mungkin kurang dari seminggu." Sahut Jason.


"Seminggu. Ihhhh lama sekali." Pekik Lia dengan kesal, kemarin ditinggal dua malam saja dia sudah begitu menderita kesepian, apalagi lebih dari itu.


"Tidak akan lama sayang. Ah, aku senang sekali kau sudah merindukanku, sebelum aku pergi lagi." Ujar Jason dengan tertawa senang.


"Tidak apa-apa asal kau membawa pengawal agar dirimu tidak tersesat dan yang pasti jauhi pria lain. Jangan membuatku cemburu." Jason menangkup kedua pipi Lia agar gadis itu tidak menghindari tatapannya.


Lia tidak menyangka jika Jason bisa berbaik hati mengijinkannya keluar dan berkeliling kota. Dia sedikit kecewa dengan jawaban itu, karena yang dia inginkan saat ini adalah, Jason melarangnya dan berjanji akan segera pulang.


Hati wanita bagaikan sebuah misteri yang tidak dapat di mengerti oleh siapapun, bahkan si empu nya hati. Saat kau melarang dengan keras, dia akan berontak dan berlari menjauh. Tetapi, ketika kau memberinya kebebasan, dia akan berlari mendekat dan bersimpuh di sisi mu.


Jason menangkap sorot mata kecewa itu. Tapi dia tidak dapat menunda perjalanannya. Kesempatan yang hanya dua jam ini, tidak akan dia habiskan hanya untuk melihat Lia kecewa.


Jason mulai mencium bibir Lia. Mereka berpagutan dengan mesra. Lia melupakan segala kekecewaannya dan mulai membalas setiap lum*tan dari bibir Jason. Ciuman insan yang sudah saling jatuh cinta dan penuh kerinduan itu, berlangsung begitu lembut dan mesra, meluapkan segala rasa yang terpendam.


Perlahan tangan Jason mulai bergerak tanpa dia sadari. Jason mulai menyibak gaun panjang Lia dan tangannya menelusuri kaki dan mengusap lembut paha kanan Lia.


Saat Jason menyadarinya, dia sedikit merasa heran karena gadis itu tidak lagi memberontak.


Lia begitu hanyut dalam ciuman mesra Jason. Dia tidak menyangka bahwa tubuhnya sangat merindukan sentuhan Jason. Belaian dan dekapan Jason membuat Lia melayang. Bahkan saat tangan jason mengusap lembut pahanya. Lia sangat menikmati.


Jason yang tidak merasakan penolakan dari Lia semakin berani. Dia menyibak rambut panjang Lia kebekakang. Jason lalu menarik resleting gaun Lia perlahan tanpa penolakan Lia. Hingga pakaian Lia mulai jatuh di pinggangnya dan Jason akhirnya bisa melihat secara langsung dada lembut yang dia mimpikan.


Lia mendesah ketika Jason mulai menciumi dadanya, satu tangan Jason masih bersarang di pinggang Lia, dan satu tangan lagi masih merayap lembut di paha Lia.


Lia yang baru pertamakali merasakan dadanya disapu lembut oleh bibir Jason dan gesekan dari rambut-rambut jambang Jason, merasakan perpaduan antara nikmat dan geli. Dia mendesah kuat.


Dibawah sana. Bagian inti Jason sudah berontak dari balik celana yang masih dia kenakan. Seandainya rajawali itu punya tangan, dia akan mengoyakkan celana Jason dan menukik masuk kedalam sarang yang sudah membuatnya menanti sekian lama. Gesekan antara Rajawali dan sarangnya, membuat seluruh bagian nya terasa ngilu.


Merasa mendapatkan izin, tangan Jason mulai merambat ke kaitan bra Lia, dia merasa kesulitan membukanya karena ini pertama kalinya dia berhadapan dengan kaitan bra. Saat hampir berhasil.....


Tok. Tok. Tok. Tok. Tok. Tok. Tok.


Ketukan bertubi-tubi dengan tidak sabar terdengar di pintu kamar Jason. Jason menggeram marah dan ingin mengumpat. Siapapun itu diluar pasti sudah mengobarkan api amarah dalam dada Jason.


"Jasonnn, ayooo cepat ini sudah waktunya kita berangkat. Kita sudah terlambat. Tinggal empat puluh menit lagi lepas landas." Teriak Erick dengan panik.


Lia menatap Jason dengan sedikit kecewa, karena pria itu akan pergi lagi dan meninggalkan dirinya sendiri lagi.


"Maafkan aku." Desah Jason penuh penyesalan. Dia menaikan kembali gaun Lia dan menarik resleting pakaian Lia.


"Pergilah. Aku akan menunggu mu disini." Bisik Lia lirih menyembunyikan ketidak relaannya.


Lia turun dari pangkuan Jason san sedikit mengebas pakaiannya. Jason kembali ******* bibir Lia.


"Jasonnnn, ayo cepatttt!!" Teriak Erick lagi.


"Iya aku tahu!" Balas Jason dari dalam kamar.


Ketika pintu kamar di buka, Erick tampak tersenyum melihat Lia dan Jason bergandengan tangan keluar. Tampak bibir Lia bengkak dan rambut yang agak berantakan.


"Maafkan aku Lia harus membawa pergi boss satu ini." Ujar Erick tanpa terdengar nada penyesalan.


"Aku ingin mengajaknya Erick," ujar Jason tiba-tiba.


Erick terperangah.


"Apa kau gila? Kita akan pergi ke kilang minyak di daerah yang sangat rawan. Apa kau mau setiap pria kesepian disana melotot pada istri mu?" Tanya Erick dengan gusar.


"Sudah cuma beberapa hari saja. Lama tidak bertemu akan semakin menyenangkan, semakin hot jika berduaan." Kelakar Erick yang di jawab Lia dengan melotot.


Akhirnya hanya dua jam saja, mereka mendapatkan kesemoatan untuk melepas rindu. Karena saat ini Lia menatap kepergian Jason dengan lebih sedih. Pria itu menatap Lia dengan sejuta makna. Hati mereka terasa jauh lebih kosong dan merana saat ini.


...πŸ’—πŸŒŸπŸ’—πŸŒŸπŸ’—πŸŒŸπŸ’—πŸŒŸπŸ’—...


Sabarrr yaaaa...


Gak Lama lagi kok kesempatan untuk Rajawali bersarang. Nantikan yaaa, karena saat awalnya akan unik.


Ayoooo jangan luoa VOTE.


Author dah berusaha up tiap hari lohhh.


ThankyouuuπŸ’—