48 Months Agreement With CEO

48 Months Agreement With CEO
Spa



Supir terpaksa menghentikan mobil di pinggir jalan, ketika tikungan terakhir menuju kota sudah ada di depan mata. Kedua pasangan belum memberi tanda jika aktifitas mereka sudah selesai. Mereka memutuskan untuk berhenti sebelum masuk ke dalam kota.


Frans pengawal berkulit hitam dan seorang supir berkulit putih, memilih turun dari mobil dan menjauh. Frans tanpa expressi berdiri sekitar 2 meter dari mobil. Sementara matanya tetap awas, mengawasi sekitar. Sedangkan supir bernama Doreo, berjalan menjauh lima meter. Dia sudah pusing. Ini pertamakali dalam sepuluh tahun mengabdi, dia melihat Jason mencumbu seorang wanita. Doreo menatap Frans, bagaimana bisa pria itu tetap berwajah datar, apakah dia tidak memiliki perasaan?


Perlu waktu empat puluh menit mereka menunggu. Total sudah hampir satu jam dari awal mobil keluar dari Mansion. Akhirnya, Jason membuka jendela dan memerintahkan kedua bawahan untuk bergerak.


Lia tampak sudah sangat lelah. Dia tidak banyak bicara selain terkulai dalam pelukan Jason. Badannya yang sudah terasa sakit dari pagi, kini terasa menjadi lebih sakit lagi. Gadis itu berharap mereka segera tiba di Spa.


Setelah dua puluh menit mengatasi sedikit kemacetan lalu lintas, mereka tiba di sebuah Spa yang sangat mewah. Hanya sebuah Spa, tapi gedungnya bertingkat bagaikan sebuah hotel mini. Gedung Spa ini sangat besar dan tampaknya ada ruangan terpisah yang membedakan pelanggan wanita dan pelanggan pria.


Pelayan di sana menyambut pasangan ini dengan ramah. Tampaknya mereka sudah mengenal Jason.


"Selamat siang tuan muda Madison. Selamat datang kembali ke de Alma. Hendak treatment seperti biasanya, tuan Madison?" Tanya seorang Customer Service dengan ramah.


"Iya. Di ruang pasangan." Jawab Jason sambil menggendong Lia.


"Ikuti saya tuan."


Setiap pasang mata pekerja maupun pelanggan disana menatap ke arah Lia. Mereka merasa iri dengan keberuntungan Lia yang berada di pelukan Jason. Jangankan di gendong dan dipeluk sedemikian rupa. Jika saja tuan muda menatap mereka sekilas saja, jantung para wanita iti akan berdebar kencang.


Jason mengikuti langkah kaki managers spa tersebut yang khusus menyambut mereka. Sementara Frans dan Doreo duduk dengan tenang di lobby, menikmati kehangatan teh herbal dan sedikit cemilan.


"Kau sering kemari?" Bisik Lia curiga.


Melihat bagaimana managers itu menyambut mereka dan tatapan menginginkan dari setiap wanita di sana, membuat Lia kesal. Ingin sekali dia mengambil kain besar dan menutupi Jason.


Menjadikan mereka sebagai pusat perhatian sangat tidak menyenangkan bagi Lia.


"Terkadang, aku menemani rekanan ke tempat ini. Tetapi lebih seringnya Erick yang membawa mereka kemari." jawab Jason santai.


"Apakah spa ini bersih?"


"Tentu saja bersih. Jika kotor bagaimana aku mau ke tempat ini. Coba lihat sekelilingmu, sebuah bersih dan harum bukan?" jawab Jason lugas.


"Bukan itu maksudku."


"Lalu apa maksudmu?" Jason menatap Lia dengan mengernyitkan keningnya.


"Apakah mereka juga menyediakan..." Lia mebgerdipkan matanya


"Pikiranmu jorok juga. Hahhaha." Jason membenturkan keningnya ke kening Lia.


Lia menatap Jason dengan kesal. Selama ini dia terkurung dengan sifat posesif Jason juga sisi kelembutannya. Tapi, dirinya sedikit mengenal kehidupan pribadi Jason. Apa benar, jika dia adalah satu-satunya wanita dalam kehidupan Jason? Bukankah Butler Bernard tidak selalu bersama Jason setiap hari kecuali Frans, pengawal dingin itu.


Mereka sudah memasuki ruangan yang sangat mewah. Wangi Aromahterapy, alunan musik Budha Beats, gemercik air di kolam kecil dan sebuah taman indoor yang sangat indah. Ruangan tersebut sangat nyaman, mengantarkan ke tentraman di hati.


Jason membaringkan Lia di tempat tidur dan membiarkan seorang pelayan wanita yang cantik dan bertubuh sintal, membantu Lia untuk mempersiapkan diri. Sementara Jason masuk ke ruang ganti dan melepaskan pakaian nya kemudian dia kembali dengan mengenakan handuk penutup.


Jason berbaring di tempat tidur di sisi Lia.


Saat Lia melihat wanita cantik itu meletakan tangannya dengan lembut di punggung Jason dan ketika di lihatnya mata Pria itu terpejam menikmati pijatan lembut, bara dalam diri Lia menyala. Ingin rasanya singa dalam dirinya keluar, menerkam dan mengoyak wanita itu.


Tapi Lia menahan diri, dia harus bersikap elegant bukan kampungan. Lia tidak akan mempermalukan dirinya juga Jason dengan sikap liar. Jika Jason dioandang dengan begitu hormat, Maka dia harus membuat semua orang juga hormat dan menyanjung dirinya. Lia akan menampilkan sisi kucing manis.


"Bisakah kalian berdua keluar dan memanggil managers spa ini kemari?" Ujar Lia dengan suara lembut.


Kedua wanita itu mematuhi perkataan Lia. Mereka keluar dengan heran. Apalagi wanita yang baru saja memijat Jason. Dia melirik Lia dengan sebal. Dia adalah therapys yang sangat senang sekali bisa mendapatkan giliran memijat Jason. Meskipun masih muda, tenaganya cukup kuat.


Kesempatan yang langkah bisa memijat dan menyentuh otot kekar Jason. Para therapys sudah membuat daftar giliran untuk memijat Jason, jika pria itu datang. Hanya bisa memijat saja mereka sangat senang, meskipun Jason bahkan tidak pernah berbicara terlebih menatap mereka.


"Ada apa?" Tanya Jason heran.


"Aku akan meminta therapys pria. Mereka tidak bertenaga."


"APA?"


"Iya khusus therapys pria untuk dirimu." Kata Lia lagi.


"Aku tidak mau di pijat pria." Sahut Jason.


"Lalu kau mau nya di pijat wanita genit tadi? Baiklah kalau begitu, aku akan meminta theraphys pria yang memijatku." Ujar Lia dengan ketus.


"Hei! Mana bisa seperti itu! Aku tidak akan mengijinkannya!" Jawab Jason dengan cepat.


Bagaimana bisa dia membiarkan seorang pria menyentuh Lia. Para pengawal saja sudah mendapat hukuman hanya karena mereka bertelanjang dada seperti perintah Lia. Sekarang seorang tukang pijat hendak menyentuh tubuh Lia yang hanya miliknya sendiri. O.. O...O.. cari mati saja.


..."Kenapa tidak boleh, jika kau masih menginginkan sentuhan wanita untuk memijatmu, maka aku akan melakukan hal yang sama. Adil bukan." Lia menatao Jason dengan sangat tajam....


Oh tidak! Dia benar-benar mengancam. Kucing liarku memang pandai membuatku resah.


"Baiklah, aku akan menurut padamu. Untuk hal ini saja." Ujar Jason akhirnya.


Senyum kemenangan mengambang di wajah Lia, bersamaan dengan managers spa yang masuk.


"Maaf tuan dan nona, apakah ada kesalahan yang dilakukan oleh pegawai saya?" Ujar nya dengan sopan.


"Ah, tidak. Mereka sangat handal. Hanya saja.... pijatan mereka terlalu lemah untuk saya. Apakah anda memiliki ahli therapys wanita yang lebih dewasa dengan tubuh lebih besar dan tenaga lebih kuat?" Tanya Lia sambil membayangkan mbok Painem, tukang pijet yang biasa dia pakai di Indonesia.


"Ada nona." Sahut manager dengan cepat.


Therapys keluar dengan segera dan membawa kembali dua orang therpys wanita yang bertubuh tinggi besar layaknya pegulat.


Lia menyeringai senang dan mengerdipkan matanya pada Jason. Pria itu bungkam seribu bahasa. Yang penting istri senang dia pasti senang.


...💖💖💖💖💖💖...