
Kau memang harus memandang ke atas jika ingin sukses. Tapi jangan lupa memandang ke bawah untuk belajar menghargai orang lain.
...💝💝💝💝💝💝💝...
Hari ini adalah hari terakhir Lia dan Jason menginap di mansion Andrew dan Diana. Esok hari mereka akan tinggal semalam di mansion Jason sebelum kembali ke Prancis.
Tinggal bersama keluarga besar kakaknya membuat Lia merasa nyaman dan ingin membangun kebahagiaan untuk keluarganya sendiri. Melihat perjuangan Diana, membuat dirinya yakin jika tidak ada hal yang sia-sia.
Apalagi bagaimana Diana mendidik anak-anaknya, sangat luar biasa. Kekayaan dan kemakmuran tidak membuat mereka menjadi anak yang sombong juga menang sendiri. Sejak kecil mereka belajar untuk berbagi.
Seperti halnya kenyataan yang Lia lihat sangat menyentuh nuraninya. Uang dua ratus dolar yang Aaron dapatkan karena berhasil memenangkan tebak kata, digunakan bocah itu untuk membeli hamburger dan dibagikan untuk seluruh anak panti.
Seperti kata Aaron malam sebelumnya, disaat tebakan berhadiah.
"Aaron mau berbagi dengan mereka. Kasihan mereka. Kata mommy, mereka tidak punya orang tua. Uang dua ratus dolar ini bisa mendapatkan empat puluh hamburger, untuk dimakan bersama mereka," tutur Aaron yang membuat Lia terharu.
"Berapa jumlah anak-anak di panti asuhan?"
"Empat puluh orang."
Panti asuhan yang di bantu Diana adalah milok sepasang suami istri yang menghabiskan masa tuanya dengan menampung anak-anak jalanan, anak-anak terlantar, anak-anak yang dibuang oleh orang tuanya, bahkan ada anak yang dititipkan tapi tidak pernah diambil kembali oleh kedua orang tuanya.
"Lalu bagaimana dengan Aaron?"
"Aaron gak usah. Kapan-kapan masih bisa lagi," ujar bocah itu dengan tulus.
"Kenapa harus hamburger?" Lia masih heran dengan pilihan menu Aaron.
"Karena Aaron lihat, mereka belum pernah makan hamburger. Aaron sebenarnya mau mengajak mereka untuk makan di restaurantnya langsung. Tapi uang Aaron tidak cukup," ujar nya sedih.
"Mau aunty tambahin?"
Aaron menggeleng.
"Aaron ingin memberi dari usahaku sendiri."
Lia tersenyum dan mengecup kening Aaron. Dia kemudian menoleh kepada Jason yang kali ini memiliki pandangan berbeda terhadap Aaron.
Si kecil yang selalu usil dan judes kepadanya ternyata memiliki hati seluas samudra dan selembut sutera. Jason tiba-tiba saja merasa sayang dan begitu mengidolakan Aaron.
"Dia mirip diriku," bisiknya pada Lia.
"Bagian mananya? Judesnya?" ledek Lia.
"Semuanya."
"Dih ... anak orang itu."
"Beri dia tebakan lagi, yang mudah di jawab saja. Kalai berhasil, maka aku akan memberi uang lebih," bisik Jason.
"Aku harus berpikir dulu," bisik Lia.
"Hmmm baiklah. Apa malam ini ada yang mau tidur dengan aunt Lia?" Entah angin apa yang berbisik pada Jason, dia menjadi murah hari dan mau berbagi Lia dengan keponakannya.
"Aku mau!" terian Aaron, Aana, Archie dan Francesca serempak. Tentu saja Adel lebih suka tetap bersama mommy Diana.
"Conrad enggak mau, ah! Sesak." ujar remaja cilik itu.
Malam itu Lia akhirnya tidur di kamar bermain. Di sana ada tempat tidur yang sengaja di buat sesuai lebar kamar. Tempat yang sering digunakan Diana untuk tidur bersama anak-anaknya di hari-hari tertentu.
Dan pagi ini, semua sudah rapi hendak berangkat ke sekolah. Sebelum berangkat sekolah dan bekerja, mereka selalu menyempatkan waktu untuk makan pagi bersama. Meskipun hanya segelas susu.
"Pagi Aaron," sapa Lia dengan senyuman ceria.
"Pagiii," jawab Aaron dengan suara parau namun masih berusaha ceria.
"Aunty punya tebakan untuk Aaron."
"Aaron masih setengah ngantuk, aunt," ujar nya menghindari tebakan dari Lia. Dia beralasan seperti itu, karena jika gagal tidak akan memalukan, bukan?
"Gampang ... kalau gak mau jawab, hadiahnya aunt kasih Matilda?" pancing Lia.
"No! Aaron masih perlu uang untuk mentraktir anak panti asuhan. Ayo apa tebakannya!" Mata Aaron berbinar. Mungkin jika menggunakan kacamata pembesar akan kelihatan ada bayangan warna hijau dengan gambar dolar.
"Hahhahha begitu dong."
Lia merangkul Jason yang sedang duduk di kursi meja makan, dari belakang.
"Coba katakan kenapa matahari tenggelam?" tanya Lia dengan mata berbinar.
"Karena gak bisa berenang, hahhahahha tenggelam dah!" jawab Aaron dengan cepat.
"Aaron hebatt!" seru Lia dengan gembira.
Kemudian Lia menepuk bahu Jason. Dan pria itu mengeluarkan segepok uang yang dia berikan pada Aaron.
"Ini semuanya, Uncle?" Mata Aaron berbinar tak percaya.
"Yaaa ... kami juga mau," seru Francesca dan Conrad.
"Kau terlalu memanjakan Aaron," tegur Diana.
"Tidak juga, Kakak. Itu hadiah untuk kecerdikan Aaron. Dan bukankah Aaron mau mentraktir seluruh anak panti asuhan?" Lia tersenyum bangga.
"Tenang saja, kalian semua aku traktir juga," ujar Aaron yang masih tak percaya dengan penghasilan yang dia terima saat ini.
"Aaron keren!" sahut Conrad dan Francesca bersamaan.
"Saya juga kan?" Matilda tersipu malu penuh harapan.
"Gak usah! Nanti tambah gemuk!" sahut Aaron ketus.
"Ya ... tuan muda Aaron," Matilda merajuk dengan mengkerucutkan bibir.
"Mau seperti gajah?" Aaron menaikan alisnya.
Matilda menggelengkan kepala.
"Hehehe itu pintar," Aaron menjulurkan lidahnya menggoda Matilda.
"Ayo, sudah waktunya berangkat sekolah."
Conrad, Aaron dan Francesca segera berpamitan. Mereka masuk ke dalam mobil yang diantarkan oleh Papito. Sementara Jason dan Andrew berangkat dengan mobil mereka masing-masing.
"Panti Asuhan itu, sejak kapan kakak mengahak mereka ke sana?" tanya Lia setelah semua pergi.
"Saat Aaron berusia empat tahun. Bagus untuk menumbuhkan empati dan rasa simpati mereka pada lingkungan. Agar mereka bisa melihat ke bawah tidak selalu memandang yang di atas," ujar Diana dengan lembut.
"Hmm ... benar juga ya. Hidup dikalangan status sosial yang tinggi kadang membuat kita lupa akan jati diri," gumam Lia membenarkan.
"Betul."
"Kau memang harus memandang ke atas jika ingin sukses. Tapi jangan lupa memandang ke bawah untuk belajar menghargai orang lain." Diana berbicara dengan penuh kesabaran.
"Kakak! Kau semakin dewasa dan hebat!" ujar Lia kagum. Tidak salah jika dia menjadikan kakaknya panutan.
"Kau juga semakin dewasa dan hebat. Lihat dirimu, calon ibu yang luar biasa. Keberanian mu menghadapi kedua orang tua Jason, sangat hebat. Kekuatan mu mempertahankan rumah tangga mu, kakak kagumi." Diana menepuk bahu Lia dengan bangga.
"Ingat Lia, jika ada hal yang buruk, aku dan Andrew ada disini. Kau hubungi kami, jika memerlukan bantuan." Diana berbicara dengan sungguh-sungguh.
"Tentu saja, Kakak! Mungkin lain kali harus kakak ipar yang menghadapi kedua mertuaku. Jadi mereka tahu, aku masih punya pelindung." Lia terkekeh membayangkan hal itu.
Mereka berdua tertawa bersama dan terus bercengkerama, hingga Matilda datang membawa minuman dingin dan sekotak kue kering almond.
"Nyonya ...," ujar Matilda malu-malu.
"Ya?" sahut Lia.
"Mau dong dikasih tebakan dan hadiah seperti Aaron," ujarnya malu-malu.
"Memangnya kalau bisa jawab, hadiahnya buat apa?" tanya Lia.
"Buat beli hadiah," sahut Matilda malu-malu.
"Bukankah kau sudah memiliki gaji besar tiap bulannya?" Lia mengerutkan kening.
"Gaji saya sebulan habis. Untuk membiayai orang tua dan adik, kemudian menyumbang sedikit untuk anak panti. Sisanya kemarin sudah habis buay beli baju baru dan ke salon," jawab Matilda.
"Trus hadiah buat siapa?"
"Buat kekasihku, sebentar lagi dia ulang tahun," jawab Matilda malu-malu.
"Cieeeee .... hahha hahahaha." Lia dan Diana tertawa lepas membuat Matilda semakin malu.
"Baiklah jawab ini. Apa beda Matahari dan Bulan?"
Matilda langsung melongo. Kenapa susah sekali menjawabnya. Bagaimana dia bisa mendapatkan hadiah untuk.membeli hadiah buat cheft Paul, kekasihnya.
Nitizennnn bantuin Matilda dong!
...🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹...
Nitizennnn! Jangan Lupa Mei Fiesta.
Gerakan sejuta Bunga untuk Lia dan Jason.
Jangan Lupa Poin dan Votenya.
Hadiah rangking pemberi hadiah sesuai dengan syarat dan ketentuan yaa.
Semangat!