48 Months Agreement With CEO

48 Months Agreement With CEO
Pulau Madison



Jason berlari dengan tidak sabar dari penthouse Camila menuju ke penthouse miliknya. Di sepanjang jalan pria itu menghubungi Frans agar menyiapkan pesawat pribadi.


Jason masuk ke dalam Penthouse, dia kemudian segera menyiapkan koper kecilnya. Mengisi dengan beberapa pakaian miliknya. Saat itu dia menatap ke arah pakaian Lia yang bergelantungan. Dia menyambar beberapa gaun kesayangan Lia.


Sebelum memasukan ke dalam koper pria itu mencium gaun milik wanita yang dia cintai.


Hatinya berdegup kencang diliputi dengan perasaan bahagia. Berkat bantuan Daniel dan Camila, dia bisa menyusuri keberadaan Laura di Miami. Dan dari Miami, tampaknya assitent Laura menyewa sebuah helikopter besar. Jason bisa menebak kemana helikopter itu akan membawa ibunya.


Sebuah pulau milik keluarganya, tempat yang tak pernah dia sangka akan menjadi tempat mereka menyembunyikan Lia.


Saat Frans sudah menyiapkan semua, Jason meminta pada Doreo untuk segera memacu mobil menuju bandara pribadi miliknya.


Di tengah perjalanan, handphone Jason berbunyi. Butler Bernard menelepon. "Benarkah Tuan Muda sudah menemukan Nyonya Kecil?" tanya pria tua itu dengan penuh rasa ingin tahu.


"Aku harap. Aku sudah menyusuri jejak mommy. Dia berada di Pulau Madison. Aku harap Lia ada di sana," ujarnya penuh harap.


"Semoga saja kali ini benar." Butler Bernard mendesah perlahan. Lalu ia berkata lagi. "Jika Tuan Muda bertemu dengan Nyonya Kecil, katakan padanya kalau kami semua sangat merindukan dirinya." Pria tua itu berbicara dengan suara bergetar. Tampak sekali jika semua pelayan begitu merindukan Lia.


"Tentu saja. Aku akan membawanya pulang. Aku akan membuat kalian sibuk dengan kekacauan yang dilakukan oleh anakku." Jason memutuskan sambungan telphone dengan butler Bernard.


"Anakku...." Jantung Jason disusupi perasaan bahagia saat mengucapkan nya.


Saat mereka tiba di bandara, Ia teringat untuk menghubungi Erick. Dia harus meninggalkan pesan pada pria itu, agar bertanggung jawab mengelola perusahaan selama dia tidak ada di Perancis.


"Jason...," sahut Erick dengan suara lemah.


"Kenapa dengan dirimu? Kau seperti sedang sakit?" Jason mengernyitkan keningnya dengan cara Erick menjawab panggilan telepon dari Jason.


"Aku...."


"Aku apa. Ah sudahlah. Aku sekarang akan pergi ke Miami. Aku rasa aku tahu di mana mereka menyembunyikan Lia."


" Benarkah? Selamat Jason...," sahut Erick dengan lemah.


" Aku menyerahkan perusahaan sementara padamu. Jaga adikku Laurent." pesan Jason sebelum dia pergi pada Erick.


Hembusan napas Erick yang berat disana membuat Jason heran.


"Katakan ada apa denganmu? " tanya Jason yang mulai curiga.


"Aku.... Jason, maafkan aku...."


"Ada apa, cepat katakan Bodoh! Pesawatku mau tinggal landas, jangan bicara seperti anak kecil!" seru Jason dengan kesal.


Mesin pesawat sudah dihidupkan, hanya menunggu perintah dari Jason untuk terbang.


"Laurent... Dia.... Laurent pergi. Aku tidak tahu dia ada di mana. Aku sudah mencari kemanapun," suara Erick terdengar lemas dan kacau.


Jason menarik napas dan menghembuskan napasnya perlahan. Dia tahu hal ini bisa terjadi, oleh sebab itu berulang kali Jason memperingatkan Erick. Dia hapal betul dengan sifat Laurent yang hanya tampak keras di luar tapi rapuh di dalam.


Dia tidak akan bisa selamanya bertahan dengan sikap Erick yang dingin. Jika dulu Jason tanpa tahu malu berjuang untuk cinta Lia. Tentunya berbeda dengan Laurent. Seroang wanita lebih perasa dan memiliki batasan dengan keinginannya.


"Kini giliranmu untuk berjuang! Temukan adikku dengan nyawamu sebagai taruhannya! Berlututlah di bawah kaki Laurent jika kau benar-benar mencintainya!" Jason mematikan handphone begitu saja.


Satu permsalahan baru saja hampir selesai ia pecahkan, kini masalah baru muncul lagi. Tidak ada waktu bagi Jason untuk berlega hati. Dia kembali menghubungi seseorang.


" Daniel. Sekarang kesempatan untukmu datang. Bantu Erick di perusahaan. Jangan kacaukan apapun. Kau mengerti?!" Penuh penekanan Jason berkata pada Daniel.


Jason yang sudah letih, memejamkan matanya. Air mata tanpa sadar sudah jatuh bergulir. Pria itu mendesah dalam segala luapan kebahagiaan juga kerinduan. Lia dan anaknya... Ingin segera dia memeluk wanita itu, mendekap dengan erat.


"Anakku.... Bahkan aku tidak tahu apakah kau putra atau putri yang aku miliki. Aku bahkan tidak tahu, nama apa yang harus kusiapkan untukmu."


Jason mendesah dengan air mata yang bergulir perlahan. Dia akhirnya jatuh terlelap.


Saat fajar menyingsing, pesawat Jason sudah tiba di bandara di Miami. Dia tidak menunggu untuk beristirahat.


Jason segera menaiki helikopter pribadinya. Frans menerbangkan helioptrr dengan Doreo di sisinya. Merekamenemani tuan muda untuk pergi ke pulau Madison.


Sepanjang jalan Jason membuka matanya lebar - lebar. Dia benar-benar tidak sabar untuk bisa segera mendarat dan membuktikan jika dugaannya adalah benar.


Sepanjang perjalanan dia teringat saat pertama kali mengajak Lia berkencan. Gadis itu begitu bahagia dan matanya berbinar saat pertama kalinya menaiki helikopter. Jason tanpa sadar tersenyum sendiri.


Mereka tiba di Pulau Madison. Jason tak sabar rasanya untum segera mendarat. Dia ingin percaya jika Lia memang ada di sana.


Saat helikopter mendarat, hal pertama yang dia lihat adalah seorang pria tua di kursi roda dengan seorang wanita setengah baya di sisinya.


Tanpa menunggu baling - baling kapal berhenti, Jason berlari menuju ke arah pria tua itu. Saat dia sudah tiba di depan pria berkursi roda itu, amarah nya meredam.


Darrel Madison tampak tua dan kurus. Dia tidsk tsmpsk lagi seperti pria tua yang gagah dan berwibawa. Bahkan sinar matanya yang biasa terkesan angkuh, kini meredup.... Tampak lemah.


Pandangan mata ayah dan anak itu bertatapan. Ada sinar mata kerinduan dan rasa bangga di pancarkan oleh Darrel Madison dan Laura Collins Madison. Sinar mata yang terasa canggung bagi Jason.


"Jadi selama ini kau bersembunyi di sini? Apa yang terjadi pada mu, Tuan Besar?" Suara Jason terdengar sangat menekan emosinya.


Keinginan awal pria muda itu awalnya adalah menghardik, mencerca bahkan jika bisa menghajar Tuan Darrel.


Tetapi melihat keadaan pria tua itu, jiwa seorang anak kembali muncul. Kasih sayang yang terpendam oleh ikatan darah.


"Jason, Daddy baru saja mengalami operasi tumor. Keadaannya sedang tidak baik. Kami senang akhirnya kau datang ketempat ini." Laura menggantikan Darrel menjawab pertanyaan Jason.


"Tumor Otak? Mungkin itu hukuman untukmu. Otak mu yang jahat mendapatkan hasilnya." jawab Jason sinis.


"Hentikan Jason! Biar bagaimanapun dia ayah yang harus kau hormati!" Seru Laura memperingatkan anaknya.


"Bagaimana kau masih bisa membelanya, Mom! Setelah semua yang dia lakukan. Berapa kali aku harus membereskan permasalahan yang dia lakukan? Menyebar benih kemana-mana, tapi tidak pernah menghiraukan kelangsungan hidup mereka. Apa kau tidak punya otak? Kenapa tidak menggunakan pengaman?!" bentak Jason dengan kesal.


"Aku memang pemain wanita. Laura tahu itu. Tapi aku tidak bodoh dengan menyebar benih pada setiap wanita. Kau yang bodoh, karena terlalu lemah! Aku selalu memakai pengaman, kau harus tahu itu!"


"Kalau pakai pengaman bagiaman bisa menghamili wanita, pria tua bodoh!" desis Jason.


"Itu pertanyaan yang sama yang aku tujukan kepada mereka. Mereka datang dengan kehamilan bahkan bayi yang memang memiliki dna ku. Bagaimana bisa jika aku menggunakan pengaman? Dan aku baru menyadarinya. Aku tidak pernah menyediakan pengaman sendiri. Mereka selalu yang membawanya setelah merayuku. Dan kemungkinan terbesar mereka dengan sengaja telah melubangi pengaman itu dengan jarum." ujar Darrel dengan lemah.


"Pria tua bodoh!" Jason menggeram mendengar jawaban Darrel yang menunjukan kebodohan pria itu.


"Aku tidak malu mengakui kebodohanku dan untuk itu aku tidak pantas mendapatkan pengampunan dari Laura," desah Tuan besar dengan perasaan bersalah.


"Sudahlah ... kita sudah sama-sama tua. Biarlah masa lalu menjadi bagian lama yang tak perlu di kenang."


Jason memandang kedua orang tuanya. Bukan saatnya bagi dia untuk mendengarkan mereka. Ada yang lebih penting, tujuan awal dirinya ke pulau ini.


"Katakan di mana Lia? Di mana kau sembunyikan istri dan calon anakku?!"