
Sementara itu di Kediaman Camila.
"Daniel, apakah kau tidak akan menemui Jason?" tanya Camila.
"Entalah mom, aku tidak ingin mendengar dia mengusir ku lagi. Kau lihat dia menahan diri semalam, hanya karena wanita itu." Ujar Daniel dengan sendu.
"Ini salahku. Seharusnya aku tidak jatuh cinta pada tuan besar, seharusnya aku menolak dia semampuku. Jika saja aku mempunyai sedikit keberanian, mungkin Jason tidak akan memusuhi ku." Sesal Camila.
"Jadi, mommy menyesal memiliki diriku?" Tanya Daniel dengan nada terluka.
Camila terkejut dengan perkataan Daniel.
"Bukan itu maksudku Daniel. Kau adalah anugerah dalam hidupku. Kau tahu bukan betapa aku menyayangimu." Camila membelai rambut Daniel dengan kasih seorang ibu.
"Tapi mommy juga menyayangi dirinya."
"Bagiku, Jasion adalah kakak tertua mu. Aku menyayangi kalian berdua." Jawab Camila dengan tulus.
"Tapi dia membencimu."
"Itu salahku. Dia terluka akibat perbuatanku. Jason masih remaja saat melihatku bersama tuan besar. Ini salahku." Terdengar nada sesal dalam kalimat Camila.
"Tapi kau sudah menghukum dirimu sendiri terlalu lama mom, dia tahu bukan jika tuan besar bukan pria yang suci. Bahkan pria tua itu sering membuatmu menangis." Sahut Daniel dengan kesal.
"Beri dia waktu Daniel."
"Jika bukan karena kau sangat menyanyangi dirinya dan jika bukan karena rasa bersalahmu, aku ingin menjauh dari keluarga ini."
"Tidak sayang, kau mendukungnya karena perasaanmu sama denganku. Kau mengharapkan dia menyayangi mu seperti seorang adik." Ujar Camila lembut sambil membelai kepala Daniel di pangkuannya.
"Heh... jika wanita lain yang melahirkanku, aku tidak yakin dia akan membiarkanku menyayangi Jason." Desis Erick.
"Wanita lain pasti akan membentuk diriku menjadi musuh bagi Jason." Sambung Erick lagi.
Camila tersenyum lembut.
"Mungkin, Lia bisa menjadi perantara antara kau dan Jason."
*******
Setelah mendapatkan foto Lia dengan dibalur kain putih tipis, Jason mengumpat berkali-kali. Pasalnya dia baru saja tiba tiga jam di kantor. Dan pekerjaan sedang menumpuk. Tetapi foto itu begitu menggoda nya.
Saat ini Jason menatap layar laptop nya berusaha memperhatikan grafik laporan disana, tetapi hanya bayangan Lia yang muncul. Bekerja jauh dari Lia membuat dirinya semakin sulit berkonsenterasi.
Jason sudah semakin kecanduan akan kehadiran Lia. Dulu sebelum mengenal Lia, dia lebih suka menghandel semua pekerjaan sendiri hingga larut malam, bekerja tanpa henti, sehingga membuat banyak bawahan yang mengundurkan diri.
Semenjak bertemu dengan Lia, terlebih lagi semenjak wanita itu tinggal di Mansion, Jason sudah mulai membagi pekerjaan untuk dihandel para bawahan. Asalkan dia bisa pulang dengan cepat dan menatap Lia.
Tetapi sekarang, dia menyadari sesuatu yang lebih parah. Tidak melihat Lia di dalam ruangan kantor, justru membuat Jason semakin gelisah. Jason merasa sedikit gairah dalam bekerja tertinggal di Penthouse.
Lain kali aku harus bisa menahan diri, agar dia bisa tetap bangun di pagi hari
"Hallooo anak tampan ku sayang." Suara seorang wanita membuayarkan konsentrasi Jason.
Laura Collins masuk tanpa permisi bersama seorang wanita. Natalli. Jason menegakkan tubuhnya tanpa beranjak dari kursi. Tampaknya Laura Collins belum menyerah menjodohkan Jason dengan Natalli.
"Kenapa kau kemari mom?" Tanya Jason tidak suka.
"Apa salah aku menemui anakku sendiri?" Jawab Laura dengan tertawa kecil.
"Hai Jasson." Sapa Natalli dengan hangat.
Jason mengacuhkan sapaan Natali, bahkan tidak berusaha memandang Natali.
Jason melirik meja Lia, dia merasa lega karena Lia tidak ada diruangan ini. Jason belum mempersiapkan Lia untuk menghadapi Laura. Dia terlalu khawatir, jika Laura tidak dapat menerima Lia dan menghina wanita nya. Karena Jason tahu, jika itu terjadi maka dirinya tidak lagi dapat menghadapi Laura Collins dengan baik.
"Aku hanya merindukanmu. Dan ingin mengajakmu makan siang bersama. " ajak Laura.
"Aku ada pertemuan siang ini. Silahkan mommy makan siang sendiri." Jason menolak dengan sopan.
"Aku sudah mengecek jadwalmu dengan Pedro. Kau kosong siang ini bukan, jadi tentu dirimu tidak punya alasan untuk menolak. Ayolahhhh... kita jarang bertemu, jangan buat diriku menjadi sedih." Laura berkata dengan lembut sambil menatao Jason lekat
Jason menarik nafas berat dan melirik jam tangannya.
"Baiklah mom. Hanya dua puluh menit. Selebihnya aku ada urusan lain." Jason mengalah.
"Baiklah dua puluh menit lebih baik daripada tidak. Ayo, kita makan di restaurant bawah saja." Laura menunggu Jason kekuar dari kursinya dan dia mengamit tangan Natalli untuk keluar dari ruangan Jason. Sebelum keluar, Laura melihat meja kosong yang biasanya di tempati Lia.
"Meja ini... kau membiarkan seseorang bekerja satu ruangan denganmu?" Tanya Laura heran. Meskipun tidak terlalu dekat dengan Jason. Tetapi Laura memahami sifat putranya yang tertutup. Dan dia paham jika Jason tidak suka ada orang lain dalam ruang kerjanya.
"Sekretaris ku." Jawab Jason singkat.
"Sejak kapan..."
"Mom, kau ingin membahas tentang masalah pekerjaanku atau mau makan siang?"
"Ah, iya. Ayo Natali kita pergi."
Di restaurant.
"Jason, kau tahu, Natalli akan menjadi ketua asosoasi untuk mengadakan pesta fashion tahunan di club." Laura Collins membuka pembicaraan.
"Hemm... " Jason menjawab dengan gumaman.
"Aku khusus memberikan undangan ini untuk mu. Kau harus hadir." Natali mengeluarkan sebuah undangan dan menyodorkannya pada Jason.
Pria tampan itu hanya melirik tanpa menyentuh.
"Undangan ini untuk pasangan. Kau bisa datang bersama Natalli. Kalian akan menjadi pasangan yang paling hebat di acara itu." Ujar Laura dengan bersemangat.
"Aku tidak akan hadir." Jawab Jason dingin.
"Jangan begitu, semua pimpinan perusahaan akan hadir di acara tersebut." Laura masih berusaha membujuk Jasson.
"Kalau begitu biar Erick yang mewakiliku."
"Ah, aku sudah menyiapkan undangan lain untuk Erick." Ujar Natali sambil mengeluarkan satu lagi undangan dari tas Pradanya.
"Bagaimana jika kau menjadi pasangan ibu, di pesta itu?" Ujar Laura yang memahami jika Jason tidak menginginkan disorot dengan Natali.
"Kenapa mommy tidak hadir dengan tuan besar?" Sindir Jason.
"Pria tua itu, heh! Lebih baik aku datang sendiri daripada harus bersama dia." Laura menggerutu kesal. Karena dia tahu, disetiap pesta assosiasi, Darrel Madison selalu menghilang bersama satu atau dua orang wanita.
Jason tersenyum sinis.
"Aku akan datang dengan Laurent." Jawab Laura.
"Laurent? Dia akan kemari?" Jason terkejut karena sudah lama Laurent tidak menghubungi nya.
"Iya. Dia merindukanmu dan kota ini." Sahut Laura.
Jason menganggukan kepalanya. Dia juga merindukan Laurent. Adiknya yang manja, keras kepala namun berhati baik. Tetapi yang lebih meresahkan adalah bagaimana mereka akan menghadapi Lia. Jason tahu Lia adalah seorang yang luar biasa, namun dia juga takut dengan kelembutan hati gadis itu. Tekanan yang mungkin akan diberikan oleh keluarganya akan membuat gadis itu memilih untuk mengalah.