
Sudah tepat satu bulan sejak Lia tinggal bersama dengan Jason. Lebih tepatnya menjadi istri. Istri yang masih original. Dan sudah tepat tiga minggu juga Lia tidur seperti seorang bayi yang baru lahir.
Kenapa begitu? Ya... Lia membebatkan selimut kesukujur tubuhnya dan memastikan kedua tangannya tetap berada didalam selimut. Persis seperti bayi dalam bedongan.
Lia melakukan hal tersebut karena merasa trauma. Dia sadar jika dirinya memiliki kebiasaan tidur yang buruk. Lia bisa tidur berputar dan menjelajahi setiap sudut tempat tidur.
Bukan hanya sekali dia mendapati dirinya bagun dengan tubuh menempel pada Jason. Sekali dia bangun dengan kepalanya diatas dada Jason, sementara kakinya memeluk paha Jason.
Hal itu mungkin masih wajar. Apalagi Jason sering memeluk Lia dan memencium bibir gadis itu. Meskipun sampai detik ini Lia tidak pernah membalas ciuman Jason, tapi dia pun tidak pernah menolaknya.
Tapi hal yang lebih parah dan memalukan bagi Lia. Ketika dia terbangun dan mendapati dirinya tidur terbalik. Terbalik?
Iya... Lia berada di kaki Jason. Wajar? Mungkin...
Jika saja ketika matanya terbuka dia tidak merasakah hal yang tidak wajar.
Dia bangun dengan kepalanya diatas paha Jason sedangkan wajahnya menempel pada boxer Jason. Tepat di bagian intim.
Sementara kakinya memeluk perut Jason.
Dan tangannya.... ah... jangan dikatakan lagi...
Saat itulah Lia histeris menyadari tangannya tidak lagi original.
Dia bangun dengan wajah memerah dan perasan putus asa. Setengah mati Lia menjaga keoriginalan dirinya. Tetapi perlahan semua nya menjadi hilang di dekat Jason.
Meskipun Lia sadar, Jason adalah suaminya dan dia harus menepati perjanjian. Tapi, Lia selalu mengulur waktu. Dia tidak ingin membuka hatinya. Dia terlalu takut untuk terluka dan berakhir menjadi bayangan.
Pagi ini dengan pegal, Lia melepaskan diri dari selimut yang membebat tubuhnya. Sebenarnya Jason merasa kasihan. Tapi dia tidak ingin membiarkan Lia tidur sendiri dan merasa menang, karena hal itu akan semakin menjauhkan diri mereka.
Jason terlalu senang tidur di sisi Lia. Menatap wajahnya ketika tidur pulas. Mendapatkan kejutan setiap malam dan terbangun dengan wajah cantik nya setiap pagi. Wajah itu yang selalu dia pandang ketika hendak terlelap dan wajah itu pula yang mengawali hari-hari indahnya.
Dan sifat posesif Jason semakin nampak, terkadang membuat Lia semakin gerah.
Sudah sebulan pula Jason tidak pernah mengajak Lia keluar dari mansion. Malahan pria itu lebih sering membawa pulang pekerjaannya.
Dan karena itu peraturan baru muncul semenjak tiga minggu yang lalu. Lia harus menemani Jason bekerja. Lia akhirnya hanya duduk diam di depan Jason sambil membolak-balik majalah atau membaca buku.
Jason senang sekali, setiap kali bisa melihat Lia disaat dia bekerja, menginginkan lebih. Jason mempunyai kebiasaan mengetuk-ngetuk meja dengan telunjuk, apalagi jika dia memikirkan sesuatum Dan karena itu peraturan baru dibuatnya.
"Lia." Panggil Jason.
"Ya?" Sahut Lia tanpa menoleh.
"Kau dengar ini?" Tuk.. Tuk. Tuk. Jason mengetuk meja.
"Ehe." Sahut Lia mengiyakan. Dari tadi juga dia selalu mengetuk meja sambil menatap laptopnya.
"Setiap kali kau mendengar ketukan ini dari jemariku. Itu artinya kau harus menciumku." Ujar Jason tegas.
"Heh?" Lia terkejut mendengarnya. Pertaturan Jason sanggup membuat Lia mengalihkan pandangannya dari majalah.
"Apa katamu?"
"Kau mendengarnya. Setiap jemariku mengetuk seperti ini. Tuk. Tuk. Tuk. Itu artinya aku mau kamu mencium bibirku." Ulang Jason.
"Kenapa begitu. Aku tidak mau." Protes Lia.
"Kau ingin hutang mu bertambah?" Ancam Jason.
"Kenapa harus bertambah, aku kan tidak melakukan kesalahan." Lia tidak terima.
"Peraturan keempat. Kau harus patuh kepadaku." Jason mengingatkan Lia.
"Tapi..."
"Jadi, kau mau melanggarnya?" Tantang Jason.
"Tidak." Lia menggeleng lemah.
Tuk. Tuk. Tuk.
Lia terperangah. Ah, haruskah hal itu dimulai saat ini juga?
Tuk. Tuk. Tuk.
Jason memandang Lia dengan mata mengancam.
Lia mendengus kesal. Tapi tak urung dia berjalan mendekati Jason. Lia menundukan wajahnya dan Cup! Kecupan mendarat di bibir Jason. Tipis dan singkat.
Lia membalikan badan hendak menuju ke sofa nya.
Tuk. Tuk. Tuk.
Belum juga selangkah, bunyi ketukan terdengar lagi. Dengan berdecak Lia membalikan tubuhnya dan mengecup bibir Jason.
Tuk. Tuk. Tuk. Jemari itu mengetuk lagi drngan keras. Dan Lia pun terpaksa mengecupnya. Berulang-ulang hal itu terjadi, tanpa sempat berjalan menjauh. Jason menyeringai lebar. Dia sangat senang. Sekarang dia tahu perbedaan rasa di cium dan mencium. Meskipun Jason pun tidak tahu bagaimana rasa saling berciuman.
"Aku tidak mengira, jika kau sangat suka menciumku." Ujar Jason menggoda ketika jemarinya sudah tidak mengetuk meja tetapi Lia masih saja mengecup bibirnya.
Lia menarik tubuhnya dan mencibir dengan kesal. Dia menggosokan tangannya ke bibir dengan gregetan. Jason makin mengelunjak bagi Lia.
"Aku mau turun."
"Hei, aku masih bekerja. Duduk disini." Perintah Jason. Jason menunjuk pada kursi dihadapannya.
Dengan enggan, Lia duduk di kursi itu. Sudah tiga jam dia terkurung di dalam ruangan kantor menemani Jason. Dan Lia sudah suntuk. Kenapa pula pria ini tidak bekerja di kantor nya saja. Kenapa pula aku harus menemani dirinya bekerja tanpa berbuat apapun. Membosankan.
Dengan bosan, Lia mengambil sebuah kertas dan pensil untuk mencorat-coret disana. Dia menuliskan banyak tulisan lalat buah jelek di kertas itu. Tentu saja dalam bahasa Indonesia, bukan dalam bahasa Inggris apalagi bahasa Prancis. Supaya Jason tidak mengerti yang dia tulis.
Lia menggambar pula wajah Jason dengan asal dan wajah yang menyeringai masam. Tentu saja Lia bukan orang yang pandai menggambar. Gambarannya pun jelek seperti anak Sd kelas satu.
"Gambar siapa kau!"
"Ya Tuhan!" Ujarnya sambil memegang dada.
"Ini siapa?" Jason menunjuk pada coretan gambar orang.
"Ini... eg... " jika mengatakan itu Jason, maka dia pasti akan mendapatkan hukuman.
"Butler Bernard!" Ujarnya cepat.
Ya lebih aman kan jika pria itu yang dijadikan alasan. Maaf ya butler Bernard.
Jason mulai mengambil kertas itu, mengamati dan tertawa. Dia merasa geli melihat raut wajah jelek yang di buat Lia.
"Lanjutkan karyamu. Hahaha... hahahaha."
Jason kembali duduk di singgasananya dan mengetik sesuatu di laptop nya.
Lia bernafas lega berhasil mengecoh Jason.
Tak lama kemudian wajah ceria Jason berubah menjadi masam.
"Kau bilang siapa yang kau gambar itu?"
"Butler Bernard." Ujar Lia yakin.
Jason menaikan alisnya menatap Lia.
"Lalu apa yang kau tulis di sana?" ujar Jason menyelidik
Lia tersenyum lucu. Menarik sudut-sudut bibirnya tanpa memamerkan gigi. Mesem.
Jason menanti jawaban.
"itu eh... e... mata banteng lucu. hehehhehehe"
"Mata banteng?"
"Iya mata banteng. Mata butler Bernard kalau marah, melot lucu kaya mata banteng. hahhahahha." Lia terbahak. Dia senang karena berhasil memberikan alasan yang membuatnya geli sendiri.
"Bukan mata banteng. Pria tua kurus itu memiliki julukan gagak. Jadi bisa dibilang mata gagak." ujar Jason tanpa bermaksud melucu.
"Apa? hahahaha... kenapa gagak?" ujar Lia di sela-sela tawa geli nya.
"Suara paraunya yang menyerupai gagak. Juga bagaimana dia menebarkan aura kematian bagi bawahannya." ujar Jason santai.
"Buahhahhahha...hahhaha..." Lia terpingkal-pingkal. Bagi dirinya Butler Bernard tidak semenyeramkan itu. Tapi jika benar semua karyawan takut padanya, maka butler Bernard harus dilatih agar lebih lembut lagi.
"Sudah puas kau tertawa?" tanya Jason sambil tetap menatap Lia dengan menyungging senyuman. Dia bagaikan Rajawali yang mengincar mangsanya.
"Ehem..hem.. iya.." Lia berdehem dan menghentikan tawanya. Kemudian dia menegak air putih.
Tok. Tok. Tok.
Lia hampir tersedak. Dia menatap Jason dengan terbelalak.
Tok. Tok. Tok.
Lagi? Heh?
Jason mengangkat sebelah alisnya dan menatap Lia tajam.
Lia langsung lemas.
Tok. Tok.Tok. Kali ini lebih keras dan cepat. Tanda tak sabar.
Dengan malas Lia menghampiri Jason dan Cup.
Belum sempat Lia mengangkat punggungnya, Jason sudah menarik tubuh Lia kepangkuannya.
"Sekarang aku akan menghukummu!" bisik Jason sinis.
"Apa salahku?" ujar Lia tak mengerti.
Jason menunjukan laptop nya. Lia terbelalak lagi. Di laptop Jason tampak pencarian dari Google.
Lia menutup mulutnya tidak percaya. Dia ketahuan. Dengan takut-takut Lia menatap Jason yang menyeringai lebar. Menyeramkan bagi Lia. Dan mata itu sudah menuntut hukuman.
Perlahan pria itu melepaskan tangan yang menutupi bibir Lia.
Kemudian, Tok. Tok. Tok. Tok. Tok. Tok. Tok.
Jemari itu tidak berhenti mengetuk meja.
...💗🌟💗🌟💗🌟💗🌟💗🌟...
Hallo Semuaaa.....
Terimakasih sudah setiap menanti Lia dan Jason.
Malam pertama mereka masih agak lama dengan sifat Lia yang keras.
Tapi jangan khawatir, mereka akan melakukan malam pertama ketika cinta sudah disadari, dan itu pasti akah menghanyutkan kita semua.
Oh yaaa....
SELAMAT TAHUN BARU ya semuanyaaaa.
Ingat jam Malam, Jangan kluyuran.
Stay Healthy dan Tetap Semangat.