
β€Jangan Lupa Vote yaaa. Biar semangatβ€
...πππππππ...
"Bagaimana penampilanku?" tanya Lia dengan gugup. Dia berulangkali mondar mandir di depan cermin. Dia benar-benar merasa gugup. Bertemu dengan ibu Jason tentu berbeda dengan bertemu dengan Camila Lopez atau Laurent.
"Kau luar biasa." ujar Jason yang memegang kedua lengan Lia dari belakang.
Lia mengenakan gaun panjang berwarna merah muda dengan bahu sedikit terbuka. Dia memilih pakaian yang sederhana tetapi tetap tampak anggun. Bagi Lia kesan pertama tentu harus luar biasa. Dia tidak dapat berpenampilang melebihi Laura Collins sang ibu mertua, tetapi juga tidak boleh terlihat rendah dan memalukan berdampingan dengan Jason.
Mereka keluar dari Penthouse Jason yang berada di tower B, berjalan menuju Penthouse Laura Collins yang berada di tower A. Kedua tower berjajaran dan menjulang tinggi di sambung dengan jembatan penghubung. Dengan berganyut pada lengan Jason, Lia melangkah anggun melalui jembatan penghubung yang beralaskan karpet warna merah.
Sesampai nya di tower A, dengan kartu khusus Jason memencet lift menuju Penthouse. Selama perjalanan lift menuju ke atas, tangan Lia terasa dingin meremas tangan Jason. Gadis itu masih tegang.
"Kau gugup?" tanya Jason.
Lia mengangguk.
"Kau sudah berhadapan dengan Laurent dan membuatnya kalah. Kenapa sekarang harus takut?"
"Ih. Bertemu dengan ibu mu tentu berbeda dengan Laurent. Jika aku keras dan kasar dia bilang aku wanita tidak berpendidikan. Jika aku lembut nanti dia bilang aku wanita lemah. Jika aku..."
".... nakal dibilang kucing liar." Jason memotong kata-kata Lia.
"Ih hi! Tambak diledek." Lia langsung menggelitiki pinggang Jason.
"Aduh.. geli ah... stop.. stop." Jason melepaskan diri dari serangan jemari Lia.
Lia lebih memilih untuk menggelitiki pinggang Jason daripada mencubitnya. Karena susah sekali menemukan lemak diantara tubuh yang liat itu.
Lift sudah tiba di lantai atas. Laura Collins memilih membiarkan mereka makan malam dikediamannya daripada di restaurant. Dia ingin melihat seperti apa wanita pilihan Jason.
Laura Collins terkejut ketika melihat Lia. Tapi dengan cepat pula dia menyembunyikan keterkejutannya dengan pandangan angkuh. Laurent tidak mengatakan padanya, jika Lia adalah murni orang Asia. Laurent hanya mengatakan jika wanita pilihan kakaknya itu penuh dengan kejutan.
"Hallooo kalian sudah datang." suara lincah Laurent memecahkan keheningan sesaat diantara mereka.
"Ayo kita makan. Aku sengaja tidak makan siang, agar bisa makan banyak bersama kalian." ujar Laurent.
"Terimakasih." sahut Lia.
Mereka berjalan menuju ruang makan. Laura Collins duduk diujung meja. Sedangkan Jason di sisi sebelah kanan berdampingan dengan Lia dan Laurent duduk didepan Jason. Laura Collins tidak banyak bicara. Pandangan wajah dan sorot matanya tetap dingin dan angkuh.
"Jadi kalian sudah menikah?" tanya Laura Collins tiba-tiba dengan datar.
"Iya mom." Jason menjawab pertanyaan Laura dengan datar pula.
"Sudah berapa lama?"
"Setahun."
Laura Collins ganti menatap Lia, yang masih makan dengan tenang dan perlahan. Laura Collings harus mengakui jika Lia memang tampak cantik dan berkelas. Tetapi bagaimana dengan latar belakang Lia. Apakah wanita ini sepadan dan bisa menopang Jason?
"Orang tua mu bergerak di bisnis apa?" tanya Laura.
Lia menghentikan makannya. Saat ini pandangan Laura dan Laurent tertuju padanya. Jason ikut menghentikan makannya. Dia menatap Lia kemudian menggenggam tangan istrinya. Jason menoleh ke arah ibu nya, "moms untuk itu aku akan jelaskan."
"Aku bertanya pada Lia. Apa dia tidak punya mulut untuk menjawab?" sahut Laura dengan sinis.
Laura mengangkat gelas wine, memutar perlahan, mencium aromanya kemudian menegak perlahan. Dia masih menatap Lia, menanti gadis itu mengeluarkan suara.
"Ayah saya sudah meninggal semejak saya berusia empat tahun. Ibu sudah menikah lagi dan bahagia dengan keluarga baru nya. Kakakku sudah menikah dan memiliki anak, mereka tinggal di Miami. Keluarga kami tidak memiliki bisnis luar biasa seperti anda, nyonya. Tetapi, kami adalah pekerja keras yang tahu diri dan bisa menghargai orang." jawab Lia dengan tenang.
Laura tersenyum tipis dengan sinis menatap Lia
"Lalu, apakah ini artinya kau tahu diri dengan menikahi anakku? Atau benar seperti dugaanku..." Laura berbicara dengan datar tanpa melanjutkan perkataannya.
Lia tertawa dalam hati. Hal ini sudah terlintas dalam benaknya. Pertanyaan itu pasti akan terlontar, seakan dirinya serakah. Cih! Ibu Mertua, tidak kah kau tau, bukan aku yang mengejar anakmu. Tapi anakmu yang sudah gila dan memenjarakan aku dengan cintanya.
"Lalu menurut anda, nyonya... Siapapun wanita lain yang menikahi putra anda berarti mereka tahu diri?" tanya Lia balik dengan tenang.
"Tentu saja! Wanita yang sederajat tentu lah lebih pantas! Bukan wanita yang bermimpi menjadi ratu dalam semalam." Sahut Laura dengan tegas.
Saat ini Laura sudah menyandarkan punggung di sandaran kursi. Menyilangkan kaki kanan dan memegang wine ditangan kanan. Dia menatap Lia dengan tajam dengan pandangan yang meremehkan. Sementara Laurent hanya diam sambil menikmati makanannya. Dia masih bersemangat menyaksikan aura dingin yang dikeluarkan oleh kedua wanita dihadapannya.
"Jika yang anda maksudkan dengan sederajat itu adalah harta. Saya mengaku kalah. Karena saya tidak memiliki harta selain ketulusan. Lalu... menurut anda, wanita yang sederajat itu, apakah suatu hari nanti tidak akan menghianati putra dan keluarga anda, nyonya? Pernikahan karena derajat, tentunya akan selalu mencari kedudukan dan kekuasaan yang lebih menguntungkan." jawab Lia dengan tenang sambil memotong steak, menusuk, menggigit dan mengunyahnya dengan tenang, hingga hancur dimulut.
Laura sekilas tersenyum tipis mendengar jawaban Lia. Kalimat itu benar-benar menusuk dengan halus. Tidak ada jaminan jika pasangan suami istri yang dijodohkan karena pernikahan bisnis, suatu saat nanti tidak saling menjatuhkan. Bahkan dirinya saat ini berusaha menjatuhkan Darrell Madison.
"Lalu... apa jaminan kau akan setia pada anakku dan diriku. Mungkin saja, setelah kau merasakan nikmat berada di puncak kekuasaan, kau akan tergoda untuk menyingkirkan Jason." Tanya Laura dengan gamblang. Pertanyaan yang diambil dengan memutar balikan penyataan Lia.
Lia menghela nafas. Ternyata begini rasanya hidup dengan orang-orang, yang selama hidupnya hanya tahu mengenai uang. Mereka hanya tahu untung dan rugi. Mereka tidak perduli akan hal lain. Bahkan masalah hatipun menjadi bisnis.
Ingin sekali Lia berteriak pada Laura.
*Hei! Nyonya! Meski Jason miskin sekalipun, aku akan tetap disampingnya. Ambil saja semua hartanya untuk dirimu! Uang tidak bisa kau bawa mati itu. Bawa sekalian semua hartamu kedalam kubur!!!
Tapi Jika Jason yang tidak setia, maka aku akan mengebirinya. Ah tidak! Untuk apa aku repot-rwpot melihat miliknya lagi. Aku akan meninggalkannya. Buat apa hidup dengan pria tidak setia*.
*Aduhhh !! Tidak! Tidak! aku tidak bisa berkata seperti itu, bagaimana jika nyonya besar ini tiba-tiba mendapatkan ide, kemudian menjebak Jason dan membuat aku mengira dia tidak setia. Tidak! Tidak! Aku harus memikirkan kata-kata yang tepat untuk menjawab dirinya*.
...πππππππ...
Ayoooo dibantuin Lia nyaaa.