
Sepeninggal Natalie, Erick benar-benar berpikir keras. Dia mencari cara bagaimana mencabut duri yang mempengaruhi kehidupan rumah tangga nya.
Dia harus mencabut duri tanpa menghancurkan duri itu dan dirinya sendiri. Karena bagaimanapun, keluarga Svetlana berteman dekat dengan keluarga Erick. Dan mereka tinggal di kota kecil, yang saling mengenal satu sama lain.
"Bertha masuklah, " panggil Erick lewat telphone.
"Ada apa, Tuan?" tanya Bertha.
"Apakah masih ada program pertukaran pegawai?"
"Tentu saja, masih."
"Masukan Svetlana ke program tersebut. Katakan kebagian manajemen dan personalia. Jika perlu, buat penawaran yang tidak bisa dia tolak. Kau mengerti?"
"Tentu saja, Tuan Erick."
"Jika wanita itu masih berusaha mencariku untuk mengkonfirmasikannya, katakan padanya jika aku tidak bisa di temui." tambah Erik lagi.
Bertha tersenyum dan bergumam, "Kenapa baru sekarang bicara tegas."
"Apa kata mu, Bertha?" tanya Erick yang bisa mendengar sekilas perkataan Bertha.
"Oh tidakkk .... Anda keren, Tuan."
"Kau mengejekku?"
"Saya? Mana pernah?"
"Kamu baru saja melakukannya."
"Aku kan memujimu, Tuan."
"Ah, sudahlah." Erick mengibaskan tangannya.
"Ada lagi, Tuan?" Bertha mengulum senyuman.
"Tidak tidak ada. Tunggu!" Erick menahan Bertha yang hendak pergi keluar dari ruanganya.
"Ya, Tuan?"
"Bawakan aku kopi."
Bertha mengernyitkan keningnya.
"Aku tidak bernapsu."
"Bagaimanapun Anda harus makan, Tuan. Jika Anda sakit, siapa yang akan memperhatikan perusahaan. Anda enak bisa langsung masuk rumah sakit. Sedangkan perusahaan masih labih di bawah pimpinan Daniel. Selain itu ada gal yang penting, jika anda kurus dan tidak berotot lagi, bisa beneran kabur nona Laurent. Gak maalu bertemu nona dengan tubuh seperti teripleks?"
Erick terpana mendengar kalimat dari Bertha yang terus berjalan dan panjang seperti kereta api listrik. Wanita itu sudah menjadi sekretarisnya selama lebih dari lima tahun.
"Lalu bagaimana? Masih mau minum kopi tanpa makan? Mau sakit dan merana tanpa ...."
"Sudah cukup! Berikan makanan untukku." Erick sudah tidak tahan memdengar wanita ini terus berkicau tanpa henti.
"Segera meluncur." Bertha keluar dengan cepat dan memesankan makanan untuk Erick.
Menghadapi Erik tentu berbeda dengan menghadapi Jason. Jason lebih keras dan tegas. Tidak berarti Tidak. Sedangkan Erick Tidak tetapi bisa ditawar menjadi boleh juga.
Bertha sudah hapal dengan sepak terjang Erick. Dia pula yang sering mengatur jadwal kencan Erick. Mengirim hadiah dan bunga untuk wanita yang akan dia putuskan.
Meskipun Bertha masih muda, tapi dia tetap menjaga keprofesionalan dalam dunia kerja. Dia dan Erik hanya pasangan yang klop di urusan pekerjaan. Mereka tidak pernah berusaha untuk merusak hubungan pekerjaan dengan romansa.
Dan saat ini di hadapannya adalah sekretaris sementara untuk Tuan muda Jason. Sekretaris yang ditempatkan untuk membantu Daniel dalam menangani tugas-tugasnya.
Jujur saja Bertha merindukan Pedro. Pria itu seringkali menjadi penyemangat jika dia merasa bosan. Dan dia adalah teman yang cukup lama dia kenal. Sayang sekali kepergian Pedro tanpa pamit.
Ting!
Suara lift terbuka. Di sana tampak makanan pesanan untuk Erick datang. Bertha tersenyum, saatnya memberi makan untuk boss dan teman yang baik itu.
"Terimakasih dan ini tip untuk kamu." Bertha memberikan selembar uang lima dolar.
"Terimakasih sekali, Nona. Oh ya ini ada surat titipan dari seorang pria tampan. Dia bilang tolong berikan untuk Tuan Erikc." Office boy itu memberikan sebuah amplop coklat pada Bertha
"Terimakasih."
Office boy itu mengundurkan diri.
Bertha mengamati amplop coklat yang dia baru saja terima. Keningnya berkerut membaca kop surat tersebut; Kantor Pengadilan Agama.
Dengan ragu Bertha meletakan amplop tersebut. Yang terpenting sekarang adalah memberi makan Erick terlebih dahulu.
Urusan amplop ini, nanti setelah dia kenyang.