
Sesungguhnya Lia selama hampir dua bulan ini sudah mengamati pergerakan para pelayan. Dia cukup pintar untuk tahu jika setiap hari Jumat, mereka akan bergiliran untuk mendapatkan libur.
Terkadang mereka berpakaian sangat modis. Terkadang mereka berpakaian casual. Sebenarnya Lia sudah lama penasaran, kapan giliran butler Bernard akan mengambil liburan. Karena pria tua dengan wajah robot itu, selalu saja tampak batang hidungnya.
Dan itu mengesalkan. Awalnya Lia berniat untuk membujuk pengawal disaat butler Bernard berlibur. Dia hanya ingin melihat apa yang ada disekitar Mansion ini. Tentu saja Lia tidak berniat kabur. Tinggal di negara asing yang dia tidak mengerti bahasa nya, tanpa kenalan, itu mengerikan. Apalagi menjadi imigran gelap itu sangat beresiko.
Dan saat itu tidak pernah tiba, ketika Lia sadari dari perkataan Cicil jika butler Bernard tidak pernah mengambil libur. Bagi pria tua dengan julukan burung Gagak itu, Mansion ini adalah rumahnya. Dan para pelayan adalah mangsanya.
Hiiii... Lia menjadi gemas. Mungkin lain kali dia akan benar-benar membawa butler Bernard berlibur, agar pria itu bisa tersenyum lebih banyak.
Hari libur karyawan tiba. Hari Jumat. Lia senang sekali pagi itu, ketika mengetahui Jason berangkat bekerja. Lia bersorak dalam hati, karena terkadang hari Jumat, Jason justru tidak masuk kerja dan menghabiskan waktunya bekerja di rumah, menjadikan Lia juru cium di saat Jason suntuk. Tok. Tok. Tok. Hiiiii...
Tapi senyuman itu tidak berlangsung lama, karena setelah jam makan siang, Jason kembali. Lia berencana untuk menyelinap keluar bersama para pelayan. Tapi rencana itu tampaknya akan gagal dengan kehadiran Jason di rumah.
Dengan alasan berolah raga, Lia menghindari Jason. Ketika dilihatnya para pelayan sudah bersiap. Lia segera naik kelantai atas hendak melihat keberadaan Jason.
Tampaknya Jason sedang serius melakukan work out di ruang fitnes. Perlahan Lia menutup kembali pintu ruang fitnes, menoleh kesana kemari. Dan mengambil sapu di sudut ruangan. Dengan sapu itu Lia menahan gagang pintu.
Lalu secepat kilat Lia turun dan mendatangi para pelayan. Hampir saja Lia berhasil keluar, jika saja si burung Gagak tidak tiba-tiba muncul dengan suara parau jeleknya.
Lia merasa lesu. Dia sudah sangat ingin sekali keluar. Keinginan itu hampir mencapai puncak untuk meledak. Dan dia tidak mau gagal.
"Ayo butler Bernard kita masuk." Ujar Lia mematuhi larangan pria tua itu. Butler Bernard berbalik mengikuti Lia. Lia menoleh kebelakang dan tersenyum pada pria tua itu sambil melirik pada pintu gerbang yang sudah terbuka, sementara pelayan sudah akan melangkah keluar.
Lia butuh mujijat dan keberanian.
Saat itu tiba. Terdengar pintu yang di gedor dan di buka paksa dari lantai atas. Dan Lia tahu Jason sudah selesai dengan fitnesnya. Pria itu tidak bisa keluar karena terhalang sapu yang menyangga handel pintu.
Lia terkekeh dalam hati.
"Butler... cepat lihat, apa yang terjadi di sana. Itu suara Jason?" Ujar Lia dengan panik.
"Iya benar. Saya akan segera ke atas melihat keadaan tuan muda." Secepat langkah kaki butler Bernard menuju ke Lantai atas, Lia menggunakan kekuatan sepuluh kali lipat berlari menuju gerbang.
Tidak sia-sia dia mengasah kemampuan setiap hari. Karena dengan cepat pula, Lia berhasil keluar sebelum gerbang tertutup kembali. Pengawal tidak sempat menghalangi, karena kejadian itu sangat cepat dan pintu gerbang itu tertutup otomatis.
"Bilang pada Jason, aku mau bermain!" Teriak Lia pada penjaga.
"Cicil, tungguuuu aku ikuttttt!!!" Teriak Lia pada para pelayan yang sedang berjalan santai menyeberangi jalan.
Mereka terkejut. Dan raut wajah gembira mereka berubah menjadi tegang. Mereka takut dengan keberadaan Lia, akan menyebabkan jam libut menguap.
Sementara dari arah luar gerbang, Lia bisa mendengar suar Jason berteriak memanggil dirinya. Secepat kilat pula Lia berlari mendahului para pelayan. Kelima pelayan itu yang kaget dengan kehadiran Lia, terpaksa berlari menyusul Lia. Jangan sampai kehilangan jejak, jika masih ingin bekerja.
Sementara itu, kehebohan terjadi di Mansion. Jason yang berusaha keras mendobrak pintu ruangan fitnes tampak kewalahan. Pintu itu terbuat dari kayu jati yang kokoh, bukan pintu yang mudah untuk di dobrak.
Saat itu Jason menuju ke telphone khusus dalam rumah, hendak memanggil butler Bernard. Telphone tersebut berada tepat di meja samping jendela yang menuju halaman depan. Saat itu lah dia melihat Lia berlari keluar dan pintu gerbang otomatisnya tertutup.
"LiAAAAAAAAAAAAAAAAA!!!!!" teriak Jason ketakutan dengan suara super lantang, sehingga otot-otot di lehernya menegang.
Dia melihat gadis itu berlari keluar tanpa menoleh kembali. Jason Panik. Dia takut.
Takut Lia pergi meninggalkan dirinya. Jason takut kehilangan Lia.
Pintu ruang fitnes akhirnya terbuka. Jason dengan secepat kilat keluar, tanpa menghiraukan butler Bernard yang terhuyung hampir jatuh. Dia menuruni tangga menjuju ke lantai bawah dengan cepat.
Tanpa alas kaki, Jason berlari keluar. Secepat Rajawali menukik mengejar mangsanya, secepat itu pula Jason melesat.
"Buka gerbang!" Perintah Jason dengan berteriak sambil masih tetap berlari. Gerbang otomatis itu terbuka dan Jason berlari keluar meninggalkan pengawal pintu yang tidak mengerti. Namun sedetik kemudian mereka paham jika sudah melakukan kesalahan besar dari aura wajah butler Bernard.
Jason berjalan di jalan setapak tanpa alas kaki. Dia seperti orang tidak waras yang mencari Lia. Sepanjang jalan dia menoleh dan mengawasi kerumunan kecil di tepi danau. Jason tampak berantakan dan gelisah. Danau itu terletak berseberangan dengan mansion Jason.
Setelah beberapa menit, Jason akhirnya menemukan kelima pelayannya yang sedang duduk dengan Lia ditengah-tengah mereka. Jason merasa lega, Jantung nya berdegup bahagia, dia berjalan menghampiri mereka.
"Lia!" serunya.
Semua perasaan berkecamuk di hati Jason, antara gembira, kesal dan gemas pada gadis itu. Istinya yang nakal. Kucing liar kesayangannya. Ingin sekali dia peluk dan gigit leher putih mulus itu.
Lia menoleh dan mendapati Jason berjalan mendekatinya. Saat itu juga, Lia yang kaget segera berlari menjauhi Jason. Jason mengejar Lia. Dan akhirnya kelima pelayan tersebut menyaksikan drama saling mengejar.
"Aku tidak mau pulangggg!!!" teriak Lia. Menyadari Jason semakin dekat, Lia panik.
Sementara para pelayan yang menyaksikan drama itu mulai menjadikan mereka pertaruhan.
"Aku yakin tuan muda akan menggendong nona pulang." ujar Fidel.
"Ah... tidak mungkin. Mereka pasti akan menikmati pemandangan matahari terbenam bersama." ujar kelompok wanita.
"Kalian tahu bukan sifat tuan muda jika marah? dia diam tapi membiarkan butler Bernard yang menghukum." ujar Castro, salah satu pelayan pria.
"Jangan bilang tuan akan menghukum nona. ah... kasihan sekali nona." keluh Adonia.
"Aku bertaruh jika tuan muda akan menggendong paksa nona pulang." ujar Fidel.
"Apa yang kau pertaruhkan?" tantang kelompok wanita.
"Aku akan menggosok semua kamar mandi pelayan jika aku kalah." ujar Fidel dan Castro dengan yakin.
"Baiklah, jika kalian menang. Setiap hari kami akan menyediakan roti panggang untuk kalian." ujar Cicilia mewakili kelompok wanita.
"Oke deal." Sahut mereka serempak.
Dan kembali mereka menyaksikan drama pengejaran itu. Dari kejauhan sesungguhnya tampak romantis, hingga ketika akhirnya kedua insan itu berpelukan.
Jason akhirnya berhasil menangkap Lia. Dia memeluk gadis itu dari belakang dengan erat. Lia akhirnya menyerah dalam pelukan Jason.
Dengan nafas yang tersenggal, Lia berkata, "aku tidak mau pulang."
Jason membimbing Lia untuk menjauhi pinggiran Danau dan duduk di bangku yang tersedia. Dia masih memeluk pinggang Lia dengan erat. Akhirnya Lia bersandar di bahu Jason.
"Kau seharusnya mengatakan padaku, jika ingin ketempat ini." ujar Jason dengan lembut.
"Memangnya kau akan mengijinkan aku keluar jika aku bilang padamu." sahut Lia dengan cemberut.
"Kenapa kau tidak mencobanya?"
Lia menoleh dan menatap Jason dengan heran dan kesal.
"Kenapa kau bermuka masam?" Tanya Jason.
Lia tidak menjawab. Dia melengos.
"Katakan padaku, apa yang kau pikirkan." Ujar Jason menahan lengan Lia yang hendak menjauhkan diri.
"Apa gunanya aku mengatakan padamu." Sahut Lia.
"Aku tidak suka melihatmu seperti ini. Katakan padaku jika tidak..." Ancaman muncul kembali.
"Iya iya aku katakan!" Lia memotong kalimat Jason yang dia sudah tahu arahnya.
"Kau bilang kita ada di Paris. Tapi aku tidak tahu keindahan kota fashion ini. Jangankan ke pusat kota. Bahkan danau di seberang mansion ini pun aku tidak tahu." Ujar Lia dengan sedih.
"Aku hanya ingin keluar Jason... aku bukan akan kabur. Aku tahu ikatan diantara kita. Pleaseee... biarkan aku keluar sesekali. Aku sudah bosan berdiam di dalam Mansion itu." kata Lia dengan memelas.
Jason membelai anak rambut yang jatuh di kening Lia. Dia sadar jika dirinya keterlaluan pada gadis ini. Jason sebenarnya ingin sekali membawa Lia berkeliling kota Paris, hanya saja pekerjaannya terlalu banyak.
Selain itu pertimbangan lainnya adalah, jika dia membawa Lia keluar, Jason takut Lia tidak mau kembali. Dia takut gadis itu kabur. Jason sudah tidak bisa membayangkan jika Lia tidak lagi di sisinya. Keberadaan gadis ini sudah menjadi candu bagi Jason.
"Kau ingat, kau beberapa kali meluangkan waktu di Miami untuk kita berkencan kan. Ah benar... aku masih hutang lima kali berkencan bukan? Bagaimana kalau kau ajak aku lagi? Kita berkencan seperti dulu." Ujar Lia bersemangat, wajahnya penuh harap memandang wajah Jason.
Jason tidak menjawab. Dia hanya memandang Lia dengan mata yang penuh senyuman.
"Jika kau sibuk, aku bisa pergi sendiri. Hanya disekitar sini. Aku bisa berkeliling dengan mobil. Ah tidak boleh ya?" ujar Lia putus asa melihat Jason menggelengkan kepalanya.
"Bagaimana kalau sepeda motor?" Lia masih berusaha melakukan penawaran.
"Terlalu berbahaya." sahut Jason
"Ih, di Indonesia saja aku semenjak SMP sudah mengendarai sepeda motor." kata Lia kesal merasa disepelekan.
"Tidak boleh." ujar Jason tegas.
"Huh! pelit!" dengus Lia kesal.
"Apa katamu?"
"Ah.. tidak. Jika kau ijinkan aku berjalan-jalan sesekali, aku pasti akan menjadi istri yang baik." ujar Lia dengan senyum lebar.
"Giliran ada mau nya langsung bilang mau jadi istri yang baik. Giliran diajak buat anak langsung kabur," gerutu Jason kesal.
"Kan dibilangi belum siap. Iiihhh." Lia mencubit lengan dalam Jason.
"Aow!"
"Segitu saja sudah menjerit."
Lia sekali lagi mencubit dengan lebih keras.
Kali ini Jason tidak menjerit karena dia sudah mengunci bibir nya di bibir Lia. Dan tangan Lia masih bergantung di lengan kekar Jason. Tanpa sadar tangan itu turun ke arah dada Jason. Dengan gemetar tangannya menyentuh otot-otot gagah yang terbentuk sempurna.
Di kejauhan kelima pelayan menyaksikan adegan mesra itu dengan sukacita. Menyaksikan kemesraan tuan muda dan nona, artinya mereka tidak akan dijatuhi hukuman. Meskipun Fidel dan Castro bisa membayangkan seminggu harus menggosok kamar mandi pelayan yang bejumlah sepuluh kamar mandi.
...💗🌟💗🌟💗🌟💗🌟💗🌟...
Sudah kelihatan gak Buncin nya Jason?
Menurut kalian apakah Jason akan mengabulkan permohonan Lia? Apa yang akan Jason lakukan selanjutnya ?
Mengajak Lia jalan-jalan
Memberikan Mobil pada Lia
Atau kejutan lain?