
Makan malam sudah dipersiapkan dengan metode prasmanan dan barbeque. Kali ini makan maoam di sajikan di area kolam renang. Cheft Paul sang koki utama tampak sibuk menunjukan kebolehannya memasak secara langsung di hadapan keluarga ini.
Berbagai sajian di siapkan. Tapi yang tetap memnjadi pusat perhatian anak - anak adalah saat cheft Paul menunjukan kepandaiannya memasak daging panggang yang disiram dengan arak masak. Api menyembur tinggi membuat mereka yang melihatnya semakin kagum.
"Mommy, cheft Paul kelen," ujar Adelaide yang tak pernah terpisah dari Diana.
"Iya, Sayang."
"Alchie bisa masak sepelti itu," Archie dengan sok bergaya seperti cheft Paul. Semua tertawa melihatnya tingkah Archie. Bocah yang baiasanya hanya suka mengekor pada Anna, kini mulai berani tampil.
"Tali .... tali ... ayo duduk sama Anna, marshmallow ini enak," panggil Anna pada Nathalia.
"Nathalia, bukan tali - tali," ujar Lia membernarkan.
"Iya Atali, susah, tali ... tali saja," dengan cuek Anna mengganti nama Nathalie sesuai dengan kemampuan lidahnya berbicara.
"Biarin saja, Lia. Memang seperti itu Anna. Belum bisa memanggil Natalia," Grisella tersenyum maklum.
"Iya. Lucu ya mereka." Lia terkekeh melihat Anna yang menggandeng tangan Natalia dan berbagi makanan dengan bocah itu.
Lia melihat ke arah para pria. Jason, Andrew dan Briant. Mereka sedang makan sambil asyik berbincang. Nampaknya percakapan mereka cukup seru. Dan Lia bisa menduga jika semua nya itu pasti bersangkutan dengan politik dan ekonomi.
"Aaron, lagi mikiran apa?" tanya Lia dengan usil memencet hidung keponakannya.
"Aaron lagi kangen sama butler Jhon," ujar bocah itu dengan jujur.
"Oh iya, aunt selama disini tidak melihat butler Jhon. Ada dimana dia?" tanya Lia heran.
"Butler Jhon, lagi menjenguk keponakannya. Mungkin bebrapa hari lagi sudah kembali."
"Hmm ... begitu."
"Aunty kapan kembali ke Prancis?" Mata Aaron memandang Lia dengan sendu.
"Sekitar empat hari lagi."
"Tak terasa ya, aunty sudah beberapa hari disini. Apakah aunt tidak bisa tinggal lebih lama lagi?" tanya Aaron penuh harap.
"Maafkan Aunt Lia. Uncle Jason harus kembali ke Paris setelah urusan bisnisnya selesai disini. Tapi jangan khawatir, jika uncle ada perjalanan bisnis lagi ke Miami. Aunt pasti ikut." Janji Lia pada Aaron dan dirinya sendiri.
"Kenapa kalian tidak tinggal disini saja. Aaron pasti akan sangat merindukan aunt Lia," ujar Aaron dengan sedih.
"Ah ... Aaron ku sayang," Lia membelao rambut bocah berusia tujuh tahun itu penuh kasih sayang.
Aaron meskipun tampak usil, nakal dan keras di luarnya, tetapi dia adalah sosok anak yang sangat baik hati dan penyayang. Hatinya sangat lembut penuh perhatian, namun terbalut oleh cangkang yang keras. Lia sangat menyayangi Aaron.
"Bagaimana jika kau menghabiskan liburan musim panas mengunjungi aunt Lia di Paris?" Lia memberikan ide.
"Betul sekali. Lagi pula Aaron tidak pernah ke Paris. Aaron mau ke Menara Eifel. Aunty antar Aaron jalan - jalan ya ...." Mata Aaron berbinar gembira.
"Tentu sajaaa, Aunt Lia juga belum tahu menara Eifel. Nanti itu akan menjadi tempat kencan pertama kita," ujar Lia dengan gembira.
"Loh? Kok bisa aunt tidak pernah ke Menara Eifel, kan sudah dua tahun di Paris?" tanya Aaron dengan heran.
"Uncle Jason terlalu sibuk untuk megajak aunt kesana," bisik Lia.
"Huh! Dasar! Sudah pelit, bodoh juga gak peka!" Aaron menatap Jason dengan tajam.
Kebetulan sekali tatapan mata Aaron dan Jason bertemu. Jason menjadi heran dengan apa yang terjadi, kenapa tiba - tiba bocah itu kembali memusuhinya setalah menggunakan kartu kredit Jason cukup banyak.
Jason menatap Lia dan bertanya tanoa bersuara, "apa yang terjadi?"
Bahasa bibir Jason hanya dibakas Lia dengan mengangkat kedua bahu nya.
Percakapan antara Lia dan Aaron terhenti saat mendengar tangisan. Mereka melihat disana sedang terjadi perkelahian antar balita.
Archie, Anna dan Nathalie.
Ketika bocah itu sedang memperebutkan piring yang hanya tersisa satu kue coklat. Piring plastik itu sudah hampir robek. Maria dan Matilda sudah tak kuasa melerai ketiga bocah tersebut. Grisella yang kebetulan sedang ke toilet tidak bisa membantu.
Saat Lia hendak mendekati, cheft Paul sudah berada di antara perkelahian balita.
Perebutan itu terhenti seketika. Tiga pasang mata balita imut itu menatap kue tart indah dan menggoda, penuh taburan coklat m&m. Kue andalan yang dulu nya sering dia buat untuk Aaron dan Francesca. Sampai saat ini, kue tart M&M itu tak pernah turun pamornya.
Langsung saja, Anna dan Archie melepaskan pegangannya pada piring kue yang mereka perebutkan. Ada yang jauh lebih nikmat dibtangan Cheft Paul.
Akibatnya Nathalia terjatuh dengan kue coklat yang jatuh mengenai wajahnya. Bocah kecil itu menangis, berteriak marah karena kalah. Briant dengan sigap menghampiri anaknya.
"Daddy disini, Nathalia jangan menangis ya." Briant nampak terbiasa menenangkan Nathalia, sehingga bocah itu otomatis langsung terdiam.
Anna dan Archie langsung menyerbu cheft Paul. Mereka mencomoti m&m hingga kedua tangan dan mukut kecil mereka penuh. Francesca dan Aaron yang melihatnya pun, langsung berebut menikmati kue tart m&m tersebut. Hingga kue tart itu menjadi gundul tak beraturan.
Maria dan Matilda menyeringan gembira. Jika sudah gundul, maka itu bagian mereka. Kue itu sangat lezat dan lembut sekali dengan aroma Vanila. Sayang anak - anak lebih tergoda dengan tampilan coklat penghias daripada merasakan kelembutan kue nya.
"Mommy, Adel mau," pinta Adel memelas.
"Kakak ambilkan satu ya Adel. Tidak boleh banyak - banyak, nanti gigi nya bolong, Adel tidak cantik lagi," ujar Conrad penuh kasih sayang pada Adelaide.
"Iya, Kakak," sahut Adel dengan patuh.
Bayi kembar nomor satu ini, memang yang paling lemah diantara kedua saudaranya yang lain. Semenjak dalam kandungan dia memiliki masalah dengan jantung.
Oleh sebab itu lah, Diana merawatnya sendiri dengan hati - hati. Dia tidak pernah bisa bepergian jauh apalagi mengunjungi Lia. Perhatiannya tercurah untuk Adel. Bahkan seringkali Diana merasa dua puluh empat jam tidak lah cukup untuk dirinya. Masih ada lima anak lainnya yang juga memerlukan dirinya.
Lia memandang segala kehebohan malam ini dengan senyum tipis. Dalam hati, dia berjanji, semua kenangan ini tak akan pernah pudar. Ada cinta dan kedamaian disini, yang harus selalu dia ingat dan dia simpan selamanya.
Keluarga utuh yang diperjuangkan kakaknya dengan air mata dan darah. Perjuangan luar biasa yang tak pernah berhenti hingga kini. Kekuatan cinta yang dimiliki Diana sungguh luar biasa, membuat Lia merada diteguhkan.
Di usapnya dengan lembut perut yang masih datar itu. Lia berjanji dalam hati, akan memperjuangkan segalanya. Akan berjuang dengan segenap hati mempertahankan keluarga kecil miliknya. Berjuang bersama Jason untuk melawan penghalang. Itu tekad Lia.
"Aaaaaa .... tolonggg!!!! Apiiiiii .... Aaaa!"
Byurrr!
Lamunan Lia buyar karena suara teriakan cheft Paul yang histeris dan pria itu terjun ke dalam kolam renang. Tumbuh gembul cheft Paul yang terlempar dengan keras, membuat air menyembur dengan keras dari kolam renang.
Akibatnya air itu meluber kemana-mana. Beruntung sekali para balita sudah dibawa masuk oleh pengasuh untuk ditidurkan, sebelum kejadian tersebut.
"Apa yang terjadi?" tanya Lia pada Jason. Entah sejak kapan Jason sudah berada disisinya.
"Keponakan usilmu kembali membuat ulah." Jason menunjuk pada Aaron dengan dagu nya.
Tampak sekali wajah Aaron menyesal dan menunduk sedih setelah ditegur dengan keras oleh Andrew.
"Apa yang dia lakukan?" tanya Lia tak mengerti.
Jason menarik napas panjang.
"Dia meminta pada cheft Paul untuk melakukan Flambe.
Flambe adalah teknik memasak dengan membuat api menyala dan menyebar di masakan. Gerakan ini dimaksudkan sebagai pertunjukan dan meninggalkan rasa yang kuat pada makanan.
Flambe di negara barat biasanya di beri sedikit alkohol untuk memancing api. Namun di negara Asia pun sering menggunakan teknik flambe ini, contohnya saat memasak dengan penggorengan panas dan minyak goreng, seperti nasi goreng
"Bukannya Cheft Paul ahli melakukan Flambe?" Lia masih tak mengerti letak kesalah Aaron.
Jason berdecak, "Benar dia ahlinya jika saja keponakanmu tidak usil. Dia merasa api yang di buat Cheft Paul kurang besar, jadi tangan kecilnya itu menuangkan sebotol anggur tanpa sepengetahuan cheft Paul. Coba lihat disana. Topi dan rambut cheft Paul terkena sambaran api. Untung saja tidak gosong."
Lia menutup mulutnya dengan tangan. Dia ingin tertawa dengan keras tapi merasa sangat jahat. Di pinggir kolam renang, cheft Paul sudah duduk sambil memandangi topi koki nya. Dia bernafas lega, karena hidung dan wajahnya masih utuh.
"Kau terharu sampai menangis?" tanya Jason tak percaya.
"Bukan! Aku menahan tawa," ujar Lia berbisik.
"Loh?"
"Lihatlah Cheft Paul, dia hanya mendramatisir keadaan, pria itu berenang beberapa putaran, sebelum duduk termenung dengan wajah memelas. Hahhahahha ... kali ini Aaron kena batunya."
Lia memandang kasihan juga geli melihat bagaimana Andrew membawa Aaron untuk meminta maaf. Bocah itu tampak sangat menyesal. Dan dia harus langsung masuk ke dalam kamar, tidur malam lebih awal.