
Lia berkali-kali melirik kepada Laurent yang duduk di sebelahnya. Laurent sedari tadi melamun sambil mengusap bibir. Tampaknya ciuman Erick masih membekas disana. Mata Laurent menatap kearah luar jendela mobil tanpa fokus.
Saat ini mereka berjanji akan melakukan shopping berdua. Tapi, melihat sikap Laurent yang tampaknya larut dalam pikiran, Lia merasa hari ini tidak akan jadi menyenangkan jika mereka menghabiskan waktu untuk shopping. Apa gunanya jalan-jalan, jika teman kita akan bersikap seperti robort. Pasti membosankan.
Karena itu, Lia meminta pada supir untuk memutar haluan menuju ke butik Emely. Sudah beberapa bulan dia tidak bertemu dengan Emely. Lia merasa rindu sekali dengan satu-satunya sahabat yang dia miliki di Paris. Tampaknya Laurent tidak menyadari jika mobil sudah berputar arah.
Saat tiba di depan butik.
"Ayo turun."
"Eh.. sudah sampai ya." Laurent membuka pintu mobil dan melangkah keluar.
"Dimana kita?" Laurent baru menyadari jika mereka berada ditempat yang berbeda dengan perjanjian semula.
"Mengunjungi temanku."
"Kau punya teman?" Laurent mengernyitkan keningnya heran.
"Tentu saja punya. Ini butik temanku. Ayo masuk. Kau pasti suka." Lia membuka pintu butik Emely yang kecil.
Laurent mengikuti Lia. Dia tidak banyak protes. Lagipula saat ini dia tidak memiliki keinginan untuk berbelanja. Memasuki butik Emely, Laurent langsung menuju sofa, menghempaskan tubuhnya dan mengeluarkan handphone.
Lia dan Emely saling menyapa dan tertawa sambil duduk di ujung sofa.
"Teman baru?" tanya Emely.
"Adik ipar."
"Whatttssss..."
Lia tertawa kecil.
"Jadi, kau sudah bertemu dengan semua keluarga suamimu?" tanya Emely penasaran.
"Tinggal ayahnya."
"Tuan Besar."
"Hmmm.. entah seberapa mengerikannya dia." bisik Lia dengan khawatir.
"Jangan khawatir, mungkin diantara semuanya, justru ayah Jason paling mudah menerimamu." Emely memberi dukungan.
"Aminnn. Aku mengharapkan mujijat itu." sahut Lia serius
"Hahhahha.. "
Mereka tertawa bersama. Menemui tuan besar bukanlah hal mudah. Pria itu setiap harinya selalu disibukan dengan berbagai urusan. Dia juga merupakan anggota utama beberapa organisasi dunia, membuat Lia sedikit ngeri jika mendengar nama besar ayah Jason.
Jika saja bukan karena Jason yang mengikat dirinya dengan kontrak pernikahan dan pada akhirnya membuat dia jatuh cinta, tidak mungkin Lia berani bermimpi menikah dengan keluarga ternama ini. Terlampau Jauh dan terlalu berat bagi dirinya.
"Bagaimana dengan Gabriel, apa kabar dia?" Lia menanyakan kabar teman akrab Emely, yang merupakan pemilik restaurant.
"Baru patah hati lagi."
"Hei.. kenapa ?"
"Ceweknya selingkuh."
"Ah.. kasihan. Kenapa tidak kau saja yang menjadi kekasihnya."
"Aku? Dengan Gabriel? Hahahhaha... tidak bisa. Dia bukan tipe ku. Kami hanya cocok untuk menjadi sahabat baik saja."
"Lalu tipemu seperti apa?" tanya Lia dengan serius.
"Hmm..." Emely tampak termenung.
Dia sendiri bingung dengan tipe pria yang dia sukai. Pasalnya, dia sudah berpacaran dengan berbagai tipe pria. Namun selalu gagal. Hubungan mereka selalu tidak lebih dari enam bulan. Bahkan enam bulan sudah termasuk waktu yang cukup lama.
"Eh.. pokoknya yang bisa langsung klik saja dah. Pria baik-baik yang setia." ujar Emely sambil menyeringai.
"Apa ada yang mau kau perkenalkan padaku? Salah satu kenalan atau pegawalmu?" ujar Emely bercanda.
"Hush! jangan pengawal. Hahaha..." Lia dan Emely tergelak bersama mengingat peristiwa, dimana pengawal Lia bertelanjang dada dan berlari mengitari taman.
"Ems... bagaimana kalau aku meminta Jason memberimu suntikan dana dan memperbesar butik ini? Mungkin kau bisa mengembangkannya dan memiliki brand khusus untuk rancanganmu."
Emely terbelalak mendengarkan ususlan Lia. Dia memang ingin sekali usahanya ini berkembag dan dikenal oleh seluruh penduduk Prancis. Tapi mencari investor bukanlah hal mudah. Dan sekarang tiba-tiba Lia datang membawa angin segar. Tentu saja Emely senang.
"Tentu saja. Aku akan bicara dengan Jason." Sahut Lia dengan bersungguh-sungguh.
"Wow... memang suatu keberuntungan bagiku bertemu dengan dirimu." Emely memekin senang.
"Apa yang kalian bicarakan?" tanya Laurent tiba-tiba.
"Nyawamu sudah kembali kedalam ragamu?" ledek Lia.
"Apaan sih." sahut Laurent jengah.
"Bagaimana Erick?" Lia mulai berani bertanya tentang Erick pada Laurent.
"Memangnya kenapa dengan Erick?" tanya Laurent balik dengan dingin.
"Kalian berpacaran?"
"Aku dan Erick? Huh! Pria menyebalkan itu, dia tidak mau mengakui perasaannya padaku." sahut Laurent kesal.
"Kau mencintai Erick?" Lia bertanya dengan serius.
"Apakah aku harus mencintai pria yang bahkan tidak menganggap diriku?" sahut Laurent ketus.
"Tapi, bukannya tadi kalian berciuman?" tanya Lia dengan heran.
"Itu karena aku tidak percaya dia masih bersiteguh mengingkari perasaanya padaku. Aku mencium untuk membuktikan pada dirinya, jika kita memiliki perasaan yang sama." Cerita Laurent dengan perasaan hampa.
"Lalu, apa yang kau menemukan jawabannya?"
Laurent mengeleng sedih.
"Sesaat aku merasakan kehangatan itu. Tapi, tak lama kemudian dia mendorongku dan memintaku melupakan dirinya." ujar Laurent dengan sedih.
Lia bingung harus berbicara apa, karena dia tidak berpengalaman dengan pria. Pacar pertama yang dia miliki dulu hanyalah teman diskusi. Bahkan gandengan tangan saja Lia risih. Saat pria itu mencium tangannya, Lia merasa jijik. Dan selanjutnya Briant. Meskipun dia menyukai pria itu tapi, hubungan mereka pada akhirnya hanyalah sebatas kakak dan adik. Dan yang terakhir Jason. Baru pada pria ini dia merasakan segalanya. Amarah, debaran, rasa jengkel, bahagia dan takut kehilangan. Hanya Jason.
"Maka jauhilah dia." ujar Emely tiba-tiba.
"Jika pria itu tidak berani menghargai cinta tulusmu, maka jauhi dia. Dia tidak layak untukmu. Jika perlu acuhkan dirinya. Hingga dia merasakan betapa berartinya dirimu." saran Emey dengan tegas.
Lia mengangguk setuju.
"Lihat, sahabatku keren kan?"
Laurent terpana dengan saran Emely. Pada akhirnya dia mengangguk setuju, "baiklah aku akan menuruti saranmu. Aku akan mengacuhkan Erick," ujar Laurent dengan bersungguh-sungguh.
Bertahun-tahun dia sudah membiarkan dirinya terbelenggu dengan perasaan pada Erick. Mungkin saat nya dia harus melangkah maju.
Melupakan Erick.
"Ini semua rancanganmu?" tanya Laurent setelah melihat sekeliling.
"Iya." jawab Emely.
"Bagus juga. Aku mau berinvestasi pada butikmu." ujar Laurent.
Emely dan Lia terbelalak. Apalagi Emely. Dalam sehari dia sudah mendapatkan dua penawaran. Tentu saja hal itu jauh dari dugaannya. Memang Emely memimpikan hal ini. Tapi dia sudah berhenti berharap, ketika berkali-kali gagal saat menawarkan rancangannya pada butik-butik ternama.
"Tapi, Lia sudah menawariku terlebih dahulu." ujar Emely dengan tersenyum dan menepuk punggung tangan Lia.
"Ih, kakak Ipar kau menjengkelkan. Sudah punya Lima puluh butik dan hotel saja, masih rakus." Ujar Laurent kesal.
"Haha... hahaha... Aku punya lima puluh hotel dan butik? Mimpi apa aku , hahahaha." Lia terkekeh dengan geli.
"Loh, Jadi kau belum tahu?" tanya Laurent. Gadis itu cepat-cepat kembali duduk di sisi Lia
"Tau apaan sih?" Lia menjadi heran dengan sikap Laurent.
"Oh My God. Pemilik Oktavia butik dan hotel bahkan tidak mengetahui kekayaannya sendiri?" Laurent berdecak heran.
"Aku maksudmu? Aku pemilik Oktavia butik dan hotel? Hehe... Hehe.... Jangan menghinaku." Lia terkekeh, namun melihat raut wajah Laurent yang serius dia langsung terdiam.
"Serius? Kau tidak bercanda?"
...💖💖💖💖💖💖💖...
.