
...Jangan lupa sumbangan Voucher Vote nya Thaknyouu...
...💖💖💖💖💖💖💖...
Tidak ada yang dapat mereka lakukan di dalam kamar, selain tidur dan bergosip. Hari sudah hampir siang dan keempat gadis itu dibuat bosan terkurung dalam kamar tanpa jendela ataupun televisi itu. Ketiga gadis itu merebahkan diri sambil menatap langit-langit kamar.
"Jika kita keluar dari tempat ini dengan selamat, kau pastikan untuk menepati janjimu, Lia!" Gumam Laurent.
"Iya. Aku janji." Sahut Lia lesu.
"Janji apaan sih?" Tanya Emely penasaran.
"Menculik dan membuat Erick menikahi ku!" Kata Laurent dengan mantap.
"Wtf!" Emely mengumpat.
"Aneh kan?!" Lia tersenyum dalam kalimatnya.
"Bukan Aneh! Gila! Apa kamu gak punya harga diri sampai harus memaksa pria menikahi mu?!" tanya Emely dengan terperangah heran.
Bukannya Laurent adalah seorang nona besar dari keluarga kaya dan terhormart. Seberapa panjang antrian pria hebat yang akan mengantri untuk menikahi Laurent, tak usah diragukan. Tapi, gadis ini justru menjatuhkan harga dirinya pada seorang pria yang hanya main tarik ulur dengannya.
"Apa kau tidak punya pria pilihan lainnya? Aduhhh kita masih muda, masih punya waktu untuk memilih dan jatuh cinta. Kenapa juga harus mengikat pria yang tidak sungguh-sungguh mempertahankan dirimu, apakah kau tidak akan menyesal?" tanya Emely lagi dengan emosional.
"Tuh kan. Aku sudah bilang kepada dirinya. Jangan salahkan diriku, jika dia merasakan sakit hati dan terluka." Lia menimpali.
"Tekadku sudah bulat. Aku tidak mau jika bukan Erick. Aku sudah mencintai dan menanti dirinya setengah usiaku. Pria lain memang banyak, tapi bukan mereka yang aku mau. Mereka hanya melihatku sebagai putri keluarga Madison, bukan sebagai Laurent." Jawab Laurent dengan sendu.
"Kalian pikir, hidup sebagai diriku itu enak? Bagaimana aku berpakaian, Bagaimana aku bertingkah, Dengan siapa aku makan, butik mana yang aku masuki, semua menjadi sorotan. Semua bisa menjadi headline dan juga bahan perdebatan. Pria? heh! Semua yang mendekatiku hanya karena ingin mendapatkan keuntungan dari keluarga Madison. Pria yang mencintaiku dengan jujur? Terlalu beruntung jika aku mendapatkannya." Ujar Laurent dengan sendu.
"Dan kau yakin dengan cinta Erick?" Lia menatap Laurent dengan kasihan.
"Seandainya ada pria yang aku ijinkan untuk menyakitiku, hanya Erick. Hanya boleh dia."
"Lalu apakah Erick akan bahagia?"
Laurent menatap Lia dengan air mata tang berlinang. Dia sangat menginginkan Erick sehingga sangat yakin jika Erick mempunyai perasaan yang sama dengan dirinya. Erick pasti mencintai dirrinya. Erick hanya ragu untuk mengambil keputusan. Dan itu bisa saja disebabkan oleh tekanan orang tua Laurent. Secara kemampuan finansial mereka berbeda.
"Aku akan membuatnya bahagia." Kata Laurent dengan mantap.
Terdengar egoise di telinga keyakinan sepihak dari Laurent. Dia menginginkan kebahagiaan tanpa perduli perasaan Erick. Lia mendesah, ini terjadi padanya juga. Jason mengikat dirinya sepihak, memaksa diambang kesadaran untuk sebuah perjanjian dan pernikahan. Meskipun benih cinta itu sudah ada di awalnya, namun kebencian itu sempat muncul pada diri Lia ketika mengetahui dia telah menikahi pria itu secara sepihak.
Haruskah Laurent dan Erick merasakan hal yang sama. Seberapa kuat Erick akan menolak Laurent seperti dirinya dulu. Seberapa teguh Laurent akan bertahan dan bersabar, seperti Jason padanya dulu.
Arkkhhh... Lia menjerit dalam hati. Betapa dia merasa bersalah pada Jason. Berkali-kali rasa kesal akan sifat posesif pria itu, membuatnya berulah. Dia tidak bisa sedikit bersabar dibandingkan dengan Jason yang sudah bersabar menantinya selama ini. Lia merindukan Jason.
"Duh! Kalian berdua kepana jadi melankolis begini? Terkurung di tempat ini membuat oksigen mengurangi kesegaran otak kalian ya?!" Emely menggerutu melihat Lia dan Laurent dengan wajah sedih mereka.
"Bagimana kau dan Daniel?"
"Aku dan Daniel? Kita masih bertemu dan saling mengenal, perjalanan kita masih panjang untuk menemukan jati diri dan kekuatan perasaan kita."
Kriekkk.
Suara pintu yang terbuka membuat perhatian mereka teralih kearah pintu. Ketiga wanita itu segera terduduk di tempat tidur dan memandang kearah pintu. Mereka berharap cemas apa yang akan muncul dari balik pintu itu dan berita yang akan mereka dapatkan. Tanpa sadar ketiga tangan wanita itu betautan.
Mereka menatap pada seorang pelayan wanita yang masuk dengan sebuah nampan di tangan. Di nampan tersebut terdapat tiga botol air mineral, tiga box dan tiga gelas plastik bekas air mineral. Pelayan itu menghampiri mereka dengan tenang. Dan seorang pengawal bertubuh besar menghalangi pintu keluar.
Pelayan itu berhenti di depan mereka dan menatap ketiga wanita itu bergantian. Dia meletakan nampan diatas meja kecil dekat dengan mereka. Dengan heran ketiga wanita itu memandang isi nampan. Apa yang akan mereka minta dengan tiga kotak test pack itu.
"Nona. Silahkan minum air putih ini sampai habis. Kemudian ini masing-masing satu box untuk kalian bertiga. Gunakan gelas plastik ini untuk menampung kencing kalian. Dan berikan padaku kembali hasilnya, setelah kalian selesai." Pelayan wanita itu memberikan pengarahan.
"Untuk apa kalian mengetes kami? Apa ini? Hah?! Testpack? Apa urusan kalian melakukan ini?!" Tanya Emely dengan lantang.
"Ini permintaan tuan kami. Dia ingin tahu keadaan kalian. Selebihnya, saya tidak tahu apa-apa. Tolong bekerjasamalah dan biarkan saya pergi dengan hasil test kalian." Pinta pelayan itu dengan sabar.
"Untuk apa? Apa urusan kalian apakah kami hamil atau tidak?" tanya Laurent dengan gusar.
"Menikah dengan tuan mu?" Laurent terbelalak.
"Benar. Menikah dengan tuan muda kami. Kalian sangat beruntung." Ujar pelayan itu membenarkan perkataan pengawal.
"Kami bahkan tidak mengenal tuan kalian. Bagaimana bisa kalian mengira kami akan mau begitu saja menikah dengannya." Emely menatap pelayan dan pengawal dengan heran.
"Kalian sudah mengenal tuan muda kami. Pria yang kalian bawa dan terluka." Sahut pelayan itu kembali.
Pemuda tampan yang mereka tolong, ternyata adalah orang penting di rumah ini. Pantas saja orang-orang itu memperlakukan mereka dengan sangat kasar, saat diawal pertemuan. Dan sekarang meskipun sikap mereka lebih membaik, tetapi tetap saja sangat berhati-hati.
"Jika kami tidak mau?" tanya Laurent lagi.
"Maka kalian akan tinggal disini selamanya." Suara dingin pengawal itu terdengar sangat menyebalkan.
"Baiklah. Kalian keluarlah. Kembali dalam waktu duapuluh menit. Jangan khawatir kami tidak akan bisa lari dan menghindar bukan?" Ujar Lia yang sedari tadi diam sambil memandang ke arah testpack.
"Tapi Lia!" Laurent protes.
"Tenanglah, kita akan baik-baik saja." ujar Lia menenangkan.
"Baiklah nona, dalam dua puluh menit, kami akan kembali." Pelayan itu meninggalkan mereka. Sebelum pintu kamar tertutup, Lia berseru pada mereka.
"Tunggu! Bagaimana keadaan pria tua yang bersama kami sebelumnya?"
Pengawal itu menahan pintu yang hendak tertutup.
"Mungkin dia sudah bersenang-senang saat ini." ujar nya sebelum pintu tertutup rapat.
*
Di dalam ruangan kamar tamu yang mewah. Jason menanti dengan cemas hasil test yang akan di bawakan oleh pelayan. Jika saja benar Lia hamil, dia tidak akan menunggu waktu lama untuk mengeluarkan gadis itu dan menyudahi hukumannya. Tapi jika ternyata tidak, hukuman untuk Lia masih akan berlanjut malam ini.
Erick dan Daniel, menolak perintah Jason untuk meninggalkan dirinya. Kedua pria itu bersikeras tetap berada disisi Jason. Meskipun alasan utama mereka bukan untuk menghibur Jason, melainkan untuk menanti wanita pujaan hati yang juga terkurung ditempat ini.
Tak lama, pelayan datang dengan sebuah nampan yang berisi tiga cangkir plastik dengan hasil test. Di masing-masing cangkir itu sudah terdapat nama dari ketiga wanita uang dikurung. Dengan hati-hati dia meletakn nampan di meja.
"Bagaimana hasilnya?" tanya Jason tidak sabar.
"Salah satu dari wanita itu sedang hamil, tuan." Jawab pelayan wanita itu.
"Benarkah. Coba aku lihat!" Jason dengan mata berbinar dan wajah penuh senyuman menghampiri meja, dimana hasil test itu berada.
"Selamat Jason."
"Selamat kakak."
Ujar Erick dan Daniel bersamaan.
Jason mengambil hasil test dengan nama Lia dan mengernyitkan keningnya.
"Apa ini artinya?" tanya nya tak mengerti.
"Anda salah tuan. Yang hamil bukan nona Lia, tapi nona Laurent." Pelayan itu mengambil gelas plastik hasil test pack dan memberikan pada Jason.
"APA?!!" Jason berteriak lantang dan segera menoleh kearah Erick yang tertegun.
...💖💖💖💖💖💖...
Kok merinding yaa saya.
Ada hawa-hawa ibu-ibu rumpi lagi melotot dan ngomel.
Wakaakkakakak.