48 Months Agreement With CEO

48 Months Agreement With CEO
Telor Rajawali



Jason berangkat bekerja pagi ini dengan dihiasi wajah penuh senyuman. Hal itu sudah cukup membuat supir yang mengantar menjadi heran. Pasalnya berkali-kali pria itu tertawa sendiri di mobil.


Sesampai nya di lobby kantor, semua pegawai dibuat lebih pusing lagi, karena boss mereka yang biasanya tidak membalas sapaan, sekarang tersenyum.


Bagi mereka pegawai yang berada di lantai bawah, melihat senyuman Jason bagaikan melihat Malaikat turun.


"Tampannyaaaa..." bisik pegawai wanita.


"Mimpi apa semalam aku, boss tersenyum padaku," ujar seorang pegawai yang bertubuh tinggi.


"Hei, dia tersenyum kepadaku," sahut yang bertubuh gemuk.


"Ih padaku juga." Timpal yang berdandan menor.


"Sudah... boss tersenyum pada kita semua. Pria dan wanita. Baru dapat jackpot kali dia hari ini." Seorang pegawai pria meredakan perselisihan diantara pegawai wanita.


"Semoga ada bagi-bagi bonus juga," ujar satpam yang baru saja lewat.


*


Di lantai atas dalam ruangan Jason, Erick mengikuti pria itu dengan rasa penasaran. Ketika duduk pun, Jason masih tersenyum-senyum sendirian. Erick dibuat pusing jadinya.


Pasti dia baru merasakan nikmatnya tubuh wanita, dasar pria virgin.


Gerutu Erick dalam hati.


"Bro, kamu baik-baik saja?" Tanya Erick yang gemas melihat sikap Jason.


Jason menoleh kepada Erick. Kemudian meletakan kedua siku tangan di meja.


"Erick, segeralah menikah. Menikah itu enak," ucap Jason tiba-tiba.


Erick ternganga. Dia tidak percaya dengan apa yang di dengarnya.


"Kau pasti sudah melewati malam pertama." Kata Erick dengan yakin melihat sikap Jason.


Jason mengangguk.


"Kita tidur satu tempat tidur."


"Lalu, masih virgin kah?" Tanya Erick lagi dengan penasaran.


Jason melempar kertas ke arah Erick.


"Apaan sih. Tau virgin apa enggak darimana?" tanya Jason kesal.


"Loh ya itu.. waktu itu..." Erick menumpuk kedua tangannya.


"Pastinya lebih susah ditembus dan dengar-dengar ada darah yang keluar." Bisik Erick.


"Pikiran mu terlalu kotor bro. Kami belum bercinta."


"Apaaaa???? Kau masih belum mendapatkan dirinya?" Tanya Erick dengan berapi-api. Erick sampai menggerbrak meja Jason dan berdiri dengan mencondongkan tubuhnya ke arah Jason.


Jason menatap Erick heran. Sikap Erick tampak terlalu berlebihan. Erick menyadari hal itu. meskipun Jason adalah sahabatnya, tetapi pria itu juga atasan yang harus dia hormati.


"Kau belum bercinta, belum..." Erick kembali menumpuk kedua tangannya dengan gemas.


Jason menggeleng.


Erick menepuk keningnya. Frustasi.


"Oh My God. Sedari tadi dari lantai bawah sampai lantai atas kau tersenyum seperti orang gila tapi belum bercinta?" tanya erick lagi dengan nada lebih tinggi.


"Belum." Ucap Jason kikuk.


"Jiaaaaa.... kau membuatku gila. Apa nikmatnya menikah jika belum..." lagi-lagi Erick mengatupkan kedua tangannya dengan raut wajah gemas.


"Ada mainan lucu bro, hidup dan cerewet lagi." Jawab Jason datar.


Erick bersandar dengan lemas. Tangannya terjuntai kebawah.


Gak harus menikah kali buat dapat mainan lucu.


"Belum dapat jatah sudah kaya begini. Apalagi dapat jatah, hehhhh..." Erick menggumam sendiri.


"Ei jangan sok kau Erick." Ucap Jason kesal.


"Sok apa an."


"Sok tahu rasanya perawan. Kau sendiri belum tahu dapat perawan kan?" Ucap Jason sinis.


"Ogah dapat perawan, tanggung jawab moral nya lebih besar, nanti disuruh nikahi lagi. Aku masih mau menikmati kebebasanku brooo. Hidup muda dengan banyak wanita. Pusingggg. Dah, selamat menghalayal dah bro."


Erick melangkah keluar dari kantor Jason sambil menggelengkan kepalanya. Perawan? Meskipun ingin tahu rasanya, tapi Erick masih punya sedikit nurani.


*


Sementara Lia di Mansion masih menggerutu sendirian di dalam kamarnya. Dia sedang dalam puncak kesebalan dengan pria bernama Jason.


Bagaimana tidak, ketika bangun di pagi hari dia menemukan dirinya dan Jason berpelukan. Okey, berpelukan saja gak mungkin heboh bukan?


Tapi masalahnya lebih dari sekedar pelukan seorang teman.


Saat itu dalam mimpi Lia merasa sedang memeluk dan membelai seekor kucing lucu, dengan bulunya yang halus berwarna coklat tua. Dan kucing itu dengan manja bersandar didadanya seraya menggosok-gosokan kepalanya. Terasa lembut di dada dan tangan Lia.


Begitu dia membuka matanya ternyata wajah Jason sudah terbenam di dadanya. Dan dengan terpejam pria itu menggosok-gosokan pipinya di bukit kembar Lia. Perlahan dan lembut.


Belum lagi.... kaki Lia terjepit di paha Jason. Paha Lia menyentuh sepasang squishy bulat lembut disana. Sedangkan tangan Jason melingkar erat di pinggangnya.


Lia kaget, dengan sedikit memaksa dia berusaha lepas dari pelukan. Tapi Lia kesulitan, dia tidak berhasil melepaskan diri dari pelukan Jason, hingga akhirnya dia berteriak dan menarik telinga Jason.


"Aaaaaaa.... mesummmmm." Teriak Lia berulang-ulang.


Jason kaget, dia bangun karena suara berisik dari Lia dan rasa sakit di telinganya. Dan ketika dia membuka matanya, dihadapannya terpampang nyata pemandangan indah yang kenyal.


"Uaaaaa.... lepasss. Lepasss," teriak Lia histeris.


Ketukan butler Bernard yang terkejut dengan teriakan Lia, membuat Jason terpaksa melepaskan pelukannya. Lia dengan kasar menarik kakinya hingga Jason merasakan squizhy bulat nya terasa sakit.


"Apa yang kau lakukan!" Bentak Jason kasar sambil memegang squzhy nya.


"Apa yang aku lakukan? Apa yang kamu lakukan heh!" Balas Lia galak sambil menutupi dada nya.


Tanpa perasaan Lia turun dari tempat tidur dan menuju ke kamar mandi. Dia mengguyur tubuhnya dengan air dingin. Lia kesal. Bibir Jason bukan saja sudah menyentuh bibir nya tapi sudah mulai berani menyentuh dadanya.


"Awas kau ya! Aku uleg jadi sambel nanti." Gerutu Lia kesal.


Keluar dari kamar mandi. Dia mendapati Jason sudah duduk dengan tenang di kursi. Jason yang melihat Lia keluar dari kamar mandi, menatap gadis itu dengan galak.


"Duduk disini!" Ujar Jason galak.


Lia terkejut. Pertama kali dia mendengar pria itu membentaknya. Mata Jason tidak menyorotkan keisengan seperti biasanya. Mata itu menatapnya dingin.


Lia patuh. Dia duduk di samping Jason. Jarak mereka berdua hanya dibatasi oleh meja kecil.


"Sekarang aku tegaskan lagi padamu! Ingat perjanjian no 4. Kau harus mematuhi diriku, jika tidak mau membayar denda." Kata Jason dengan tegas.


Lia terbelalak. Dia tidak percaya Jason akan menggunakan surat perjanjian untuk mengancamnya. Lia hendak menjawab. Tapi sikap dan raut wajah Jason yang dingin membuat Lia bergidik.


"Jangan bilang kau akan sengaja menggunakan pasal ke empat untuk mesum." Kata Lia dengan lirih dan kesal.


"Mungkin. Bisa jadi. Bagaimanapun juga kau harus mematuhi pasal ke tiga bukan?" Ujar Jason dengan sinis.


Lia merinding. Punya anak? Bagaimana bisa pria ini meminta anak pada dirinya. Kegilaan apa yang dia lakukan saat itu, hingga bersedia menandatangani surat kesepakatan itu.


"Mulai sekarang jika kau tidak patuh, aku akan menghukum mu!" Jason merasa diatas angin melihat Lia yang terdiam dengan resah.


"Menghukumku?" tanya Lia dengan mata terbelalak.


"Benar. Kalau aku merasa kau melakukan kesalahan kecil, maka aku akan menghukummu ringan. Jika kau melakukan kesalahan besar, maka hukumanmu bisa jadi besar." Jason menjelaskan maksud perkataannya.


"Hukuman kecil hukuman besar?" Gumam Lia tidak mengerti.


"Sekarang aku akan memberimu hukuman ringan karena sudah memukul dan mendorong telor rajawali ku."


Jason hendak tertawa melihat wajah Lia yang ternganga dengan heran.


"Telor rajawali? Memangnya di mansion ini ada burung rajawali?" Tanya Lia penasaran.


"Tentu saja ada."


"Oh ya dimana? Kapan aku mendorong nya? Apa pecah atau retak?" Dalam pikiran Lia adalah telor emas yang pastinya ada di salah satu sisi rumah.


"Akan aku tunjukan suatu saat nanti. Sekarang berdiri dan bersiaplah menerima hukuman dari ku."


Lia berdiri dengan berdebar. Dia melihat pada Jason dengan takut-takut. Apa yang akan dilakukan pria itu, apakah dia akan memukulnya? Habislah dirinya jika dipukul dengan tangan Jason yang besar.


Jason berdiri dan mendekati Lia dengan perlahan. Dia tersenyum melihat Lia yang memejamkan matanya dengan takut. Akhirnya dia bisa melihat sikap takut dan penurut Lia. Entah berapa lama Jason bisa memanfaatkan situasi ini.


Jason berdiri di hadapan gadis itu. Tanpa sepatu hak tinggi, badan Lia hanya sebatas dada Jason. Jason membungkukkan badannya dan mengangkat dagu Lia.


Tampak bibir gadis itu gemetaran. Lia takut jika Jason menamparnya. Tampak jelas sekali bagaimana Jason menyayangi telur Rajawali nya, meskipun Lia tidak tahu kapan dia meretakannya.


Jason kemudian mendekatkan bibir nya di telinga Lia dan berbisik, "sekarang terimalah hukuman karena membuat telur Rajawali ku sakit." Ujar Jason sinis.


Lia bergidik. Tapi sedetik kemudian yang dia rasakan adalah sapuan lembut di bibir nya. Sangat lembut dan hangat. Lia bisa merasakan tangan Jason memeluk pinggangnya erat.


Lia diam saja menerima hukumannya. Tangannya terjuntai lemas disisi tubuh. Lia tidak membalas ciuman Jason tapi tanpa sadar dia menikmati ciuman itu.


Jason mengusapkan bibir nya dengan lembut. Menghisap dan ******* setiap area dengan penuh kenikmatan. Pertama kalinya dia melakukan ciuman dan gadis ini adalah orang yang tepat bagi Jason.


Setelah beberapa saat. Jason melepaskan ciumannya dan tersenyum melihat bibir dan pipi Lia memerah. Kemudia Jason berbisik usil lagi, "Kau menyukai hukumanku?"


Lia kaget. Dia membuka matanya dengan tersipu. Lia melepaskan tangan Jason dari pinggangnya. Dan dengan ketus menjawab, "biasa saja."


Jason tertawa lebar.


"Aku mau mandi. Apa kau mau ikut?"


"Ogahhhh!!!" Rem Lia kembali blong.


"Hahhahhahhahahah." Jason terkekeh.


Bukan hanya sampai di situ saja. Keluar dari kamar mandi dengan menggenakan Bathrobe, Jason mulai memberi Lia tugas rutin di pagi hari.


Setiap pagi, Lia harus memberinya kecupan selamat pagi di bibir. Catat di bibir! bukan di kening atau pipi.


Selain itu Lia harus menyiapkan setelan kerja untuk Jason. Membantu mengenakan dengan penuh senyuman. Jika menolak, konsekuensinya adalah, Jasob akan keluar dari kamar mandi tanpa handuk.


Hiii... Lia bergidik. Bagi dirinya Jason lama-lama menyebalkan.


Siang ini, Lia menghabiskan waktu di mansion dengan bosan. Dia yang biasanya bekerja atau bermain bersama Aaron, sekarang harus dihadapkan dengan pelayan bermuka robot.


Membosankan.


Tiba-tiba, layaknya seorang jenius yang mendapatkan ide, Lia menjentikan jari jempol dan telunjuk. Ya Handphone! Lia berlari ke lantai bawah mencari Butler Bernard untuk mendapatkan handphone.


"Butler Bernardddddd...."


...💗🌟💗🌟💗🌟💗🌟💗🌟...


Ayo.... dikasih handphone ga yaaa si Lia.


Jangan Lupa Like, Coment, Vote dan Share yaaaaa.


Thankyouu.