48 Months Agreement With CEO

48 Months Agreement With CEO
Cari Masalah



...Jangan lupa sumbangin voucher Vote nya ya...


...💖💖💖💖💖💖💖...


Malam sudah larut, waktu sudah berganti hari. Ini sudah tengah malam, lebih lima menit. Sugar daddy tua itu sudah menghabiskan satu setengah botol champagne. Wajahnya jadi memerah dan bibirnya menyeringai gembira.


Kemeja yang dia kenakan sudah mulai sedikit basah oleh keringat, meskipun mereka berada di dalam ruangan ber Ac yang cukup dingin.


Pria tua itu terduduk dengan lemas. Tenaga nya sudah terkuras habis. Meskipun mata keriput itu hampir mengantuk, tapi dia mencoba bertahan. Sampai akhir dia akan berjuang untuk mengawasi nona muda. Jangan sampai hilang dari pengawasan, karena itu lebih menyusahkan daripada menahan kantuk.


"Aku mau ke toilet," ujar Lia bangun dari duduk nya.


"Aku akan menemanimu," kata Butler Bernard. Dengan segera pria tua penuh tanggung jawab itu, berdiri dari duduk nya. Tapi sesaat kemudian dia limbung, butler terjatuh di kursi lagi.


"Sudah kau duduk saja. Aku hanya ke kamar kecil." Lia merasa kasihan melihat butler Bernard.


"Tapi nona..." Butler Bernard hendak membantah.


"Jangan buat aku kerepotan dengan menuntun dirimu. Duduk yang manis disini."


Butler Bernard akhirnya menurut. Apalagi setelah dengan kesal Lia mengomel, kalau dia sudah tidak tahan lagi menahan kencing.


Lia keluar sendirian dengan terburu-buru dan menuju ke arah yang ditunjukan oleh Laurent.


Cahaya yang temaram dan suara hingar bingar, dan kerumunan orang-orang membuat Lia kesulitan menemukan kamar kecil tersebut.


Dan ketika menemukan lorong sepi, Lia segera masuk ke salah satu bilik kamar kecil. Dalam benaknya Lia merasa heran, bagaimana bisa sebegitu banyaknya manusia ditempat ini, tidak ada yang menggunakan kamar kecil. Apa mereka mempunyai kantung kemih yang besar?


Dari bawah pintu toilet, Lia melihat bayangan dua orang manusia, masuk. Kedua orang itu bercakap-cakap dengan bergumam dan suara mereka terdengar berat. Lia tersenyum dalam hati. Ternyata suara wanita jika mabuk seperti suara pria, pikirnya. Dan Lia yang merasa lelah, tidak menyadari jika dia sudah salah masuk toilet. Dia saat ini, ia srdang berada di dalam toilet pria super VViP.


Lia keluar dari kamar mandi, membuka pintu toilet yang agak macet dengan keras. Suara berguncang dari pintu yang dibuka Lia, membuat kedua orang pria tersebut menjadi kaget. Begitu juga Lia. Dia tidak menyangka ada pria di kamar kecil wanita.


"Tidak tahu malu! Ini ruangan khusus wanita tau!" Bentak Lia kesal.


"Kau mabuk, nona? Ini ruangan pria." Ujar seseorang yang tampak lebih rapi.


Lia mengernyit heran. Dan dia memandang sekeliling, betapa terkejut dirinya ketika mengetahui jika dia sudah salah masuk kamar kecil. Ruangan itu bernar-benar untuk pria. Bagaimana bisa dirinya salah membaca tanda, ini memalukan.


"Ah, maafkan aku. Tampaknya aku benar-benar mabuk," ujar Lia yang lebih memilih bertingkah seperti wanita mabuk, daripada ketahuan betapa bodoh dirinya.


Lia berjalan keluar dengan langkah sedikit sempoyongan, diikuti pandangan heran kedua pria tadi. Kedua pria itu berniat mengikuti Lia, tapi langkah mereka tertahan ketika Lia keluar dan menabrak seorang pria lain dengan keras.


"Aduh! Kenapa kau berdiri di depan toilet. Minggir!" Bentaknya kesal. Belum habis rasa malunya tadi, sekarang di tambah dengan menabrak orang yang berdiri di depan pintu toilet. Dan pria muda itu dengan wajah dingin menatap Lia tajam. Dia yang menabrak, kenapa dia berani membentak pula.


Lia menyingkir dari hadapan pria itu. Dia memilih bergegas pergi, dari gerombolan pria disana. Dan saat dia baru melangkah pergi, terdengar teriakan, "Awas!"


Lia menoleh kebelakang dan dia melihat tiba-tiba saja ada baku hantam disana. Pria yang dia tabrak tadi, sudah berlumuran darah. Tampaknya dua pria yang dia lihat sebelumnya ada di dalam tadi, melakukan sesuatu pada pria yang dia tabrak. Pria itu limbung dengan perut yang berdarah, dia jatuh dan menabrak Lia.


Lia yang kaget dan ketakutan menangkap tubuh pria itu. Pria tersebut tampak jauh lebih muda dari dirinya. Dia bingung apa yang harus di lakukan. Apalagi di sana sudah ada baku hantam. Dan teriakan terdengar dari beberapa orang yang tak sengaja lewat.


"Tolong aku, nona," bisik pemuda itu lemah.


"I.. iya... " Lia bergegas membawa pemuda itu bersamanya. Dia sudah tidak banyak berpikir. Yang dia tahu saat ini, pemuda itu meminta pertolongan dirinya. Itu saja yang penting.


Lia membawa kembali pemuda itu ke dalam ruangan, dimana ketiga sekutunya berada. Di sana ternyata tinggal Emely. Dan gadis itu terkejut melihat Lia datang dengan membawa seorang pria. Apalagi pria itu tampak berkeringat dan pucat.


"Apa yang terjadi?" Tanya Emely panik.


"Aku tidak tahu. Tapi, kita harus menyembunyikan dirinya." Jawab Lia dengan panik.


"Jangan tertidur. Katakan bagaimana aku membawa mu keluar dari tempat ini?" Lia memukul-mukul pipi pemuda itu.


"Te...kan no... mor satu pa...da ponsel ku," ujar nya lemah.


Seperti permintaan pemuda itu, Lia mendial nomor satu. Dan terdengar jawaban berbahasa Prancis.


"Pria yang memiliki ponsel ini sedang terluka, segera kemarilah." Ujar nya.


Namun, pria yang menerima telphone Lia tampaknya tidak pandai berbahasa asing lainnya. Lia kemudian menyerahkan ponsel itu pada Emely. Meskipun dirinya bisa sedikit berbahasa Prancis, tetapi lokasi dimana mereka berada, Lia tidak paham.


"Mereka meminta kita untuk membawa pemuda ini keluar. Di depan mereka akan menjemput nya."


Ujar Emely sambil menyerahkan ponsel itu kembali pada Lia.


"Lalu dimana Laurent dan Butler Bernard?"


Emely tidak perlu menjawab, karena saat yang bersamaan kedua orang tersebut sudah masuk ke dalam ruanga. Laurent dan Butler Bernard tampak memandang pemuda itu dengan heran.


Apalagi melihat ada bercak darah di kemeja itu.


"Nona, anda baik-baik saja?" Butler Bernard dengan panik menarik Lia.


"Iya.. aku baik-bauik saja. Jangan khawatikan diriku."


"Lalu dia siapa?!" Tanya nya menyelidik.


"Dia... aku menolong dirinya. Dia habis ditusuk seseorang. Kita harus membawanya keluar, seseorang akan menjemput dirinya."


"Nonaaa!!!! Anda tidak seharusnya melibatkan diri pada hal seperti ini. Bagaiaman jika tuan muda tahu. Dia pasti marah dan aduh... bahaya untuk kita semua." Butler Bernard berseru panik.


"Jangan menakutiku! Kita bantu saja dia keluar dan terhindar dari orang jahat. Setelah itu semua akan baik-baik saja." Kata Lia mencoba menyembunyikan rasa takutnya.


"Jangan. Kita tinggalkan saja dia disini. Ayo, jangan ambil masalah. Kita kembali ke mansion." Butler Bernard menolak permintaan Lia.


"Akan semakin bahaya bagi dia jika kita tidak membantunya. Laurent pleaseee..." ujar Lia memohon.


"Aargghhh... tolong. Ba... wa aku keluar. A..ku ti...dak a...kan melupa..kan Ja..sa kalian." Kata pemuda itu yang ternyata belum pingsan, dengan terbata-bata.


"Baiklah. Ayo, kita bawa dia keluar. Setelah dia bersama kelompoknya kita akan pergi." Laurent menyetujui membantu pemuda itu.


Lia segera mengahampiri pemuda terluka itu, hendak memapahnya. Tapi, Butler Bernard mencekal tangan Lia, membuat gerakan gadis itu tertahan.


"Anda tidak perlu menyentuh dia. Biar saya saja yang menopang. Nona Emely, bantu saya." Butler Bernard mencegah Lia meletakan tangannya kembali kepada pemuda yang terluka itu. Setidaknya jika tuan muda tahu, Lia tidak sedang memapah seorang pria. Ini akan lebih baik bagi semua nya.


Dengan berakting jika pemuda ini sedang mabuk, mereka keluar dari ruangan. Tepat saat mereka keluar menuruni lantai atas dengan lift, sekelompok pria menggedor satu persatu ruangan Vip. Merka tampaknya mencari pemuda yang di tolong oleh Lia.


Keempat orang tersebut akhirnya berhasil membawa pemuda yang terluka itu keluar, tepat jam Satu dini hari. Di luar gedung tersebut, sudah tampak sebuah mobil Lexus besar warna hitam, menanti. Begitu melihat pemuda yang dibawa mereka keluar, mobil itu mendekati.


Dengan sigap mereka mengambil alih pemuda itu, membawanya masuk kedalam mobil. Tampaknya Lia dan kawananya belum bisa bernafas lega, karena orang-orang tersebut segera membentuk lingkaran, menghalangi jalan dan memaksa Lia, Laurent, Butler Bernard dan Emely untuk masuk ke dalam mobil yang sama.


Mereka tidak punya pihan lain, setelah salah satu kawanan itu menunjukan pistol dari balik jas nya. Dengan terpaksa keempat orang tersebut masuk kedalam mobil. Namun, sebelum masuk, Butler Bernard masih sempat menatap cctv jalanan.


"Kan, sudah aku bilang, jangan cari masalah!" gerutu butler Bernard kesal pada Lia di dalam mobil.


...💖💖💖💖💖💖💖...