48 Months Agreement With CEO

48 Months Agreement With CEO
Daddy di sini



Lia yang sedang berendam dengan speaker music yang menyumbat pendengarannya, tidak menyadari ada keributan di luar kastil. Dia tidak mendengar helikopter Jason sudah tiba untuk menjemputnya.


Wanita itu asyik menggosok tubuhnya dengan perasaan lega, karena saat ini hubungannya dengan kedua mertua sudah membaik. Hal itu sangat membahagiakan. Hanya tinggal menunggu saat di mana Jason akan menjemputnya.


Tendangan-tendangan kecil di perut, membuat Lia tertawa geli. Dia mengusap lembut perutnya, sambil sesekali memberikan tepukan kecil. Pagi yang selalu dia lalui dengan bercanda bersama bayi dalam kandungan.


Lia sedang asyik bersenandung, ketika tiba-tiba dia rasakan tendangan keras di perutnya.


"Aow! Jangan keras-keras sayang. Mommy jadi kaget," ujarnya tersenyum kecil sambil menepuk perut.


"Aow! Wah... anak mommy kuat sekali ya. Hebat! Aduh! Sayang kau tumben sekali berkali-kali menendang mommy dengan begitu kuat."


Tiba-tiba Lia meringis saat tendangan janinnya mengenai ulu hati.


"Baik. Baik. Mommy selesai mandi kita jalan-jalan ya." Lia turun dari bak mandi tanpa melepaskan speaker dari telinganya.


Jika saja saat ini mereka bisa mengintip dengan usg 4d, baby dalam kandungan Lia sedang bermuka jutek dengan kaki dan tangan yang memukuli ibunya. Bayi kecil itu marah, karena Lia tidak juga menyadari kehadiran ayahnya.


Bukan saja itu, gedoran di pintu tidak dia hiraukan. Lia sibuk mengeringkan tubuhnya. Saat dia membuka pintu, sungguh Lia terkejut melihat Adonia di depan pintu dengan tangan yang hampir memukul wajah Lia.


"Nyonya kecillll!!!! Pantas saja tidak mendengar." Adonia melepaskan speaker dari kepala Lia.


"Kenapa? Ada apa? Mengapa kau panik? Apa terjadi sesuatu dengan Tuan Besar? Di mana dia sekarang?" tanya Lia dengan panik.


Adonia mendengus sambil mengerucutkan bibir tebalnya.


"Nyonyaaaa, saya jadi gemas. Apa tidak punya perasaan dengan apa yang terjadi hari ini?"


"Ada apa yaa... ini baby sedari tadi menendang-nendang dengan keras." Lia mengusap perutnya lagi.


"Rapatkan kimono mandi, Nyonya kecil." Adonia mengencangkan tali yang belum diikat oleh Lia.


"Ayo sini, kita lihat ada apa diluar." Adonia menarik Lia ke arah balkony.


"Pelan-pelan Adonia. Aku hamil besar!" gerutu Lia.


Sesampainya di balkony dia mendengar suara yang selalu terngiang di dalam benaknya. Suara yang sangat dia rindukan. Kekasih hati yang menjadi penantiannya selama lebih dari empat bulan.


"Jasonnn...," bisik Lia lembut.


Dia tak percaya dengan apa yang dililhatnya di bawah balcony. Sosok pria yang selalu menghiasi mimpi-mimpinya. Kehadiran sosok itu membuat Lia ragu, wanita itu menggosok matanya.


"Jason ...." Lia menoleh ke arah Adonia seakaan meminta kepastian dengan apa yang dia lihat.


Adonia mengangguk dengan bibir yang tersenyum dan mata berkaca-kaca. "Iya Nyonya Kecil, itu Tuan Muda. Dia datang menjemput Anda. Penantian Nyonya akhirnya mendapatkan jawaban."


Lia tak percaya dengan apa yang diucapkan Adonia. Jantungnya melompat gembira. Dia kembali melihat ke arah bawah dan melihat Jason marah pada Tuan Besar.


"JASONNNNN!" Lia berteriak dari arah balkoni dengan kedua tangan yang memegang pagar besi tersebut.


Handuk yang menggulung rambut basah Lia terlepas dan jatuh diterbangkan oleh angin laut. Rambutnya tergerai dan berkibar ditera angin. Ia tak perduli akan hal itu. Saat ini sosok dibawah sana yang ia perdulikan.


Mata Lia berkabut. Dia menatap sosok Jason yang saat ini juga tengah menengadahkan wajahnya ke balkoni. Pandangan mata mereka saling menatap satu sama lain. Sejenak tubuh kedua insan itu membeku.


Lia mengerjapkan matanya, membiarkan angin laut membawa pergi air mata dan kedukaan dalam dirinya. Jiwanya begitu di liputi kebahagiaan dan bayi dalam kandungan sudah tidak lagi menendangi tubuhnya.


Ia terus saja mengerjapkan matanya yang tak berhenti berkabut. Air mata itu mengucur sangat deras. Masih dengan kimono mandi, Lia menuruni tangga. Dia melangkah secepat kaki bisa membawa tubuhnya.


"Nyonya kecilll awasss, anda sedang hamil besar." Teriakan khawatir dari Adonia tak ia hiraukan.


Gadis pelayan itu mempercepat langkahnya menyusul nyonya kecil. Dia tepat berada di belakang Lia, berjaga-jaga. Lia semakin mempercepat langkah kakinya ketika mendengar suara pintu Kastil yang tinggi terbuka dengan kasar.


"Jasonnn!!!" Teriakannya menggema di dalam ruang yang berdinding batu.


Kedua insan itu saling mendekat dengan segala kerinduan yang sudah meluber. Di anak tangga terakhir Lia hampir saja terpeleset dan berguling jatuh, namun terselamatkan oleh tangan kekar kekasih hatinya.


Akhirnya penantian itu terbayarkan. Aroma harum, kehangatan dan pelukan yang selalu menghiasi angan, menjadi kenyataan. Kedua insan itu saling berpelukan erat melepaskan rindu.


Perut besar Lia yang menghalangi mereka membuat wanita itu sedikit memiringkan tubuh agar bisa mendekap Jason. Sesaat tidak ada kata-kata yang mereka ucapkan.


Pelukan dan desahan napas sudah menggambarkan semua yang mereka rasakan, luapan perasaan hati dari kerinduan yang memuncak. Lia merasakan tangan hangat Jason tak henti-henti memberlai rambut dan punggungnya.


Wanita itu menengadahkan wajahnya menatap suami yang sangat dia rindukan. Air mata terus mengambang dan berjatuhan di pipi tirusnya dan dengan lembut jari-jemari besar perkasa Jason, mengusap air mata itu.


"Benar bukan ini kau? Ini Jason Madison, bukan? Aku tidak sedang bermimpi, kan?" tanya Lia berulang-ulang.


Tangan-tangan kurus Lia, menangkup wajah pria di hadapannya. Membelai kening dan pipi Jason yang ditumbuhi jambang kasar. Sosok itu terasa nyata dan dia takut semua hanyalah mimpi. Jikalau ini mimpi, ia tak rela jika harus bangun secepatnya


"Ini nyata, Sayang. Ini aku suami yang sangat merindukanmu." Jason membalas membelai pipi Lia.


Ia menelusuri setiap sudut wajah kekasih hatinya. Mengusap perlahan bibir merah muda yang indah tanpa polesan apapun. Pria itu menyatukan bibirnya dengan bibir istri yang dia rindukan.


Lia memejamkan mata menikmati usapan di bibir yang sangat dia rindukan. Dia menikmati lembutnya bibir Jason yang ********** dengan mesra.


Mereka di sana berdua saling melepaskan rindu, tanpa menghiraukan berpasang-pasang mata yang memandang dengan perasaan haru.


Ada Adonia yang tejebak di tangga di belakang Lia. Gadis itu duduk di tangga sambil tak henti-hentinya mengusap air mata yang bercucuran. Dia pelayan setia yang selalu mendampingi Lia, menjadi sangat terharu.


Ada Tuan besar dan Nyonya besar yang menatap dari sudut ruangan. Senyum kelegaan terukir di wajah mereka. Meskipun melalui julur yang terjal dan ekstrim, kebahagiaan itu akhirnya datang.


Frans dan Doreo saling menyenggol dan mengolok, ketika tanpa sadar sudut mata mereka sudah menggenang air mata.


Para pelayan kulit hitam penduduk asli Caribeaan pun, terseyum bahagia. Bibir lebar mereka tanpa indah menghiasi wajah yang biasanya selalu tampak murung.


Ciuman Jason tak berhenti meskipun dia merasakan gerakan-gerakan kecil di perut Lia yang menempel di perutnya. Hingga sebuah tendangan besar yang kuat.


"Apa itu?" tanya Jason heran dia menunduk melihat ke arah perut Lia yang menempel di perut kotak-kotak suaminya.


"Hahaha ... putramu sedang menyapa," sahut Lia lembut.


"Putra? Dia ... laki-laki?" tanya Jason tak percaya.


Lia menganggunk dengan senyuman menghiasi wajahnya.


Mata lelaki tampan itu berbinar. Dia bersimpuh di hadapan Lia. Jason menempelkan telinganya di perut Lia dengan tangan kekar menempel di sana.


"Hallo boy, Daddy sudah di sini."