48 Months Agreement With CEO

48 Months Agreement With CEO
Menyentuh kalbu



Part ini lebih asyik jika di baca sambil mendengarkan lagu YOU ARE THE REASON - Calum Scott.


atau sekededar instrumental piano by


Richards Claydermen- MARIAGE D'AMOUR


Tidak ada tawa hari ini yaaa. Baperan dikit yukk


...💗💗💗💗💗💗...


Jason mengendarai mobil nya dengan kencang. Dia tidak memperdulikan Lia yang duduk dengan wajah di tekuk. Bahkan Jason tidak menyadari jika Lia meneteskan air mata. Mobil itu dipacu dengan laju membelah angin dan dalam keheningan.Jason sudah tidak sabar ingin membawa Lia kembali ke Mansion.


Mengingat bagaimana Lia tertawa dan bercanda dengan Gabriel, melihat bagaimana gadis itu hendak lari dari dirinya dan menghilang lagi, apalagi ketika gadis itu memberontak dan berteriak tidak mau pulang, Api kecemburuan dan amarah membakar dada Jason.


Penipu. Kata-kata itu mengujam kedalam pendengaran Jason. Apa kesalahannya hingga Lia mengatakan hal itu. Apakah karena Natali? Tetapi Jason tidak merasa ada hubungan apapun dengan Natali. Bagaiamana dengan dia sendiri, menghilang dan membuat resah semua orang, tetapi malah asyik tertawa dan bercanda dengan pria lain.


Tawa dan senyumanmu hanya untukku!!!


Sedangkan Lia merasa kecewa dengan apa yang dilihatnya. Jason bersama Natali. Jason bersama dengan calon istrinya! Lalu, siapa dirinya di mata pria itu. Semalaman dia menantikan Jason, semalaman disaat ketakutan dia menyerukan nama Jason. Tapi ternyata pria itu malah asyik berjanji kencan.


SAKIT! Lia merasakan dadanya terhimpit sesuatu benda yang keras, hingga membuatnya kesulitan bernafas. Ingatan akan pemandangan yang dia saksikan dengan kedua matanya sendiri. Kata-kata dan sikap mesra gadis cantik itu bukanlah khayalan, mereka pasangan serasi.


Pasangan sederajat.


Mobil yang di kendarai Jason sudah sampai di Mansion. Sebelum tiba di depan pintu gerbang, Jason sudah memencet klakson berkali-kali membuat keributan agar penjaga membuka pintu sebelum mobilnya tepat di depan gerbang.


Lia memandang pintu gerbang dengan persaan ngilu. Disinilah dia harus kembali.


Sesampainya di halaman, Jason mematikan mesin mobil dan duduk bersandar. Dia merasa lega, karena Lia sudah kembali di dalam genggamannya. Tak akan dibiarkan dirinya kehilangan Lia lagi, Jason berjanji.


I will never ever let you go


Jason menoleh kearah Lia dengan tatapan penuh kerinduan. Seandainya ada kata yang bisa melukiskan tatapan itu, seandainya ada kamera photografer yang mengabadikannya, seandainya ada pujangga yang mampu menuliskan syair indah, mereka akan sepakat, jika tatapan itu adalah tatapan penuh Cinta dan kerinduan.


Bola mata biru itu, memancarkan sinar-sinar yang mampu menghipnotis setiap wanita, meluluh lantakan setiap hati. Sorot mata penuh keteduhan yang menetramkan, pancaran cinta yang menyentuh kalbu dan segala kerinduan yang menerbangkan dirimu ke atas awan juga sinar kehangatan yang mampu menenggelamkan dirimu dalam balutannya.


Seandainya saja gadis itu tidak sibuk dengan pikiraannya sendiri. Seandainya saja dia tidak dalam keadaan kecewa. Seandainya saja dia tidak sedang sakit hati dan marah. Seandainya saja dia mau menoleh kesamping dan memandang pria di sebelahnya. Dia dapat merasakan tatapan mata penuh cinta itu. Dan segala keresahan hatinya akan tersapu bersih.


Jika saja kasat mata bisa melihat dengan jelas. Saat ini peri cinta sedang bertebaran, menghujani panah cinta berkali-kali ke arah gadis itu. Tapi sayang, panah cinta itu bengkok sebelum menembus pintu hati yang membeku dengan kekecewaan. Peri cinta putus asa, mungkin belum saatnya panah mereka menembus kalbu gadis itu.


Jason mengulurkan tangannya menyentuh lengan Lia. Namun gadis itu menepisnya dan mengalihkan pandangan ke arah lain. Jason membelai rambut Lia dengan perlahan. Tapi Lia hanya diam tidak bereaksi.


"Ayo, kita turun. Kau bisa marah dan menangis sepuas mu di dalam," ujar Jason dengan sangat lembut.


"Aku tidak mau turun!" Sahut Lia dengan ketus.


"Baiklah kalau begitu kita akan menghabiskan waktu di sini." Ucaonya dengan sabar.


Jason memencet sebuah tombol, sandaran kursi Lia langsung mundur ke belakang, hingga gadis itu berada dalam posisi berbaring.


Kemudian Jason memencet tombol lain, hingga atap mobil itu terbuka lebar dan menekuk di belakang. Lia bisa memandang langit yang berawan diatasnya. Gadis itu memejamkan matanya dan menitikan air mata.


Tok. Tok. Tok. Tok. Tok. Tok.


Lia mendengar ketukan jari itu. Dan dia tahu apa yang di inginkan Jason. Namun, Lia tidak menghiraukannya. Dia enggan melayani Jason. Dia enggan berbicara apalagi menyentuh pria itu. Lia memalingkan wajahnya.


Jason memperhatikan Lia. Dia melihat tetesan air mata di pipi putih Lia. Jason mengulurkan tangannya mengusap air kata itu dengan lembut. Melihat air mata itu, hati Jason tersentuh. Segala amarah dan kecemburuan menguap diterpa angin sepoi-sepoi.


Jason menyentuh dagu Lia dan memaksa gadis itu menghadap kepadanya.


"Kita bisa terus seperti ini di dalam mobil. Selama yang kau mau. Aku akan mencium dirimu di sini dan membiarkan mereka semua menyaksikannya," ucap Jason dengan ancaman yang lembut dan menggoda.


Lia membuka matanya perlahan dan melihat kearah belakang punggung Jason. Matanya terbelalak. Tampak disana berjajar seluruh pengawal dan pelayan dengan butler Bernard dan Kepala pengawal mempimpin barisan. Tampaknya semua orang sudah ada untuk menyambut kedatangan Lia.


Gadis itu kemudian mendorong Jason dan turun dari mobil. Dia tahu percuma membantah Jason, karena saat ini juga dia sudah kembali berada di dalam sangkar. Pintu gerbang sudah tertutup dan puluhan pengawal akan mengawasinya lebih ketat.


Lia turun dari mobil dan berlari masuk kedalam Mansion. Jason mengikutinya di belakang dengan langkah tenang, dia melewati barisan bawahannya yang menanti dengan rasa bersalah. Melewati butler Bernard, Jason mengangguk, tanda jika hukuman mereka telah selesai.


Buttler Bernard bernafas lega. Dia mengangguk kearah koki. Koki segera masuk dan melakukan aktifitas mereka dengan cepat. Memasak untuk seluruh pengawal dan pelayan yang sudah tidak makan semalaman.


Bukan saja Butler Bernard, tapi seisi mansion bisa melihat perubahan sikap Jason. Mereka bisa melihat seberapa berharganya gadis itu di mata dan terlebih dihati Jason. Mereka tidak pernah melihat sikap Jason yang seperti ini sebelumnya kepada siapapun terlenih seorang wanita.


Jason mengikuti langkah Lia menuju kamar. Gadis itu tidak bisa lagi mengunci pintu kamarnya dan dia tahu sia-sia saja menutup pintu kamar itu. Lia duduk termenung di tepi jendela besar, memandang keluar dengan putus asa. Menatap awan putih yang nergerak bebas di langit biru.


Jason masuk kedalam kamar. Dengan perlahan dia menghampiri Lia dan berdiri di samping gadis itu. Jason memandang Lia dan air mata gadis itu. Dia ingin mencurahkan perasaan hatinya.


"Seharusnya aku yang marah padamu. Tetapi kenapa justru kau yang marah kepadaku." Ujar Jason disisi Lia dengan putus asa.


"Belum puas kah dirimu menyiksa ku, dengan pergi begitu saja. Belum puas kah kau berkeliaran dan tertawa dengan pria itu? Sekarang kau bersikap seperti ini dan menyebutku penipu." Ujar Jason lagi.


"Kau memang penipu. Untuk apa aku disini Jason. Kenapa kau membawaku kembali? Belum puas kah dirimu menyiksa ku?!" Ujar Lia dengan terisak.


Jason terpaku. Dia tidak menyangka, jika Lia akan berbicara seperti itu. Menyiksa? Itukah yang dirasakan Lia selama ini? Tidak kah dia merasakan seluruh perhatian dan perasaan nya?


Tidakkah Lia merasakan hal yang sama.


"Aku..." Jason bingung harus berbicara apa.


Dia tidak punya pengalaman mengahadapi wanita kecuali ibu dan adik perempuannya. Dia tidak memiliki banyak teman wanita. Dan dia tidak pernah jatuh cinta hingga saat ini. Dia tidak tahu bagaimana berbicara dan menenangkan hati Lia.


Perkataan dan sikap Lia begitu menyiksa kalbu nya. Dia baru tahu jika perasaan cinta itu bisa menyeruak begitu besar memenuhi seluruh nafas kehidupannya. Seakan berebut oksigen dan menghimpit dadanya begitu kuat. Perasaan itu bisa menghujamnya bagaikan sebuah pisau, menancap kuat di hatinya hanya dengan mendengar perkataan putus asa gadis yang dia cintai.


"Kau selalu seperti ini. Kau menyiksaku dengan sikap mu. Kau menghantui ku dengan tatapan mu. Kau mengekangku dengan ciumanmu. Kau membuatku bergantung pada pelukanmu. Kenapaaaa??? Kenapaaa tidak kau biarkan saja aku pergi. Lepaskan aku dan kau bisa bebas bersama Natali!"


Lia berbicara dengan emosi dan air mata yang mengalir deras. Dia merasa terisiksa mengingat semua perlakuan manis Jason. Sempat dia berpikir jika Jason jatuh cinta padanya. Dan disaat dirinya merasa sudah sangat tergantung dengan pria itu, kenyataan lain menghempaskannya. Lia Kecewa. Lia terpukul. Dan perasaan itu begitu menyakitkan.


"Tapi Lia..." Jason merengkuh pundak Lia hendak memeluk gadis itu. Namun kembali penolakan yang dia terima.


"Tapi apa? Kau ingin minta maaf dan semua yang aku lihat, semua yang dia katakan adalah kebohongan?" Lia terisak.


Hikkk... huaaaa..... hikksssss... aaaaa...


Lia menangis dengan keras. Berteriak meluapkan segala perasaan di dalam hatinya. Dia berteriak, ingi membuang segala perasaan yang mengganjal di kalbu dan rasa sakit yang menghujam hatinya.


"Aku mengerti sekarang kenapa kau mengurungku. Kenapa kau bersikap seperti ini. Kenapa kau begitu menginginkan anak. Kau memanfaatkanku Jason!" Lia memandang Jason dengan mata nanar penuh kepedihan.


Jason terperangah? Memanfaatkan? Kenapa Lia berpikir seperti itu. Apa yang terlintas dipikirannya? Apa yang membuatnya bersikap seperti ini. Lia bahkan lebih marah dan histeris saat ini, daripada ketika dia mengeahui jika mereka sudah menikah dan memiliki kontrak perjanjian.


Banyak pertanyaan terlintas dalam benak Jason sementara bibirnya terkunci.


"Lia aku tidak pernah ingin menyakitimu," ujar Jason dengan putus asa. Suaranya begitu lembut dan penuh dengan kesungguhan.


Jason mengangkat dagu Lia dan mencium bibir gadis itu. Lia bisa merasakan bibir hangat Jason menyapu lembut bibir nya. Hati Lia bergetar. Sentuhan lembut yang dia rindukan dan harapkan semalaman.


Kehangatan yang dia inginkan semalaman. Tapi semuanya terasa pahit ketika ingatan akan Jason dan Natali kembali menyeruak. Hanya sedetik kemudian gadis itu kembali memalingkan wajahnya.


Lia menepis tangan Jason dan menjauhi pria itu. Dia masuk ke dalam kamar mandi. Jason memandang punggung Lia yang beranjak menjauh dengan kerinduan. Dia sangat ingin sekali memeluk dan mencium gadis itu seperti sebelumnya tanpa perlawanan dan kebencian.


Ah, betapa Jason sangat merindukan keceriaan, kicauan bawel dan sikap manja kucing liarnya. Dia rindu saat Lia menyeruak malu-malu kedalam pelukannya. Dia rindu saat gadis itu dengan kesal mencium dirinya. Dia rindu ketika Lia berteriak histeris dan menyebutnya mesum.


Jason duduk di pinggiran tempat tidur dan memandang pintu kamar mandi dengan penuh harap. Dia berharap setelah keluar dari kamar mandi, Lia bisa menjadi lebih tenang. Ah, tidakkah kau tahu, betapa gilanya aku ketika kehilangan dirimu?


Lia keluar dari kamar mandi dengan mata yang sembab. Air mata sudah berhenti menetes disana. Tapi tatapan matanya tetap mengandung amarah, kebencian dan sakit hati pada Jason. Lia sudah mengganti pakaiannya dengan bath robe.


Lia menghampiri Jason. Berdiri tepat dihadapan pria itu. Lia menatap Jason sendu. Bibirnya bergetar hendak mengucapkan kalimat yang terasa sukar dia katakan.


Jason mendongak menatap Lia penuh harap. Dia menanti dan berharap jika Lia akan melemparkan tubuhnya dalam pelukan Jason.


Tapi apa yang terjadi berbanding terbalik dengan harapan Jason. Lia menurunkan bath robe yang dikenakannya, hingga punggung nya terbuka dan sebagian dada Lia tampak.


"Ini kan yang kau ingin kan selama ini?! Ini kan yang kau pinta?! Kau ingin tubuhku! Kau ingin anak dariku?! Ayooo lakukan! Ambil! Rengut semua millikku. Ayooooo lakukan!!!! Kenapa kau diam???"


Jason terperangah. Dia tidak mengira jika hal itu yang dikatakan oleh Lia.


"Ayooo tanamkan benihmu padaku, buatlah anak yang kau mau. Ayoo kenapa kau diam?!!! Hikkks.... huaaaa...." Lia jatuhh bersimpuh dihadapan Jason sambil menangis lagi dengan tersedu-sedu.


"Lalu apa Jason, kau akan merengut bayi itu, merengut anakku dan membuangku? Aku tidak menyangka jika kau sekejam itu, memanfaatkan diriku untuk memiliki anak dan bahagia dengan wanita lain." Kata Lia lagi dengan lemah dan putus asa disela isak tangisnya.


Jason tersentak. Setiap kata yang diucapkan Lia, menancap dengan keras menghujam relung hatinya. Jason tidak menyangka jika itu yang ada dalam pikiran Lia.


Pertemuan hari ini yang seharusnya indah dan mengharukan. Bayangan gadis itu lari dalam pelukannya dan mencium dirinya, menguap begitu saja dihempaskan oleh prasangka.


"Lia kau salah. Bukan begitu. Bukan begitu. Kau salah Liaaa." ujar Jason dengan suara serak dan perasaan yang hancur.


Jason merengkuh gadis itu dalam pelukannya dengan erat. Tak dihiraukannya penolakan Lia. Di benamkan wajah Lia di dadanya. Dia biarkan gadis itu menangis, meraung di dadanya. Hingga dia lelah dan terlelap.


Jason membopong tubuh Lia yang terlelap dan memeluknya erat untuk sesaat. Dia membelai wajah Lia dan menghapuskan sisa tetesan air mata di pipi Lia. Jason mengecup ke dua bola mata Lia yang sembab. Tak pernah puas dia memandangi wajah Lia dalam pelukannya.


"Aku mencintaimu Lia. Aku menginginkan anak untuk mengikat dirimu di sisiku. Aku ingin selalu melihat senyumanmu, mendengar kicauanmu, merasakan sentuhan mu setiap saat. Aku menginginkanmu utuh. Aku mencintaimu Lia."


ujar Jason dengan sepenuh hati sambil mengusap lembut wajah Lia. Membelai rambut halus Lia dengan penuh perasaan. Jason kemudian meletakan Lia di tempat tidur dan merapatkan bath robe yang di kenakan oleh Lia. Jason menutup tubuh Lia dengan selimut dan berbaring di sisi Lia. Pria tampan dan gagah itu terlelap disisi Lia dengan tangan yang memeluk nya erat.


...💗🌟💗🌟💗🌟💗🌟💗🌟...


Udah baper belum yaaa....


Beneran loh, kalau di dengarkan dengan lagu yang pas, akan menyentuh kalbu.