48 Months Agreement With CEO

48 Months Agreement With CEO
Tiga Puluh Test Pack



Jangan lupa sumbangin Vocher Vote nya ya.


...💖💖💖💖💖💖💖...


Pandangan mata keempat orang yang berada di dalam ruangan tertutup itu, sontak menuju kearah pintu yang terbuka. Mereka menatap ke arah seorang pengawal bertubuh besar dengan banyak tato di tubuhnya. Pengawal itu berdiri tegak sambil memandang dengan tajam dan dingin. Tampaknya orang tersebut tidak pernah tersenyum seumur hidup.


Pandangan mata pengawal itu kemudian tertuju pada butler Bernard. Pria tua itu merasakan hawa dingin menerpa tengkuknya. Apalagi ketika postur tubuh orang tersebut mengarah padanya.


"Kau! Ikut aku keluar sekarang!" Suara berat pria itu terdengar menyeramkan.


"Apa yang akan kau lakukan pada dia. Kenapa hanya dia yang keluar?" tanya Lia dengan segera.


"Diam! Ayo segera keluar!" Pengawal itu tidak menghiraukan Lia dan masih menatap butler Bernard dengan dingin.


"Tidak! Kami berempat satu paket! Dan kami harus bersama-sama." Lia berdiri di depan butler Bernard, menghalangi pengawal itu.


"Nona, saya tidak apa-apa. Tenang dan duduklah." Ujar Butler Bernard dengan tenang.


"Tidak! Tidak! Tidak akan kubiarkan mereka menyakitimu." ujar Lia.


"Sebaiknya anda menyingkir, sebelum kami bertindak kasar." Pengawal itu mendekati mereka dan menatap tajam pada butler Bernard, seakan memberi isyarat agar pria itu mengambil tindakan sebelum dia bersikap kasar.


"Nona, duduklah." Butler Bernard yang mengerti arti tatapan itu, ia menuntun Lia dan menyerahkannya pada Laurent.


"Jaga dia, jangan sampai ada lecet sedikitpun. Kau tahu bagaimana kakak mu jika marah, bukan?" Butler Bernad menatap tajam pada Laurent.


Gadis itu mengangguk mendengarkan perkataan kepala pelayan itu. Dia memegangi Lia yang masih hendak menahan langkah butler Bernard. Lia tidak bisa membiarkan hal buruk terjadi pada butler Bernard. Dia merasa sangat bertanggung jawab, karena dirinya lah butler Bernard mengalami kejadian ini.


"Haiiii!!!! Jangan sakiti dia!!! Awasss jika suamiku datang dia akan mencincang kalian!!!" Teriak Lia dengan lantang.


"Sudah diamlah. Bagainana kau bisa membela butler Bernard dengan tubuh kecil tanpa keahlian ini." Cibir Laurent tegas.


"Huh! Lalu bagaimana nasib butler Bernard?" Tanya Lia panik.


"Duhhh Liaaa... Jangankan memikirkan nasib butler Bernard. Memikirkan nasib kita saja pusing. Bagaimana jika satu persatu dari kita dipanggil keluar. Kita bahkan tidak tahu apa yang terjadi di luar sana." Kata Emely dengan lemas.


Lia terduduk diam mendengarkan perkataan Emely. Kedua tangannya saling bertautan dengan cemas. Air matanya kini menetes. Menatap wajah Laurent dan Emely yang tak kalah kuyuh seperti dirinya, membuat Lia semakin sedih.


"Jasonnn!!! Kenapa kau lama sekali." Bisik Lia sendu.


*


Butler Bernard mengikuti pengawal tersebut. Dia tetap tegar dan tenang meskipun dalam hati dirinya masih gelisah. Adalah kewajiban menjaga dan bertanggung jawab terhadap istri dari tuan muda nya. Dan saat ini dia merasa gagal. Butler Bernard tidak dapat berbuat apapun, karena khawatir jika melawan, Lia akan celaka.


Langkahnya terhenti seiring dengan berhentinya langkah penagwal bertubuh besar dihadapannya. Tubuh tinggi besar pengawal itu menghalangi dirinya melihat apa yang ada di depan. Saat melihat kearah kanan dan kiri. Butler Bernard sadar dia kini sedang berada di halaman. Dan dalam beberapa detik, pengawal itu menyingkir dari hadapan butler Bernard.


Saat itulah kepala pelayan tua itu terkejut, melihat sosok yang duduk tenang dan menatapnya tajam. Pria muda yang ditangisi dan dipanggil namanya setiap waktu oleh nona muda yang dia layani.


"Tuan muda?" Panggilnya tak percaya.


Dia kemudian bergegas menghampiri tuan muda nya. Dia berdiri di hadapan Jason dengan pandangan tak percaya. Pria muda yang duduk dengan tenang itu benar adalah tuan muda nya. Tapi, kenapa pria itu tidak membiarkan nona Lia dan yang lainnya keluar saat ini juga. Kenapa hanya dirinya yang keluar. Pertanyaan tu berkecamuk dalam pikiran tanpa mampu dia ucapkan.


"Sudah puas kau bersenang-senang semalaman?" Tanya Jason dengan dingin.


"Lihat dirimu!" Jason memutar laptop dan menunjukan rekaman cctv yang dia dapatkan dari club malam. Meskipun dalam rekaman itu tidak terlihat saat butler Bernard jingkrak-jingkarak dalam ruangan. Tapi ketika berada dikoridor, tampak sekali pria tua itu berjalan dengan limbung dan wajah yang memerah.


"Begini caramu menjaga istriku?!" Ucap Jason lagi.


"Maafkan saya tuan. Saya salah dan pantas mendapatkan hukuman." Butler Bernard menunduk dengan lemas. Dia tidak dapat membela diri nya lagi. Apapun alasan yang dia berikan, jelas sekali dirinya sudah menikmati malam itu dan mabuk. Melepaskan tanggung jawab untuk menjaga nona muda.


"Tentu saja kau akan menjalani hukuman. Pulang dan tunggu hukumanmu." Kata Jason lagi tanpa expressi.


"Baik tuan. Tapi bagaimana dengan ketiga nona disana?"


Jason tidak menjawab. Dia menatap butler Bernard dengan dingin tanpa expressi. Dia tidak akan memberitahu kepala pelayan ini mengetahui rencana nya. Biarkan saja pria tua itu semakin dibuat gelisah.


"Mereka akan tetap disini, menanti hukuman dari tuan rumah." Sahut Jasin akhirnya.


"Tapi tuan, Merkea tidak bersalah. Kenapa tidak membantu mereka. Tolong bebaskan mereka. Biarkan saya yang mengganti mereka. Biar saya yang disekap saja." Ujar Butler Bernard.


"Apa yang bisa mereka dapatkan dari dirimu, pria tua?"


"Tapi tuan muda, anda harus menolong ketiga nona. Tidak tahukan anda jika nona Lia menangis terus memanggil nama tuan muda. Dia tidak dapat tidur dan makan dengan baik. Tuan.. tolong bantu dia. Kasihan nona muda." Butler Bernard kali ini berlutut dihadapan Jason. Sikap Butler Bernard membuat Jason terkejut. Pria dengan harga diri yang di junjung tinggi itu, sanggup merendahkan dirinya seperti ini. Bahkan dia tidak meminta hukuman dirinya diperingan, malah panik dengan keadaan nona muda nya.


"Aku tidak akan ikut campur. Ini kesalahan mereka. Ini kesalahanmu!"


"Tuan muda! Apakah anda tidak mencintai dan menyayangi istri dan adik anda?!" Tanya Butler Bernard dengan nada tinggi.


"Untuk apa memaksa wanita yang tidak mencintai diriku? Untuk Laurent biar menjadi urusan Darrel Madison. Toh, Laurent adalah anaknya."


"Tuan muda! Kenapa anda begitu dingin dan tidak berperasaan." Butler Bernard mendesis tak percaya dengan sikap Jason.


"Bukankan ini yang terbaik. Seperti katamu, aku bisa menikahi salah satu pilihan mommy dan hidup tenang. Kau pun akan tenang bukan tanpa Lia yang kau layani. Bukankah kau membenci dia. Maka, aku bebaskan dirimu dari wanita itu." Ujar Jason sambil menyeringai menyeramkan.


Butler Bernard tersentak. Dia memang pernah berbicara seperti itu untuk menakuti nona Lia. Tapi tidak disangka jika perkataanya menjadi kenyataan. Bukan ini yang dia maksud, bukan ini yang dia harapkan. Dia hanya senang bersikap menyebalkan dengan nona muda yang selalu membuatnya tertantang dan lebih hidup.


"Tidak tuan muda. Nona Lia yang terbaik untuk anda. Jangan lepaskan dia tuan muda. Semua pelayan menyukai dia. Dan bukankah anda juga sangat mencintai dirinya. Tolong bebaskan nona Lia." Pinta Butler Bernad penuh harap.


"Semua pelayan menyukai dirinya kecuali kau bukan? Aku sudah terbiasa hidup tanpa cinta, kau tahu itu bukan! Carlos, bawa dia pergi sekarang juga!"


Carlos segera menghampiri butler Bernard dan menarik kedua lengan pria tua itu. Butler Bernard tidak memberontak. Dia berdiri perlahan dengan bantuan Carlos. Butler Bernard masih menatap Jason dengan pandangan tak percaya, melihat tuan mudanya yang masih tanpa expressi dan dingin.


"Tuan, tolong ampuni nona Lia. Ampuni ketiga nona. Aku menyayangi mereka semua. Dia istri anda. Bisa saja saat ini nona sedang mengandung. Tuannn!! Tolong bantu lepaskan mereka." Ujar Butler Bernard dengan nada dalam dan penuh harap sebelum meninggalkan Jason, sebelum sempat melihat perubahan diwajah pria itu.


"Hamil? Apakah itu benar?" desisnya tak percaya.


Saat butler Bernard pergi dari balik pilar, keluar Erick dan Daniel. Kedua orang itu menjauh ketika melihat butler Bernard datang atslas perintah Jason. Dan dari balik pilar pula mereka bisa melihat expressi butler Bernard yang panik.


"Kau tega juga pada butler Bernard." Ucap Erick akhirnya.


"Kasihan dia percaya dengan gertakanmu. Kau bisa meraih piala Oscar dengan acting hebat mu ini." Gurau Daniel.


"Frans! Belikan tiga puluh tesf pack sekarang juga!" Perintah Jason tanpa memperdulikan Erick dan Daniel yang menatapnya bingung.