
Seperti dugaannya, Daniel meninggalkan nomor telphone di atas kotak pizza. Lia segera mengirimkan pesan kepada Daniel agar mereka bisa bertemu untuk makan malam. Dan pilihan mereka jatuh di restaurant yang terdapat di dalam tower Penthouse ini.
"Dengan siapa kau mengirim pesan?" Tanya Jason yang tiba-tiba muncul di sisi Lia.
Lia segera menutup handphone nya dan tersenyum ke arah Jason, menutupi kegugupan hati nya. Jason yang penasaran dan merasa aneh dengan senyuman Lia, tergelitik untuk menggoda gadis itu.
Jason berusaha merebut handphone Lia, namun gadis itu dengan tertawa menghindari Jason dan menyembunyikan handphone ke belakang punggungnya. Jason memeluk Lia berusaha untuk mendapatkan handphone itu. Sikap Lia yang berusaha menyembunyikan nya, malah membuat Jason penasaran.
Jason kemudian mengangkat tubuh Lia dan mendudukannya di meja. Dia mengunci tubuh Lia dengam kedua tangannya. Gadis itu menggoda Jason dengan tetap menyimpan handphone di belakang punggungnya dan menjulurkan lidah. Sesungguhnya tingkah Lia sangat kekanakan, tetapi karena Jason tidak pernah mengalami masa remaja, hal itu justru seakan undangan untuk mencium Lia
"Jangan buat aku penasaran, atau aku akan menghabisi mu!" Ancam Jason sambil mendoyongkan tubuhnya ke arah Lia, membuat gadis itu menjauhkan tubuhnya.
"Idihhh, segitu nya. Lihat ini. Aku tadi bingung memilih, foto mana yang bisa aku gunakan sebagai wallpaper."
Lia menunjukan layar handphone nya. Beruntung dia sempat mengambil foto candid Jason tadi pagi di kantor. Setidaknya dia punya alasan agar rencananya dengan Daniel tidak diketahui Jason.
Jason yang melihat foto nya telah menjadi wallpaper handphone Lia, merasa sangat senang. Karena selama ini Lia sangat pasif. Jason tersenyum senang dan mulai memeluk sekaligus mencium bibir Lia dengan dalam.
"Jason... ah.. sudah...ehhh... ayo ajak aku keluar. Aku ingin makan malam di sebuah restaurant. Selama ini kita hanya makan malam di rumah. Jangan sia-siakan kesempatan selama berada di tengah kota." Todong Lia pada Jason.
"Baiklah, kemana kau ingin pergi?"
"Di restaurant dalam gedung ini saja. Lagipula aku tidak membawa pakaian lebih dan hanya memiloki sepatu ini." Keluh Lia.
"Aku akan meminta Mario untuk menyiapkan keperluanmu."
Mario adalah asistent yang biasa menyediakan keperluan Jason dan membelikan berbagai hal-hal sepele lainnya.
Setelah menghubungi Mario. Lia mengajak Jason untuk turun ke restaurant di lantai bawah. Perlu waktu lebih dari lima menit bagi mereka dengan lift khusus menuju ke restaurant. Sesampainya disana, mereka tentu saja disambut dengan super ramah oleh pelayan restaurant.
Lia memilih duduk di sudut ruangan dengan alasan agar bisa melihat-lihat. Baru saja mereka duduk, Lia melihat Daniel dengan seorang wanita yang masih sangat cantik.
Lia melambaikan tangannya. Jason menoleh ke arah dimana Lia memandang.
"Kau berjanji temu dengan mereka?"
"Tidak.."
"Jangan bohong."
"Hehhehehehe..."
"Ayo kita pergi."
"Duduklah." Lia menahan tangan Jason yang berdiri. Jason tak bergeming.
"Aku akan menuruti keinginanmu, jika kau tetap disini dan berbicara dengan baik kepada mereka." Lia memberikan penawaran yang menarik bagi Jason.
"Baiklah. Ini aku lakukan untukmu. Ingat perkataanmu." Jawab Jason dengan cepat dan kembali duduk.
"Iya.Iya." jawab Lia cepat sambil berdiri dan menyapa Daniel.
"Hallo Daniel. Anda pasti nyonya Camila." Sapa Lia hangat. Lia menepuk pundak Jason, sehingga pria itu akhirnya berdiri dan menyambut kedua orang yang tidak dia inginkan itu.
"Benar sekali. Seperti kata Daniel, kau cantik dan sangat ramah. Jason beruntung memiliki dirimu disisinya." Ujar Camila dengan hangat.
"Dengar itu. Kau beruntung memilikiku." Ujar Lia pada Jason.
Jason menyeringai sambil membisikan sesuatu pada Lia, yang membuat gadis itu langsung terdiam dan merona.
Mereka berempat duduk dan mulai memesan makanan.
"Bagaimana khabar mu, Jason?" Tanya Camila sambil menatap Jason dengan anthusias.
"Baik." Jawab Jason singkat.
"Syukurlah. Apakah kau suka tinggal di Paris, Lia?" Camila mengalihkan pandangan nya ke arah Lia.
"Kota yang indah. Sayang sekali, belum diberi kesempatan untuk menjelajahinya." Sahut Lia.
"Ah... jika Jason tidak sempat membawamu berkeliling, mungkin aku bisa mengajakmu."
Camila menawarkan diri.
"Benarkah..." Lia berbinar senang.
"Ah, tentu saja akan lebih nyaman jika pergi dengan kekasihmu." Camila mengalah.
"Dia bukan kekasihku." Sahut Lia acuh.
Jason menatap Lia kesal. Camila dan Daniel menatap mereka dengan heran.
"Maaf, aku pikir kalian sudah bersama sekian lama." Ujar Camila dengan heran.
"Anda salah nyonya, tuan ini bukan kekasihku." Jawab Lia lagi.
Jason meremas tangan Lia keras.
"Aduh! Apa aku salah bilang, jika kau bukan kekasihku?" Lia menoleh kearah Jason dengan kesal.
"Iya kau memang bukan kekasihku!" Ujar Jason tanpa melepaskan pegangannya pada Lia.
"Kalau begitu, mungkin nyonya Camila bisa membantuku untuk mendapatkan kekasih." Lia mengerlingkan matanya pada Camila.
Camila dan Daniel dibuat bingung dengan sikap Lia dan Jason.
"Bisakan nyonya?"
"Tentu saja." Jawab Camila ragu.
"LIA!!! Berani-beraninya kau tidak mengakuiku!" Jason menggeram marah. Kemudia dia menatap Camila dan Daniel.
"Dia istriku! Dia kekasihku!" Ujar Jason dengan tegas.
Ketiga orang tersebut menatap Jason dengan terperangah. Hati mereka diliputi berbagai perasaan yang berbeda. Camila dan Daniel merasa aneh mendengar pengakuan Jason, pernikahan Jason yang baru mereka ketahui. Ini artinya, bahkan orang tua Jason tidak mengetahui hal ini.
Berbeda dengan Lia yang merasa senang, Jason mau mengakui dirinya di depan kedua orang tersebut, artinya dia merasa aman di dekat mereka. Dan Lia baru menyadari, jika pengakuan Jason terasa melegakan hatinya dan membuat dirinya bangha disisi pria itu.
"Kalian sudah menikah? Jason, aku merasa bahagia dan bangga padamu. Kau menemukan wanita yang luar biasa disisimu." Ujar Camila dengan tulus.
"Selamat kakak. Kalian membuatku semakin kagum." Pujian Dari Daniel terdengar tulus.
Lia tersenyum dengan tulus. Sementara Jason hanya diam saja.
"Terimakasih. Eh, seharusnya aku tidak mengiyakan perkataan mu ya..." Lia masih menggoda Jason.
Jason memincingkan mata nya ke arah Lia. Dan dengan cepat memberi kecupan pada kening wanita disampingnya ini. Harus diakui, jika Jason baru saja kalah dari Lia. Jason membuka hubungan mereka di depan Camila dan Daniel tanpa ragu. Jauh dalam lubuk hatinya, Jason masih menyayangi Camila.
Lia berbincang dengan Camila dan Daniel dengan akrab. Lia ingin tahu sejauh mana ketulusan Camila dan Daniel pada Jason. Disatu sisi, Lia tidak menyukai tindakan Camila yang sudah membuat Jason terluka. Tetapi disisi lain, dengan kedudukan Jason saat ini, lebih baik dia memiliki banyak kawan daripada lawan.
"So... Daniel. Dimana kau bekerja saat ini?" tanya Lia.
"Sebenarnya aku seharusnya.... " Daniel tampak ragu. Dia melirik Jason dengan bimbang.
Lia menangkap reaksi tersebut dan memilih tidak melanjutkan pertanyaan. Sejauh manapun Lia menginginkan Jason berdamai dengan masa lalu nya, tetapi dia tetap harus menghargai keputusan Jason.
"Aku sudah lelah Jason." ujar Lia lembut.
"Ayo kita pergi dari tempat ini." Jason berdiri sambil mengamit tangan Lia.
"Sampai jumpa nyonya Camila, senang bertemu dengan anda. Bye Daniel."
"Jason. Maafkan aku." Suara Camila bergetar, matanya berkaca-kaca menatap Jason.
Jason hanya menatap Camila sekilas dengan dingin.
"Terimakasih Lia." ujar Daniel.
Di dalam lift.
"Ingat janjimu. Aku sudah menurutimu dan duduk tenang tanpa mengusir mereka." ujar Jason dengan suara mengintimidasi.
Deg! Lia tiba-tiba saja berdebar dan gemetaran. Dia tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi padanya besuk. Lia menelan ludah. Dia sudah kepalang basah berjanji menuruti permintaan Jason. Dan tentu saja pria mesum juga posesif ini, ingin bercinta semalaman.
Oh kakakkkkk bagaimana aku bisa berjalan besuk?