48 Months Agreement With CEO

48 Months Agreement With CEO
Nilai Harga Diri



Ponsel Jason bergetar. Dengan mata yang masih memandang kearah kedua sosok, yang baru saja turun dari helokopter, Jason memencet tombol jawab di handphonenya.


"Ya, aku tahu. Mereka sudah disini."


"_____"


"Mereka meminta kalian kemari juga?"


"______"


"Oke. Ini akan menjadi reuni yang menyenangkan."


Jason menutup handphonenya dan menoleh kearah Lia.


"Ganti pakaianmu dengan semi formal.'


Lia mengangguk mengerti. Saatnya untuk segera berhadapan dengan sosok yang sudah lama ditunggu. Cepat atau lambat, siap atau tidak, hari ini akan tiba. Hari dimana Lia akan berhadapan dengan penguasa keluarga Madison.


Jason menatap istrinya yang saat ini sudah mulai merias wajah. Tanpa harus di beri petunjuk, tampaknya Lia sudah bisa mempelajari dengan cepat gaya berpakaian sebagai bagian keluarga Madison. Laurent dan nyonya Laura, sudah cukup menjadi contoh.


"Ingatlah, apapu yang terjadi aku adalah suamimu. Dan kau selalu menjadi milikku."


Kata-kata Jason sudah cukup memberinya keteguhan. Jason kemudian berlutut dan memeluk pinggang Lia, mendaratkan kecupan di perut. Kemudian dia menempelkan pipinya, hingga ketukan di pintu terdengar.


"Aku tahu!" jawab Jason singkat, ketika mendengar suara Butler Bernard memanggil namanya.


Jason berdiri dan mengusap lembut wajah Lia. Dia mendaratkan kecupan mesra di bibir ranum itu. Sesaat bibir mereka menempel dengan pelukan Jason yang merapat.


"Jason ...." Lia mendorong tubuh suaminya ketika merasakan pelukan itu semakin erat.


"Maafkan aku," ucap Jason yang menyadari pelukannya terlalu kencang.


"Aku tidak takut, honey. Selama kau tidak melepaskan diriku, aku tidak takut," ujar Lia dengan menatap suaminya.


Jason tersenyum membelai istrinya. Dilihatnya sorot mata tenang dari pancaran mata Lia. Yang Jason takutkan, bukan bagaimana Lia akan menghadapinya. Tapi ... jika rubah tua itu memutuskan untuk menyakiti Lia.


"Aku tahu. Kau lah yang terbaik. Ayo kita turun."


Dengan memeluk Lia, Jason keluar menuju ruang keluarga dilantai dua.


Disana sudah tampak, Laura Madison duduk menyilangkan kakinya dengan segelas anggur ditangan. Sementara seorang pria setengah baya yang masih tampan dan gagah, sedang berdiri sambil memandang potrer keluarga. Pria itu yang tak lain adalah tuan besar Darrel Madison tampak sedang memegang segelas brandy.


"Mom. Dad," sapa Jason yang diikuti oleh Lia.


Pandangan mata Laura beralih ke arah Lia. Begitu juga tuan besar Darrel Madison. Pria itu membalikan tubuhnya dan menatap kearah mereka. Expressi tuan besar tampak datar.


"Aku tidak menyangka kalian akan datang bersamaan," ujar Jason dengan menatap kedua orang tua nya bergantian.


Hal ini bukan tanpa alasan. Darrel dan Laura memang tidak pernah bersama, kecuali di acara penting. Mereka hanya mempertontonkan kemesaraan di depan publik. Bahkan setelah tiba di mansion, mereka tinggal di kamar yang berbeda. Perkawinan itu sudah retak sejak lama. Tepatnya karena apa dan kapan itu terjadi, tak seorang pun yang tahu..


"Kau tahu alasannya, bukan?!" Laura menimpali dengan singkat.


"Jadi, kau yang bernama Lia?!" Pertanyaan yang dilontarkan tuan besar tampak datar.


"Berapa usiamu?"


"Dua puluh tiga." Kali ini Lia yang menjawab.


"Dua puluh tiga, lulusan hukum, bukan? Gadis tanpa latar belakang yang jelas. Beruntung sekali latar belakangmu didobrak dengan Andrew Knight sebagai ipar. Heh! Kalau bukan karena dia, tidak akan pernah aku memandang dirimu," ujar tuan besar dengan mencemooh.


"Trimakasih anda sudah memperhatikan saya, Dad." Lia tersenyum tulus dan memberanikan diri memanggil tuan besar dengan sebutan daddy. Hal tersebut tentu mencengangkan, tapi Lia tidak kaget. Tentu saja dengan kekuasaan Darrel Madison, dia pasti sudah menyelidiki status Lia juga latar belakangnya.


"Terlepas dengan pamor Andrew Knight. Dia adalah wanita pilihanku. Dia juga memiliki status dan kekayaannya sendiri." ujar Jason.


"Heh! Kekayaan dan kedudukan yang kau persiapkan. Bukan atas usahanya sendiri." Sangat jelas sekali nada suara Laura mencemooh.


"Kamu membeli gadis itu dengan lima puluh butik dan hotel. Cukup mahal sekali hargamu, gadis desa!" Meskipun mengatakannya dengan santai, kalimat tuan besar begitu menampar perasaan Lia.


"Bagaimana dengan Camilla, berapa harga dirinya yang kau beli?" Sindiran Jason membuat wajah tuan besar seketika memerah, tangannya menggenggam erat gelas ditangannya.1


"Aku rasa harga itu terlalu murah untuk diriku, Tuan Besar," ujar Lia setelah bisa menenangkan diri. Siapapun akan otomatis emosi, jika dihina seperti itu.


"Berani sekali dirimu menilai diri sendiri." Kini giliran Laura Collins Madison yang mencemooh menantu yang tak dia harapkan.


"Tentu saja. Setiap manusia itu dilahirkan sama. Telanjang tanpa harta. Bahkan jika meninggal pun, tetap sama. Tanpa harta." Dengan tenang Lia menjawab.


"Teori! Lahir dan mati bisa saja sama. Tetapi, cara mereka dilahirkan tentu berbeda. Selain itu bagaimana mereka menjalani hidup itu juga penting. Jason lahir dengan berbalut emaa berlian, begitu juga ketika dia menjalani hidup penuh kekuasaan dan taburan berlian. Sedangkan dirimu, apa yang kau punya?!" Sindir tuan besar Darrel Madison dengan tajam.


"Berani-beraninya kau menyamakan dirimu," desis Laura sekali lagi dengan tajam.


Telinga dan wajah Lia memerah mendengar perkataan kedua mertua yang tampaknya belum bisa menerima dirinya. Mereka berdua masih saja mengganggap dirinya sepele, meskipun Jason sudah mempersiapkan kekuasaan dan harta benda dibelakang Lia.


"Kata-kata kalian terlalu kasar, Tuan dan Nyonya Madison," ujar Jason tidak suka.


"Meskipun aku dilahirkan dengan emas dan berlian. Tetapi, aku tidak pernah merasakan kehadiran apalagi kasih sayang kalian sebagai orang tua. Aku hanya penerus nama besar kalian. Dan kalian hanya datang padaku, ketika kalian memerlukanku." Jason menggenggam tangan Lia.


"Lalu, apakah dia tidak seperti itu?" tanya tuan besar dengan menaikan kedua alisnya.


"Dia memberiku ketenangan dan perasaan kasih sayang. Dia selalu ada disisiku, tanpa ingin merasa lebih menonjol dikalangan sosialita dan terkenal oleh dunia." Perkataan Jason seakan menampar nyonya Laura dengan keras.


Suasana sesaat hening, tidak ada yang berbicara maupun berusaha memulai pembicaraan. Hanya suara nafas mereka yang terdengar perlahan. Pandangan mata Laura menatap kemesraan yang di pertontonkan Jason dan Lia. Sementara pandangan tuan Madison menatap lekat ke arah foto keluarga kembali.


Perkataan Jason, terasa bagakan tamparan bagi Laura. Sudah lama Laura menekan perasaan akan rasa bersalah itu. Perasaan karena tidak pernah ada untuk kedua anaknya. Sebagai seorang ibu dia tidak pernah ada untuk anaknya, tetapi sebagi seorang istri dia sudah berusaha sebaik mungkin.


Ah, tidak. Mungkin berbeda dengan yang dimaksud Jason. Karena Laura mengejar nama besar. Karir. Sosialita. Dan keinginan untuk sejajar dengan nama besar suaminya. Sederet penghargaan sudah dia terima. Tapi ... penghargaan ibu terbaik tidak pernah dia miliki.


Sementara wanita disamping anaknya. Dia hanya wanita biasa, yang selalu bersikap tenang. Status Jason tidak membuat dia tampil didepan sosialita. Bahkan dia cenderung menghindari pertemuan-pertemuan tersebut. Lia tidak pernah tampil di muka umum sensdirian tanpa Jason.


Disaat suasana hening itu masih terasa sangat dingin, sepasang anak manusia muncul. Pasangan itu muncul disaat yang tidak tepat. Emosi Laura langsung menyala memandang ke arah mereka. Wanita itu meletakan gelas red wine yang telah kosong dan menghampiri mereka.


PLAK! PLAK!


"Berani-beraninya kau menikahi anakku, tanpa restu dariku!"