
Hari itu, Jason dan Andrew tiba di mansion hampir bersamaan. Tampaknya kedua pria itu ingin segera menyelesaikan pekerjaan dan berkumpul bersama keluarga mereka.
Sore hari pukul lima, kedua pria pekerja keras tersebut sudah tiba di rumah. Suatu keajaiban di hari jumat. Tentu saja hal itu membuat anak-anak bersorak menyambut mereka.
Setelah melepasakan sepatu kerja dan mengganti dengan sandal rumah, Aaron menarik Jason ke ruang makan.
"Cuci tangan, Uncle. Terus cobain pastel ini. Enak sekali, renyah di luar, nikmat di dalam." Promosi dari Aaron begitu menggoda.
Aaron sudah mencomot satu pastel lagi dan mengunyahnya. Setelah mencuci tangan, Jason duduk di samping Aaon dan mulai menikmati pastel. Lia datang dengan segelas juice buah untuk Jason.
"Enak? Suka?" tanya Lia lembut.
Jason mengangguk. Mulutnya sudah penuh. Dengan tiga kali gigit pastel itu habis dikunyahnya. Jason mengambil satu lagi.
"Kau bisa membuatnya?" tanya Jason.
"Jangan khawatir akan kubuatkan khusus untuk mu nanti." Lia mengerling. Setidaknya resep sudah ditangan. Percobaan urusan nanti.
"Uncle, Aaron ada tebakan." Aaron meminum segelas teh hangat sebelum lanjut berbicara.
"Apa itu?" tanya Jason dengan mulut penuh.
"Gajah apa yang tidak punya belalai?" Tebakan sama yang dilontarkan ke Lia.
Lia terkekeh melihat wajah Jason yang bingung. Prianya mengernyitkan kening sambil menatap heran pada Aaron. Gajah tanpa belalai? Pertanyaan macam apa itu. Hanya orang bodoh yang bertanya seperti itu, gumam Jason dalam hati.
"Jangan gunakan logika. Gunakan imajinasimu," ujar Andrew memberikan saran.
Jason masih berusaha berpikir dengan keras.
Pastel di meja sudah habis. Cheft Paul seolah mengetahui, sudah masuk ke ruang makan dengan sepiring besar penuh berisi pastel.
"Pastel hangat sudah tiba," ujarnya dengan senyuman lebar.
Saat Jason melihat kedatangan cheft Paul, tanpa pikir panjang dia menjawab pertanyaan Aaron.
"Dia gajahnya," tunjuk Jason ke cheft Paul.
Semua bengong menatap Jason. Apalagi Lia dan Aaron. Tidak menyangka pertanyaan yang sulit itu di jawab dengan mudah oleh Jason.
"Wahhhh uncle hebat!" seru Aaron sambil bertepuk tangan dengan nyaring.
Lia menekuk wajah, kesal dikalahkan oleh Jason. Dia berpikir dengan susah payah untuk pertanyaan Aaron. Sedangkan Jason hanya asal menjawab sudah benar.
Cheft Paul yang tidak mengerti arah pembicaraan mereka hanya tertawa melihat semua orang tertawa. Kembali dia berjalan ke arah dapur, membawa tubuhnya yang tinggi besar, perut besar, tangan dan kaki besar bagaikan gajah.
❤❤❤
Lia terus berpikir keras mencari bahan tebakan untuk bisa digunakan menyayingi Aaron. Dia mengumpulkan beberapa pertanyaan dalam otak dan akan di lancarkan ketika makan malam usai.
Setelah selesai makan malam, seluruh anggota keluarga berkumpul di ruang tamu.
Tradisi kebersamaan, apapun yang mereka lakukan, setelah makan malam akan berkumoul di ruang keluarga setidaknya setengah jam.
"Aunty sekarang punya tebakan untuk kalian," ujar Lia dengan penuh semangat.
"Memangnya aunty bisa buat tebakan?" tanya Aaron dengan gaya angkuh.
"Bisa dong ... kan kecerdasan Aaron turunan dari aunty." Lia berlagak pintar.
"Aaron kan anak mom and dad," tukas Aaron heran.
"Mom kan saudara aunty."
"Ah ... iya ... Iya," Aaron menganggukan kepalanya memahami.
"Buruan aunty, apa tebakannya?" tanya Conrad tak sabar.
"Dengerin ya, apa bedanya balapan kuda dan balapan sepeda motor?" tanya Lia dengan bersemangat.
Semua tampak berpikir keras berusaha menjawab pertanyaan Lia.
"Ayo sayang dijawab, kalau bisa kau akan mendapatkan jatah nanti malam," bisik Lia menggoda.
Jason langsung berpikir keras, seperti kata Andrew harus berpikir dengan imajinasi.
"Pertanyaanmu tidak masuk akal. Tentu saja kuda dan sepeda motor berbeda. Kuda kakinya empat. Sepeda motor rodanya dua. Jadi helas beda di alat penggerak," ujar Jason bersemangat dengan seringai lebar.
"Wow! Uncle keren!" Dengan serempak ke enam anak Diana memuji Jason. Jason tersenyum semakin angkuh.
"Salahhhh!!!! Teriak Lia.
Semua langsung mengkerucutkan bibirnya.
Aaron tampak berpikir keras lagi.
"Aunty kalau Aaron bisa menjawab, dapat hadiah apa?" tanya bocah cilik itu dengan licik.
"Dapat ...." Lia masih berpikir ketika Jason dengan cepag mengambil dompet dan mengeluarkan uang seratus dolar.
"Ini hadiahmu!" Jason tak sudi jika Aaron mendapatkan jatah semalam tidur bersama Lia.
"Benar ini, asyikk!" Aaron tertawa riang.
"Kalau balapan kuda pasti ada tempat parkir sepeda motor. Tapi kalau balapan sepeda motor tidak ada tempat parkir kuda," jawab Aaron dengan lantang.
"Memangnya kau pernah lihat pacuan kudaa?" tanya Jason.
"Pernah. Di tv."
"Aaaon hebattt! Jawabannya benar loh."
Aaron melompat kegirangan mendapatkan seratus dolar dari Jason. Andrew dan Diana hanya bisa menggelengkan kepalanya. Aaron memamerkan uang seratus dolar hasil kerja kerasnya. Penghasilan pertama dalam hidup Aaron.
"Pertanyaan kedua," tantangan masih berlanjut.
"Olah raga apa yang paling berat?" tanya Lia lagi.
"Angkat besi," sahut Jason dengan cepat. Dia menyeringai lebar, yakin jika dia adalah pemenangnya.
"Salah!" Jawaban tegas Lia membuat Jason melotot kesal.
"Kok bisa salah. Mana ada yang lebih berat daripada angkat beban?" ujar Jason tak percaya.
"Adalahh ...."
"Tinju!" teriak Andrew menebak.
"Salah!" sahut Lia lantang.
"Gymnastik!" teriak Conrad.
"Salah!"
"Balap kuda!" tebak Francesca.
"Salah!"
Semua bersikap protes pada Lia. Bagaimana mungkin semuanya salah.
"Tidak ada yang bisa jawab?"
"Tunggu!" seru Aaron. Bocah kecil itu memandang Jason. Seolah mengerti arti tatapan mata Aaron, Jason mengeluarkan uang seratus dolar lagi.
"Catur!" jawab Aaron sambil menyambar uanh seratus dolar dari tangan Jason.
"Eit, tunggu! Kan belum dibilang betul atau salah," ujar Jason. Jason terkekeh yakin jika jawaban Aaron pasti salah.
Aaron mandang Lia penuh harap.
"Berikan sayang, jawaban Aaron betul," ujar Lia lembut meminta pada Jason untuk memberikan uang seratus dolar pada Aaron.
"Kenapa bisa Catur?" Jason masih heran.
"Ya iyalah. Kan keran, olah raga mana yang bisa mengangkat kuda, raja, prajurit?" Lia terkeleh diikuti dengan yang lainnya.
Jason hanya bisa menggelengkan kepala. Nalar dan imajinasi memang jalurnya berbeda. Imajinasi itu konyol tapi memang bagus untuk hiburan.
"Oooo jadi begitu ya, aunt?" Aaron malah heran.
"Loh? Terus Aaron tadi kenapa bisa menjawab benar?" tanya Diana dengan heran.
"Habis Aaron pernah lihat daddy dan uncle Briant main catur, trus dahi daddy berkerut, trus daddy bilang berat ini Aaron, jangan ganggu," ucap Aaron dengan polos.
Mendengar jawaban polos Aaron, semua justru tertawa. Tidak disangka jawaban Aaron yang asal tebak, mengalahkan imajinasi Lia.
"Masih ada lagi tebakan dari aunty?" tantang Aaron yang sudah memegang uang dua ratus dolar. Keberuntungan sedang berpihak padanya.
Semua menanti Lia yang mengeluarkan handphonenya.
"Ini nama nya bajaj. Kendaraan umum beroda tiga. Lihat semua perhatikan." Lia membiarkan mereka melihat gambar bajaj bergantian.
Diana yang melihatnya justru tertawa lepas.
"Kok tertawa?" tanya Andrew heran.
"Gpp. Kalau kau bisa menjawab. Jatahmu nanti malam tiga jam," bisik Diana menggoda.
Andrew langsung bersemangat. Menggosok-gosok tangannya.
"Ayo katakan tebakanmu." Andrew bersemangat.
"Ooo ... ada apa brother begitu bersemangat?" Lia menggoda Andrew dengan kedipan mata.
"Cepatlah," Jason tak kalah tak sabar ingin menjawab pertanyaan.
"Siap ya. Dengarkan! Kenapa nyamuk takut sama bajaj?" Seru Lia dengan bersemangat.
"Pertanyaanmu gak ada yang waras sedikit?" gerutu Jason.
"Namanya tebakan humor. Kalau waras itu namanya cerdas cermat," sahut Lia gemas.
Semua termenung tidak bisa menjawab. Mereka berpikir keras. Anak-anak melirik ke adah uang seratus dolar yang bakal mereka dapatkan. Sedangkan Jason dan Andrew berharap jackpot jika berhasil menjawab tebakan Lia.
Nitizen? Ada yang bisa menjawab? Dapat seratus dolar loh dari Jason.