48 Months Agreement With CEO

48 Months Agreement With CEO
Kau menikmatinya ?



"Bagaimana menurutmu Lia, haruskah aku berpartisipasi?" Pertanyaan Jason membuyarkan lamunan Lia.


Lia yang baru saja selesai meletakan minuman, sudah berjalan menjauh kearah meja kerjanya. Tapi langkah kaki nya terhenti di tengah-tengah, ketika suara Jason terdengar. Lia tidak menyangka, jika pria itu menyadari keberadaan dirinya di ruangan tersebut.


Hati Lia sempat berkobar dan panas sekali, ketika sejak dia masuk, pandangan Jason hanya tertuju pada Annet. Lia merasa kesal bahkan ketika dirinya mendekat, Jason sama sekali tidak menghiraukan nya. Sekarang hati Lia sedikit senang ketika mendengar Jason menyebut namanya bahkan meminta pertimbangan darinya.


Berbeda dengan pikiran Lia, sesungguhnya Jason sudah dapat melihat dari sudut matanya, semenjak Lia masuk, gadis itu tampak kesal. Sebagaimanapun Lia menyembunyikan kekesalannya dibalik senyuman manis, Jason dapat melihat sorot mata tajam Lia yang mengobarkan kemarahan.


Setelah sekian bulan lamanya, percintaan mereka berjalan sepihak dengan dirinya yang selalu dibuat cemburu. Kali ini Jason ingin mengetahui apakah Lia memiliki kecemburuan. Tentu saja menghadapi Annet akan berbeda dengan menghadapi therapys dan pramuniaga.


"Tuan menanyakan pendapat saya?" Lia membalikan tubuhnya sambil menunjuk dirinya sendiri dengan kening sedikit berkerut.


Annet memandang Jason dengan heran, mengapa seorang pimpinan harus perduli dengan pendapat seorang sekretaris biasa dengan nama yang hmmm... terdengar lemah dan kampungan.


"Benar, bagaimana menurutmu, haruskah aku berpartisipasi dengan kegiatan sosial yang diadakan oleh nona Annet?" Jason mengulang pertanyaannya.


Annet langsung menoleh ke arah Lia. Tampaknya jawaban gadis itu akan menentukan tindakan Jason. Dan Annet menyesal tidak bersikap sedikit lebih ramah ketika mereka bertemu di lift sebelumnya. Annet menatap Lia penuh harap, dan Lia menangkap sorot mata Annet.


"Jika hasil dana dari kegiatan sosial itu murni untuk anak-anak penderita kanker, maka hal itu sangat bagus tuan." Ujar Lia dengan jujur. Tentu saja hal itu tidak mungkin dia tolak.


Annet bernafas lega mendengarkan jawaban Lia dan dia kembali memandang Jason yang tampak mengangguk-anggukan kepalanya. Jason meraih cangkir kopi dan menahannya diudara sambil menatap Lia sekilas.


"Silahkan diminum nona Annet."


Mata Annet terbelalak. Jason mempersilahkan dirinya minum? Apa dia tidak salah dengar. Jason yang selama ini tidak pernah memperdulikan dirinya, tiba-tiba bersikap begitu manis. Jantung Annet berdebar. Dia merasa jika usahanya mendekati Jason selama ini tidak sia-sia.


Dengan malu-malu Annet mengangkat cangkir susu coklat dan meminumnya.


"Akan lebih baik lagi jika hasil dari penggalangan dana itu di sumbangkan sepenuhnya, khusus untuk anak-anak penderita kanker dari kalangan menegah ke bawah. Dan sebaiknya seluruh dana yang dikeluarkan untuk acara tidak dipotong dari hasil penggalangan dana, menghindari kecurangan dari pihak tertentu."


Perkataan tambahan dari Lia yang panjang lebar itu, membuat Annet tersedak. Dana yang dikeluarkan tidak boleh dipotong dari hasil penggalangan dana, maka artinya dia tidak memperoleh apapun juga. Itu namanya benar-benar kerja bakti sosial.


"Anda baik-baik saja nona?" tanya Jason pada Annet yang terbatuk-batuk.


"Ah iya, saya tidak apa-apa tuan Jason."


Annet berdiri dan tanpa permisi berusaha menjangkau kotak tisyu yang berada di sudut meja. Annet mengambil beberapa lembar tisyu dengan setengah membungkuk, dengan maksud memamerkan belahan baju dibagian dada.


Wanita itu kemudian mengusap bibirnya dengan tisyu. Dan dengan gerakan lembut, Annet sengaja mengusapkan tisyu pada dadanya. Gerakan Annet begitu sensual sehingga Lia yang melihatnya menjadi kesal dan memutar bola matanya.


Maya Jason tersenyum melihat sikap Lia. Dan sambil menahan tawa, Jason menegak kopi yang dibawa Lia untuknya. Baru saja Jason menyeruput kopi itu, dia tersedak dan batuk-batuk. Kopi susu yang Lia sajikan terasa seperti air gula.


"Anda tidak apa-apa tuan?" Tanya Annet.


Annet dengan segera berdiri dan mengambil tisyu. Dia memutari meja kerja Jason dan mendekati pria itu. Dengan lembut Annet membantu Jason membersihkan janggutnya dari noda kopi.


ia yang melihatnya mengepalkan tangan, apalagi dada wanita itu begitu dekat. Dan mata Jason yang mengarah kebawah, pasti sedang melihat dada besar itu. Lia lebih marah lagi ketika Jason membiarkan wanita itu menyentuh dirinya.


Apa-apaan coba, dia melarangku berbicara dengan pria lebih dari tiga detik, tapi sekarang dia justru mendengarkan wanita itu berdongeng dan membiarkan wanita itu menyentuhnya.


Dalam benak Lia saat ini, dia ingin sekali menyiramkan kopi kental itu ke wajah Jason dan menarik rambut indah Annet keras-keras. Jika perlu dia akan mencabuti semua rambut di kepala Annet juga mencukur habis jambang sexy Jason.


Masih dengan kesal, Lia mengeluarkan permen karet yang sudah terasa pahit, sepahit hatinya. Lia melangkah mendekati Annet dan menggapai rambut wanita itu. Dengan tanpa belas kasihan Lia menempelkan permen karet itu.


"Ah, nonaaa... ya ampunnn lihat apa yang terjadi di rambut anda. Ya Tuhan siapa yang berani berbuat seperti ini." Lia memegang pertengahan rambut Annet dan semakin menekan permen karet itu disana, menggumpalkannya ke lebih banyak rambut.


"Oh My God. Siapa yang melakukan hal ini padaku. Aaaaa rambut indahku. Lihat Jason, rambutku." Annet beteriak dengan suara manja.


Lia semakin sebal melihat sikap Annet.


Lia menarik Annet agar kembali ke kursinya dan berhenti menyesakan tubuhnya ke arah Jason. Anneth masih mengerucutkan bibirnya dengan manja di hadapan Jason. Walau sesungguhnya dia ingin menjerit keras dan mengeluarkan kata umpatan.


"Nona duduklah disini. Minum coklat anda. Coklat hangat dapat menenangkan adrenalin anda." Lia bergegas menuju meja kerjanya dan mengeluarkan sesuatu dari laci.


Annet mengikuti saran Lia. Dia mengambil cangkir susu coklat dan menghisapnya perlahan. Annet menjilat bibir nya dengan sensual menikmati jejak cokelat di bibirnya. Itu sebabnya di area umum, Annet selalu memesan coklat hangat. Sekali lagi Annet menyesap coklat itu


"Lihat nona saya akan membantu anda." Lia menghampiri Annet dan membawa gunting di tangannya.


Kali ini Annet kembali tersedak melihat gunting besar yang dibawa oleh Lia. Dia merasa ngeri melihat sikap Lia yang seakan siap memotong rambut indahnya.


"Jangan lakukan itu!" Gerakan terkejut Annet telah membuat dirinya tanpa sengaja menumpahkan coklat itu ke pakaian yang dia kenakan.


Annet memekik tertahan. Lia menyeringai senang. Sedangkan Jason memandang lia dengan tajam dan terpesona. Permainan istrinya sangat halus. Bahkan Jason hampir yakin jika Lia tidak perduli padanya saat Annet mengusap jejak kopi di janggut nya.


"Wahhh nona, baju anda kotor. Anda harus segera membersihkannya." Saran Lia dengan suara yang dibuat panik.


"Oh tidak. Tuan Jason, bisakah aku menggunakan kamar mandi anda. Lihat lah diriku yang sudah kotor ini." Ujar Annet memelas sambil menunjukan bagian baju yang terkena noda cokelat.


Tampaknya Annet masih tidak ingin membuang kesempatan untuk menarik perhatian Jason. Dalam benaknya dia akan mandi keramas di ruang istriahat Jason dan keluar hanya mengenakan handuk. Pria itu pasti tidak akan tahan melihat dirinya yang seperti itu.


Melihat Jason yang masih diam saja. Lia langsung mengambil inisiatif. Dia tidak bisa tahan lagi membiarkan wanita itu melancarkan serangannya. Lia ingin, Annet segera pergi dari hadapannya.


"Ah, usul yang bagus. Tapi sayang sekali saluran air diruangan pribadi tuan Jason sedang buntu dan toiletnya bauuuu. Mari saya antarkan nona ke ruangan sebelah. Saya akan pastikan tuan Jason memberikan pakaian ganti untuk anda."


Lia dengan lembut menarik tangan Annet yang merasa girang dengan perkataan Lia. Lia mengantarkan Annet keruangan Erick. Beruntung sekali saat itu Erick sedang tidak ada di dalam ruangannya. Lia juga berpesan pada Rahel untuk memberikan Annet pakaian ganti. Lia tahu di dalam ruangan Erick selalu tersedia pakaian ganti untuk wanita.


Lia kembali menuju ruangan Jason. Dan baru saja dia menutup pintu ruang kerja, Jason sudah mengunci tubuhnya di pintu. Lia tersudut dalam kungkungan kedua lengan kekar Jason. Mata Jason menatapnya lekat dan wajah pria itu sangat dekat dengan wajahnya.


"Kau menikmatinya istri nakalku?"


Tanpa menunggu jawaban Lia, Jason sudah mendaratkan ciuman lembut di bibir Lia. Ciuman Jason sangat dalam dan bertambah agresif. Setelah beberapa saat, Jason melepaskan ciuman mereka dengan terengah-engah.


"Ikuti aku!" Perintah nya pada Lia.


Dengan diikuti Lia, Jason keluar dari ruangannya.


"Pedro! Batalkan semua jadwalku hari ini. Aku ada urusan mendesak."


Pedro hanya dapat mengangguk dan menatap heran pada Jason dan Lia. Bibir Jason tampak sedikit mengkilap sedangkan bibir Lia tampak pucat. Pedro menghilangkan pikiran aneh yang terlintas dan dia menenangkan diri dengan beranggapan, jika Lia merasa shock melihat Jason berciuman dengan Annet.


tapi kenapa tuan Jason meninggalkan nona Annet diruangan tuan Erick?


Pedro berusaha menerka-nerka jawabannya sendiri.


Di dalam Lift.


"Kita mau kemana?" Tanya Lia heran.


"Melanjutkan yang tertunda di Penthouse."


"Kau punya Penthouse?"


Jason menyeringai dan mengerdipkan mata. Penthouse adalah pilihan yanh tepat karena hanya berjarak lima belas menit dari kantor.


...💖💖💖💖💖💖💖...