48 Months Agreement With CEO

48 Months Agreement With CEO
Tidak menyerah



Jason dan Lia diliputi kebahagiaan di pulau Madison. Jason bahkan rela menghabiskan waktu pulang pergi Miami ke pulau tersebut. Di Miami terletak kantor cabang dari perusahan pengeboran minyak milik Madison corp.


Usia kandungan Lia yang sudah mencapai usia delapan bulan, membuat mereka memutuskan untuk membiarkan wanita itu tetap tinggal di pulau tersebut. Lia akan melahirkan di sana, karena terlalu beresiko bagi gadis tersebut menempuh perjalanan menuju Miami, melalui udara ataupun lautan.


Daniel bekerja di kantor pusat membantu Erick. Sementara Laura kembali ke kantor Jerman dan menyerahkan Darrel ke tangan Camila. Hati wanita memang penuh misteri. Dulu dia begitu membenci Camila karena berada di antara mereka. Namun sekarang dia justru merelakan.


Sementara Erick diliputi kegundahan. Selama sebulan lebih dia mencari Laurent, tetapi wanita itu tak juga dia temukan. Setiap hari nya, nyonya Victoria ibu Erick menanyakan keberadaan Laurent.


Erick bahkan tidak bisa berkonsentrasi penuh dengan semua pekerjaan. Dia seringkali melamun, bahkan menyerahkan rapat pada Daniel.


Semua memang akibat kesalahannya sendiri. Dia yang terlambat mengakui perasaannya. Semua karena pikiran Erick yang selalu berpikir jika Laurent tidak akan pergi darinya. Laurent akan selalu bersamanya.


Dua kali dia harus kehilangan wanita yang dia cintai. Jika Lilliane pergi tanpa bisa kembali lagi. Laurent dia pergi tanpa dapat di temukan.


Erick bahkan mengirimkan detektif perusahaan untuk mencari jejak Laurent. Namun tak pernah dia dapatkan kabar wanita itu.


Suara pintu yang di ketuk, tak membuat Erick bergeming dari kursi kebesarannya. Orang tersebut masuk tanpa Erick persihlahkan.


Dari sudut matanya Erick bisa melihat siapa wanita yang masuk.


"Erick ... bagaimana keadaanmu?" tanya Svetlana dengan lembut.


Erick tak bergeming, tak juga menjawab. Dia memperlakukan Svetlana bagaikan angin lalu.


"Erick ... aku membawakanmu makanan. Makanlah." Wanita itu tanpa malu meletakan makanan di meja sofa. Dia kemudian menuangkan segela lemon tea dan membawanya ke hadapan Erick.


'Hariku sudah suram, lemon tea tak akan bisa menyegarkan.' Gumam Erick dalam hati.


"Erick ...."


"Keluarlah Svetlana. Kenapa kau masih di sini? Aku sudah memintamu untuk menyerahkan surat pengunduran diri." ujar Erick dengan suara dingin.


"Kenapa? Apa salahku? Apakah aku bekerja buruk di perusahaan ini? Performaku sangat bagus, bukan?"


Erick menghela napas. Tidak semudah itu memecat pegawai yang berdedikasi dan berprestasi di perusahaan, hanya karena perasaan pribadi. Perusahaan multinational ini bukanlah sebuah toko kelontong yang semudah itu memecat karyawan.


"Kalau begitu, kau tidak perlu datang ke kantorku lagi. Kau tahu bukan, jika tidak ada pekerjaanmu yang terhubung langsung denganku!" sahut Erick dengan tegas.


"Aku datang sebagai teman. Apakah itu salah?" Svetlana tetap berpegang teguh.


"Teman? Heh! Karena kau, Laurent menghilang?" Suara Erick terdengar sangat dingin.


"Karena aku? Apakah aku salah jika berkata jujur? Saat itu aku sedang berada di titik lemah dan kau datang menghiburku. Apakah itu salahku jika dia tiba-tiba melihat kita dan merasa kalah?" Svetlana menghampiri Erick. Memeluk pria itu dari belakang.


"Aku bahkan tidak pernah menyerah untuk memiliki cintamu. Aku rela kau maki dan kau hina, asalkan bisa selalu tetap di sisimu." Sambung Svetlana lagi.


"Pergilah! Keluar dan jangan ganggu aku!"


"Erick ... jangan marah. Ayoo kita makan dulu." Masih dengan percaya diri gadis itu menarik tangan Svetlana.