
Sementara itu sebelumnya.
Lia menanti Jason dengan sabar, setelah kepergian Jason, Lia mulai menyibukan diri dengan mengganti bunga-bunga di vas. Perkerjaan pelayan rumah itu, dia kerjakan dengan hari yang riang. Kemudian Lia berjalan di antara kolam ikan, menaburkan makanan membuat ikan-ikan koi jumbo itu berebutan.
Lia menikmati makan siang dengan kesendirian seperti biasanya. Hanya di temani pelayan yang berdiri mematung di kejauhan. Lia tidak suka makan dengan pengawasan, tetapi butler Bernard sudah melarang dirinya makan bersama dengan para pelayan lagi. Apalagi semeja dengan pelayan pria.
Lia tentu saja tetap seorang Lia, tipikal Asia. Jika sedang sendiri dia meminta pelayan untuk meletakan semua makanan di meja. Bukan dilayani satu persatu ala bangsawan Eropa. Bahkan ketika semua hidangan disajikan sekaligus dalam porsi kecil, tetap tidak dapat menggugah selera Lia yang makan sendirian.
Pukul satu siang dia menanti Jason sambil membolak balikan majalah. Pukul dua siang dia terjaga di balcony. Ah, ternyata Lia ketiduran akibat semilir angin yang berhembus. Dia mengusap air liurnya yang sedikit menetes. Cih. Untung tidak ketahuan Jason jika dia sudah ngiler.
Lia masuk ke dalam kamar. Pukul dua lebih sepuluh menit. Tidak ada tanda-tanda Jason datang. Lia mulai gelisah. Dia mengganti pakaiannya. Dan siap untuk bersepeda. Setelah mengoleskan sunblock, Lia memutuskan untuk menanti Jason di bawah.
Pukul dua lebih dua puluh menit siang itu. Lia dengan gaun panjangnya sudah siap di lantai bawah. Dia memandang pada halaman dengan berdebar. Lia sangat mengharapkan kedatangan Jason. Dia sangat berharap bisa menghabiskan sore ini bersama Jason, seperti kemarin. Sore iti begitu indah dan Lia ingin merasakannya lagi.
Lia menanti dengan gelisah. Dia berjalan bolak balik sambil tetap memandang halaman depan. Butler Bernard yang melihatnya dibuat pusing. Mata pelayan juga ikut lelah, melihat Lia mondar-mandir bagai setrikaan tak tentu arah. Mereka semua itu tidak tega melihat Lia seperti itu.
Pukul Dua lebih empat puluh lima menit. Lia sudah menanti Jason lima belas menit lebih lama dari waktu yang telah di janjikan. Dan gadis itu tampak masih menanti. Akhirnya butler Bernard menghampiri Lia. Pria tua itu tidak tega membiarkan Lia menanti lebih lama lagi. Sudah cukup pula kesengajaan butler Bernard, untuk menunda menyampaikan kabar dari Jason
"Nona, tuan Jason menghubungi jika dia tidak bisa kembali dengan segera. Jika nona ingin keluar, dua orang pengawal siap menemani anda." Ujar butler Bernard.
Lia menatap butler Bernard dengan kecewa. Angan untuk bersenang-senang dengan Jason, menguap sudah terbawa angin, di hempaskan oleh janji kosong. Lia benar-benar kecewa dan sedih. Meskipun begitu, Lia bukanlah gadis cengeng yang mudah meneteskan air mata.
Dengan kecewa tanpa berkata apapun, Lia menuju sepedanya. Pengawal yang ditugaskan Jose dan Marco pun, dengan sigap sudah siap diatas sepeda pula. Lia mengayuh sepedanya dengan sedih.
Dia mengayuh terus keluar dari mansion, menyusuri jalanan sepi menuju danau. Tepi danau kawasan perumahan mewah itu pun tampak sepi. Sesepi hati Lia.
Lia menghentikan dirinya dan duduk di bangku yang sama, tempat dirinya dan Jason berduan sehari sebelumnya. Baru beberapa jam tidak bertemu, Lia sudah sangat merindukan Jason. Entah rindu pria itu atau marah karena dia tidak menepati janji.
Tengah asyik Lia menikmati semilir angin sambil menatap kosong ke arah air danau yang tenang, Lia mendengar suara tangisan. Lia menoleh ke asal suara. Tampak seorang anak kecil terjatuh. Seorang bocah wanita yang lucu.
Lia menghampiri anak kecil yang tidak berhenti menangis, sementara kakak nya berusaha menenangkan gadis kecil itu.
"Apakah berdarah?" Tanya Lia setelah di dekat mereka.
"Huaaa.. sakit." Gadis itu menangis.
"Sudahlah berdarah cuma sedikit. Ayo kita pulang." Ajak sang kakak.
"Tapi sakit." Bocah kecil itu merajuk pada kakaknya yang masih remaja.
"Sini disiram dengan air putih dulu lukanya." Lia membuka sebotol air Evian dan menuangkan di luka gadis itu.
Saat itu, kedua pengawal menghampiri mereka.
"Ada apa nona?" Tanya Jose.
"Tidak apa-apa." Sahut Lia.
"Ayo kakak antar pulang. Naik sepeda." Ajak Lia pada gadis keci yang menangis.
Gadis itu menatap Lia dan menatap pula kedua pengawal Lia, Jose dan Marco.
Lalu gadis yang awalnya menangis itu segera mengusap air matanya dan terseyum lebar. Dia mengulurkan tangannya kepada Jose dan Marco. Air mata hilang berganti dengan senyum genit anak kecil.
"Hallo namaku Isaabela dan ini kakakku Anabela. Siapa nama paman tampan?" suaranya terdengar ceria tidak tampak habis menangis.
Kedua pengawal menatap mereka dingin. Setelah mendapatkan anggukan dari Lia, mereka baru menyambut uluran tangan bocah kecil itu. Lia menyukai pertunjukan di hadapannya
"Aku Jose."
"Aku Marco."
Isabella tersenyum manis, sementara kakaknya tersipu malu. Lia hanya dapat menahan tawa melihat kearah mereka. Suasana hati Lia berubah menjadi cerah.
Issabela menoleh pada Lia. Dari raut wajah dan pijar di matanya, Lia tahu gadis ini pasti akan mengeluarkan trok lainnya.
"Kakak, kakiku masih sakit. Dan rumahku agak jauh diujung sana. Bisakah kau biarkan mereka mengantar kami. Hikkksss lihat darah di kaki ku. Boleh ya, please..." rajuk Isabella sambil meringis kesakitan.
Lia memandang heran pada gadis itu. Masih kecil sudah bisa berpikir licik. Dia tidak mengajak Lia berkenalan, tapi langsung menodong dengan sebuah permohonan. Dan dengan mahirnya dia menggunakan luka kecil do kakinya agar mendapatkan tujuan. Gadis yang cerdas.
"Baiklah, karena kau cantik dan cerdas maka akan aku ijinkan." Ujar Lia dengan senyum lebarnya.
"Kalian antarkan mereka pulang." Perintah Lia pada Jose dan Marco.
"Tapi nona, kami bertugas menemani anda." Tolak Marco.
"Sudahlah, aku tidak akan mengadu pada siapapun. Lagi pula aku hanya akan duduk disini menanti kalian kembali." Kata Lia lagi menyakinkan mereka.
"Tapi nona, kami tidak bisa." Tolak Jose pula.
"Huaaaa... paman jahat. Lihat kakiku sakit. Huaaaa... " Isaabela menangis semakin keras. Dia kembali berakting. Lia menggelengkan kepala. Anak yang hebat.
"Lihat itu. Kalian antarkan mereka, aku akan menanti disini. Atau perlu aku laporkan pada butler Bernard jika kalian membuatku kesal?"
Ancaman Lia berhasil, kedua pengawal itu akhirnya bersedia mengantar Isabella dan Annabela dengan sepeda mereka. Kedua gadis itu duduk di depan, karena sepeda yang di pakai Jose dan Marco tidak memiliki boncengan. Dan tentu saja seperti dugaan Isabela sudah tertawa dengan ceria dalam boncengan Jose, sementara Anabela tersipu malu di depan Marco.
"Nona jangan kemanapun. Jangan biarkan kami mengalami masalah." pesan Jose.
Lia mengangguk. Memberikan janji pada kedua pengawal itu.
Jose dan Marco mengayuh sepeda mereka dan membawa kedua gadis kecil tersebut ke arah yang ditunjukan.
Lia menanti mereka dengan sabar. Cukup lama. Lia tidak berniat beranjak dari tempatnya duduk hingga dia melihat sesuatu.
Keributan di belakang nya membuat Lia menoleh. Disana dia melihat sebuah mobil box terbuka lebar dan full hiasan, dengan beberapa orang yang mengenakan costum. Tampaknya akan ada pawai.
Lia penasaran. Dia menghampiro sepedanya dan mengayuh mengikuti mobil tersebut. Lia sudah lupa jika Jose dan Marco tidak ada di dekatnya. Beberapa mobil pawai yang lewat membuat Lia semakin penasaran. Dia mengayuh sepedanya dengan riang tanpa mengerti arah.
...💗🌟💗🌟💗🌟💗🌟💗...
Diusahakan updated lagi yaaa nanti maleman.
Jangan lupa keep poin kalian yaaa buat Jason dan Lia dua minggu lagi.
Tetap semangat dan Jangan lupa bahagia.
Follo ig yukkk