48 Months Agreement With CEO

48 Months Agreement With CEO
Dia istriku



Lia menghentakan kakinya. Dia tidak percaya dengan apa yang dilihat oleh kedua matanya. Jika saja hal ini di ceritakan pada orang lain, tidak akan ada satu orang pun yang akan percaya dengan perkataannya.


Jason bersikap ramah terhadap gadis lain, selain Lia. Jason bahkan tersenyum dan menatap gadis itu lekat. Hal ini tidak bisa dibiarkan. Lia tidak terima. Pria itu suaminya. Hak asasi Lia untuk mempertahankannya. Bukan sekedar kewajiban.


Lia menarik Jason hingga berdiri, kemudian dia menyeret pria itu untuk mengikuti langkah kaki nya. Tapi, yang terjadi malahan tangannya ditarik oleh pria itu. Lia jatuh dalam dekapan Jason. Dengan cemberut dia menengadahkan wajah untuk menatap suaminya.


Jason memegang dagu Lia, menatap gadis itu dengan senyuman. Kemudian mencium keningnya sangat lembut. Jason lalu berbisik, "kau tampak bersenang-senang semalam di tempat ini, sehingga harus kabur dari mansion dan membuat semua orang panik. Sekarang aku akan menemani dirimu sampai puas. Kita berdua akan berbaur seperti mereka disana."


Jason membelai wajah Lia yang menatapnya dengan sorot mata bingung. Dia memang berniat kabur sehari hanya untuk membuat pria ini panik. Dan saat menemukannya, Jason pasti akan merindu sekaligus bersedia mengabulkan keinginan Lia. Lia ingin memanfaatkan moment itu untuk meminta kebebasan.


Tapi, ternyata semua diluar dugaan. Jason malah membawanya ketempat ini. Memberi kesempatan, kebebasan untuk bersenang-senang, sementara hatinya tidak mengunginkan itu lagi.


Memiliki Jason saja ternyata sudah cukup bagi Lia.


Lia merasa kosong ketika Jason melepaskan pelukannya dan duduk kembali di meja bar. Dia memesan segelas brandy lagi juga segelas red wine untuk Sofia. Jason tampak menikmati percakapannya dengan Sofia. Dan itu membuat Lia sedih.


"Waktu aku kemarin berada di club malam, kami menyewa ruang privat. Dan tidak ada orang lain lagi selain kami berempat." bisik Lia tajam di belakang punggung Jason.


Pria itu mengacuhkannya, malah tertawa dengan candaan Sofia yang garing menurut Lia. Sofia yang merasa diatas angin, berdiri di meja bar dan sedikit menempel pada Jason.


"Aku juga tidak berbicara dengan proa lain selain butler Bernard dan ... Lucas. Itupun karena tanpa sengaja dia menabrak tubuhku dengan perut tertusuk." ujar Lia lagi.


Sikap Jason yang mengabaikan Lia dan tetap duduk memunggungi nya membuat Lia sedih. Jika mengikuti emosi, dia akan menyiram wajah Jason dengan air, kemudian pergi meninggalkan pria itu. Jila perlu dia akan kabur lagi.


Tapi ... akal sehat Lia masih bekerja. Kabur bukanlah jalan keluar. Dia tidak bisa membiarkan suaminya berduan begitu saja dengan wanita penggoda itu. Yang perlu dia lakukan adalah membuat keributan, jika perlu menarik rambut gadis itu. Apabila keributan tercipta, Lia yakin Jason akan membawanya pulang.


Lia menyeringai licik dengan rencana yang berputar dikepala.


"Ayo kita berdansa," ajak Sofia dengan lembut pada Jason.


"Aku bukan tipe orang yang bisa berdansa. Aku lebih suka menonton." tolak Jason perlahan.


"Ayolah ... Sebentar saja."


"Pergilah dan biarkan aku melihatmu dari sini."


"Baiklah. Jangan pergi kemana-mana ya." Sofia hendak mencium pipi Jason, tetapi pria itu tiba-tiba memalingkan wajahnya, sehingga kecupan Sofia berakhir pada udara kosong.


Namun, Sofia tidak merasa ditolak. Gadis itu tetap tersenyum dan berjalan kelantai dansa. Menari dengan lincah dan erotis, sambil memandang Jason dengan penuh gairah.


"Kenapa tidak kau ikuti dirinya. Peluk sana! Dansa sana!" celetuk Lia kesal.


"Benarkah? Aku boleh?" jawab Jason.


"Minta ijin segala, kan aku hanya gadis yang ditemukan kemarin."


"Dan aku hanya Bernard the bear." sahut Jason.


"Kau!" Lia kesal dengan berlinang air mata.


"Kalau kau mau membalasku, terserah! Berbuatlah sesukamu. Apa perlu aku bawa Sofia pulang untuk melayani mu juga? Apa perlu aku membelikan dia lingerie baru dan tidur seranjang denganmu." Lia menangis dengan penuh emosi.


Jason tercekat melihat Lia marah dengan mata yang berlinang. Bagaimanapun juga dia tidak tega melihat gadis itu mengeluarkan air mata dan berbicara penuh kesedihan. Apalagi sampai bersedia mengalah untuk gadis lain. Jason tidak akan rela hal itu terjadi. Baginya Lia saja sudah cukup.


"Aku ..."


"Apa? Sudah puas kau membalas perbuatanku?! Apa perlu aku balas juga dirimu, aku kunci dan kurung dirimu dalam penthouse, selama seminggu?!"


"Lia ..." Jason menggampiri Lia dan berdiri di depan istrinya. Dia memegang pipi yang berlinang air mata itu dan mengusap nya dengan sapu tangan.


"Jangan menangis, maafkan aku ..." bisik jason lembut.


Jason memeluk Lia dengan erat. Niatannya untuk mengerjai istri nakal yang sering membuatnya tersiksa, malah berbalik dia yang menjadi tersiksa dengan rasa bersalah. Sesaat Jason mencerna kembali perkataan Lia.


"Tunggu! Apa katamu? Membawa anakku?"


Jason melepaskan pelukan dan menatap Lia lekat. Gadis itu diam tidak berkata-kata, dia malah memalingkan wajahnya dengan kesal.


"Katakan padaku, apa maksudmu .... Kau hamil?"


Lia tidak menjawab. Dia melepaskan diri dari pegangan Jason.


"Aku mau pulang!" ujar nya singkat.


"Iya, ayo kita pulang." Jason kemudian memeluk pinggang Lia.


"Hey! Tunggu! Kemana kau mau pergi, Bernard!" teriak Sofia. Gadis muda itu berlari menghampiri mereka.


"Pulang." jawab Jason.


"Aku ikut." pinta Sofia manja sambil memeluk lengan Jason.


Jason melepaskan pegangan Sofia.


"Aku akan pulang hanya dengan istriku. Selamat malam." Jason kemudian mengangkat Lia dalam pelukannya dan meninggalkan Sofia. Dari balik punggung Jason, Lia tersenyum pada Sofia sambil menjulurkan lidahnya. Dan Sofia menghentakan kaki nya kesal.


"Kau mengolok gadis itu?" tanya Jason.


"Tidak," Lia memasang muka cemberut pada Jason.


Setibanya di mobil, Jason meletakan Lia di jok dengan hati-hati. Dia memasangkan seat belt kemudian berputar mengitari mobil dan duduk di belakang setir. Jason segera memasang seatbelt dan melajukan mobil nya.


Di sebuah persimpangan jalan, Jason menghentikan mobilnya.


"Katakan padaku, jadi bukan Laurent yang hamil? Itu ... test pack itu sengaja kau letakan di cangkir dengan nama Laurent?" tanya Jason penasaran.


"Entahlah ..." jawab Lia acuh.


"Pleaseee ... Yang hamil sebenarnya kau kan sayang?" Jason memelas.


"Kapan aku bilang hamil?"


"Jelas-jelas tadi kau mengancam akan kabur dengan membawa anakku."


"Tapi ... aku kan tidak bilang kalau aku hamil." sahut Lia cuek.


"Arghhh!!! Kau ini, selalu membuatku berdebar dan gregetan."


Jason kemudian melajukan mobilnya dan berputar kearah kota.


"Mau kemana lagi kita?" tanya Lia yang sudah lelah.


"Rumah sakit!"


"Untuk apa, siapa yang sakit? Sekarang sudah subuh. Ayo pulang saja."


"Kita akan bermalam di rumah sakit."


"Hah?!" Kali ini ganti Lia yang menatap Jason dengan gemas. Pria satu ini memang sulit ditentang kalau sudah punya kemauan. Mereka pasangan yang sama-sama keras, tetapi selalu saling mencinta. Ikatan itu akan lebih kuat dengan adanya anak diantara mereka.


Lia tersenyum sambil meraba perut datarnya.