48 Months Agreement With CEO

48 Months Agreement With CEO
Perjanjian yang belum ditepati



Lia tidak dapat tidur dengan tenang semalaman. Meskipun Jason memeluk dan menenangkan dirinya, Lia tetap hanyut dalam pikirannya. Matanya masih terjaga menatap langit, menerawang jauh. Pria disisinya sudah terlelap dalam damai, sedangkan Lia baru terlelap dini hari. Gadis itu gelisah.


Berkali-kali dia mengutuk dirinya sendiri. Lia merasa bersikap terlalu tegas dan kasar pada ibu Jason. Kalau kakak dan bibi nya mendengar perkataan tidak sopannya, mereka sudah pasti akan menjewer telinga Lia sampai memerah. Bukan begitu dia di didik untuk menghargai dan menghormati orang tua.


Lia takut sekali, sikap kasar dan kerasnya akan membuat Laura Collins semakin memusuhi dirinya. Sejujurnya mana ada seorang menantu yang ingin bermusuhan dengan mertua. Semua manusia pada dasarnya pasti ingin hidup berdampingan dengan damai.


"Tenang saja. Mommy tidak akan membencimu." ujar Jason menenangkan.


"Tapi aku sudah keterlaluan padanya. Bahkan sikapku bagaikan ketua gengster. Aduhhh... gimana ini." Lia merengek dalam pelukan Jason.


"Tenang saja. Kau menikahi diriku. Bukan mommy." sahut Jason ringan.


Lia menggerutu dalam bahasa ibu.


"Penak nemen awakmu ngomong. Yen ning ndesaku wes di keprok ndasku. Wong kawin iku yo karo keluargane pisan, sanes karo pasangane wae."


( Enak sekali kau berbicara. Kalau di desaku, sudah benjol kepalaku. Menikah itu juga dengan keluarganya, bukan cuma sama pasangan kita saja)


"Heh, apa?" gumama Jason yang tidak mengerti dengan mata terpejam.


"Sudah tidur saja sana." jawab Lia sambil memejamkan matanya.


Hari ini dia bangun dengan pikiran yang lebih segar. Lia mandi sebelum Jason bangun dan sudah merias dirinya dengan baik. Untung saja dirinya sempat menjalani kursus kecantikan singkat, hanya agar ketika bekerja di kantor hukum, bisa lebih percaya diri.


Mereka sarapan pagi bersama di Penthouse dan Jason tampak senang sekali dengan senyuman ceria Lia. Dia yakin gadis ini sudah menyelesaikan kegundaan hatinya. Jason merasa lega. Istrinya sangat pandai mengendalikan diri.


"Kau tampak lebih baik pagi ini sayang." ujar Jason.


"Iya. Setelah doa pagi. Aku merasa lebih percaya diri." jawab Lia dengan ceria.


"Ini baru istriku." Jason mengecup kening Lia.


"Aku juga punya sesuatu yang memerlukan pertimbanganmu." tambah Jason lagi tiba-tiba


"Oh ya, apa itu? Jangan bilang warna baju yang cocok lagi." goda Lia sambil tertawa kecil.


Gadis itu menanti Jason berbicara sambil mengaduk kopi susu nya. Dia mengoleskan selai kacang ke roti untuk Jason dan dirinya. Jason menerima roti panggang tersebut dan mengigitnya. Setelah mengunyah habis, jason baru mengatakan maksud hatinya.


"Bagaimana menurutmu tentang Daniel. Apakah aku bisa mempercayainya?" tanya Jason.


"Kenapa kau bertanya padaku?" ujar Lia heran.


Lia menjilat sisa remahan yang ada dibibinya. Dan gerakan tanpa sengaja itu sudah sanggup membuat Jason mendesah. Bahkan gadis itu mengulangi nya lagi dengan mengambil satu sendok kecil selai kacang dan menjilati nya.


"Hentikan perbuatanmu. Jangan menggodaku." kata Jason dengan ketus.


"Eh, ini ?" Lia mengacungkan sendok selai kacang. Lia yang merasa heran, jadi malah menggoda Jason dengan menjilati sendok selai kacang sampai habis. Kemudian menjilati dan menggigit bibirnya sesaat. Sementara Jason tidak dapat memalingkan matanya dari gerakan Lia. Tangannya mengepal keras.


"So, ayo lanjutkan. Kenapa kau menanyakan masalah ini padaku?" ujar Lia sambil menyeringai. Dia sudah puas menggoda Jason yang menatapnya dengan kesal.


"Mungkin kau punya pendapat sendiri. insting mungkin setelah bertemu dengan Daniel." jawab Jason sambil mengalihkan matanya dari bibir Lia.


"Katakan itu pada gadis yang mengancam mengebiri dan membunuhku." sahut Jason dengan geli.


"Hahhahaha... itu kan bukan emosi, hanya gertakan sambal." sahut Lia dengan tertawa.


"Lalu bagaimana, haruskah aku membiarkan dia bekerja mengaudit perusahaan. Yang aku takutkan, dia menjual rahasia perusahaan pada musuh." kata Jason meminta pertimbangan.


Lia terdiam. Bisnis sebenarnya adalah hal yang baru bagi dirinya. Dia mengenal bisnis dari Andrew dan Jason. Namun pengetahuannya tidak cukup dalam mengenai koropsi, penghianatan dan sabotase.


"Maka awasi dirinya. Berikan dia kebebasan untuk mengaudit dan semua hal yang dia lakukan, akan dapat terekam sebagai hak perusahaan. Biarkan seorang ahli mendampingi Daniel. Kalau perlu buatlah perjanjian dengan nya. Bukankah kau ahli dalam hal membuat perjanjian?" sindir Lia di akhir kalimat.


Jason terhenyak. Perkataan Lia membuat dirinya teringat sesuatu. Dia kemudian keluar dari kursi di meja bar, mengitari meja dan berdiri di belakang Lia. Jason lalu memeluk pinggang Lia sambil menyandarkan dagunya di bahu gadis itu. Pipi mereka bersentuhan. Lia menahan geli ketika bulu-bulu halus dari jambang Jason mengenai pipi nya.


"Ngomong-ngomong mengenai perjanjian. Kauu belum menepati satu poin perjanjian yaitu Anak." bisik Jason lembut.


Pipi Lia memerah. Anak. Dia menginginkan hal itu tapi dirinya belum siap. Emosi dalam dirinya yang masih menyesuaikan diri dengan lingkungan kehidupan Jason, tanpa sadar membawa pengaruh stress dalam dirinya. Hingga dia belum juga hamil hingga saat ini. Lia memang menginginkan anak, tetapi saat bersamaan dia juga merasa belum siap. Jika Jason begitu menginginkan, Lia rasa dia dapat menekan segala keraguannya.


"Maafkan aku. Apakah kita perlu ke dokter?" tanya Lia.


"Dokter kandungan? Apa yang akan di lakukan oleh dokter itu padamu?" tanya Jason polos.


"Ya tentu saja dengan memeriksa kandunganku."


"Caranya?" tanya Jason lagi masih dengan polos.


Lia menoleh kearah Jason yang masih bersandar di bahunya. Merasa heran dengan pertanyaan Jason.


"Tentu saja dengan meng usg rahimku." sahut Lia heran.


"Ah, begitu." Berbeda dengan pikiran Jason. Dia khawatir dokter akan memasukan alat kedalam organ intim Lia. Dan dia sempat memerah membayangkan orang lain melakukan hal itu pada wanitanya. Jangankan menyentuh organ intim. Jika sesorang menatap Lia lama, dia ingin menghajar orang tersebut.


"Baiklah, Jika kau mau aku akan meminta Erick mencarikan dokter wanita untukmu." ujar Jason.


"Terserah padamu." jawab Lia sambil menepuk pipi Jason.


"Ayo, kita berangkat ke kantor. Sudah siang." ajak Lia ketika jam sudah menunjukan pukul delapan pagi.


"Hahhhh... aku masih menikmati waktuku dengan bersandar di bahu mu." ujar Jason manja.


"Kau bisa bersandar sepuasnya sepulang dari kantor." bisik Lia lembut, hembusan nafas hangat Lia menggelitik daun telinga Jason.


"Janji yaa! Jangan ingkar!" ujar Jason bersemangat. Jason segera menjauhkan dirinya dari Lia. Dia harus meredakan emosi Rajawali yang sudah berdenyut dan ingin menukik saat ini juga.


"Ada apa dengammu, kenapa wajahmu memerah. Apa kau sakit atauuu.. habis berjemur?" Lia dengan sengaja menggoda Jason dengan bertiup di leher pria itu.


Sebelum Jason menoleh hendak menyergap dirinya. Lia sudah berlari dan menyambar tasmya. Dia tertawa riang karena berhasil menggoda Jason. Lia melangkah pergi mendahului Jason.


...💖💖💖💖💖💖...