48 Months Agreement With CEO

48 Months Agreement With CEO
Pesawat Pribadi



Keesokan hari nya Lia bangun dengan kepala yang berat. Keningnya terasa berdenyut dengan keras. Dan semua tampak berputar. Lia memukul-mukul kepalanya yang sakit.


Dia teringat semalam sudah menghabiskan dua gelas minuman berwarna merah muda. Lia tidak terbiasa meminum alkohol, tapi entah mengapa semalam dia merasa mampu untuk menghabiskan minuman itu sendiri.


Lia memandang kesekeliling tempat dia tertidur. Meskipun kepalanya masih berdenyut tapi bisa dia pahami bahwa dia tidak berada di kamarnya di mansion Andrew. Tempat tidur ini terlalu kecil dibandingkan dengan kasur king size yang berada di kamarnya.


Dinding ruangan pun terasa aneh. Lia mendudukan diri dan memperhatikan sekeliling. Ada suara dengung halus seakan suara mesin. Kemudian dia menoleh kearah dinding dan menemukan jendela kecil yang tampak tak asing. Lia membuka jendela kecil disisi tempat tidur.


Mata Lia terbelalak. Seketika rasa terkejutnya mengalahkan rasa sakit di kepala dan sekujur tubuh. Dia langsung menyadari suara dengung yang dia dengar adalah suara mesin dari pesawat terbang. Dan pemandangan yang dia lihat adalah langit biru dengan awan-awan putih yang bergelantungan.


Lia beranjak turun dari tempat tidur kecilnya dan langsung melihat sosok pria yang sedang duduk bersandar dengan elegantnya, sambil memperhatikan dirinya dengan tersenyum lebar.


Lia memincingkan matanya sebelum sepenuhnya tersadar siapa sosok yang tersenyum dihadapannya.


"JASONNNNNN.... kau culik kemana lagi aku?!" ujar Lia dengan berapi-api.


Bagaimana tidak saat sadar, dirinya sudah berada di dalam pesawat pribadi Jason dengan arah tujuan yang dia sendiri tidak tahu. Dengan kesal Lia melangkah mengitari area tempatnya berada, yang tampaknya merupakan area pribadi.


Lia menemukan tangga dan turun kebawah, masih dengan rambut berantakan dan wajah kusut. Disana dia melihat Erick dan dua orang pengawal berkulit hitam.


Erick tersenyum lebar sambil menganggkat tangannya mengucapkan salam.


Lia tidak membalas senyuman itu, dia melangkah menaiki tangga lagi dan kembali ke ruangannya semula.


Lia menghempaaskan dirinya di atas kasur dan menatap Jason tajam dihadapannya.


"Apa lagi yang kau lakukan padaku? Kenapa aku berada disini." Ujar Lia ketus.


"Apa kau sudah lupa, jika semalam dirimu merengek ingin ikut denganku?" Ujar Jason memanipulasi keadaan.


"Heh? Aku? Merengek padamu? Tidak mungkin.... Itu pasti akal-akalanmu." Ujar Lia tidak percaya.


"Kenapa aku harus menipumu? Tampaknya kau masih mabuk. Minum ini dulu untuk menyegarkan ingatan mu." Jason menyodorkan segelas air putih dan susu dingin kepada Lia.


Lia menerima minuman tersebut dan menegaknya perlahan. Kemudian dia diam dan merenung. Lia berusaha menggali kembali serpihan-serpihan memori nya semalam.


Serpihan-serpihan itu kembali dengan acak. Dan diantara serpihan ada beberapa kejadian yang dia tidak tahu apakah itu nyata atau hanya mimpi.


Jason memandang Lia dengan tersenyum geli. Pria itu menautkan jari-jari dari kedua tangan dan mendekatkan di bibirnya. Jason berusaha menahan tawa melihat sikap Lia yang kebingungan.


Jason merasa menang kali ini. Bagaimanapun Lia akan marah, gadis itu tidak akan bisa berkutik apalagi membalasnya. Jason menanti saat-saat Lia menyadari kejadian semalam dan ah... dia harus mengabadikan moment awal dimana gadis itu akan terkejut.


Jason segera mengambil smartphone dan pura-pura sibuk dengan ponselnya. Sesungguhnya ponsel itu dalam posisi video dan sudah siaga untuk mengabadikan moment perubahan raut wajah Lia.


Tak lama kemudian, moment itu tiba. Kedua alis Lia bertautan. Bibir tipis nya terbuka dengan kaget. Dia menoleh pada Jason dan memandang pria itu tajam. Jason membalas pandangan Lia dengan tersenyum geli.


"Tidak mungkin..." desis Lia.


"Tidak. Tidak. Tidak. Itu pasti mimpi. Hehehehe... Mimpi terjelek yang aku punya." Ujar Lia seraya menggeleng-gelengkan kepala nya.


"Apa yang kau anggap mimpi itu, kucing kecil?" Tanya Jason penasaran.


Tiba-tiba Lia terpingkal-pingkal, "kau pasti akan tertawa jika mengetahui apa yang aku mimpikan."


"Katakan padaku, jangan buat aku penasaran." Sahut Jason.


"Kau mau tahu apa mimpiku?"


Jason mengangguk.


"Makan!"


"Heh?"


"Aku mau makan dulu. Aku kelaparan. Lihat bunyi perutku," ujar Lia sambil menepuk perutnya.


Jason terkekeh. Dia masih penasaran dengan isi pikiran gadis dihadapannya yang belum menyadari status sebagai istrinya.


"Ini pesawat milikmu?" Celetuk Lia.


"Iya."


"Wah... bagus sekali. Design nya keren." Lia berdiri dan meneliti setiap sudut sambil mengangguk-anggukan kepalanya.


"Kau sudah pernah naik pesawat pribadi sebelumnya?" Tanya Jason penasaran.


"Hehehe.. ini pertama kalinya." Jawab Lia sambil terkekeh.


Jason menggengkan kepalanya, dia mengira selama ini Lia sudah sering menaiki pesawat pibadi, mungkin milik Andrew. Karena sikap gadis itu barusan, tampak sangat mengerti mengenai design pesawat pribadi.


Pramugari datang dengan membawakan dua piring omlet lengkap dan satu basket roti. Satu teko kopi lengkap dengan creamer di tempat terpisah juga dua gelas orange juice beserta sepiring buah segar.


Pramugari meletakan di ruang makan yang terhubung dengan ruang tengah tempat Jason dan Lia berada. Kemudia pramugari kembali turun ke lantai bawah dan masuk ke cabin di belakang sendiri.


"Aku cuma sering menonton di travel channel, mereka pernah menyorot billioneir terkaya Eropa dengan pesawat pribadinya," cerita Lia sambil menikmati sarapan paginya.


"Katakan padaku..." Lia berhenti sejenak dan menegak orange juice, mendorong roti yang tercekat di kerongkongannya.


"Kemana kau membawa ku pergi? Apa kakak ku tahu, kau menculikku lagi?" tanya Lia sambil memasukan potongan sosis ke mulutnya. Karena sepanjang yang dia tahu, meskipun Jason sering membawa dirinya begitu saja. Pria itu selalu mengirimkan pesan pada Diana.


"Prancis." Jawab Jason.


"Whattttt? Uhuk! Uhuk! " Lia tersedak.


Jason menyodorkan segelas air putih untuk Lia. Lia menegaknya sampai habis.


"Pasport? Kau membawa pasportku? Aku tidak punya Visa. Jangan bilang kau hendak menyelundupkan diriku," todong Lia dengan curiga.


"Kau pikir aku berbisnis ilegal, kucing kecil?"


Jason memincingkan matanya.


"Ah tauk ah. Terserah padamu." Sahut Lia kesal.


Lia yakin, jika pria dihadapannya ini pasti sudah mengatur segalanya. Apa susah nya bagi seseorang dengan keluarga berpengaruh seperti Jason, hanya dalam kurun waktu kurang dari satu jam, pria itu bisa mendapatkan stampel visa.


Jason melihat Lia sudah menyelesaikan makannya. Dia kemudian menyudahi makannya, menghapus sisa makanan dari bibir sexy nya dan mulai bertanya lagi pada Lia.


"Katakan padaku, apa mimpimu." Jason penasaran apakah mimpi yang di pikir Lia adalah kenyataan yang sudah mereka alami semalaman.


"Cih! Kenapa malah kau yang jadi penasaran. Aku saja yang bermimpi, santai saja. Aku mau merasakan toilet mewah mu di pesawat ini dulu," ujar Lia mencibir dan masuk ke bilik toilet.


Memang benar berbeda, toilet di pesawat komersil dan pesawat pribadi. Apalagi jenis pesawat yang mewah seperti ini. Toiletnya besar bagaikan hotel mewah.


Lia segera masuk ke dalam bilik shower dan mengguyur dirinya dengan air hangat. Terasa segar. Bau rokok dan alkohol yang menempel di baju, tubuh dan rambutnya benar-benar membuatnya jijik. Lia membiarkan air mengguyur tubuhnya lebih lama. Menyegarkan.


Sementara Jason mengusap wajahnya dengan kedua tangan. Dia merasa gemas dengan sikap Lia yang sok percaya diri. Jason tidak sabar melihat reaksi gadis itu jika menyadari surat perjanjian yang sudah dia tulis dan tanda tangani.


Jason Penasaran!


...🌟🌟🌟🌟🌟...


Ayooo.... siapa yang penasarannnnn....


Kepoin terus yaaa novel nya. Siapa tahu kelanjutannya bisa up hari ini juga


Oh iya. Ayo kita halu bersama melihat foto pesawat pribadinya Jason.