48 Months Agreement With CEO

48 Months Agreement With CEO
Mau apa kau kemari



Erick yang baru saja kembali dari makan siang bersama dengan jajaran direksi, langsung masuk ke dalam ruang kerja nya. Saat itu Pedro sudah turun makan siang juga, hampir bersamaan dengan perginya Jason. Sedangkan Rahel, sekeretaris Erick masih di toilet.


Melihat isi kantor yang sepi, Erick geleng-geleng kepala. Bahkan dia sempat berpikir kotor, jika Jason sedang bermesraan dengan Lia di dalam ruang kerjanya. Erick tersenyum sambil melonggarkan dasi nya dan menghempaskan dirinya di kursi kerja.


Baru saja Erick mengenakan kacamata kerja dan hendak membuka laptop, ketika dia mendengar ada suara aneh di kamar tempatnya beristirahat. Jason memang sangat memanjakan Erick. Dengan posisi Erick yang merupakan wakilnya, ruang kerja Erick memiliki fasilitas hampor sama dengan pimpinan usaha.


Erick merasa sangat heran dengan suara seseorang yang menggerutu, di dalam ruang istirahatnya. Karena baginya tidak mungkin Rahel masuk ke dalam kamar istirahat tersebut. Meskipun seorang playboy, Erick tidak pernah bermain gila dengan karyawan, apalagi di dalam kantor. Jika itu office boy, hal yang tidak mungkin lagi, karena mereka hanya masuk ke dalam ruangan setelah pukul lima sore.


Dengan heran, Erick masuk ke dalam kamar. Erick membuka handel dengan perlahan dan terkejut ketika dia melihat sosok wanita cantik, yang berdiri di depan cermin dalam keadaan hampir telanjang. Wanita tersebut masih menggunakan bra dan celama dalam dengan warna senada. Dia saat ini tampak masih sibuk memperhatikan sesuatu pada rambutnya, sehigga tidak menyadari seseorang sedang memperhatikan dirinya.


"Annet..." desah Erick perlahan.


Erick menelan saliva nya. Dari balik pantulan kaca, dia bisa melihat dengan jelas tubuh telanjang Annet. Lekuk tubuh yang indah. Dada yang menonjol, besar sempurna, perut rata, kaki-kaki yang ramping, apalagi warna kulit yang telah sempurna terbakar matahari. Semua yang ada pada tubuh wanita itu, pasti menggiurkan pria manapun.


Erick masih mematung di depan pintu kamar dan bingung dengan apa yang terjadi. Kenapa Annet bisa berada di kamarnya dan telanjang? Apa yang sedang dilakukan wanita ini disini. Meskipun Erick pernah berkencan satu kali dengan Annet, tetapi hubungan mereka hanya sebatas itu saja. Erick enggan berurusan dengan wanita itu lagi.


Erick membiarkan pintu sedikit terbuka dan keluar dari ruang kantornya. Dia buru-buru keluar, sebelum wanita itu menyadari kehadirannya. Banyak sekali wanita yang awalnya mengincar Jason, putar haluan kepada Erick.


Dan tak sedikit dari mereka yang bermaksud memanfaatkan Erick agar dapat mendekati Jason. Tapi, Erick tidak bodoh. Dan saat ini, dia malas meladeni wanita dengan tujuan seperti itu. Apalagi, dia tidak ingin bermusuhan dengan Lia.


Di depan, dia melihat Rahel yang baru saja kembali dari toilet.


"Rahel, jika wanita itu sudah selesai, suruh dia pergi dari ruanganku. Telphone aku lagi ketika wanita itu sudah pergi."


Rahel hanya menatap Erick dengan heran sambil menganggukan kepalanya. Rahel memahami sifat Erick yang hanya bertahan pada satu wanita setiap bulannya. Dengan meninggalkan Annet begitu saja tanpa pertanyaan apapun, itu artinya Erick sudah tidak tertarik lagi dengan wanita itu.


Tak lama kemudian, Annet sudah keluar dengan pakaian baru. Dia dengan percaya diri hendak masuk ke ruang Jason. Namun Rahel segera mencegahnya.


"Maaf nona, tuan Jason sudah pergi. Dia meninggalkan pesan untuk anda, jika staff bagian marketing akan segera menghubungi anda terkait acara sosial." Ujar Rahel.


"Si'alan. Bagaimana bisa dia meninggalkanku begitu saja. Lihat apa yang di perberbuat sekretaris itu, aku yakin pasti dia yang membuat rambutku rusak. Aku akan membalasnya nanti. Huh!" Dengan menghentakan kaki dan raut wajah penuh marah, Annet meninggalkan kantor.


Helen yang melihat sikap Anmet hanya mengangkat bahu.


Baru saja pintu penthouse terbuka, Jason sudah menggendong Lia dan tak melepaskan ciuman di bibir gadis itu. Lia yang awalnya masih kesal dengan sikap Jason bersama Annet tadi, menjadi luluh dengan serangan Jason yang tiada henti.


Mereka bergumul di atas tempat tidur, yang bahkan Lia sendiri tidak tahu apa warna spreinya. Mereka melenguh dan memadu kasih seakan-akan sudah lama tidak melakukannya. Kedua insan tersebut tampak semakin ahli melakukan serangan dan mencoba berbagai posisi.


Setelah pelepasan mereka bersama. Masih dalam balutan kain tipis, Lia berjalan mengelilingi Penthouse tersebut. Penthouse itu cukup luas, sekitar delapan ratus meter persegi dan memiliki dua lantai. Lantai atas terdapat dua kamar besar, ruang kerja, ruang keluarga, ruang fitnes dan balcony.


Sedangkan lantai bawah hanya terdapat dua kamar tamu. Ruang tamu dengan televisi flat yang besar. Ruang makan yang langsung terhubung dengan dapur. Ruang mencuci dan sebuah ruangan kosong, yang mungkin bisa digunakan untuk gudang ataupun kamar pembantu.


Lia membuka lemari es dan mendapati isi nya kosong. Hanya beberapa botol air mineral juga beberapa minuman kaleng lainnya. Lia menutup lemari es itu kembali dan memegang perutnya yang lapar. Satu hal yang dia yakin selalu ada di rumah orang bule adalah alkohol. Lia melihat jam di dinding sudah menunjukan pukul empat sore.


Lia kembali ke dalam kamar dan menjadi heran bagaimana bisa Jason masih tidur. Biasanya Lia yang tertidur pulas terlebih dahulu. Apalagi seingat Lia, Jason belum makan siang. Lia mengenakan pakaiannya kembali dan menghubungi restaurant yang berada di gedung tersebut. Setidaknya sedikit makanan ringan di sore hari.


Sambil menunggu, Lia menghidupkan telivisi. Dan berhenti di channel musik. Tidak perlu menunggu lama, ketika bel berbunyi dan pesanan nya sudah tiba. Lia membayar dengan uang yang di ambil dari dompet Jason.


Di pindahkannya makanan yang dia pesan tadi diatas piring. Seporsi cobb salad, dan dua porsi chicken sandwich, kemudian dia letakan di atas meja makan. Baru saja Lia hendak memanggil Jason, pria itu sudah turun dengan mengenakan kimono nya.


"Ah, akhirnya kau bangun. Ayo kita makan." Ajak Lia dengan riang.


Jason duduk di depan Lia sambil meminum sebotol air mineral yang diberikan oleh Lia. Jason menegak habis minumannya dan mulai mengunyah salad.


"Kau bisa memesan dengan bahasa Prancis?" Tanya Jason menggoda. Kerena yang dia tahu bahasa Prancis Lia sangat buruk.


"Ah, hanya bilang sandwich dan salad saja, mereka pasti mengerti. Selebih nya terimakasih." Jawab Lia acuh.


Bell berbunyi lagi.


"Kau memesan apa lagi?" Tanya Jason sambil beranjak ke arah pintu. Dia tidak melihat ketika Lia menggelengkan kepalanya. Lia tidak merasa jika dirinya memesan makanan lain nya. Dan dia juga merasa heran dengan siapa yang datang. Beruntung sekali Lia sudah berpakaian lengkap.


"Mau apa kau kemari?" Suara Bariton Jason terdengar dengan keras dan nada tidak suka.


...💖💖💖💖💖💖...