
Senin pagi di kantor Jason.
Seperti biasa senin pagi selalu banyak email yang masuk. Lia dengan teliti memeriksa setiap email dan membaginya menjadi empat kelompok. Kelompok Urgent, penting, rumayan penting dan kelompok pengganggu.
Untuk kelompok pengganggu tentu saja masuk langsung dalam kotak sampah. Email dari wanita-wanita yang masih memburu suaminya. Lia memang tidak menginginkan semua orang tahu kedudukannya disini, sebelum Jason memperkenalkan dirinya pada ayah dan ibu serta adik Jason. Dan Lia masih belum memahami alasan Jason menundanya.
Tentu akan sangat memalukan dan akan menjadi skandal besar jika saja, kedua orang tua Jason tidak mengakuinya. Sebelum masuk ke arena lawan, Lia bermaksud mencari tahu siapa mereka. Dan dia berusaha untuk percaya, apapun alasannya, Jason pasti melakukan yang terbaik untuknya.
Lia sekarang berada di lantai bawah, area semua staff sekretaris berkumpul. Dia sengaja turun ke lantai bawah dengan alasan memfotokopi beberapa dokumen. Dan kesempatan itu tiba ketika Jason mengadakan rapat dengan beberapa direktur perusahaan, didampingi Pedro, sebagai sekretaris senior.
Di ruang staff sekretaris, mereka bergerombol mendekati Lia, kesempatan karena pimpinan sekretaris sedang rapat dengan Jason. Semenjak dahulu mereka sangat penasaran dengan Lia. Keberadaan gadis itu terasa misterius bagi mereka. Apalagi Lia jarang sekali berkumpul dengan staff lainnya.
"Hei, kamu. Akhirnya ada kesempatan berbicara dengan dirimu." Sapa seorang wanita berambut merah.
"Hallo, namaku Lia, aku adalah..."
"Kami sudah tahu siapa dirimu, satu-satunya wanita yang bisa berjalan di dekat tuan Jason yang dingin. Bagaimana kau bisa melakukan hal itu?" Tanya nya lagi.
"Eh... aku... hanya beruntung." Sahut Lia tenang.
"Melihat penampilanmu yang sederhana, memang kau beruntung sekali. Benar-benar beruntung." Kata seorang wanita berambut pirang.
"Aku jadi heran, bagaimana keberuntungan membawa dirimu bekerja dengan tuan Jason. Apa kau mata-mata?" tanya si rambut merah.
Lia tergelak dan mengelengkan kepalanya.
Mana mungkin seorang mata-mata akan mengakui jika dirinya adalah mata-mata?
"Bagaimana mungkin aku adalah mata-mata. Apakah aku tampak secerdik itu? Aku hanyalah seorang yatim yang ditolong oleh tuan Jason. Dan untuk membalas kebaikannya, aku bekerja disini." cerita Lia sama dengan yang dia katakan pada Pedro.
"Ah benar. Kau tidak tampak sepandai itu sebagi seorang mata-mata." si rambut merah mengamati Lia dengan seksama sambil menganggukan kepalanya. Dia setuju dengan versi cerita Lia, gadis yatim yang membalas budi. Wajah yang polos dan sederhana meskipun berbalut pakaian mahal.
"Bagaimana kalau kita makan bersama? Lebih asyik bergosip sambil makan." Ujar seorang wanita bertubuh sintal.
"Namaku Helen, " ujar wanita bertubuh sintal dan berambut orange
"Aku Cameron dan dia Lucita." Wanita berambut merah memperkenalkan dirinya dan seorang wanita lagi.
"Ayo kita ke kantin. Kali ini aku akan mentraktir kalian." Ujar Lia dengan gembira.
Di kantin mereka memesan makanan yang disukai. Dan mengambil meja di ujung ruangan. Ke empat wanita yang duduk bersama itu, cukup menarik perhatian karyawan yang lainnya. Karena ini pertama kalinya mereka melihat sekretaris pribadi tuan pimpinan, makan di kantin.
Selama ini mereka hanya melihat Lia jika ada Jason. Gadis ini selalu terkurung di ruangan yang sama. Bahkan dirinya jarang berbicara dengan sekretaris Erick yang memiliki gender sama dengan dirinya, wanita. Rahel, tidak banyak bicara dengan Lia.
Lia mengambil kesempatan untuk mengambil foto bersama ke tiga teman barunya di kantin. Tentu saja foto itu dia kirimkan ke Jason, sebagai bukti kalau dia masih di lingkungan kantor dan berbicara hanya dengan wanita. Lia segera mengirimkan foto tersebut sebelum, Jason menyadari dirinya tidak ada di dalam ruangan dan membuat ulah.
"Katakan padaku, bagaimana rasanya bekerja dengan tuan Jason?" Tanya Cameron yang masih penasaran.
"Hemm.. biasa saja." Jawab Lia santai.
Galak dan dingin? Masa sih si posesif yang manja itu galak dan dingin juga di kantor?
"Entahlah. Tuan hanya berbicara seperlunya padaku." Ujar Lia akhirnya.
"Kau tahu, tuan Jason tidak pernah memiliki sekretaris wanita. Dan dia selalu mengusir model cantik yang datang merayu. Bukan cuma itu, dengar-dengar semua wanita yang dijodohkan oleh ibu nya dibuat patah hati. Sempat aku berpikir jika dia adalah gay." Kata Carmen bersemangat.
"Tidak mungkin tuan Jason Gay... ahhhh bisa patah hati aku.." Helen mengerucutkan bibirnya.
"Itukan praduga ku saja. Miss Magda yang menjadi idoal para jejeran direksi saja, dia tolak." ujar Carmen.
"Benar...benar. Kau tahu bukan. Miss Magda saja enggan memberi laporan langsung pada tuan Jason jika bukan hal yang sangat penting." Lucita menceritakan pimpinan sekretaris yang masih muda, cantik dan sexy.
"Iya tuan Jason pernah menghina dirinya hingga menangis." Carmen cekikikan.
"Menghina?" Lia tidak mengerti, dia mendrngarkan cerita mereka dengan antusias.
"Iya. Tuan Jason bilang, kau mau bekerja atau jual diri. Waktu itu dia sengaja memakan rok super mini dan blus berdada terbuka."
Tawa ketiga sekretaris pecah, begitu juga Lia. Setidaknya dengan cerita mereka, Lia bisa lebih tenang dan percaya pada Jason.
"Kalau aku lebih baik berhadapan dengan tuan Erick, dia baik sekali, suka tersenyum dan tak kalah tampan." Ujar Carmen.
"Tetap saja lebih menantang tuan Jason. Sikap dingin dan tatapan mata nya. Arghhh aku bermimpi tidur dalam pelukannya." Helen dan Lucita termangu membayangkan wajah Jason.
Lia berdehem. Meski bagaimanapun yang mereka gosip dan angankan adalah suaminya. Sebagaimanapun dia senang mendengarkan cerita mereka tentang Jasin yang selalu menjaga sikap. Tetapi di saat mereka menghayal berlebihan, Lia merasa risih.
"Hei... hei lihat itu. Si Medusa datang." Helen menunjuk pada seorang wanita cantik dengan pakaian yang membalut tubuhnya dengan ketat.
"Dia berani datang lagi. Ckckckc. Terakhir kali aku dengar dari Rahel jika dia diusir oleh tuan Jason." Helen mengunyah saladnya dengan sebal.
"Mau apa lagi dia kemari. Dasar muka tebal." Lucita menggerutu.
"Pasti mau merayu tuan Jason lagi lah." Sahut Carmen.
Lia segera berdiri. Dia menyambar permen karet yang selalu dibawa Helen. Dan mengambilnya dua lembar.
"Aku minta ya. Bye, saat nya kembali sebelum tuan memarahiku." Lia berjalan dengan cepat menuju lift yang sama dimana Medusa yang ditunjuk oleh Helen.
"Tuh kan, jadi sekretaris tuan Jason, mana enak. Istrirahat masih dua puluh menit lagi, tapi dia sudah buru-buru naik keatas." ujar Carmen sambil menyesap air soda.
Lia masuk dalam lift yang sama dengan wanita cantik yang dijuluki Medusa oleh staf sekretaris. Wanita itu berdiri dengan anggunnya di dalam lift. Tubuh sintal dan padatnya dibalut dengan pakaian mahal yang super minim. Dada Lia berkobar, peperangam akan terjadi.
...💖💖💖💖💖💖...