
Di sebuah pulau terpencil yang jauh dari keramaian. Jauh dari negara Perancis dan Jerman. Pulau yang terletak di salah satu kepulauan Caribean. Pulau terpencil diantara jejeran pulau-pulau lainnya.
Terdapat sebuah kastil indah yang megah. Hanya ada satu kastil di pulau tersebut. Kastil jaman peradaban yang sudah direnovasi dengan sentuhan lebih modern. Kastil tua yang terawat dengan baik.
Di kastil tersebut terdapat puluhan pelayan berkulit hitam. Penduduk Caribean yang tinggi dan besar. Puluhan pelayan dengan wajah dingin dan tidak ramah, bahkan sulit berbicara dengan nada pelan.
Taman yang indah dan terawat dengan hembusan angin laut, yang diantarkan menuju tebing tinggi di mana kastil itu berada membuat bunga-bunga bergoyang lembut. Suasana panas dan cerah, tak memupuskan keinginan seorang wanita untuk duduk diam di bawah pohon besar yang rindang.
Dia terpaku sendiri menatap ke arah lautan bebas lepas. Garis laut yang berbatasan dengan cakrawala biru. Langit yang cerah dibatasi oleh bingkai awan putih. Alam begitu indah, jernih dan cerah, seakan mengundang senyum dan kebahagiaan bagi setiap orang yang memandangnya.
Tapi sayang sekali keindahan itu, tidak bisa membuat senyuman terukir di wajah seorang wanita. Wajahnya sendu dengan tatapan mata yang sayu. Dia sudah lelah untuk menangis, seakan air matanya telah kering di bawa hembusan angin laut.
Tangannya yang kurus membelai perutnya yang mulai membuncit. Perlahan dan lemah. Rambut panjangnya berkibaran dan beberapa helai menutupi wajah sayunya, tak juga ia hiraukan.
Beberapa burung terbang rendah, berkicau dan melompat di sisinya. Seakan membuat lelucon untuk menghibur, berusaha menarik perhatian wanita itu agar tertawa atau sekedar memperhatikan tingkah mereka.
Namun, semuanya sia-sia. Wanita itu tetap diam memandang batas cakrawala. Dia bersikap seakan menantikan sesuatu muncul dari kejauhan sana. Harapan yang tak pernah pudar di sela-sela rasa putus asa.
"Nyonya kecil, matahari sudah semakin tinggi, anda sebaiknya masuk dan beristirahat," ucap seorang pelayan berkulit putih yang mendekatinya.
Wanita itu menoleh ke asal suara dan tersenyum tipis.
"Baiklah Adonia," ujarnya sambil mengulurkan tangan.
Adonia memegang tangan wanita itu yang terulur. Dengan kekuatan penuh, dia membantu nyonya kecilnya untuk berdiri. Setelah berdiri, sesaat wanita itu kembali memandang ke arah batas cakrawala sambil mengusap perutnya dan berbisik, " Jangan khawatir sayang ... Daddy pasti akan menjemput." Ucapan lirihnya seakan lebih untuk menenangkan dirinya sendiri daripada bayi dalam kandungan.
"Pakai ini, Nyonya Lia. Matahari terlalu panas untuk kepala anda." Adonia membantu Lia untuk mengenakan sebuat topi lebar.
Mereka kembali ke dalam kastil, menaiki lantai dua melalui tangga melingkar yang tinggi. Di ruangan keluarga tempat anak tangga berakhir, Lia menatap sendu ke arah sofa lebar di sana.
Ingatannya kembali ke masa lalu, ketika Jason mengajaknya kencan untuk pertamakali di Kastil ini. Pria itu bersikap begitu lembut. Saat itu dia bahkan tidak mengerti jika Jason sedang menggodanya.
Lia teringat ketika ia memukuli Jason dengan bantal, ketika terkejut saat wajah pria itu sangat dekat dengan wajahnya. Mengingat bagaimana Jason kesal dengan dirinya yang suka membantah, membuat Lia tersenyum.
Wanita yang sedang hamil itu kemudian masuk ke dalam salah satu kamar, di mana ada potret Jason yang sangat besar. Dia tersenyum memandangi potret tersebut, teringat kenangan saat Jason menggoda dirinya, "Jangan terlalu terpesona, awas jatuh cinta padaku."
Lia merebahkan dirinya di atas tempat tidur yang empuk. Dia mengambil sebuah kaso putih yang ada di sana. Mendekap kaos itu di dada sambil memandang potret Jason. Dia menghirup aroma kaos tersebut dan menciumnya.
Sudah empat bulan kaos itu tek pernah dia cuci. Lia takut aroma tubuh Jason yang masih melekat akan hilang jika di cuci. Tanpa kaos itu, dia tidak dapat tertidur dengan lelap.
"Sayang ... kau mencium aroma daddy, bukan?" ujarnya sendu sambil membelai perutnya.
Sebuah tendangan kecil yang ia rasakan, membuat wanita itu menyungging senyuman. Dia menepuk perlahan bagian yang ditendang dari dalam oleh sang bayi, seakan memberi tanda~mommy di sini.
"Menendanglah dengan kuat. Kau harus tumbuh dengan sehat dan kuat di rahim mommy. Tunjukan pada dunia, kau bukan bayi yang lemah karena kau adalah anak pertama dari Jason Madison," ucapnya dengan lembut namun tegas.
Perlahan dia tertidur dengan satu tangan memegang erat kaos suaminya dan tangan lain memegang perut. Rasa rindu menghantarkan dirinya pada mimpi yang indah.
"Jason ... aku merindukanmu," igauan terdengar di bibir mungil Lia.
Matanya bergerak-gerak hanyut dalam mimpi. Bibir indah itu mengukir senyuman dan dia mengusap kaos itu seakan seorang manusia.
"Lihatlah, perutku sudah membesar. Rasakan tendangan kuat anakmu," ucapnya lirih lagi dalam mimpi.
Hanya beberapa saat bibirnya tersenyum. Senyuman itu menghilang seiring dengan kesadarannya yang kembali.
Air mata merembes keluar dari matanya yang terpejam. Tubuhnya miring ke samping dengan kedua tangan yang memeluk erat dirinya sendiri dengan erat. Hanya ketika terjaga dari tidur dia menangis hingga terguncang. Menyadari jika semua mimpi indah itu hanyalan angan belaka.
"Nyonya Lia, anda sudah bangun?" Adonia menghampiri Lia. Dengan lembut dia mengulurkan tangan yang memegang handuk kecil dan menghapus air mata Lia.
"Jangan menangis, Nyonya. Bayi dalam kandungan anda akan merasa sangat sedih. Anda tidak mau bukan dia ikut menangis?" Ucapan Adonia yang lembut menyadarkan Lia.
Wanita itu bangun dan duduk di pinggiran tempat tidur. Dia bersyukur, wanita pelayan ini begitu setia mendampingi dirinya. Adonia yang merelakan kebebasan diri dan berlari menyusul, ketika Lia dibawa pergi oleh Tuan Besar Darrel Madison.
"Terimakasih Adonia," ujarnya dengan perlahan.
"Minumlah susu ini, Nona." Adonia menyodorkan segelas susu dingin pada Lia.
Lia memang terkurung dalam Kastil di pulau terpencil ini. Namun segala kebutuhannya tercukupi dengan baik. Bahkan setiap bulan ada seorang dokter kandungan yang datang untuk memeriksa keeadaannya dan menyediakan vitamin terbaik. Lia tidak mengerti kenapa tuan dan nyonya besar Madison melakukan hal itu padanya.
Berulangkali dia memohon pada dokter tersebut untuk memberitahu Jason akan keberadaan dirinya. Tapi, dokter tersebut sangat setia pada tuan besar. Tidak ada alat komunikasi yang bisa Lia gunakan di pulau ini, selain televisi.
Beberapa kali Adonia mencoba mencuri handphone salah satu pelayan, tapi tidak pernah berhasil. Bahkan dia mendapatkan hardikan dari para pelayan yang bertubuh besar dan menakutkan itu.
Sudah empat bulan mereka terkurung di sini. Terkadang Lia bertanya-tanya, kenapa Jason tidak mencarinya di pulau ini. Apakah pria itu sudah melupakan dirinya dan menyerah pada keputusan tuan Darrel? Setiap kali perasaaan itu muncul, Lia menepisnya dengan keyakinan akan keteguhan cinta Jason.
Lia berjalan ke arah balcony kamar setelah susu yang dia minum habis.
"Di sinilah aku selalu menunggumu. Berdiri di sini menantikan dirimu, Kekasih Hati. Hujan dan angin sudah berhenti menangis bersamaku. Tahukah kau, hangatnya angin dari jendela, mengantarkan teriakan batinku menyebut namamu. Kapankah kau akan datang menjemputku wahai Cinta? Saat ini meskipun tidak ada jawaban, aku tidak akan berhenti menunggumu, Kekasih hatiku. Datanglah dan rasakan tendangan kuat buah hati kita."
Saat itu ketika dia menatap ke arah batas cakrawala, tampak sebuah helikopter terbang mendekat. Sejenak Lia termangu, dokter kandungan sudah tiba dua hari yang lalu. Lalu, helikopter itu ... siapakah di dalamnya?
Dengan bersemangat dan penuh harapan, Lia berlari kecil menuruni tangga. Dia ingin segera tiba di depan sana saat helikopter mendarat. Jantungnya berlompatan berpacu dengan langkah kecilnya yang membuat Adonia khawatir.
Saat helikopter itu mendarat, mata Lia memandang tak berkedip.
...💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝...
New Cover.
Lebih bagus, gak?
Author lagi pingin buat Game.
Posted / repost salah satu foto ini dan beri coment terbaik kalian. Jangan lupa hastagnya ya. Tiga orang yang repost dengan coment terbaik, akan mendapatkan hadiah pulsa.
Max sampai tanggal 22 MEI 2021.
Jangan lupa hastagnya yaa. Pemenang hanya untuk yang sudah follow instagram ini ya.
#48monthsagreementwithceo
#taurusdi_author
#noveltoon_ind
#noveltoonindonesia