
Pakaian pengantin sederhana sudah disiapkan oleh tuan Larry. Cincin pengantin pun sudah dibeli oleh Erick. Cincin berhias berlian untuk Laurent, sebenarnya sudah lama dia miliki. Namun cincin itu hanya disimpan rapi di dalam apartement.
Erick tidak mengucapkan sepata kata pun. Dia tidak menghampiri Laurent untuk berbicara atau hanya sekedar menanyakan mengenai kehamilan. Erick bingung dan diliputi kegalauan.
Logikanya mengatakan jika dia belum siap untuk menikah. Semua terlalu mendadak. Dan dia belum bisa membiasakan diri untuk terlepas dari janji sumpah pada kekasih pertamanya. Sebagian dari pikiran Erick merasa dia berkhianat.
Erick memang terbiasa bermain wanita, meniduri hanya untuk hubungan satu malam hingga maksimal sepuluh hari. Dan gilanya dia tidak merasa bersalah akan hal itu. Karena baginya dia tidak menggunakan hati.
Namun dengan Laurent. Dia sadar dia menggunakan hati. Hati kecil Erick menerima Laurent. Hati kecil nya ingin menentang segala perasaan bodoh yang terbelenggu sumpah. Dan Erick tersiksa.
Saat ini melihat Laurent dengan gaun putih sederhana nya, tampak teramat sangat cantik.
Erick merada bersalah, karena nona besar itu seharusnya mendapatkan pernikahan mewah dan megah. Dia tidak seharusnya menikah dengan cara begini.
Erick mencoba mengulur waktu untuk pernikahan ini. Tetapi Jason menegur dengan keras. Dia tidak ingin masyarakar umum melihat perut Lauren yang semakin membesar. Dan resiko terburuk, Laura ibu mereka akan bertindak gila dengan memaksa Laurent untuk menggugurkan kandungannya.
"Apa kau tidak mau bertanggung jawab?! Apa kau ingin Laurent dipermalukan? Apa kau mau Laurent disiksa oleh mommy hingga mempertaruhkan nyawanya dengan menggurkan anak itu?" tanya Jason dengan kesal.
"Aku ..."
"Jika kau merasa adikku adalah wanita murahan yang tidur dengan sembarang pria. Pergilah sekarang. Jangan perdulikan dia. Hiduplah dengan hati nurani dan kebebasanmu." tambah Jason lagi.
Dan disinilah akhirnya Erick. Di taman belakang mansion tuan Larry, disaksikan sahabat dan seluruh anggota rumah tuan Larry, Erick memandang Laurent yang berjalan dengan digandeng oleh Jason.
Setidaknya Erick jauh lebih baik daripada Lia yang tidak menyadari bahkan tidak ingat kapan dan dimana dia menikah. Semuanya hanya bayangan samar dalam benak Lia.
Erick menerima tangan Laurent yang diserahkan oleh Jason. Memandang lekat ke dalam mata gadis itu ketika dia mengucapkam sumpah sehidup semati. Kali ini, untuk kedua kalinya Erick mengucapkan sumpah dihadapan seorang wanita.
Perbedaannya, wanita dihadapannya ini masih bernafas, setelah sumpah diucapkan. Dan ketika ucapan sumpah setia selesai diucapkan Laurent. Saat itu lah Erick tersadar, jika mereka bukan lagi dua melainkan menjadi satu.
Erick mencium bibir Laurent yang bergetar. Bisa dia lihat ada rasa haru dan bahagia dalam dada gadis itu. Erick membelai Laurent dengan lembut. Sorakan gembira menyadarkan Erick, jika masih banyak orang disana.
Pernikahan sedehana mereka di tutup dengan bir dan ayam goreng tepung. Karena mendadak, hanya makanan ini yang bisa disiapkan dalam waktu singkat dan banyak. Tuan Larry bahkan sudah mempersiapkan champagne untuk perayaan tersebut.
"Hari yang indah. Hari yang indah. Mari kita bersulang. A.. a... ibu hamil tidak boleh. Ini buat anda saja nona Lia." tuan Larry mengambil gelas champagne dari tangan Laurent dan memberikan pada Lia.
"Saya tidak bisa minum alkohol tuan Larry. Alkohol membuat saya alergi," tolak Lia sambil mengangkat segelas Orange juce ditangannya.
"Ah ... sayang sekali. Lihat calon mantu saya, dia hebat bukan?" tuan Larry memuji Emely yang memegang champagne ditangannya.
"Aku harap, dalam beberapa bulan lagi bisa melangsungkan pesta pernikahan antara Kau dan anakku. Percayalah kata-kataku. Hidupmu akan lebih baik disisi Lucas. Seumur hidup mu kau tak akan menemukan pria sebaik Lucas."
"Beri saya waktu tuan untuk berpikir,"
"Jangan terlalu lama. Waktu berdetak terus. Jika saja rumor bahwa kau telah menolak pernikahan ini, maka seumur hidupmu tak akan ada seorang pun pria yang berani mendekatimu." ujar tuan Larry lagi dengan tenang.
"Anda beruntung sekali nona, dililih sendiri ileh tuan Larry." seorang pelayan mendekati Laurent.
"Ya?"
"Banyak wanita yang mengantri untuk masuk dalam keluarga ini, namun tidak satupun yag bisa masuk dalam kualifikasi nya. Bahkan kekasih tuan Lucas pun. Wanita itu memaksa menikah dengan Lucas dan berakhir dengan rumor, jika dia adalah wanita buangan tuan Larry. Hingga saat ini, tidak ada seorang oun yang berniat menikahi wanita itu." jelas pelayan tersebut.
"Tidak masalah bagiku, jika aku tidak menikah seumur hidup." ujar Laurent tenang.
"Mungkin itu yang anda pikirkan. Tapi bagaimana jika reputasi anda hancur dan semua yang anda kerjakan tidak berhasil? Apakah anda seumur hidup hanya akan menumpang makan pada teman-teman anda?" tegas pelayan itu lagi.
Emely tersentak. Dia tidak menyangka jilka permasalahan pernikahan akan menjadi sejauh itu. Emely melirik kearah Lucas yang duduk tenah diatas kursi roda. Pria itu tidak mengatakan apapun mengenai hal ini.
Emely kemudian menghampiri Lucas. Dia memandang pria yang saat ini juga sedang memandang dirinya.
"Bisa aku berbicara dengan anda, Lucas?" tanya emely hati-hati.
"Kau saat ini sedang berbicara bukan, nona Emely. Katakan. Ah, saya belum mengucapkan terimakasih, karena anda sudah meminjamkan bahu dan membawaku kembali ke mansion." ucap Lucas dengan tenang.
"Bukan itu yang hendak saya tanyakan tuan. Mengenai pernikahan ... Apakah ini yang anda inginkan?"
"Pernikahan? Sebaiknya kau menuruti perkataan ayahku, jika ingin hidup mu aman dan tercukupi. Aku mengatakan hal ini bukan karena, ingin menikahi mu. Hanya sebagai ucapan terimakasih karena jasa mu. Itu saja. Tak lebih." sahut Lucas dengan dingin.
Emely mendengus. Kata-kata Lucas sangat jelas dipendengarannya dan dia juga dapat menangkap maksud pemuda itu dengan jelas. Mereka sama-sama tidak menginginkan pernikahan ini. Hanya saja cara penyampaian Lucas yang terlalu angkuh membuat Emely kesal. Apa dipikir pria itu, Emely senang dengan perjodohan ini?!
Dengan kesal Emely menjauhi Lucas. Mendaki Lia dan Jason yang sedang bermesraan. Dia duduk disisi sahabat nya itu sambil menehak champagne.
"Sampai kapan kita akan disini? Aku ingin pulang." ujar Emely.
"Lia akan ikut denganku malam ini. Ada kejutan yang ingin aku berikan untuknya," ujar Jason sambil merapikan rambut Lia dan menyisipkan dibelakang telinga.
"Ah, kalau begitu aku akan kembali sendiri."
"Aku rasa tuan Larry, sudah menyiapkan mobil untuk mengantarmu."
"Kalau begitu sebaiknya aku pulang sekarang." pamit Emely. Gadis itu kemudian meninggalkan Lia dan jason berpamitan pada tuan Larry.
"Kejutan? Kejutan apa nih, aku jadi penasaran," tanya Lia sambil bersandar di dada Jason.
"Sabar sedikit. Kau pasti akan menyukainya." Jason menyeringai penuh arti.