
Gadis itu mengernyitkan dahinya mendengar nada suara Jason yang tidak senang. Lia merasa heran, siapa yang tiba-tiba berkunjung. Bukankah Pedro juga tidak mengetahui keberadaan mereka. Tidak mungkin kan jika Pedro memberitahu Annet tempat ini.
Lia bernafas lega, ketika dia mendengar suara seorang pria menjawab perkataan Jason. Setidaknya itu bukan Annet atau wanita manapun. Lia tersenyum dan menertawakan kecurigaannya.
"Ayolah kakak, biarkan aku masuk. Lihat aku membawa dua kotak pizza dan bir." Daniel berada di depan pintu, tersenyum lebar pada Jason.
"Bawa saja bersamamu, aku tidak menyukai pizza." Bum! Jason menutup pintu dengan keras dihadapan Daniel.
Jason kembali ke meja makan dengan wajah tidak suka.
"Siapa dia, kenapa kau mengusirnya?" Tanya Lia dengan heran.
"Bukan, siapa-siapa." Jawan Jason kesal.
"Dia memanggilmu kakak." Tegas Lia.
"Anak selingkuhan ayahku." Sahut Jason sambil mengunyah sandwich.
"Ah, apakah dia jahat dan berbahaya?"
Jason menggelengkan kepalanya.
"Lalu, kenapa kau tidak membiarkan dia masuk?"
Jason tidak menjawab, dia memilih mengunyah salad daripada menatap mata Lia.
"Aku penasaran melihat wajahnya."
Tanpa menunggu jawaban Jason, Lia turun dari kursi dan mengintip melalui lubang kecil di pintu. Di sana dia masih melihat Daniel yang berdiri terpaku. Raut wajah Daniel tampak sedih. Pria itu masih berdiri mematung ke hadapan pintu, seakan-akan berharap, jika Jason berubah pikiran dan memberinya kesempatan.
Lia merasa kasihan melihat expressi Daniel. Dia memutuskan untuk membuka pintu, setelah diingatnya jika Jason mengatakan jika pria ini tidak berbahaya.
Daniel yang mendengar suara handel pintu digerakan dan mulai terbuka, menjadi sangat senang. Sorot mata kecewa dan wajah yang tertunduk, seketika berubah ceria. Daniel mengangkat kepalanya.
"Kakak..." Daniel menghentikan kalimatnya ketika melihat jika bukan Jason yang membuka pintu.
"Hallo, ayo masuk lah." Lia membuka pintu lebih lebar agar Daniel bisa masuk.
"Namaku Lia,"
"Namaku Daniel."
Mereka saling memperkenalkan diri tanpa berjabat tangan.
"Coba lihat, apa yang kau bawa. Wow... pizza. Aku sudah lama tidak memakan pizza." Ujar Lia dengan wajah berseri-seri.
Daniel menyodorkan pizza yang dia bawa kepada Lia dengan heran. Wanita ini baru pertama kali dia lihat, tapi sikapnya tampak bersahabat. Gaya dan senyumannya membuat Daniel merasa nyaman. Daniel mengikuti Lia yang membawa pizza ke ruang makan.
"Dari mana saja kau?" Ujar Jason tanpa membalikan badannya.
"Lihat apa yang aku dapatkan. Pizzaaaa!" Lia berseru riang.
Jason menatap dua kotak pizza itu dengan mengernyitkan keningnya. Dan saat bersamaan dia merasakan kehadiran seseroang di sisinya. Jason menoleh dan dia mendengus kesal melihat Daniel sudah duduk di ujung meja. Meja makan yang mereka tempati sekarang ini adalah meja bar berukuran sedang saja, jadi setiap orang akan terasa duduk sangat dekat.
Jika saja tidak ada Lia disini, Jason pasti sudah meninggalkan Daniel sendiri, tapi tentu saja dia tidak mungkin membiarkan Lia berduan dengan Daniel. Dan sebenarnya Jason cukup kesal melihat Lia membiarkan pria itu masuk. Apalagi saat ini, Lia dengan antusias membuka box pizza tersebut. Kenapa juga gadis ini harus memakan pizza yang dibawa pria itu.
"Ayo dimakan Daniel, jangan malu-malu."
Lia menunjuk kearah pizza yang sudah dia buka. Daniel tersenyum mendengar perkataan Lia, dia yang membawa pizza, tapi gadis itu malah yang menawarinya dan mencomot duluan.
"Kau ini, seperti orang tidak tahu makan pizza saja." Sindir Jason.
"Hemmm... merk ini aku tidak pernah makan. Dan ini nyamiii... pantas saja Prancis terkenal dengan rotinya. Ayo Daniel, jangan sungkan habiskan saja."
Daniel tertawa geli dan mengambil satu slices pizza.
"Memang benar, pizza ini adalah yang terbaik di Paris." Kata Daniel.
"Ah... pantas saja. Gurih sekali. Ini coba lah." Lia memindahkan pizza yang sudah dia makan di tangan kiri dan mengambil sepotong pizza yang baru dengan tangan kanan. Lia menyodorkan pizza itu kepada Jason. Jason tampak enggan membuka mulutnya.
"Ayolahhhh dicoba, gak baik loh menolak pemberian gadis cantik." Goda Lia sambil menipiskan bibir nya dan mengerdipkan mata.