
"Hallo Erickkkk," seorang wanita masuk ke dalam ruangan kantor Erick tanpa mengetuk pintunya terlebih dahulu.
Wanita berambut pirang dengan dandanan yang cukup modis itu, masuk dengan senyuman lebar yang menonjolkan kedua lesung pipitnya.
"Svetlana?" ujar Erick tak percaya.
"Sudah lama kita tak bertemu, kau semakin tampan," katanya lagi dengan mata yang berbinar ceria.
"Kapan kau tiba di Paris?" Erick meletakan bolpoint yang dipegang dan menatap Svetlana.
"Kemarin."
"Apa yang kau lakukan di Paris, Svetlana?" Erick memandang wanita yang masih berdiri dihadapannya.
"Tidak ada alasan khusus. Aku baru saja menyelesaikan kuliah manajemen dan memutuskan untuk ke Paris. " Svetlana memandang Erick dengan mata yang penuh kerinduan.
"Gadis kecil! Akhirnya kau lulus sekolah." Erick tersenyum dan keluar dari tempat duduknya berjalan mendekati Svetlana.
"Tentu saja. Aku sekarang seorang wanita dewasa. Bukan lagi gadis ingusan," ujarnya dengan senyum ceria memamerkan gigi putih yang rapi dan lesung pipit yang dalam.
"Iya. Iya. Kau tampak dewasa," ujar Erick sambil mengacak rambut gadis itu.
Svetlana sangat gembira merasakan belaian Erick di rambutnya. Dia meletakan tas bekal yang di bawanya diatas meja dan memeluk Erick.
Erick cukup terkejut dengan tindakan spontan wanita itu.
Dengan ragu, Erick memegang punggung Svetlana. Mereka terdiam sesaat dalam keheningan. Svetlana memanfaatkan kesempatan itu untuk mencium aroma tubuh Erick dalam-dalam.
Svetlana selalu menolak untuk memanggil Erick dengan sebutan kakak. Erick adalah cinta pertamanya, semenjak pertama kali dia melihat pria itu. Gadis kecil dengan rambut yang di kepang dua dan selalu bermain dengan rumput liar.
Dia selalu memandang Erick dari kejauhan ketika pria itu berkunjung ke rumahnya untuk menemui Lilianne. Gadis kecil itu mencintai kekasih kakaknya diam-diam.
"Duduklah." Erick merasa tidak nyaman membiarkan Svetlana mendekap dirinya terlalu lama.
"Ah, iya. Maafkan aku, Erick." Svetlana melepaskan pelukannya dan mencuri pandang pada Erick.
Pria yang sudah mencuri hatinya sekian lama, tampak begitu tampan dengan kedewasaannya. Sekian lama tidak bertemu, bahkan membuat pria itu jadi lebih mempesona. Svetlana semakin mengagumi Erick.
"Kau belum makan siang, bukan? Lihat aku membuatkan dirimu makanan ini." Svetlana meletakan tas bekalnya di meja sofa. Dia kemudian membuka kotak berukuran tiga puluh centimetre dan susun tiga tersebut di atas meja.
"Kau memansak semua ini?" tanya Erick tak percaya.
"Tentu saja."
"Tak kusangka gadis pemalu dan dekil sekarang berubah menjadi pandai memasak," puji Erick sambil mencomot sebuah asparagus yang digulung dengan daging.
"Bagaimana rasanya?" Svetlana memandang Erick dengan mata penuh harap.
"Hmm ... enak." Erick mengambil makanan lain dan menikmatinya dengan lahap. Svetlana datang tepat waktu saat makan siang. Sepotong roti dan sebutir telor yang dia makan tadi pagi sebagai sarapan, sudah tergiling habis di perutnya.
"Kalau kau suka, aku akan memasaknya setiap hari untukmu," ucap perempuan itu dengan mata berbinar.
"Tidak perlu. Itu terlalu merepotkan dirimu."
"Tidak merepotkan. Lagi pula, aku berencana untuk tinggal lama di Paris."
"Kau hendak tinggal di Paris? Bagaimana dengan peternakan keluargamu?" Erick mengernyitkan keningnya heran. Sepengetahuannya Svetlana hanya dua bersaudara dengan Lliliane. Setelah Lillianne meninggal, tentunya harapan orang tua hanya Svetlana.
"Aku masih muda dan masih ingin berdiri sendiri, mencari pengalaman. Kau bisa membantuku kan, Erick?"
"Membantu bagaimana, maksudmu?"
"Mendapatkan pekerjaan untukku. Mungkin menjadi sekretarismu?" Svetlana menatap Erick dengan penuh harapan.
Tentunya akan sangat membahagiakan, jika Erick mau menerima dirinya. Bekerja segedung dengan pria tampan di hadapannya, apalagi seruangan dengan cinta pertamanya, hal itu akan lebih membahagiakan.
"Akan aku lihat, apakah ada lowongan yang cocok untukmu. Bawalah berkas-berkasmu kemari dan berikan pada sekretarisku di depan."
Erick masih terus mengunyah dan menikmati masakan Svetlana yang cocok di lidahnya.
"Aaa ... kau memang baik sekali, Erick."
Svetlana melingkarkan pelukan di bahu Erick, membuat pria yang sedang makan itu tersedak.
"Uhuk ... uhuk ...."
"Maafkan aku. Maaf, kau pasti tersedak karena diriku ya." Svetlana menyodorkan segelas air putih untuk Erick, yang segera diminum oleh pria itu.
"Kau sudah banyak berubah. Dulu kau hanya gadis pemalu yang selalu bersembunyi. Tapi sekarang menjadi gadis lincah dan murah senyum," ujar Erick.
"Itu dua belas tahun yang lalu, bukan?"
"Ah! Sudah selama itu?!" Erick menyandarkan tubuhnya di kursi. Dua belas tahun sudah setelah kepergian Lilliane. Erick tak menyangka waktu sebegitu cepar berputar.
gumam Svetlana dalam hatinya.
"Kau bahkan sudah lama tidak kembali ke rumah tua mu, bukan?"________"Nyonya Victoria juga memintaku untuk mengawasimu," ujar Svetlana sambil mengerucutkan bibirnya.
"Kau bertemu dengan mommy?" Mata Erick terbelalak.
Svetlana mengangguk.
"Beliau bilang sudah lama kau tidak pernah pulang, lima tahun?"
Erick tertawa canggung. Memang sudah lama dia tidak pernah pulang ke kampung halamannya, karena tempat itu selalu mengingatkan dirinya akan Liliane.
Orang tua Erick dulu adalah seorang pengusaha di kota Paris. Erick sempat mengecap kehidupan mewah dan bersekolah di tempat yang sama dengan Jason. Jason yang lebih mudah dari Erick, tapi karena kecerdasannya, Jason melompati dua tahun tingkatan belajar anak seusianya.
Setelah ayahnya bangkrut, mereka sekeluarga pindah ke kota kecil lainnya. Disana keluarganya membuka sebuah toko bahan pangan. Dan Erick melanjutkan sekolah di kota itu juga. Disanalah dia bertemu Liliane dan mengikrar cinta.
"Erick coba ini. Bukankah ini kue kesukaanmu?" Svetlana menyodorkan sepotong kecil apple pie.
"Kau membuatnya juga?"
Svetlana mengangguk.
"Hebat sekali dirimu," Erick kembali mengacak rambut Svetlana.
Mereka tertawa bersama dengan riang. Tawa mereka terhenti ketika seseorang membuka pintu ruang kerja. Mata Erick tercekat melihat Laurent yang tiba-tiba muncul.
Dia tidak menyangka jika wanita itu akan datang ke kantornya siang ini.
"Maaf. Saya salah masuk ruangan," ucap Laurent sambil menutup
Erick mengerutkan keningnya heran dengan sikap Laurent. Salah masuk ruangan? Apakah wanita itu hendak mengunjungi kakaknya? Bukankah Jason masih di Miami dan baru hari ini akan tiba di Paris?
"Siapa dia, Erick? Dia cantik dan anggun sekali." Svetlana menatap cemburu ke arah Erick. Jika semua wanita di kota berpenampilan seperti wanita itu, maka dirinya harus semakin awas menjaga Erick.
Svetlana tidak ingin, penantian dua belas tahunnya menjadi sia-sia.
"Svetlana ... aku harus bekerja lagi. Sebaiknya kau pulang saja." Erick membereskan sisa makanan di meja.
"Baiklah, maaf ya jika aku mengganggu."
"Senang bertemu denganmu lagi." Kata-kata Erick membuat Svetlana berbunga- bunga.
"Besuk aku akan kembali kemari dengan membawa berkas diriku, sekalian bekal makan siang untukmu." Mata Svetlana berbinar saat mengatakan hal itu.
"Kau tidak perlu menyusahkan dirimu dengan membuat bekal," tolak Erick.
"Aku senang melakukannya. Selamat siang, Erick. Selamat bekerja."
Svetlana mendaratkan kecupan di pipi Erick sebelum pergi. Erick menanti hingga wanita itu masuk ke dalam lift. Kemudian dia menghampiri Pedro, karena dia sudah tidak melihat Bertha di mejanya.
"Pedro ... di mana Laurent?"
"Dia pergi turun dengan Bertha."
Erick termangu sesaat kemudian berbalik menuju ke ruangannya.
"Tuan Erick!" panggil Pedro.
"Iya?"
"Aku rasa nona Laurent masih ada di kantin."
Segera saja Erick menuju ke lift. Kantin? Kantin karyawan? Untuk apa nona besar itu kesana?
...โ๐นโ๐นโ๐นโค๐นโคโ๐นโ๐นโ๐น...
JANGAN LUPA YA VOTE DAN POIN.
Saya berkarya anda membaca.
Saya menulis anda tekan like.
Saya berpikir anda tinggal beri hadiah poin.
Saya senang anda juga senang, update lancarrr.
Horeee!!!
Pahalanya besar lohhh โค