
Mereka tiba di sebuah mansion yang sangat besar. Karena gelapnya malam dan pengawasan ketat dari pengawal yang bersama dengan pemuda terluka itu, tidak ada satu pun dari mereka berempat yang bisa melihat jalan dimana mobil itu membawa mereka. Sepanjang perjalanan, pengawal memerintahkan kepada mereka untuk membungkuk.
Tidak ada satupun yang bersuara. Butler Bernard berkali-kali mendengus kesal. Kepalanya masih pusing akibat alkohol yang dia konsumsi melebihi kepasitas kemampu!an tubuh tua nya. Dia hanya berkali-kali melirik kesal ke arah ketiga nona muda disampingnya.
Karena niat usil mereka, malam-malamnya yang selalu tenang menjadi bagaikan berwarna. Membuat nya merasa muda dan jiwa petualangan tumbuh. Ah... tanpa sadar pria tua itu mengakui menikmati malam ini, meskipun tidak untuk dibagian dimana dia di culik untuk kedua kalinya dan kini oleh orang asing.
Lia menunduk sambil meratap sedih. Dia menyesal sudah sengaja pergi dari mansion. Dia menyesal membuat ulah, hanya karena kesal pada ke posesifan Jason. Mungkin dengan sedikit rayuan, pria yang terlalu mencintainya itu, bisa sedikit melunak.
Sekarang, keinginan jahilnya telah menyeret mereka semua dalam masalah. Awalanya dia hanya ingin memberikan efek jera pada Jason. Tapi... melihat betapa mengerikan nya para pengawal pemuda itu, Dengan kaos hitam dan tubuh besar bertato, membuat pikiran Lia menduga hal paling buruk, apakah merkea semua akan di mutilasi dan diambil organ tubuhnya untuk dijual di pasar gelap.
"Tidak mauuu! Tuha tolong aku, Jasonnn cepat temukan kami, aku mau pulangggg," teriak Lia dalam hati
Saat sudah memasuki sebuah kamar yang cukup besar, mereka dipaksa masuk dengan paksa dan pintu kemudian dikunci rapat. Dalam ruangan itu hanya terdapat satu kasur yang besar dan sebuah sofa. Butler Bernard, kemudian mengambil inisiatif untuk merebahkan diri di sofa. Laurent dan Emely, melempar tubuh lelah mereka di atas kasur.
Berbeda dengan Lia, gadis ini berteriak marah dan menggedor pintu itu kuat-kuat.
"Hoiiiiiiii!!!!! Katakannnn kenapa kalian mengurung kami! Apa salah kami???!!!! Kami hanya menolong tuan mu. Jika tidak ada kami, maka dia sudah mati. Hoiiiii buka pintu. Keluarkan kamiiii. Tanya pada tuanmu, siapa yang menolong dia. Hoiiiiii."
Tidak ada sahutan.
"Hoiiiiii kalian punya telinga tidak??? Lihat, apa ada barang tuanmu yang hilang??? Bahkan aku yang menghubungi kalian karena tuanmu memintaku. Hoiiiii dengar tidak!!!! Apa ini cara kalian membalas budi??? Buka pintuuuu!!! Keluarkan kami!" Berkali-kali Lia berteriak, tapi tidak ada sahutan.
"Sudahlah. Tidur saja dulu. Simpan tenagamu untuk besuk. Lihat, disana ada air putih. Minum dulu." Kata Emely, yang sudah lelah mendengarkan Lia berteriak -teriak.
"Emely, kemarinkan ponselmu." Lia berinisiatif untuk menghubungi Jason.
Karena Emely tak juga menyahut, Lia membongkar tas gadis itu. Dengan gembira dia mengambil ponsel Emely, tapi sayang saat dihidupkan baterai gadis itu sudah habis. Bahkan sudah mati sebelum Lia sempat mendial nomor handphone Jason. Beralih ke tas Laurent. Gadis itu ternyata tidak membawa handphone.
Lia duduk bersandar di tempat tidur dengan lemas. Dia kini menangis. Gadis itu putus asa. Lia merindukan Jason. Saat ini seharusnya dia sudah berada dalam pelukan hangat suaminya. Seharusnya dia mendengarkan kata-kata Jason dan tetap tenang. Lia menyesal telah mengikuti emosi nya.
"Jason... cepat temukan aku." Bisiknya Lirih.
"Makanya nona jadi orang jangan usil" Celetuk Butler Bernard dengan mata terpejam.
"Dasar wong tuwek."
"Kau mengatai aku?"
"Tidak. Aku sedang memujimu."
"Hmmm... aku tau kau mengatai ku. Grokkk... Grokkk."
Lia terpana, ternyata sedari tadi butler Bernard mengigau. Bahkan dalam igauannya, pria tua itu masih ingat memarahi dirinya. Lia kemudian merebahkan diri disisi Laurent. Mata nya memandang ke sekeliling kamar, meneliti jika saja ada cctv yang mengintai mereka saat ini.
...******...
Sementara itu tepat jam satu malam, Jason sudah berada di kawasan Pigalle. Dia sudah mendapatkan keberadaan Lia, berdasarkan pelacakan dari Carlos. Jason dan Erick dengan ditemani dua pengawal utama, bergegas menuju kedalam Club Malam tersebut.
Penjaga sempat menghalangi Jason yang hendak masuk. Namun, begitu melihat Erick, mereka langsung mengijinkan masuk. Erick dikenal sebagai pelanggan VVIP di club malam tersebut. Dan penjaga disana mengenal Erick dengan baik.
Segera saja Jason, Erick, Frans dan Carlos masuk kedalam club tersebut. Erick menuju ke tempat reseptionist dan menunjukan foto Laurent. Gadis reseptionist tersebut segera mengenali foto Laurent.
"Iya benar. Diruangan manakah mereka. Cepat!"
"Sebenat tuan." Gadis itu mengecek nama Laurent di komputer nya.
"Iya ini dia. Nona Laurent Madison. Dia di ruang
Vip Tiga. Lantai dua."
Jason sudah melesat keatas terlebih dahulu tanpa menunggu Erick selasai mengucapkan terimakasih. Pria itu menaiki tangga, menerobos gerombolan orang-orang yang berdiri di sepanjang tangga. Dia tidak menghiraukan, sapaan mesra dari para wanita yang tertarik melihat dirinya. Tujuan Jason hanya satu, menemukan Lia.
Setibanya di ruangan itu, dengan kecewa Jason melihat kesekeliing ruangan yang kosong. Hanya ada beberapa botol champangne dan sparkling wine disana. Dapat dia pastikan, jika Lia tidak dalam keadaan mabuk.
"Tuan?" Frans menegur Jason yang termangu, sambil memegang gelas dengan sisa noda lipstik Lia. Aroma dari cairan yang masih terisisa di gelas itu tidak mengandung alkohol. Demikian lah Jason yakin, jika gelas itu milik Lia.
"Cari istriku di sekeliling tempat ini. Cari dengan teliti dan bawa dia kepadaku!" Perintah Jason.
Frans dan Carlos segera menelusuri club malam tersebut. Sementara Erick dari dalam ruangan, memperhatikan satu persatu kerumunan manusia, yang masih tanpa lelah menari di lantai bawah. Dia berharap menemukan dalah satu dari keempat orang hilang tersebut.
Jason duduk dengan gelisah. Dia memperhatikan seisi ruangan. Tampaknya mereka berselisih jalan. Karena noda lipstik pada gelas lainnya masih tampak lembab. Jason mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan, hingga matanya tertumpu pada sesuatu di sofa paling ujung.
Jason menghampiri sofa itu dan menemukan noda darah. Tidak sedikit. Darah itu menetes di lantai, hingga menuju pintu keluar. Jason sempat berpikir apakah itu darah menstruasi. Tapi, bagaimana bisa darah menstruasi berceceran di lantai. Dan pikirannya terjaga!
"Erick, lihat ada darah disini!"
"Darah? Apa salah satu dari mereka terluka?" Erick dengan panik memandang sekeliling ruangan, jika saja ada benda tajam yang tercecer.
"Ayo kita cari tahu di ruang cctv."
"Tapi, dalam ruangan ini mereka tidak pernah meletakan cctv."
"Di lorong juga tidak?"
"Ah itu, ayo aku tahu manager disini."
Dengan bergegas Kedua pria itu mencari manager, yang sudah mengenal Erick dengan baik. Managers tersebut membawa mereka ke ruang sekurity. Dan disana terdapat berjajar layar datar yang menampilkan rekaman cctv.
Dengan sigap, seorang sekurity menampilkan rekaman cctv, diruangan dimana Lia berada sebelumnya. Disana yang tampak adalah, Lia berjalan masuk kedalam ruangan dengan Memeluk seorang pria. Dan tak lama kemudian mereka keluar lagi, tapi kali ini butler Bernard yang menopang pria itu bersama Emely.
Sekurity terus mengikuti pergerakan mereka, hingga cctv di luar gedung, melihat bagaimana Ke empat orang itu masuk ke dalam mobil.
Jason meremas pulpen hingga benda itu patah menjadi dua. Dia sangat geram melihat Lia memeluk pria lain. Belum lagi bagaimana mereka bisa masuk ke dalam mobil orang lain.
Jason hampir saja memecahkan layar datar tersebut, sebelum matanya tertumpu pada wajah butler Bernard yang menatap cctv. Mulut pria tua itu menggumamkan sesuatu.
"Perbesar, fokus pada apa yang terjadi ketika mereka masuk ke dalam mobil. Dan lihat gerakan mulut kakek tua itu!"
Perintah Jason segera dituruti oleh sekurity. Disana mereka terkejut ketika dengan samar melihat, bagaimana kawanan orang itu memegang pistol. Dan butler Bernard menggumamkan, "Help."
... 💖💖💖💖💖💖💖...