48 Months Agreement With CEO

48 Months Agreement With CEO
Karaoke



Lia masih tak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Laurent. Dia memiliki lima puluh hotel dan butik yang tersebar di Eropa dan Amerika? Apakah itu benar? Tapi untuk apa? Dengan bekerja bersama Jason saja dia sudah hidup berkecukupan. Bahkan lebih dari apa yang dia harapkan.


Dia tidak pernah bermipi untuk menjadi wanita nomor satu dengan kekuasaan dan harta yang bergelimang. Dia hanya ingin hidup tenang dan bahagia bersama keluarga kecilnya. Impian yang sangat sederhana.


Jika apa yang dikatakan oleh Laurent adalah benar, itu artinya Jason membuat perusahaan itu atas nama Lia. Tapi untuk apa dia menggunakan nama ku, pikir Lia. Bahkan pria itu tidak mengatakan apapun tentang hal ini. Kenapa juga harus dirahasiakan?


Lia menimbang dengan penuh keraguan, haruskah dia menanyakan hal ini pada Jason, ataukah dia diam saja dan pura-pura tidak tahu. Atau haruskah dia mencari tahu sendiri tentang perusahaan itu?


"Heh...., " Lia tanpa sadar mendesah keras, membuat Emely dan Laurent menatapnya heran.


"Hei! Orang kaya baru, traktir aku. Aku mau berbelanja. " Ujar Laurent menggoda.


"Beli saja apa yang kau mau, black card kakak mu ada padaku." Sahut Lia acuh.


"Benarkahh.... Huaaaa.... I love you kakak ipar. Ayo kita berbelanja ke kota." Laurent dengan gembira siap untuk berangkat.


"Belanja disini saja. Borong apa yang kau mau. " Kata Lia tanpa menggerakan tubuhnya dari sofa.


"Disini? Kau bercanda kan?" Laurent mendelik.


"Aku tidak bercanda! Kau bilang barang Emely bagus. So, kenakan dan promosikan. "


"Huh! Percuma juga kau memegang black card kalau begitu. " Gerutu Laurent. Tapi tak urung dia membeli beberapa barang disana.


Emely tersenyum dan berbisik pada Lia, "terimakasih."


Lia membalas dengan kedipan mata. Lia juga ikut membeli beberapa pakaian design Emely. Setelah puas berbelanja dan bergosip, mereka baru sadar jika hari sudah mulai sore sedangkan mereka belum makan apapun.


"Ayo makan di restaurant Gabriel." Ajak Lia.


"Gabriel... Apakah dia tampan?" Tanya Laurent.


"Cukup tampan sebagai pengganti Erick, " Ujar Lia asal.


"Benarkah? Ayo kalau begitu kita berangkat sekarang, kearah mana? " Laurent yang sudah berada di depan butik, bingung hendak menuju kearah mana, membuat Lia dan Emely tertawa.


Mereka menuju ke restaurant Gabriel.


"Hai Gabri, " sapa Lia.


"Wow, Lia sudah lama tidak bertemu. Kau tampak semakinn... Elegant. " Ujar Gabriel memuji.


"Kau memang tipe pria Prancis yang pandai memuji. Kenalkan ini adik iparku, Laurent. " Lia memperkenalkan Laurent.


"Hai... " Mereka menyapa tangan jabatan tangan.


"Kalian mau makan sesuatu? "


"Berikan kami menu handalanmu, kami lapar."


"Tentu saja nona-nona, silahkan duduk. "


Gabriel dengam cekatam menyajikan makan malam untuk mereka bertiga. Laurent tak berhenti memuji nikmatnya masakan Gabriel. Setiap masakan disajikan dengan indah dan cita rasa yang tinggi.


"Kita pulang?" Ajak Lia.


"No! No! Kakak ipar. Malam masih belum larut. Kita lanjutkan petualangan dan bersenang-senang. " Tolak Laurent.


Dia tidak ingin pulang di Penthouse dan sendirian. Kesendirian membuatnya teringat pada Erick. Dan Laurent khawatir dia akan melakukan hal bodoh dengan menghubungi pria itu.


"Lalu kita mau kemana? "


"Bagaimana kalau karaoke? Aku tahu karaoke yang elegant. " Ajak Laurent dengan berbinar.


Lia berpikir beberapa saat dan kemudian memutuskan.


"Baiklah. Aku akan hubungi Jason terlebih dahulu."


Lia khawatir, Jason akan marah jika dia pulang terlalu larut. Apalagi ini pertamakalinya dia pergi tanpa pria itu. Lia masih merasa janggal bepergian tanpa Jason, meskipun dia menikmati harinya saat ini.


"Jangan hubungi kak Jason. Biarkan dia cemburu sekali-sekali." Larang Laurent.


"Tapi... "


"Jangan! Atau aku juga akan menghubungi Erick dan menggila lagi?! " Ancam Laurent.


"Apa katamu kakak? "


"Ra po po. Ayo berangkat. "


"Gabriellll, kau ikut dengan kamii, kami perlu pria tampan menemani. " Lauren menarik Gabriel keluar dari restaurantnya. Pria itu beruntung masih sempat mengganti pakaian koki nya dengan kemeja.


Sementara Lia berharap cemas, Jason tidak akan bersikap berlebihan bukan, jika menyadari dia pulang larut malam dan berada di karaoke dengan seorang pria. Toh, bukan dia juga yang mengajak Gabriel.


Lia memeriksa handphonenya. Terrakhir kali dia mengirim pesan saat mereka masih di butik Emely. Tapi, Jason belum membalasnya juga. Pasti saat ini ketiga pria itu sedang sangat sibuk.


...*****...


Sementara itu di Penthouse Jason. Tampak kesibukan terlihat dimana Daniel berkutat dibalik layar laptop. Begitu juga dengan Erick. Dengan mengenakan kacamata anti radiasi, mereka mulai memeriksa setiap data keuangan.


Beberapa data yang sudah diperiksa kemudian di print, untuk mempermudah pengecekan. Sementara mereka bekerja memeriksa data keuangan, Jason sibuk menyocokan dengan laporan akhir pembelian dari setiap departement.


Bukanlah hal yang mudah memeriksa data penyelewengan keuangan, karena para pencuri melakukannya dengan sangat hati-hati. Setiap pembelian memiliki kuitansi. Hampir tidak ditemukan kejanggalan.


Jason memakan pizza terakhir yang masih ada di kotak, dia melihat ke jam di dinding, dan baru menyadari jika sekarang sudah jam sembilan malam. Jason segera menyambar handohone nya dan memeriksa pesan dari Lia.


Pesan terakhir dari Lia adalah pukul satu siang, mengatakan jika dia masih berada di butik Emely. Tidak ada pesan lagi setelahnya. Dengan kesal, Jason mengetik pesan, "dimana kau, kenapa belum pulang? "


Pesan terkirim selama sepuluh menit, tanpa ada jawaban dari Lia. Bahkan lebih buruknya lagi gadis itu tidak membaca pesannya. Jason mulai resah. Dia kemudian menekan tombol bicara.


Selama beberapa saat dia menghubungi, tidak ada tanggapan. Jason mencoba menghubungi lagi dan lagi. Setelah yang kelima kali, dia mendengarkan suara diseberang sana.


"Haloo Lia, dimama kau? " Tanyanya dengan berang. Tidak ada jawaban balik dari Lia, hanya suara musik yang keras.


"Halo Lia, kau disana? " Jason panik.


Tidak ada jawaban.


Pria itu kemudian diam, berusaha mendengarkan musik yang terdengar dari tempat Lia berada.


Tak lama kemudian, musik berhenti dan berganti dengan suara seorang wanita yang memanggil nama seorang pria.


Tangan Jason mengepal, rahang nya mengeras. "Gabriel." Desisnya geram.


Tepat saat itu. Erick dan Daniel sudah mematikan laptop, dan mereka menatap Jason dengan heran. Mengetahui jika pria itu sedang dalam keadaan marah, Erick dan Daniel memilih diam.


"Victor! Katakan dimana mereka berada? " Tanya Jason dengan nada menekan pada supir yang mengantar Lia dan Laurent.


"Hotel Four Seasons Georges V, tuan."


"Apa yang mereka lakukan di hotel itu?" Tanya Jason dengan berang.


"Karaoke, tuan." Lapor Vicktor.


"Apa?! Siapa bersama mereka?!"


"Nona Lia dan Laurent bersama seorang teman wanita dan seorang pria"


Tanpa banyak tanya lagi Pria tampan itu mematikan sambungan telphone, Jason mengambil Jas panjang, dompet dan kunci mobilnya. Erick dan Daniel yang melihat wajah marah Jason mengikuti pria itu, karena khawatir hal buruk terjadi dengam Lia dan laurent. Sesampai nya di Valley, Jasson memberikan kunci mobil pada petugas.


"Kau mau kemana?" Tanya Erick.


"Four seaaons? "


"Mau apa? Kau mau bulan madu dengan Lia disana? " Tanya Erick sambil menahan tawa.


Jason mendelik.


"Lia dan Laurent di hotel itu dengan seorang pria! " Jawab Jason dengan penuh penekanan, mengendalikan emosinya yang hampir meledak.


"Apa?! " Erick berteriak kaget.


Erick tampak sangat kaget dan berang mendengar Laurent juga berada di dalam hotel dengan seorang pria. Mau apa wanita itu disana?!


"Oh My God. Lihat tampang kalian. Biar aku yang menyetir. " Ujar Daniel dengan tenang.


...💖💖💖💖💖...