48 Months Agreement With CEO

48 Months Agreement With CEO
Cintai dan percayai aku.



Jason membawa Lia kembali ke Mansion. Dia merasa jika mansion akan lebih aman bagi Lia. Semua penghuni mansion sangat menyayangi Lia dan tentu saja mereka akan melindungi dan menjaga Lia.


Lia tidak banyak protes. Karena saat Jason membawanya, pria itu masih dalam keadaan agak marah. Jason terbawa emosi, karena ketika dia baru saja pulang dengan segala masalah yang dihadapi di kantor juga dengan ibunya, dia mendapati Daniel berada di depan pintu Penthouse.


Daniel datang mengunjungi Lia di Penthouse dengan tujuan meminta bantuan Lia, agar membujuk Jason membiarkan dirinya membantu masalah kebocoran keuangan di perusahaan. Dan Lia sebagai wanita dengan darah Asia yang dididik oleh norma yang kental, tidak membiarkan Daniel masuk, melainkan mereka berbicara di depan pintu.


Hanya selisih waktu lima menit, Jason datang dengan marah dan mencengkram kemeja Daniel. Matanya tajam menusuk ke mata Daniel. Dia hampir saja menghajar Daniel, jika tidak karena Lia yang mencegahnya.


"Heiiiìiii!!!! Apa yang kau lakukan disini!!" Bentak Jason penuh emosi.


"Jason! Jangan! Lepaskan Daniel!"


Cegah Lia sambil memegangi tangan Jason yang mengepal. Lia kemudian memeluk Jason dari arah belakang. Dia berusaha menenangkan pria tampan itu, agar tidak memukul Daniel. Dengan merasakan hangatnya pelukan Lia, amarah Jason mulai mereda.


Perlahan Jason melepaskan cengkeraman di kemeja Danie. Dengan satu gerakan menekan, Jason mendorong Daniel menjauhi dirinya dan Lia. Daniel terhuyung beberapa langkah kebelakang, namun masih bisa menguasai diri hingga tidak terjatuh.


"Maafkan aku kakak. Aku menemui kakak ipar, hanya karena ingin meminta bantuannya." ujar Daniel dengan rasa bersalah.


Setelah Jason melepaskan cengkeraman tangannya, Daniel bisa bernafas lega dan mulai menyampaikan niatan hatinya. Tapi sayang, Jason bahkan tidak mengubrisnya.


"Oh ya, hanya itu niatanmu?!" Sahut Jason sinis.


Api cemburu dan amarah masih mengobar dalam dada Jason. Di penthouse ini, tidak ada pengawal dan pelayan yang menjaga Lia seperti di mansion. Sikap posesif dan rasa takut Jason muncul lagi ketika melihat Daniel berbincang akrab dengan Lia.


"Jason, sudah lah. Daniel, pergilah. Aku sudah mengerti maksudmu." Ujar Lia tegas. Dia tidak ingin ada keributan lagi untuk masalah yang sepele.


"Maafkan aku kakak." Daniel pergi dengan hati gundah. Segala usaha telah dia lakukan untuk kembali berhubungan baik dengan Jason, tetapi selalu menemui jalan buntu. Daniel berteriak dalam hatinya.


Apakah itu salahku jika lahir dari hasil hubungan terlarang daddy dan mommy?


Aku juga tidak menginginkan terlahir sebagai anak haram!


Jason mengawasi kepergian Daniel dengan amarah. Dan Lia yang mengetahui hal itu, segera mengajak Jason masuk. Di dalam penthouse, Jason menghempaskan diri di sofa sambil menarik Lia kedalam pelukannya. Dia memeluk Lia sangat erat dan menciumi gadis itu dengan liar. Lia merasa kewalahan dengan sikap Jason.


"Jason, hentikan! Kau menyakitiku!"


Lia yang merasa sikap Jason menyakitinya, mendorong tubuh suaminya. Lia kemudian menangkup wajah Jason dan memandang tajam jauh kedalam mata pria dihadapannya, yang memancarkan sorot beban.


"Apa yang terjadi, kenapa kau seperti ini?" Tanya Lia tak mengerti.


Jason masih terdiam. Dia malah mempererat pelukannya pada Lia, hingga gadis itu terbenam di dalam dada nya. Lia merasakan detak jantung Jason yang tak beraturan. Dia membiarkan Jason memeluknya dengan erat, meskipun hal itu sedikit menyakitinya. Tangan Lia perlahan menepuk dada Jason, agar pria itu bisa merasa lebih tenang.


"Apa yang terjadi, kenapa kau seperti ini?" Tanya Lia dengan lembut setelah beberapa saat.


"Aku tidak suka kau berbicara dengan pria lain!" Sahut Jason dengan tegas.


"Tapi dia adikmu. Dan dia kemari karena merindukanmu."


"Huh! Alasan yang sengaja dia buat, untuk memikat dan merebut dirimu." Sahut Jason dengan cemberut.


"Jadi selama ini, itu alasanmu melarangku berbicara dengan pria lain, termasuk dengan pegawai kantor dan bahkan para pelayan?" Tanya Lia setelah bisa mengontrol tawa dan memandang Jason lekat.


Jason mengangguk. Dia masih tidak mengerti dengan sikap Lia.


"Kau pikir aku wanita apaan Jasonn? Disaat dirimu memutuskan untuk menggenggam tanganku dan membawaku masuk ke dalam kehidupanmu, seharusnya kau tau aku wanita seperti apa." Ujar Lia dengan tegas.


"Karena aku tahu, hatimu dipenuhi dengan kelembutan dan kebaikan, maka aku semakin takut kau pergi meninggalakanku." Ujar Jason lirih sambil menyandarkan keningnya di dada Lia.


"Hei anak kecil! Kau pikir aku wanita gampangan yang mudah dibujuk? Kau seharusnya merasakan ketangguhanku." Lia menjewer telinga Jason.


Tentu saja Jason merasakan ketangguhan Lia, memerlukan waktu hampir satu tahun, agar bisa memiliki Lia utuh. Sekarang, Jason bisa merasakan jika dia semakin tergantung dengan Lia, keberadaan Lia bagaikan sebuah extasi yang mempengaruhi seluruh pikiran, sikap dan merajai hatinya.


"Aku bukan anak kecil." sahut Jason.


"Maka jadilah pria dewasa! Cintai dan percayai aku." Tegas Lia.


"Apakah kau tidak senang jika aku cemburu? Aku saja sangat senang melihat dirimu cemburu." Jason masih membantahnya


"Tenti saja aku sangat bahagia melihatmu cemburu, tapi bukan berarti kepercayaanmu hilang sehingga membuatku merasa direndahkan." Tegas Lia lagi, sambil memandang manik mata Jason.


Setiap pasangan tentu harus memiliki cinta. Tapi apalah artinya cinta jika tidak ada kepercayaan. Kepercayaan dan Kesetiaan itu di perlukan dalam setiap hubungan, agar mereka bisa semakin kokoh


"Maafkan aku." ujar Jason ketika menyadari kebenaran dari perkataan Lia. Lia tersenyum lembut memandang Jason. Hatinya merasa bahagia, karena dia yakin Jason benar-benar mencintainya.


"Mengenai Daniel.." Lia ragu melanjutkan kalimatnya.


"Aku tidak membencinya. Tapi, aku tidak akan membiarkan mereka dengan mudah mendapatkan pengampunanku." sahut Jason dengan tegas.


Lia mengalungkan kedua tangannya di leher Jason.


"Baiklah. Tetapi, jika memang keahliannya bisa membantu mu. Kenapa tidak kau manfaatkan saja. Dekat dengan musuh, kau bisa menyelami karakter mereka, bukan?" ujar Lia.


"Ternyata kau gadis licik juga." sahut Jason dengan kagum.


"Jika aku gadis lemah, apakah kau akan jatuh cinta padaku?" tanya Lia sambil menaikan sebelah alisnya.


"Tentu saja tidak." ujar Jason sambil mengecup kening Lia.


"Ayo kita kembali ke mansion." ajak Jason tiba-tiba.


"Tapi kenapa, aku masih suka ditempat ini dan bekerja jadi lebih dekat dari sini." tanya Lia dengan heran. Bukannya perjanjian mereka hari senin sampai kamis akan tetap tinggal di Penthouse


"Ada beberapa hal yang harus aku urus di mansion." sahut Jason cepat.


"Baiklah."


Setelah Lia mengambil tas nya, Jason menggandeng tangan istrinya kembali ke Mansion.