
Setelah lebih dari satu tahun tinggal bersama dengan Jason. Dan setelah beberapa bulan mereka sudah menyatu sebagai suami istri. Lia mulai terbiasa terbuka pada Jason. Lia sudah belajar lebih memahami dan kompromi dengan sikap posesif Jason.
Walau bagaimana pun, awal kebersamaan mereka bukan dari permusuhan. Jason selalu hadir sebagai teman dan penolong bagi Lia. Awal kebersamaan mereka menjadikan Lia lebih mudah terbuka dan mengakui perasaannya pada Jason. Apalagi setelah Jason terlebih dahulu mengakui perasaanya dengan amat menyentuh perasaan Lia.
Saat ini mereka berdua berada di dalam bath up. Lia duduk di belakang Jason yang bersandar pada nya. Gadis itu menggosok dada Jason dengan perlahan, sedangkan Jason hanya diam dalam lamunan. Itu bukan Jason yang biasanya selalu menggoda Lia. Jason saat ini sedang tenggelam dalam lamunan, yang bisa Lia tebak kearah mana.
"Ceritakan padaku mengenai masa kecilmu." Pinta Lia dengan lembut.
Lia yakin, sikap Jason saat ini terbentuk karena masa kecilnya. Seperti hal nya Lia, dia pun tidak memiliki masa kecil yang indah. Setiap orang memiliki masa lalu, dan belenggu masa lalu bukanlah hal yang mudah untuk di lepaskan.
"Tidak ada yang khusus." Jawab Jason.
"Aku ingin mengenal setiap lekukan kehidupan pria yang memilihku menjadi istrinya." Ujar Lia dengan lembut di telinga Jason.
Jason bisa merasakan hembusan nafas hangat Lia di tengkuknya. Gadis itu berbicara dengan lembut, menghantarkan ketenangan dalam diri Jason. Tidak ada nada menggoda hanya ketulusan.
"Masa kecilku selalu bersama butler Bernard." Ujar Jason lirih.
"Bersama Daniel juga?" Tanya Lia lirih.
Jason menghela nafas.
"Aku mengenal Daniel sejak bayi. Dia adalah anak Camila Lopez, sekretaris yang selalu bersama ayah. Aku dulu tidak pernah tahu ayah Daniel, dan tidak pernah terlintas rasa ingin tahu. Sejak dia berusia dua tahun, Camila sering meninggalkan Daniel bersama ku dan butler Bernard." Cerita Jason dengan lirih.
"Kau menyanyangi mereka?"
"Dulu aku sangat menyukai Camila. Dia cantik dan anggun. Dia selalu berusaha menyelakan waktu untuk bermain atau hanya sekedar mengucapkan selamat malam." Cerita Jason dengan sendu.
"Kalian tinggal bersama?"
"Awalnya dia hanya menitipkan Daniel pada butler Bernard, saat mereka akan ke luar negeri. Tapi lambat laun tanpa aku sadari, mereka sudah menempati rumah itu dan pergi hanya saat mommy datang."
Jason menghentikan kalimatnya untuk sesaat dan mengambil nafas panjang.
"Aku tidak mengerti apa yang terjadi saat itu. Saat mommy datang, aku bermain dengan Laurent. Tapi saat mommy pergi, aku bermain dengan Daniel."
"Laurent?"
"Iya. Dia adalah adik kandung ku. Tiga tahun lebih muda dari ku."
"Kau tidak pernah tinggal bersama ibu mu?" Tanya Lia heran.
Jason masih memiliki keluarga yang lengkap. Tapi bagaimana bisa keluarga mereka tidak pernah tinggal bersama dalam satu atap. Berbeda dengan Lia yang semenjak kecil hampir tidak mengenal ayah dan ibunya. Ayah Lia meninggal saat dirinya berusia empat tahun dan ibunya menikah lagi tanpa memperdulikan keberadaan Lia.
"Aku tinggal dengan momy hingga berusia tujuh. Setelah berusia tujuh, daddy membawaku untuk tinggal di Prancis. Daddy membangun cabang di Prancis dan sejak usia itu aku sering mengikuti daddy dengan urusan bisnisnya."
"Sejak kecil kau sudah berurusan dengan pekerjaan?" Tanya Lia heran.
"Hingga berusia sepuluh aku masih tinggal di Prancis dan bersekolah, meski aku tidak pernah tahu bagaimana rasanya bermain di luar rumah. Dua tahun aku homeschooling dan setelah itu, kemanapun daddy dan Camila pergi, aku selalu bersama mereka. Bersama butler Bernard dan seorang profesor yang mendidikku."
Lia menyandarkan dagunya di bahu Jason. Pria ini semejak kecil tampaknya kesepian, hanya Daniel yang dikenalnya. Tetapi bukankah seharusnya dia merasa bahagia, mengetahui jika dalam darah Daniel mengalir darah yang sama seperti dirinya?
"Temanmu hanya Daniel dan.. Laurent?"
"Erick. Hanya dia yang selalu mengirim pesan kepadaku. Dan hanya dia yang tidak pernah memanfaatkan diriku." Kenang Jason.
"Ah, jadi Erick teman masa kecil mu?" Lia akhirnya paham sedekat apa hubungan suaminya dan Erick. Tampaknya sangat sukar menemukan seorang yang tulus di kalangan mereka. Terlalu banyak trik dan politik.
"Bagaimana kau mengetahui hubungan Camila dan daddy mu?" Kali ini pertanyaan Lia terlalu jauh. Tanpa dia sadari, lia sudah mencongkel luka masa lalu yang tidak pernah sembuh dalam hati Jason. Pria itu diam sesaat. Ada seklebatan ingatan yang kembali muncuk dalam benaknya.
"Maafkan aku, kau tidak harus menjawabnya." Ujar Lia lirih sambil meniti dada Jason dengan jemari tangannya.
Lia kini memahami kenapa Jason begitu terluka mengetahui hubungan mereka. Dia harus melihat hubungan gelap ayahnya dengan mata kepalanya sendiri, dengan wanita yang dia kagumi.
"Apakah mommy mu tahu tentang Camila?" Tanya Lia akhirnya.
Jason mengangguk.
"Aku tidak bisa membayangkan perasaanmu mommy. Dia pasti sangat... terluka." Ujar Lia lirih.
Jason tergelak membuat Lia mengernyitkan dahi nya heran.
"Mommy mengatasi Camila lebih baik dari pada diriku."
Kini justru Lia yang heran.
"Mommy menerima Camila sebagai wanita simpanan dengan syarat, dia harus selalu setia pada daddy dan tidak ada satupun properti Madison, yang bisa jatuh ke tangan mereka." Jawab Jason.
"Sedangkan bagiku, Camila adalah pengkhianat." Sambung Jason dengan lirih.
Ada nada terluka dan kecewa dalam kalimat terakhirnya, ketika mengatakan Camila adalah pengkhianat. Lia merasakan, jika sebenarnya Jason masih menyayangi wanita simpanan ayahnya. Mungkin dia terlampau kecewa, karena harus mengetahui hubungan mereka dengan cara yang memalukan.
Setelah berbicara dengan Lia, pria itu kini bisa lebih merasa releax. Tangan Jason mulai menggosok lembut betis Lia. Meletakan telapak kaki gadis itu di tangannya, seakan mengukur tapak kaki Lia dengan dirinya.
"Jangan harap aku bisa bersikap seperti mommy mu. Jika aku tahu kau berselingkuh, aku tidak akan memaafkanmu. Apalagi jika aku tahu itu terjadi karena kehendakmu, bukan tipuan wanita lain. Aku akan memburu diri mu dan..." nada suara Lia terdengar penuh penegasan.
"Dan apa?" Jason membalikan tubuhnya dan menatap Lia. Lia membalas tatapan Jason dengan tajam pula. Dia ingin mengisyaratkan pada pria itu jika apa yang dia ucapkan bukanlah main-main.
"Mengkebirimu!" Ancam Lia dengan tegas sambil memperagakan gunting dengan kedua jari nya.
"Apa kau tega?" Jason menahan senyuman.
"Jika kau tega mengkhianati ku maka aku akan tega melakukannya." sahut Lia tegas.
"Takuttttt!" Jason tergelak.
"Aku seriusss!" Lia menarik telinga Jason.
"Bagaimana aku bisa mengkhianati wanita yang luar biasa sepertimu. Hanya satu dirimu saja sudah cukup untuk ku seumur hidup." bisik Jasonn lembut. Jemari Jason mulai membelai pipi Lia.
"Dan aku akan selalu disisimu. Selalu menemanimu." Janji Lia dengan sungguh-sungguh.
Jason memajukan wajahnya hendak mencium bibir Lia, sementara satu tangan Jason sudah meremas dada Lia. Tapi Lia menolaknya. Dia mendorong wajah Jason menjauhinya.
"Kenapa?" tanya Jason.
"Ayo kita bersiap." Lia berdiri dan keluar dari bath up dan membilas sisa sabun dari tubuhnya.
"Bersiap kemana?" tanya Jason dengan heran dan mengikuti tindakan Lia
"Kompromi dengan masa lalu." jawab Lia singkat sambil menggeringkan tubuhnya dan keluar dari kamar mandi.
...💖💖💖💖💖💖...
Oh iyaaa... yang aplikasinya belum updated. Jangan Vote dulu ya. Kasihan Poinnya terbuang. Lebih baik keep dulu.
Jika masih tidak bisa update, kalian bisa Chatt author untuk membantu vote kan. Jadi namanya bisa tetap di catat sama Author.
Ini gambaran aplikasi yang sudah updated dan vote bisa masuk :