
Meskipun semua pelayan wanita dan Emely bersenang-senang dengan atraksi di depan mata, tetapi tidak dengan Lia.
Lia sesungguhnya lebih fokus dengan makanan dihadapannya daripada memperhatikan pengawal tersebut. Berbeda dengan Emely dan para pelayan yang sangat menikmati pemandangan tersebut.
Semalam karena jengkel, Lia tidak bernafsu makan. Dan saat ini Lia merasa sangat kelaparan. Lia tidak tertarik, melihat para pengawal yang berolah raga. Karena meski bagaimanapun, Lia merasa mereka hanyalah bawahan Jason.
"Seharusnya kita menyaksikan hiburan ini dengan segelas champagne mimosa." Keluh Emely.
"Kau mau?"
Emely mengangguk penuh harap.
Lia kemudian meminta pada pelayan untuk membuka sebotol champagne dengan seteko orange juice, juga dua gelas champagne. Emely sangat senang sekali. Dia mengajak Lia untuk toss.
"Untuk pertemanan kita. Sebuah takdir yang menyenangkan, kita bisa dipertemukan." Ujar Emely dengan bersemangat.
"Untuk pertemanan kita." Sahut Lia dengan bahagia.
"Kau tahu, aku ingin sekali menyentuh dada mereka, hahhahaha... Tidak usah memandangku seperti itu. Jangan khawatir, meskipun mereka super keren, aku tidak akan melakukan nya pada pengawalmu. Hemmh.. aku jadi pingin punya pacar keren seperti mereka." Gumam Emely.
Lia hanya tertawa kecil mendengar perkataan Emely. Setelah menegak setengah gelas champagne itu, Lia menyandarkan dirinya di kursi. Untuk pertama kalinya dia melihat kegiatan para pengawal. Melihat mereka yang bertelanjang dada, membuat Lia teringat akan Jason.
Lia teringat betapa seringnya Jason memeluk dirinya dengan bertelanjang dada. Mereka pernah berada di jaquzi bersama. Dan dia sering terbangun dalam pelukan dada bidang Jason yang berotot.
Hal itu membuat Lia tiba-tiba merasa, banyak hal yang sudah dia lewatkan, seperti kata Emely, dia selalu melewatkan kesempatan indah untuk menyentuh dada bidang dan berotot milik Jason.
Keinginan itu membuat Lia semakin merindu pada Jason.
Lia menghabiskan segela champagne mimosa ditangannya.
"Emely, tidak kah kau lihat mereka semua tampak mirip?" Gumam Lia.
"Mirip? Ah iya tubuh mereka semua atheletis."
"Bukan. Wajah mereka tampak mirip..."
Emely mengernyitkan kening nya. Dia membuka kacamata hitam yang dia kenakan. Dan Emely mulai memperhatikan para pengawal satu persatu. Mirip? Wajah mereka semua berbeda bagi Emely.
Sedangkan bagi Lia, saat ini ada enam Jason yang sedang berlari mengelilingi halaman depan. Sesekali wajah-wajah itu tampak tersenyum padanya. Dan Lia semakin kacau karena nya.
"Emely, tampaknya pikiranku sedang kacau, aku melihat Jason pada mereka. Ah! Aku pasti sudah tidak waras." Keluh Lia.
"Itu namanya rindu, my dear friend. Kau sedang sangat merindukan pria pujaan hati mu." Sahut Emely ringan.
"Ah, entahlah. Aku akan memejamkan mataku. Melihat mereka membuatku semakin pusing."
Lia memejamkan matanya berusaha untuk tidur. Meskipun demikian hasilnya tidak jauh berbeda. Disaat mata terbuka dia melihat enam Jason sedang berolah raga. Tetapi disaat mata tertutup, dia melihat Jason yang sedang mencumbu dirinya, seperti saat terakhir mereka bertemu.
Dada Lia naik turun mengingat semua itu. Semakin keras usahanya untuk melupakan. Semakin tajam pula bayangan wajah Jason di pelupuk matanya. Jantung lia berdebar kencang, terdengar gemuruh keributan di dalam sana.
Dan Lia hampir yakin jika dirinya bisa menjadi gila menunggu satu minggu. Ini baru hari ketiga, dan dia sudah melihat enam Jason berlari, bagaimana dengan hari ketujuh nantinya? Mungkin dia harus mengunjungi pskiater.
Saat itu Lia yang masih terpejam tidak menyadari jika pintu gerbang terbuka. Sebuah mobil Lamborghini Veneno berwarna emas masuk. Deru mesinnya yang sangat lembut terendam dengan suara yel-yel yang di kumandangkan oleh para pengawal.
Para pengawal yang melihat kedatangan tuan muda mereka, mulai berwajah tegang. Tapi tidak berani berhenti. Sementara Jason yang turun dari mobil dengan pengawal pribadinya, pria berkulit hitam dengan postur tubuh besar itu menjadi heran.
Carlos menghampiri tuan nya dan pengawal pribadi yang bernama Frans.
"Selamat datang tuan." Sambut Carlos.
"Maaf tuan, ini perintah nona." Ujar Carlos dengan serba salah.
Jason menggeram. Dia yakin jika Carlos harus dihukum karena kebodohannya. Dan Frans menangkap sorot mata perintah dari Jason. Carlos hanya dapat memandangq pasrah pada Frans, berharap hukumannya akan diperingan, apalagi ini semua terjadi karena nona muda yang mengancam dan memerintahkan dirinya.
Jason mengedarkan pandangannya dan disana dia melihat Lia sedang berbaring dengan pakaian yang dia anggap sangat sakral. Amarah Jason memuncak. Bukan saja kepada Lia, tetapi kepada semua pengawal.
Jason dengan langkah lebar menghampiri Lia.
Saat itu Emely yang melihat masuknya mobil Jason, mencoba membangunkan Lia.
"Lia... bangun ada yang datang. Lamborghini emas. Hei. Apa itu suamimu?" Ujar Emely sambil mengguncang bahu Lia.
Lia mengerjapkan matanya. Di ujung sana dia melihat sosok seperti Jason tampak berjalan dengan marah kepadanya. Dia yang merasa hal itu adalah halusinasi tertawa kecil. Lia berdiri dari duduknya.
"Aku pasti terlalu lama berjemur dan meminum champagne, hingga melihat Jason datang." Keluh Lia dengan geli.
"Tapi itu bukan halusinasi." Ujar Emely menyakinkan.
Lia mengangkat tangannya dan menutupi kening, mengurangi sinar matahari yang menyilaukan untuk memastikan pandangannya. Dan saat Lia mengangkat tangannya, saat itu pula pakaian Lia ikut terangkat sehingga, perut Lia terlihat lebih banyak.
Emosi Jason seketika memuncak. Dengan gesit dia berlari ke arah Lia, " Liaaaaaaaaa apa yang kau lakukaannnnn!!!!!!"
Lia yang mendengar teriakan Bariton Jason menjadi terkejut dan spontan gadis itu berlari dengan panik. Bukan berlari mendekat kepada Jason, tapi berlari menghindar, menjauhi Jason. Dia tahu jika saat ini Jason pasti marah padanya dan hal itu membuat Lia khawatir, dia yakin Jason akan menyeret dirinya masuk atau kembali menggendong dirinya seperti karung beras.
Jason semakin jengkel melihat Lia berlari kearah pengawal yang masih juga berlari. Pusar Lia semakin terlihat jelas, membuat Jason semakin panik. Saat ini Emely dan para pelayan mendapatkan suguhan drama cinta layaknya Bollywood, kejar-kejaran antara nona dan tuan muda mereka dengan latar belakang pengawal yang bertelanjang dada.
Saat drama itu masih berlangsung, butler Bernard yang baru saja selesai pijat, segera kembali ke Mansion. Perasaannya tidak tenang meninggalkan Lia sendiri di Mansion tanpa Jason. Kekahwatiran Butler Bernard ternyata beralasan. Saat dia tiba, dia sangat terkejut melihat mobil tuan muda sudah ada di halaman dan yang dia saksikan adalah tuan dan nona muda sedang bermain kejar-kejaran.
Jason memutar arah dalam mengejar Lia, membuat gadis itu terkejut melihat jason sudah berada dihadapannya. Lia tidak dapat menghindar lagi. Dia sudah terjebak dengan Jason yang tiba-tiba dihadapannya dan meraih kedua lengannya.
"Dasar kucing bandel!" Geram Jason ketika berhasil menghentikan Lia.
Lia yang sudah berada dalam genggaman Jason, akhirnya hanya bisa pasrah. Nafas Lia masih naik turun tak beraturan dan mata mereka bertemu dengan sejuta kerinduan.
Posisi Jason saat ini sudah siap untuk mengangkat dan meletakan Lia di pundaknya.
"Tidak jangan karung beras lagi. Aku sudah mual!" Protes Lia manja.
Jason menghentikan gerakannya dan menggubah posisi. Dia menggendong Lia dengan posisi mesra, bridal style. Lia mengalungkan tangannya di leher Lia. Dan gadis itu menepuk-nepuk pipi Jason seraya berkata, "ini benar kau kan Jason, bukan Carlos?"
Jason mendengus kesal mendengarnya. Dia mengangkat Lia melalui butler Bernard yang gemetaran. Pandangan menusuk dari Jason menghujam ke jantung butler Bernard. Pria tua yang baru saja selesai pijat, merasa jika otot sendi nya kembali sakit.
Sementara Emely yang menyaksikan adegan romantis itu merasa sangat gembira. Dia sangat senang melihat sahabat barunya begitu dicintai oleh sang suami. Emely terbuai dengan perasaan.
...💖💖💖💖💖💖💖💖...
Gimana Jason gak pusing, melihat pengawalnya yang jagoan bertelanjang dada di depan Lia?
Ini nich visual pengawal Jason, buat cuci mata.
Nah ini Visual Mansion Jason di Paris