48 Months Agreement With CEO

48 Months Agreement With CEO
Mengamati



Jason segera kembali menuju kamar hotel dimana dia menginap. Kamar hotel tersebut berada satu gedung dengan rapat tingkat dunia yang dia ikuti.


Sesampainya di kamar VVIP, Jason melepaskan dan melempar begitu saja pakaian yang dia kenakan hingga hanya tertinggal boxer saja. Jason sengaja memilih kamar exclusive bukan Penthouse. Karena dia enggan berbagi ruangan dengan ayahnya. Pria itu tentu tinggal di ruangan Penthouse dengan para gundiknya.


Meskipun sejak kecil Jason lebih sering tinggal dengan ayahnya dan belajar secara langsung mengenai bisnis dan politik, tapi dia sangat jijik melihat wanita-wanita yang menempel pada pria itu.


Sekali lirik saja, Jason bisa mengetahui wanita yang menempel pada ayahnya adalah wanita murahan, yang hanya menyukai uang. Jason memimpikan cinta sejati seperti di dongeng. Mungkin awalnya terlalu puitis, hingga akhirnya kehidupan pribadi Jason diobarak-abrik oleh seorang kucing liar.


Dengan duduk bersandar pada kepala tempat tidur, Jason membuka laptopnya. Memasukan kata kunci pasword dan membuka saluran cctv yang hanya bisa dilihat oleh dirinya. Saat ini secara live dia melihat jika Lia tidak ada di kamar nya dan juga di kamar mandi. Mungkin gadis ini sedang makan di lantai bawah. Cinta Jason saat ini membawa dirinya menjadi pria yang posesif dan terobsesi pada wanita itu.


Alih-alih mencari Lia di lantai bawah dengan program cctv nya, Jasoj lebih tertarik dengan rekaman yang dia lihat sebelumnya.


Dan ini lah dia. Jason sedikit menegang sebelum memencet tombol play.


Di layar tersebut terlihat saat Lia masuk kedalam kamar, memandang keluar jendela sesaat dengan sendu. Ah... meskipun wajahnya tidak Luar biasa cantik seperti model kelas dunia, tapi kecantikan alaminya begitu memukau bagi Jason.


Rambut Lia berkibar di tiup angin senja, saat Lia lagi-lagi duduk di tepi jendela. Gaun panjang yang dia kenakan melambai-lambai sebagian di terpa angin dan mengikuti arah kakinya bergoyang. Saat itu bagi Jason, Lia bagaikan seorang putri. Ingin rasanya dia memeluk Lia dan mencumbu gadis itu.


Tak lama kemudian Lia turun dari jendela dan menutupnya. Gadis itu lalu beranjang mengambil lilin aromatherapi, menghidupkan beberapa lilin itu di dalam kamar. Dia juga tampak menyetel musik lembut. Dengan perlahan Lia menggelung rambutnya ke atas, memamerkan leher jenjangnya yang putih.


Selanjutnya adalah kejadian luar biasa. Hal yang sangat ingin Jason lihat secara langsung, tetapi tidak pernah mendapatkan izin dari Lia. Gadis itu melepaskan pakaiannya perlahan. Hingga tampak bra berwarna biru muda dengan segitiga yang senada terbuat dari satin.


Glek! Jason menelan ludah dengan kasar.


Bra itu belum terlepas, masih ada bagian yang tersembunyi tapi sudah mampu menyedot perhatian Jason, hingga menekan kursor untuk memperbesar gambar di squishy bulat kembar tersebut.


Jason sudah sering melihat suguhan dada dari wanita-wanita di sekitarnya. Wanita yang berusaha mendekatinya dengan tujuan tertentu. Wanita tanpa rasa malu yang memamerkan aurat tubuh mereka dan bangga karena nya. Jason tidak pernah tertarik dengan ukuran jumbo yang mereka lihat. Karena dia merasa jijik mengetahui seberapa sering mereka di sentuh pria lain. Jason tidak menyukai barang bekas.


Berbeda dengan yang satu ini, jemari nya mengusap dengan lembut layar laptop yang menyuguhkan squishy kenyal lembut itu. Salah satu bagian tubuh Lia yang belum pernah dia sentuh.


Glek! Heeehhh!


Jason menelan ludah lagi sambil mengerang.


Lia perlahan melepaskan bra dan celana dalamnya. OH My God! Terlalu indah untuk hanya di lihat dari balik layar laptop. Lia berjalan dengan sangat gemulai, sedikit mengikuti alunan musik. Mata Jason terbelalak. Dia sampai lupa bernafas.


Tubuh polos itu sempat dia lihat secara langsung hanya dalam hitungan detik. Dan karena hasrat yang terpendam, membuat Jason gila hingga memasang cctv di dalam kamar mereka. Hanya karena rasa yang terpendam. Semakin hari Lia dengan segala kegigihannya membuat Jason semakin terobsesi. Meskipun demikian Cinta pria itu lebih besar daripada obsesinya.


Lia membawa dua lilin aromatherapy ke dalam kamar mandi. Dia meletakan di dekat westafel dan mulai mengisi bath up dengan air hangat juga sabun, hingga busa sabun terbentuk sempurna.


Lia masuk perlahan, berdiri sejenak diatas bath up, membuat Jason semakin memperbesar sosok Lia di layar laptop. Indah dan tak terjamah. Seluruh yang di miliki gadis itu hanya miliknya.


Lia mulai merendam dirinya didalam bath up sambil memainkan busa sabun. Mengangkat kaki dan menggosoknya. Yang paling indah bagi Jason ketika Lia duduk dengan tegak dan menggosok lehernya. Sebagian dada itu menyembul dari busa sabun.


Ah! Rajawali tak bersayap itu sudah siap meluncur bagaikan rudal. Siap menukik tajam dan berlindung di dalam sarang. Tapi, pada akhirnya Jason hanya dapat menggigit Jari dengan fantasy liar nya.


Suara bel, membuyarkan konsentrasi Jason yang sedang asyik mengamati layar laptopnya. Dia enggan memalingkan wajahnya ketika bel itu berbunyi lagi.


Dengan kesal Jason berdiri, memakai jubah tidur membawa rajawali yang sudah ngilu untuk membuka pintu.


"Kenapa kau kemari, mengganggu saja!" Bentak Jason dengan kesal pada Erick yang cengengesan didepan pintu.


"Memangnya kau sibuk apa sampai aku dibilang mengganggu? Apa kau sedang asyik dengan seseorang?" Erick melongok ke dalam rumah.


"Tidak ada siapapun didalam. Katakan apa mau mu!" Ujar Jason tidak sabar.


"Hehehe kau tidak bergabung dengan pesta ayahmu di penthouse?" Tanya Erick dengan senyuman lebar.


"He he tentu saja aku akan bergabung. Kesempatan besar bisa menjamah bintang international," Erick terkekeh mesum.


"Lalu tunggu apalagi? Pergilah!" Ujar Jason tak sabar.


"Iya. Iya. Kasar sekali sih. Sebaiknya kau ikut keatas untuk menangkan burung rajawali mu itu." Ujar Erick mengejek melihat rajawali Jason yang tampak jelas saat pria itu duduk.


"Sial kau." Jason melempar bantal sofa pada Erick.


"Hehhehe, seharusnya kau membawa Lia untuk menemanimu, ayahmu tak akan menyangka jika kau sudah menikahinya. Dan itu rajawali mu bisa bersarang dengan nyaman." Ejek Erick lagi sambil terkekeh.


"Heh! Bersarang apanya..." desah Jason lirih.


"Heh?! Jangan bilang kau belum mendapatkan dirinya setelah sekian bulan? Ckckkckck kau yang bodoh apa dia yang terlalu hebat?" Erick menggeleng tak percaya.


Bagi dirinya mendapatkan wanita tidak lah sulit. Beberapa wanita yang sik jual mahal pun, hanya bertahan seminggu mengacuhkan Erick. Dengan pesonanya cara lembut atau kasar, semua wanita akan selalu kembali merangkak padanya. Bahkan tak jarang dia mendapatkannya secara gratis.


"Keluar kau!" Usir Jason dengan kesal.


"Okey. Okey. Silahkan bersenang-senang dengan... emmmhh laptop?" Erick berjalan kearah laptop, penasaran dengan apa yang dilihat Jason sehingga bagian inti Jason tampak siap meluncur.


Melihat Jason menghampiri laptop nya, segera saja Jason menari kerah baju Erick dari belakang dan menarik pria usil itu keluar dari kamar.


"Aduh duhhh.. sakit tau!" Erick dengan kesal merapikan baju nya yang kusut dan meraba lehernya yang memerah.


"Pergi sana!" Jason bersiap menutup pintu kamar, tetapi kaki Erick menghalangi.


"Tunggu. Ada hal penting yang harus kukatakan."


"Cepat katakan!"


"Besuk kau harus ikut tuan besar ke spanyol." Ujar Erick.


"Apalagi mau nya dia!" Jason merasa kesal, karena seharusnya dia besuk bisa pulang dan bertemu Lia. Rindu ini sudah terlalu menyesakan dada nya.


"Ada masalah pengeboran minyak disana. Jika kau tidak mau, maka..."


"Iya aku tahu." Jason membanting pintu didepan batang hidung Erick dengan kesal.


"Hoiii kau bisa menyusul keatas, untuk menenangkan rajawali mu." Pekik Erick dari depan sambil terkekeh.


...💗🌟💗🌟💗🌟💗🌟💗🌟...


Hallo Lijas loversss...


Jangan lupa ya kumpulkan poin kalian dan vote buat Lijas.


Tanggal 18 yukkkk vote semua poin kalian.


Author pasti selalu menyempatkan diri untuk melihat alkumulasi vote terbanyak dan sewaktu-waktu akan mengirimkan door prise untuk kalian.


So, semangat ya keep poin dan vote Lijas.


Trimakasih.