48 Months Agreement With CEO

48 Months Agreement With CEO
MAnja



Manja. Satu kata untuk pria tegap, kekar, brewokan dengan wajah yang sangat rupawan. Saat ini dia menyembunyikan wajahnya, dalam perut rata sang istri sambil memeluk pinggang wanita cantik itu dengan tangan kiri nya. Jika ditilik dari belakang, tangan kiri itu bukan memeluk, melainkan meremas pakaian bagian belakang.


"Cup. Cup. Sayang ...." ujar Lia lembut sambil mengusap rambut Jason.


"Aku tidak menangis," rajuk Jason manja.


"Iya ... aku tahu. Sayang-sayangku ... semua akan baik-baik saja." Lia tersenyum lebar menahan tawa dibalik kata-kata lembutnya.


"Apa sudah dimulai?"


"Belum. Mau sekarang?"


"Tidak ... tidak ..." Jason makin merapatkan pelukannya.


"Tuan muda, anda terlalu kaku." ucap dr. Prakash.


"Aku tidak mau mendengar suaramu." sahut Jason dengan ketus.


"Eh, tidak boleh bicara kasar didekat baby. Nanti babynya kaget dan takut loh." Lia menyentil perlahan telinga Jason.


"Sorry, baby." ucap Jason lembut. Dia kemudian menciumi perut Lia.


Dr. Prakash? Jangan ditanta lagi. Sementara pria itu mempersiapkan infus vitamin untuk Jason, batinnya dipenuhi dengan pertanyaan yang tidak berani diutarakan.


Sejak kapan tuan muda menikah. Apakah kedua orang tuanya tahu. Dan wanita ini luar biasa, hingga bisa membuat tuan muda bersikap seperti anak kecil. Ini luar biasa sekali. Apakah butler Bernard mau bercerita jika aku tanyain ya. Sebelumnya juga tidak suka disuntik, tetapi tidak pernah semanja itu. Ck ... ck ... benar-benar sudah ketinggalan berita diriku ini.


Lia melirik kearah dokter Prakash yang melamun. Wajah dokter tersebut sangat lucu di mata Lia. Wajah yang tampak sabar dan murah senyum itu, bergerak-gerak tak beraturan. Kadang mengerut kadang tersenyum. Ingin sekali Lia tertawa, jika tidak sedang berusaha menenangkan suami tampannya.


Merasa diperhatikan oleh Lia, dr. Prakasah tersenyum malu.


"Nona ...."


"Panggil dia nyonya! Dia istriku dan sedang mengandunh anakku!" Sahut Jason dengan cepat.


"Eh iya, nyonya."


"Apa yang kau lakukan? Menyiapkan infus saja lama sekali. Apa kau sedang memperhatikan istriku?!" Nada tidak suka tampak jelas di perkataan Jason.


"Mana saya berani, tuan muda." sahut dr.Prakash terkekeh. Dokter satu ini ternyata tahan bantung juga. Dia menanggapi perkataan ketus Jason dengan santai. Tidak ada nada terpaksa.


"Saya mulai sekarang ya,"


"Banyak cerewet! Aow! Si Alan kau! Breng sek dirimu!" Jason berteriak marah, ketika tanpa aba-aba lagi, dr. Prakash menusuk dengan keras jarum suntik di nadi Jason. Dan dia menyungging senyum lebar ketika Jason berteriak marah.


"Sakit?" tanya Lia lembut.


"Enggak!" Jawab Jason manja sambil merapatkan giginya hingga bergemelatukan.


Lia menyeringai lebar.


"Sakit mana dengan ini?" dia mencubit lengan Jason.


"Engak ... enggak sakit." sahut Jason. Nada suaranya masih saja sombong, padahal sikapnya kini bagikan anak kecil yang meringkuk ketakutan dalam pelukan sang ibu.


"Ooo ... hebat. Lelaki ku harus tangguh dong." Seringai nakal tampak di wajah Lia.


Dokter Prakash tersenyum lebar. Dia setengah matu menahan tawa yang hendak meledak. Untuk itu dia harus segera keluar dari kamar utama ini, sebelum semua tawanya tumpah dan berakibat fatal untuk kelangsungan hidupnya.


"Saya keluar dulu," ujar dr. Prakash terburu-buru.


Tanpa menunggu jawaban, dokter gembul itu segera keluar dari kamar utama. Belum juga pintu kamar utama tertutup rapat, tawanya sudah meledak dengan keras. Buru-buru dr. Prakash menutup pintu.


"PRAKASSSHHH AKU MENDENGARMU!" teriak Jason kesal.


"Eh, dibilang tidak boleh teriak-teriak di dekat baby." Ujar Lia kesal sambil menjewer telinga Jason.


"Ayo ... berbaring. Kan jarumnya sudah tidak ada."


"Tapi ...."


"Iya, aku tetap disini, memeluk mu, bayi besarku," ujar Lia dalam senyuman.


Jason menurut dia merebahkan tubuhnya. Matanya sempat tertuju pada infus yang bergelantungan, turun menatap selang infus. Menatap tetesan cairan berwarna kekuningan yang mengalir turun. Dan matanya berhenti pada jarum yang menancap ditangan dan di tutupo plaster.


"Sayang ...."


"Hemm ...."


"Kenapa kau takut dengan jarum suntik?"


"Aku tidak takut!"


"Iya tidak takut, tapi tidak suka ya ...?"


Jason mengangguk.


"Boleh tau kenapa?" Tanyanya Lia sambil memainkan rambut jason dengan lembut.


Jason mendesah.


Lia menggeser tubuhnya agar sejajar dengan Jason. Dia menatap wajah suaminya. Sungguh! Lia penasaran.


"Haruskah?"


Lia mengangguk.


"Jangan tertawakan aku."


Lia menutup rapat bibirnya. Dia menggunakan kode jari-jemari yang mengunci bibir dengan rapat. Pertanda jika dirinya berjanji. Dan mata Lia menyorotkan janji. Jason menghela nafas dan dia akan menceritakan rahasia terbesar dalam hidupnya, alasan kenapa dirinya takut dengan jarum suntik.


"Waktu masih kecil, aku pernah jatuh sakit. Tidak ada mommy dan daddy bersamaku. Hanya butler Bernard." Jason menghela nafas lagi. Masa kecil Jason dan Lia sebenarnya tidak jauh berbeda. Lia tidak mengenal kedua orang tua nya, sedangkan Jason memiliki orang tua tapi tidak pernah bersama mereka. Sama-sama kesepian dan dibesarkan oleh sosok lain.


"Butler Bernard membawaku ke rumah sakit. Benar aku dirawat di uang VIP. Tetapi saat itu, suster senior di tempat tersebut, mengalami masalah. Di berkali-kali menusuk tanganku, untuk mengambil sampel darah dan tidak berhasil. Aku menangis kesakitan, tapi dia tidak berhenti menusuk nadi ku. Hingga butler Bernard marah dan menyeret dia keluar. Sementara kedua tanganku sudah membiru." Cerita Jason panjang lebar.


"Dan sampai sekarang aku tidak suka jika mereka mencoba mengambil sample darah ataupun memberiku cairan infus."


Lia menyimak penjelasan Jason dengan serius. Dia tidak mencoba menyela. Gadis itu menepati janjinya untuk tidak mengolok-olok Jason.


"Ada apa dengan suster itu, dia kan ditempatkan di ruang vip, tentu suster senior kan?"


"Iya. Ternyata suster tersebut sering menggunakan obat penenang, hingga kecanduan." Jason menjelaskan.


"Ah .... lalu dia dipecat?"


"Tentu saja. Kenapa kau penasaran dengam suster tersebut? Bukan menanyakan keadaanku saat itu." dengan kesal Jason.


"Bukan begitu ... jika dia masih bekerja, akan aku hampiri dan aku buat percobaan di tangannya. Aku yang akan membuat dia merasakan rasa sakitmu." Lia terkekeh.


"Beruntung sekali dirinya tidak bertemu denganmu."


"Apa kau masih mual?"


Jason menggeleng.


"Vitamin ini bekerja juga ya," ujar Lia.


"Bukan vitaminnya sayang memang kalau siang rasa mual akan berkurang dengan sendirinya."


"Kok kamu tahu? Kalau begitu, kenapa dirimu mau diinfus vitamin?" Tanya Lia denga heran.


"Karena aku ingin melihat sebesar mana kau bisa menenangkan rasa takut dalam diriku." Jawab Jason lembut.


"Yaeelahhhh abangggg, kau benar-benar menggemaskan." Lia dengan kesal menarik telinga Jason. Benar-benar dia pikir Jason sangat lemas akibat muntah-muntah.


"Aow! Sakit!"


"Dilarang manja!"


"Biarin!"


"Ih ... aku yang hamil, kok kamu yang manja. Jadinya kamu dong yang hamil." Sahut Lia gemas.


Tepat saat Lia mengatakan hal itu, butler Bernard sudah tiba dan berada di depan pintu kamar Jason yang tidak tertutup rapat.


"Apa? Tuan Muda hamil?!" teriaknya tiba-tiba dengan IQ rendah.