
"LIAAAA!"
BRAKKK!!! Pintu ruang karaoke terbuka dengan kasar. Lia yang sedang duduk tenang, langsung meloncat kaget. Gadis itu kini berjongkok di ujung sofa sambil menautkan kedua tangannya. Matanya terpaku, melotot, menatap pria yang baru saja membuka pintu dengan kasar.
Jason berdiri menjulang tinggi menghalangi pintu. Jas panjang yang dia kenakan tampak keren bergantung di tubuhnya. Matanya menatap Lia lurus tak berkedip, sementara raut wajahnya tampak dingin, menyeramkan.
Jantung Lia berdebar kencang. Benaknya bertanya-tanya bagaimana bisa dia tahu jika dirinya berada di dalam ruangan ini. Apakah dia akan marah dan membondong dirinya lagi bagai karung beras? Lia menggosok kedua lengannya yang tiba-tiba terasa dingin.
Sosok pria tampan yang sedang menatapnya tajam itu, tampak begitu menakutkann, sekaligus super kerennnn. Lia berasa masuk dalam adegan roman di dalam komik-komik yang pernah dia baca. Si tampan yang marah dan menculik si gadis polos.
Apalagi di belakang Jason berdiri dengan gagah dua orang pria tampan lainnya. Wajah mereka juga sama-sama datar. Hanya wajah Daniel yang tersenyum. Sementara Erick mengetatkan rahangnya, menatap lurus ke arah lain.
Saat ini Lia masih duduk meringkuk kaget. Sementara Laurent dan Emely sedang bernyanyi riang dengan Gabriel sambil berdiri di depan layar telivisi jumbo. Mereka saling berpelukan dengan Gabriel di tengah.
Melihat arah pandang Erick, Lia tahu jika pria itu sedang menatap Laurent.
Jason dengan gagahnya berjalan mendekati Lia, tanpa merubah expresi wajah. Lia masih dengan berjongkok menggelengkan kepalanya, seakan-akan hendak mengatakan, aku tidak berbuat apa-apa, aku tidak bersalah. Membuat Lia merasa heran, entah kenapa dia harus merasa takut dan kagum sekaligus melihat Jason.
Jason berdiri dihadapan Lia, menjulang tinggi hingga bayangannya menutupi gadia itu. Lia menengadahkan wajahnya menatap Jason, dengan tersenyum kecil menahan malu dan rasa bersalah yang bercampur jadi satu. Dia diam seribu bahasa membalas tatapan Jason yang menusuk saat ini.
"Kalau duduk yang benar! Kau mau pamer paha mu?!" bentak Jason tiba-tiba.
Lia langsung terkejut, dia menatap kakinya. Lia tidak sadar jika rok berombak selutut yang dia kenakan, sudah turun bebas mengukuti arah kaki nya yang tertekuk. Lia buru-buru menurunkan kakinya dan membenahi rok. Beruntung sekali Erick dan Daniel masih berdiri di depan pintu sambil menatap performa Laurent, Gabriel dan Emely.
Jason melepaskan jas panjang yang dia kenakan dan menutupi tubuh Lia. Pria itu kemudian duduk di samping istrinya dan memeluk gadis yang sudah membuat dia panik. Jason merasa lega, karena Lia tidak bertindak se ekstrim bayangannya.
"Hey! Tutup pintu kalau mau masuk! Kalau gak mau masuk ya keluar sana!"
Teriak Laurent dengan tegas melalui microphone yang dia pegang. Segera saja Daniel mendorong Erick yang masih mematung di hadapannya. Pria itu bergeser beberapa langkah, kemudian mengikuti arah duduk Daniel.
"Bagaimana kau tau aku disini?" bisik Lia pada Jason.
"Kenapa? Kau ingin menyembunyikannya dariku?" tanya balik Jason dengan dingin.
"Bukan begitu... Ah sudahlah." Lia yakin, Jason pasti tahu dari si supir.
Jason menatap Lia dengan tajam.
"Apa kau tadi bertingkah seperti mereka?" ujarnya menyelidik.
Lia menggeleng. Jason menaikan sebelah alisnya tidak percaya.
"Benerannn.. aku dari tadi cuma duduk saja. Suer!" Dia menaikan telunjuk jari dan jari tengahnya.
"Apaan sih ini?!" Jason menepis jari Lia.
Sedari tadi sementara ketiga temannya asyik bernyanyi, Lia hanyut dalam pikiran. Perkataan Laurent masih terngiang terus di dalam benaknya. Itu sebabnya sedari tadi Lia berkutat mencari informasi mengenai Hotel dan Butik tersebut melalui ponselnya. Hp Lia dalam keadaan Silent dan karena keseriusannya meneliti keberadaan Oktavia corp, membuat dia tidak menyadari telphone masuk dari Jason.
Dan benar adanya. Apa yang dikatakan oleh Laurent ternyata bukan lelucon. Dia sebagai faunder juga pemilik saham terbesar Octavia corp dengan Jason sebagai co faunder. Hotel dan Butik itu diambil alih dari hotel-hotel yang diambang krisis, kemudian di renovasi menjadi miliknya.
Hampir satu tahun sudah bisnis itu berjalan. Berati selama Lia duduk diam dan menggerutu di mansion, Jason bekerja keras menyiapkan semua ini. Bahkan usia berdirinya perusahaan tersebut lebih lama dari pada usia malam pertama mereka.
Lia tidak berusaha menanyakan hal itu pada Jason. Dia ingin menyembunyikannya kenyataan yang dia ketahui. Lia ingin tahu sejauh mana suami nya satu ini akan merahasiakan hal itu.
Lia menoleh kearah Erick dan Daniel. Gadis itu tertawa kecil melihat raut wajah Erick yang tegang. Erick yang selalu penuh tawa juga suka menggoda wanita, kenapa juga berwajah seperti orang habis disiram air comberan.
"Kenapa dia?" tunjuk Lia kearah Erick.
"Kau pikir?" jawab Jason.
"Wkwkkwkw... lucu." Lia terkekeh geli.
Laurent tidak menghiraukan Erick. Dia masih saja asyik bernyanyi duet dengan Gabriel. Mereka menyanyikan lagu romans sambil saling menautkan tangan dan bertatapan. Saat lagu berakhir Laurent dan Gabriel berpelukan, dan kening mereka bersentuhan.
Detik itu juga, Erick meremas kedua tangannya dengan kuat. Terlihat jelas jika dia cemburu, tapi Erick tidak berani melarang Laurent. Erick hanya diam saja sambil menahan emosi yang membakar di dalam dirinya. Lia yakin, jika saja itu Jason, dia pasti sudah ditarik dan dipanggul bagaikan karung beras, kemudian si Gabriel akan mendapatkan tinju nya Mike Tyson.
Sikap Erick menunjukan jika dia masih memendam perasaan pada Laurent. Erick tidak berani menunjukan perasaannya. Masih ada sesuatu hal yang menghalangi dirinya untuk bersikap terbuka pada Laurent.
"Lia, giliranmu." Laurent melemparkan mic ke arah Lia yang ditangkap oleh Jason.
"Sudah selesai, ayo keluar kita makan." ajak Jason.
"Gak mau ah. Aku masih kenyang habis makan masakan pria tampan yang jago masak, ya kan kakak ipar?"
Lia gelagapan. Jika bilang iya, itu arti nya mengakui jika Gabriel tampan, meskipun iya, tapi tangan suaminya sudah memeluk pinggangnya dengan kencang akan semakin kencang. Pria ini paling tidak bisa jika Lia memuji pria lain.
"Ayo kita keluar saja. Kita cari suasana lain yang lebih santai. Kalau kau tidak lapar, kita bisa memakan cake, bagaimana.. kau setuju bukan Emely?" tanya Lia meminta dukungan Emely. Emely mengangguk mengiyakan.
"Terserah apa kata Gabriel dah." ujar Laurent sambil melingkarkan tangannya ke lengan Gabriel.
"Ayo kita keluar sekarang!" suara keras dan tegas Erick mengagetkan mereka. Pria itu kemudian melangkah keluar setelah melirik tajam pada Laurent yang tidak menghiraukan dirinya. Erick memimpin jalan menuju ke Bar dan Lounge, area yang lebih tenang.
...💖💖💖💖💖...
Sesuai janji sepuluh orang yang tertera di ranking umum pemberi hadiah terbanyak, chatt author ya. Alamat lengkap dan no telphone kalian.
Terimakasih atas dukungannya