
"Dasar kau, Gadis Materialistis! Tidak aku sangka dirimu itu ternyata begitu hina!"
Perkataan kasar itu ditujukan oleh seorang pria tampan bagaikan dewa Yunani, kepada seorang gadis cantik dengan segala kesederhanaannya. Amarah di wajah elok tersebut tidak melunturkan sedikit pun pesona kerupawanan yang dimilikinya. Rahang yang mengatup keras itu, semakin menunjukkan garis-garis tegas wajah yang penuh dengan aura memikat.
"Aku tidak …." Ucapan lemah pembelaan diri gadis itu dengan cepat terpotong oleh amukan titisan Dewa Yunani itu.
"Tidak materialistis? Lalu apa maksud semua ini? Kau pasti sangat bahagia menerima perjodohan bodoh ini!" tuduhan kembali dilontarkannya dengan kasar.
Urat-urat di wajah pria itu menonjol, rahangnya mengeras dengan gigi bergemeletuk. Kedua alis tebal itu menyatu membentuk garis datar, sedangkan netra birunya menatap tajam ke jalanan yang berkabut. Kedua tangan yang memegang kemudi tampak memutih karena genggaman kuat yang dilakukannya.
“Siapa namamu tadi? Ah! Untuk apa pula aku menanyakannya,” geram si tampan dengan kesal.
“Felicia.”
“Puih! Nama asli, bukan nama palsu!” Pria itu mendengus kesal.
“Itu nama asliku, Felicia Davis, Tuan Muda Georges Foster Young. Pernikahan ini pun bukan kehendakku," sahut Felicia perlahan.
Ucapan Felicia membuat Georges tertawa sarkas. Pria itu terus menerus tertawa seakan permasalahan dan kemarahan yang baru saja dia lemparkan pada gadis di sampingnya, terkikis karena ucapan polos gadis sederhana dengan penampilan kampungan.
"Jika kau memang terpaksa menerima perjodohan ini, seharusnya kau pergi jauh-jauh sana. Kabur! Jangan muncul dihadapanku lagi. Tidak seperti ini, membuatku harus mengantarkan dirimu mencoba gaun pengantin! Dasar, Perempuan Genit, Mata Duitan! Kamu dan keluargamu pasti sudah memanfaatkan kebaikan daddy-ku agar bisa hidup dengan nyaman, ya!" Ucapan sinis itu sanggup membuat si gadis cantik bernama Felicia merasa tersinggung.
Pria berusia lima tahun lebih tua darinya itu tersenyum sinis, melirik sepintas dengan pandangan penuh penghinaan kepadanya. Raut wajah itu begitu menusuk perasaan Felicia. Sikap dewa rupawan itu membuat dirinya merasa bagaikan seorang wanita murahan. Gadis berusia sembilan belas tahun itu menepuk dadanya, menarik napas dan menghembuskannya perlahan.
"Atau kau benar-benar menginginkan uang? Aku bisa memberikannya padamu dan hentikan pernikahan bodoh ini! Aku sudah memiliki kekasih, calon pengantinku kelak. Wanita berkelas yang cantik dan sangat anggun, bukan gadis sepertimu. Aku tidak sudi menikah dengan gadis kecil, dekil, dari kelas minoritas, apalagi mata duitan seperti dirimu."
Felicia terpana mendengar cacian yang dilontarkan oleh pria yang dia kenal bernama Georges. Dewa Yunani yang selalu dia kagumi itu berubah mengerikan bagaikan monster. Bukan hanya raut wajah yang berubah, tetapi sikap dan ucapannya sangat bertolak belakang dengan pemuda yang dulu selalu dia agungkan –meskipun sebelumnya mereka tidak pernah berbincang.
"Berapa yang kau mau? seribu dolar? Lima ribu dolar, sepuluh ribu dolar?" Georges kembali tersenyum menyepelekan. "Bahkan sepuluh ribu dolar pun terlalu tinggi untuk wanita sepertimu, jelek, dekil dan bau."
Mata biru Felicia terbelalak. Dia tidak menyangka Georges menyamakan dirinya dengan wanita murahan yang menjajakan diri. Memberi harga pada seorang wanita itu merupakan hal yang sangat menjatuhkan harga diri dan Felicia tidak terima diperlakukan seperti itu. Amarah mulai mendesak keluar, memaksa bibirnya untuk meluncurkan kata-kata yang tersangkut dalam tenggorokan.
Akan tetapi, pikiran lain terlintas di benaknya. Melihat kabut di jalanan dan mendungnya wajah Georges, Felicia teringat dengan cerita legenda masyarakat yang semalam dia dengar. Desiran angin dingin membuat bulu kuduknya meremang. Gadis itu menatap Georges dengan pandangan penuh selidik.
"Ini benar dirimu, Tuan Muda, Georges?" Felicia menggunakan telunjuknya untuk menoel bahu Georges.
"Jangan sentuh aku, Gadis Genit!" Georges menghentakkan bahunya, jijik dengan sentuhan gadis di sisinya.
Prinsip Georges, anak pemilik perkebunan terbesar itu adalah hanya gadis cantik dan anggun, juga berkelas yang boleh menyentuhnya. Tubuh kekar dengan gurat otot, yang bahkan terlihat jelas di balik kemeja yang dia kenakan itu, terlalu berkelas untuk tersentuh gadis minoritas.
"Aku sudah mandi dengan bersih, tidak ada kuman di tubuhku." Bibir tipisnya mengerucut kesal, Felicia merasa tersinggung dengan sikap Georges.
Meskipun Felicia hanyalah gadis yang hidup di daerah pertanian –dengan kegiatan keseharian membantu bekerja bergelut dengan lumpur dan debu, tetapi dia bukanlah gadis yang tidak tahu cara merawat diri dan menjaga kebersihan. Ibunya adalah kepala pelayan yang bertanggung jawab terhadap kebersihan dan kemakmuran rumah Georges.
"Kalau Anda tidak menyetujui pernikahan ini, kenapa bukan Tuan muda saja yang pergi? Kabur sana. Kenapa Anda justru menuduhku dan memaksa diriku untuk pergi meninggalkan keluargaku," sanggah Felicia tegas.
Felicia sudah tidak tahan dengan semua penghinaan yang dilontarkan Georges padanya. Setiap perkataan pria itu begitu menyudutkan Felicia, membuat harga diri gadis itu terkoyak. Felicia tidak pernah menginginkan perjodohan ini, meskipun sesungguhnya dia memiliki perasaan khusus pada pria tampan di sampingnya.
"Kau!" Georges memandang wanita mungil di sampingnya dengan beringas. Tangan pria itu mengepal, menggenggam kemudi di tangannya dengan keras, hal itu terlihat jelas dari buku-buku jarinya yang memutih. Amarah lelaki itu sudah memuncak mendengar celoteh gadis kampung di sisinya.
Andaikan saja dia tidak sedang mengendarai mobil, saat ini juga Georges memastikan jika dia akan membungkam bibir tipis itu dengan lakban. Ide gila itu membuat Georges bersemangat. Dia hanya perlu menyingkirkan Felicia agar gadis itu tidak akan pernah mengganggu hidupnya lagi.
Georges menghentikan kendaraannya di pinggiran jalanan sepi, di mana kanan dan kirinya terhampar ladang gandum. Cuaca dingin yang berkabut tersebut tidak terlihat satupun pekerja, tampaknya hujan sebentar lagi akan turun. Pria itu berjalan cepat, memutar dan membuka pintu di sisi Felicia.
"Mau apa kau?" Tatapan waspada Felicia membuat Georges tersenyum sinis.
"Bicaramu keras seakan jagoan, tetapi kau bahkan tidak mempunyai nyali," sindir Georges.
Pria itu membungkukkan tubuhnya ke arah tubuh Felicia dan melepaskan sabuk pengaman. Georges kemudian dengan tangan besarnya menarik tubuh mungil Felicia, membuat gadis itu keluar dari dalam mobil. Hentakan kasar laki-laki itu menyakiti tangan Felicia.
"Aow! Sakit!" Felicia mengaduh ketika tangan Georges menghentakkan lengannya dengan kasar. "Apa kau tidak malu menyakiti seorang wanita?"
"Kau wanita yang tidak pantas untuk di kasihani," sahut Georges sinis.
Pria itu kemudian berjalan memutar dan segera masuk ke dalam mobilnya. Dia mengunci mobil tersebut dari dalam, memasang sabuk pengaman dan bersiap meninggalkan Felicia sendirian di jalanan yang sepi.
"Hey! Buka pintu!" Felicia menggedor jendela kaca mobil tersebut dengan kesal.
Dari dalam mobil Georges hanya tersenyum tipis. Dia tidak memperdulikan wajah memelas gadis itu. Pria itu menghidupkan mobil dan mulai mengendarainya, meninggalkan Felicia sendiri.
Dari kaca spion, Georges bisa melihat jika Felicia telah melemparkan sepatunya sebanyak dua kali ke arah badan mobil. Dia hanya mendengus kesal berusaha untuk tidak peduli, toh seberapa besar goresan yang bisa ditimbulkan oleh sepasang sepatu kets usang.
“Dasar, Gadis Kampungan! Sepatu ketsmu itu tidak akan bisa menggores mobilku. Rasakan hukumanmu! Sekarang kamu tahu akibat menentangku.” Georges tertawa penuh kemenangan.
Rasa penasaran, membuat pria itu tak dapat menahan diri untuk melihat ke arah kaca spion. Di kejauhan dia melihat Felicia duduk berjongkok di jalanan dengan wajah menunduk. Hati laki-laki itu menjadi tidak tega saat melihat kedua tangan kecil itu merangkul kaki kurusnya.
"Menyebalkan sekali!" Georges menggerutu kesal.
Pria itu dengan berat hati terpaksa mengubah gigi mobil dan memundurkan kendaraannya dengan cepat. Dia tidak mengurangi laju mobil tersebut hingga tepat di depan Felicia –yang meloncat terkejut. Georges penuh rasa kesal memencet klaksonnya berulang kali agar gadis itu bergeser.
"Ayo, cepat masuk sebelum aku berubah pikiran!" Pria itu membuka jendela dan menjulurkan kepalanya.
Gadis yang dia panggil hanya diam saja. Posisinya masih dalam keadaan berdiri tegak, tak bergeming. Keadaan gadis itu membuat Georges menjadi semakin berang dibuatnya, apalagi cuaca semakin mendung. Penuh kekesalan hati, Pria rupawan itu membuka pintu mobil dan menghampiri Felicia dengan kesal.
"Sudah tahu rasanya kan kalau ditelantarkan sendirian di sini? Lain kali jangan bawel dan turuti perintahku! Untung aku masih berbaik hati menjemputmu, jika tidak kau akan …," belum selesai Georges menyelesaikan ocehannya, Felicia berlari ke arah mobil.
"Hey, Gadis Tengik! Buka pintu mobilnya!" Georges menggedor pintu mobil yang telah di kunci dari dalam oleh Felicia.
Novel baru author yaa. yukkk serbu.