48 Months Agreement With CEO

48 Months Agreement With CEO
Ingin sendiri



Lia terbangun ketika hari sudah senja. Matahari sudah bergulir ke ufuk barat dan bias-bias sinar keemasannya menyeruak masuk melalui jendela.


Lia merasakan semilir angin dingin menerpa wajahnya. Dia membuka matanya perlahan dan merasa silau dengan bias sinar matari yang hampir tenggelam. Lia membalikan badannya dan dia menatap kosong di sisi tempat tidur.


Lia mengulurkan tangan dan membelai sisi tempat tidur yang biasa di tempati Jason. Sisi itu kosong, dingin dan Lia merasa kesepian. Dia merasa sendiri dan terbuang.


Air mata kembali menitik perlahan. Hatinya masih gundah, meskipun emosi Lia sudah bisa dia tahan. Lia membelai bantal yang biasa dipakai oleh Jason. Dia menemukan sehelai rambut rontok disana, mengambil helaian tersebut dan meletakan di tangan, mengusap helaian rambut itu dan menciumnya.


Lia mengambil bantal yang biasa di pakai Jason, menghirup aromanya kuat-kuat dengan penuh kerinduan. Hatinya bergetar, jejak aroma disana begitu membuatnya terbuai. Lia merindukan pemilik aroma tersebut.


"Kenapa aku harus seperti ini? Kenapa aku harus bergantung dengan dirinya? Kenapa aku harus menginginkan dirinya?"


Desah Lia dalam hati.


Sakitnya perasaan ini melebihi sakit ketika Lia merelakan Briant menikah dengan Grisella. Saat itu dia mengakui telah kalah bersaing dengan Grisella. Grisella cantik yang bisa merebut hati Diana dan Briant sekaligus.


Sakitnya hati ini ketika melihat Jason membiarkan Natali menggenggam tangan pria itu, lebih menghujam ke relung hati. Seakan mendengarkan petir di tengah terik matahari. Seakan puluhan panah menghujam kedalam relung hatinya. Perih. Rasa sakit yang baru pertama kali dia rasakan.


*Apakah aku cemburu?


Tapi kenapa aku harus cemburu?


Apa hak ku untuk cemburu?


Siapa aku sehingga berhak untuk merasakan cemburu?


Aku bahkan tidak tahu bagaimana perasaanku pada Jason.


Dan aku pun tidak mengerti sikap pria itu padaku*.


*Apa yang aku harapkan dari dirinya?


Dia menikahi ku dan memaksa memiliki anak dariku untuk wanita itu kah?


Apakah wanita itu mandul?


Jika semua yang aku pikirkan salah,


lalu kenapa dia mengurung dan menyembunyikanku disini.


Apakah aku begitu memalukan bagi dirinya*?


Sampai kapan dia akan menurungku?


Apakah ketika aku memberikan anak untuk dia dan kekasihnya, maka aku akan di bebaskan dan terbuang?


Lia menarik nafas berat sambil menghirup aroma bantal Jason dalam-dalam. Hati dan pikirannya sangat resah. Saat itu dia mendengar pintu kamar di buka. Buru-buru Lia memejamkan mata lagi dan menutupi wajahnya dengan bantal.


Samar-samar Lia mendengar langkah kaki mendekat. Sosok tubuh manaiki tempat tidur dan terasa semakin dekat dengan dirinya. Dada Lia berdesir, aroma tubuh itu menyeruak masuk perlahan ke dalam rongga pernafasannya. Membuat dirinya menahan diri untuk menghirup langsung aroma di tubuh pria itu.


Bantal yang menutupi wajahnya telah disingkirkan oleh Jason. Pria itu berbaring di sisi Lia dan menatap nya dengan lembut. Dia meletakan tangannya, membelai rambut yang berjatuhan menutupi kening dan wajah Lia.


Begitu hangat, begitu lembut dan begitu... begitu.. ah... begitu Liaa rindukan.


Lia merasakan kecupan lembut di keningnya. Begitu hangat. Kehangatan itu menyeruak masuk kedalam hati Lia. Gadis itu menahan air matanya. Dia belum siap menatap apalagi berbicara dengan Jason.


Jason beranjak dari tempat tidur. Pria itu menuju ke kamar mandi. Mengambil handuk kecil dan membasahinya dengan air hangat. Kemudian Jason kembali mendekati Lia. Dia dengan penuh kelembutan mengompres mata Lia. Tampaknya Jason tidak menyukai mata Lia yang sembab dan bengkak.


Perlahan air mata merembes keluar saat Lia menerima perlakuan hangat dari Jason. Air mata itu menyatu kedalam handuk hangat tersebut. Hati Lia berteriak dengan pilu,


jangan terlalu baik padaku Jason. Terlalu menyakitkan disaat kau mencampakanku.


Beberapa saat kemudian Jason turun dari tempat tidur dan menutup jendela, kemudian dia keluar dari kamar. Saat itu lah Lia membuka matanya dan menatap punggung Jason. Ingin sekali dirinya memeluk punggung kekar itu dan menyandarkan wajahnya disana.


*Ah, kenapa dulu aku tidak pernah memeluknya.


Kenapa baru saat ini ketika rasa sakit ini


menghujam begitu keras, aku begitu ingin


memeluk dan menciumnya.


Kenapa baru


sekarang aku menginginkan dirinya disaat aku


Lia beranjak dari tempat tidur dan beralih duduk di sofa. Dia menekuk kedua lutut, memeluknya begitu erat. Pandangan mata Lia kosong dan menerawang jauh.


Lia memandang cincin pernikahan dan bertanya dalam hati apakah semua itu nyata. Pernikahan ini, kebersamaan ini, apakah semua nya nyata atau hanya impian semu saja.


Entah berapa lama dia duduk dan termenung seperti itu. Entah berapa lama angannya melayang jauh. Dia teringat disaat pertemuan pertama dengan Jason, kencan dan ketika Jason mengatakan tentang pernikahan mereka.


Angannya melayang begitu jauh, hingga Lia tidak menyadari jika Jason sudah duduk dihadapannya. Pria itu memandang dirinya dengan penuh kasih sayang. Jason datang dengan membawa baki penuh makanan. Dia meletakan di meja kecil disamping Lia.


Saat Lia menegadahkan wajahnya, gadis itu terkejut. Jason sudah berada dihadapannya. Sesaat mata mereka bersitatap. Pandangan mata Jason begitu hangat. Sinar matanya menusuk kedalam kalbu Lia, mengetarkan perasan.


Lia memalingkan wajahnya. Dia tidak sanggup menatap mata Jason. Hatinya masih mengeras. Dia tidak ingin hanyut dalam perasaan yang dihantarkan oleh sinar mata syahdu pria disampingnya.


"Kau masih marah padaku?" tanya Jason lembut.


Lia diam.


"Jangan marah lagi. Maafkan aku jika sudah bersikap kasar kepadamu." Terlalu lembut kata-kata itu menyeruak masuk di pendengaran Lia.


"Aku semalaman panik mencari dirimu. Aku begitu mengkhawatirkan dirimu. Aku khawatir dirimu tersesat. Atau bahkan diculik."


Lia tersenyum sinis. Siapa coba yang mau menculik dirinya. Apa untungnya.


Cih! Gadis ini tidak juga menyadari betapa berharga dirinya. Jika saja saingan dan musuh-musuh Jason mengetahui keberadaan Lia, tanpa pengawalan yang ketat, mereka bisa saja menculik dirinya hanya untuk mengambil keuntungan.


"Kau belum makan seharian. Ini aku bawakan makanan untuk mu."


Lia tetap diam, mengacuhkan perkataan Jason.


Jason beranjak dari kursinya dan mengambil segelas air jeruk hangat kesukaan Lia. Dia menyodorkan kepada gadis itu.


"Minumlah sedikit. Ini air jeruk hangat kesukaanmu."


Lia memalingkan wajahnya.


"Ayolah, minum sedikit ya. Jangan biarkan perutmu kosong. Atau kau ingin minum sup?"


Jason meletakan air jeruk dan menggantinya dengan semangkuk sup.


Lia tetap diam tidak bergeming. Dia menutup mulut apalagi hatinya rapat-rapat. Segala kebaikan dan perhatian Jason, tidak dapat menembus sikap keras kepala Lia.


Jason meletakan sup itu kembali di meja. Di berjongkok dihadapan Lia.


"Lia, jangan marah lagi ya. Natali hanya lah seorang teman. Dia bukan siapa-siapa bagiku. Kau tahu bukan, aku hanya memiliki dirimu seorang." Ujar Jason dengan bersungguh-sungguh.


Lia berdiri, dia berjalan menjauhi Jason menuju ke jendela. Lia menatap langit cerah tanpa awan dengan bintang-bintang bertaburan, dari balik jendela kaca itu.


Jason menghampiri Lia, dia memeluk gadis itu dari belakang dengan penuh kerinduan. Mencium pucuk kepala Lia dan menghirup harumnya rambut gadis dalam pelukannya.


Jason menyinak rambut panjang Lia dan dikecupnya dengan lembut leher jenjang Lia.


"Jangan siksa aku dengan kemarahanmu. Jangan acuhkan aku Lia. Aku merindukanmu."


Lia masih diam mematung meskipun tidak lagi menolak pelukan Jason. Dia masih berusaha meresapi, memahami setiap perkataan Jason. Dia masih merusaha berkompromi dengan emosi dan keraguan dalam jiwa.


"Liaaa..." desah Jason lagi.


"Tinggalkan aku sendiri Jason. Aku ingin sendirian. Aku perlu waktu untuk memahami semua ini," ujar Lia dengan lirih.


Jason termangu. Enggam rasanya bagi Jason untuk melepaskan pelukannya dan meninggalkan Lia. Ingin rasanya dia menghabiskan malam ini dengan menikmati indahnya bintang yang bertaburan dan berkilauan di langit.


"Baiklah aku akan pergi meninggalkan dirimu. Aku harap kau mengerti, semua yang terjadi diantara kita bukanlah ilusi. Hubungan kita adalah nyata." Bisik Jason dengan putus asa.


Jason melepaskan pelukannya dan meninggalkan Lia sendiri.


...💗🌟💗🌟💗🌟💗🌟💗🌟💗...


Sabar Emak-emak Pkk, masih edisi baper dulu.


Jangan buru-buru heppy, biar feel nya dalem dulu, sedalem sumur.


Bersambung nanti malem yaaa . Hadewww review nya lamaaa