48 Months Agreement With CEO

48 Months Agreement With CEO
Menginap



Lia masih duduk di bangku menatap para seniman yang masih bekerja. Dia menahan rasa dingin dengan memeluk dirinya sendiri. Lia duduk diam sambil memakan rotinya dengan perlahan. Dia harus tetap berjaga jangan sampai kehilangan seniman jalanan itu.


"Hai," seseorang menyapa Lia.


Lia menoleh. Seorang wanita cantik dan masih muda duduk di sisinya.


"Hai," sapa balik Lia dengan lemas.


"Kau tersesat? Aku memperhatikanmu selama beberapa saat tadi." Ujar gadis yang ramah tersebut padanya.


Lia langsung melonjak gembira.


"Kau bisa berbahasa Inggris? Kau bisa mengerti aku?" tanya Lia dengan bersemangat.


"Tentu saja. Aku Emely." Gadis itu memperkenalkan diri.


"Aku Lia. Ah.. kau tahu aku senang sekali bertemu dengan mu. Aku hampir gila karena tidak ada seorang pun yang mengerti perkataanku." Ujar Lia dengan bahagia.


Lia menyodorkan sebuah rotinya yang masih utuh pada Emely.


"Tidak terimakasih," sahut Emely.


"Okey." Lia yang kelaparan memakan roti keduanya.


"Penduduk Prancis memang tidak semuanya bisa berbahasa Inggris. Rasa percaya diri akan bahasa mereka sangat tinggi. Hanya anak muda dan mereka yang bekerja di perusahaan asing yang bisa bahasa International." Emely menjelaskan bagaimana banyak sekali yang tidak mengerti perkataan Lia.


Lia mengangguk.


"Jadi kau tersesat?" Tanya Emely lagi.


Lia mengangguk.


"Aku pemilik boutiq La Moda. Kau tadi sempat masuk ke butiqku." Emely menjelaskan bagaimana dia mengetahui Lia.


"Benarkah? Ah... aku menyukai semua yang kau jual disana. Sangat indah dan menarik sekali," ujar Lia dengan gembira. Ternyata pemilik toko baju yang dia datangi dan sukai tadi adalah gadis ini dan dia bisa mengerti perkataan Lia.


"Kau tinggal dimana dan bagaimana hingga kau tampak tersesat?" Tanya Emely dengan penasaran.


"Aku tinggal di atas mansion dekat dengan danau. Sore tadi aku keluar untuk bermain di sekitar danau. Kemudian aku melihat dan mengikuti rombongan seniman tersebut. Sekarang aku tidak tahu jalan pulang, sepedaku pun hilang. Harapanku hanya pada para seniman itu," ujar Lia dengan sendu.


"Ah, kasihan sekali. Tapi para seniman itu biasanya aka tinggal bermalam disini dan baru kembali besuk sore, bergiliran dengan seniman lainnya." Ujar Emely.


"Apa? jadi aku harus bermalam dijalanan untuk menunggu mereka?" Tanya Lia dengan sedih.


Dia bingung, bagaimana jika dia ingin kencing. Lia tidak memiliki uang lagi untuk membayar toilet. Lalu bagaimana jika nanti malam udara semakin dingin. Biasanya selalu ada Jason disisinya yang akan memberi kehangatan.


Ingin menginap di hotel, dia tidak memiliki identitas dan uang. Hanya cincin pernikahan ini saja.


Lia memandang sedih dan putus asa cincin pernikahannya. Dia merindukan Jason. Dia berharap Jason akan datang dengan kuda putih dan menyelamatkan dirinya. Dia menantikan hal itu. Dalam hati Lia berteriak memanggil nama Jason.


"Kau bisa tinggal denganku. Bagaimana? Besok pagi aku akan mengantarmu kembali ke atas bukit." Emely dengan baik hati menawarkan bantuan.


Ah, Lia merasa gembira sekali mendengarkan tawaran dari Emely. Tentu saja Lia mau. Emely saat ini benar-benar dewi penolong bagi dirinya. Dia sangat senang sekali.


"Tentu saja. Terimakasih banyak Emely. Ahhhh kau memang dewi penolongku." Lia berseru dengan bahagia.


"Ayo, ikuti aku." Emely berdiri dan mengajak pergi Lia.


Mereka berjalan beriringan.


"Dari mana kau berasal?"


"Indonesia."


"Aku dari San Fransico."


"Pantas saja kau memahami perkataanku," Lia tertawa senang.


"Kau bilang jika dirimu tinggal di mansion dekat danau?" Tanya Emely.


Lia mengangguk. Ada beberapa Mansion di sekitar danau tersebut. Itu yang Lia tahu. Dan semuanya mewah.


"Apakah kau orang baru di sini? Apakah kau tinggal dengan salah satu dari pemilik mansion?" Tanya Emely lagi.


"Ah, malangnya nasibmu. Aku yakin kau bukan pelayan dari salah satu mansion itu bukan?"


"Apakah aku tidak seperti pelayan?" Tanya Lia balik.


"Pakaian yang kau kenakan terlalu mahal untuk bisa dibeli oleh seorang pelayan." Jawab Emely.


"Ah.. kau memang jeli."


"Tentu saja. Paris adalah kota Fashion. Lalu apakah kau kerabat dari mereka?"


"Aku menikah paksa dengan seorang pemilik mansion. Pria dingin, jelek, menjengkelkan yang selalu menyiksa dan mengancamku. Dia mengurungku selama berbulan-bulan dan selalu menuntut anak padaku." Cerita Lia dengan kesal.


Dia kesal karena Jason tidak juga menemukan dan menjemputnya saat ini. Lia menggigit rotinya dengan kasar, sambil membayangkan menggigit Jason.


Emely membelalakan matanya. Dalam bayangan Emely saat ini, Lia adalah wanita kesekian dari seorang geng mafia yang juga memiliki mansion di dekat danau. Pria gedut, tua, botak dan mesum, yang senang sekali mengoleksi wanita cantik.


"Bagaimana kau bisa keluar? Apakah mereka tidak akan menghukummu?" tanya Emely dengan bergidik.


"Ya, dia pasti akan menghukumku sangat berat kali ini." Ujar Lia dengan lemas. Dalam bayangan Lia, Jason akan mengetuk kan jarinya tanpa berhenti.


Sedangkan Emely bergidik membayangkan apa yang akan terjadi. Dan dia mulai menimbang apakah akan membantu Lia kabur atau mengantarkan gadis itu kembali kepada suaminya yang kejam. Atau meninggalkan saja gadis itu sendirian agar Emely lepas dari masalah.


"Kau yakin akan kembali padanya?" tanya Emely lagi dengan khawatir.


Lia mengangkat bahunya.


"Ya, walau bagaimanapun aku harus kembali padanya. Aku terikat kontrak dengan dirinya. Jika aku melanggar, dia pasti akan menuntut pada kakakku." Cerita Lia lagi.


"Ya Tuhan, malangnya nasibmu. Kau benar-benar sangat tabah. Kau bisa menceritakan semua dengan tenang. Jika aku jadi kau, lebih baik mataku buta daripada harus menikahi mafia gendut jelek dan suka bermain wanita." Cecar Emely dengan sangat prihatin.


Lia menoleh menatap Emely dengan bingung, mafia gendut jelek dan suka bermain wanita? Apakah tadi dirinya mengatakan hal itu? Atau Emely yang salah mengira. Tapi Lia tidak ambil pusing lagi, ketika Emely mengajaknya masuk pada sebuah restaurant yang nyaman,


the Brasserie.


"Kita masuk kesini? Tapi aku tidak punya uang." Ujar Lia dengan bingung.


"Tenang saja ini adalah restaurat milik sahabatku. Gabriel, dia cheft yang hebat disini. Dan aku tinggal di atas restaurant ini." Emely menjelaskan.


"Aaa..." Lia mengangguk-anggukan kepalanya.


"Kita akan membantunya sebentar sampai restaurant tutup pukul sepuluh malam. Kemudian, Gabriel pasti akan memasakan makanan yang lezat untuk kita. Aku jamin kau akan menyukainya." Ujar Emely sambil mengerlingkan matanya.


"Kau benar-benar dewi penyelamatku Emely. Aku sangat beruntung bertemu denganmu." Ujar Lia penuh semangat.


Lia sudah melupakan keresahan hatinya karena tersesat. Dia sudah tidak lagi merasa takut dan khawatir. Dia menemukan teman baru dan menikmati petualangan yang di alami nya hari ini. Bagi Lia, akibat tersesat hari ini, dia bisa menemukan teman baru yang tampaknya akan menjadi teman baik bagi Lia.


"Hai Gabriel, perkenalkan teman baruku, Lia." Emely memperkenalkan Lia pada Gabriel.


"Hallo," sapa Gabriel.


"Hai. Aku Lia." Sahut Lia dengan riang.


Lia tersenyum manis. Gabriel ternyata pemuda tampan khas Prancis yang masih muda dan sangat tampan. Lia batal mengutuk hari ini. Ternyata semuanya berakhir menyenangkan hari ini.


Dan lucunya the Brasserie hanya selisih dua toko dari boutiqe milik Emely, La mode.


Malam semakin larut, Lia tertawa gembira dengan Emely dan Gabriel. Menikmati masakan pria itu yang sangat luar bisasa enak, apalagi ketika perut kelaparan. Lia tidur dengan nyaman dan hangat bersama Emely, tanpa tahu di sudut jalan tepat di depan boutiq La mode, seorang pria yang gelisah tertidur di dalam mobil.


...💗🌟💗🌟💗🌟💗🌟💗...


Hayoooo ada yang inget gak, restaurant tempat abang Jason janjian dengan Natali?


Sabar yaaaa.... ini kisahnya baru selesai dari pagi sampai malam, terbagi beberapa bab. biar kepoooo wkakakkakaka.


Ini Visual Gabriel, cheft yang di perkenalkan oleh Emely.



Oh yaaa Ramein IG yukkk @taurus_mangatoon