
Lia terhuyung ke depan dengan memegang perutnya dengan tangan kiri. Sementara tangan kanan bersiap untuk menahan tubuhnya jika membentur lantai. Dia memekik tertahan. Tapi saat itu juga, sebuah tangan kokoh lainnya menangkah tubuh Lia.
Tangan itu menahan tubuh Lia, hingga tidak jadi jatuh membentur lantai. Lia bersyukur dirinya baik-baik saja. Masih dengan mengatur nafasnya yang tersenggal, gadis itu mendongakan kepalanya, hendak melihat wajah sang penolong, sekaligus berterimakasih.
"Gerald ...." Mata Lia terbelalak melihat sosok yang telah menolong dirinya. Sosok yang dia kenal dengan akrab. Sosok yang tidak pernah dia lihat itu dan sudah terlupakan, kini muncul kembali, setelah sekian tahun lamanya.
"Lia ...." Pria tersebut tampak sangat terkejut melihat Lia. Dia tidak menyangka bisa menjumpai Lia di Prancis. Gadis dihadapannya tidak tampak berubah, kecuali penampilannya yang lebih dewasa.
Sementara itu, Jason yang melihat Lia terhuyung sangat terkejut.
"LIAAAA!!!" Teriakan Jason terdengar sangat keras. Membuat setiap orang yang berada disisi lain pun langsung menoleh keasal suara. Jason dengan kuat dan cepat mendorong Benita, sehingga wanita itu terjungkal dan rok mini yang dia kenakan pun robek.
Jason bergerak cepat menghampiri Lia dan menarik wanita itu dari pegangan pria bernama Gerald. Jason memandangi wajah Lia yang tampak sedikit pucat. Tampak sekali jika Jason sangat mengkhawatirkan wanita dihadapannya.
"Kau tidak apa-apa?" tanya Jason dengan khawatir.
Lia menggelengkan kepalanya.
"Yakin? Tidak ada yang terbentur? Perutmu sakit? Kita langsung ke dokter?" Jason semakin panik ketika Lia memegangi perutnya.
"Aku tidak apa-apa. Tenang saja. Kebetulan Gerald menolongku," ujar Lia menenangkan.
Jason langsung menoleh pada sosok pria yang ada diantara mereka. Pemuda Asia dengan badan tinggi kekar dan kulit kecoklatan yang eksotis. Pemuda yang tampan dengan rambut hitam legamnya itu, memandang mereka penuh tanda tanya.
Mata kedua pria itu saling mengunci satu sama lain. Kedua mata tersebut lebih mengisyaratkan pada perselisihan daripada ucapan terimakasih. Apalagi Jason, bertambah tidak suka saat menyadari jika tangan pria itu masih memegang Lia.
"Lepaskan tangan istriku! Terimakasih untuk bantuannya." Jason menepis tangan Gerald dari tangan Lia.
"Istri?"
Bukan saja Gerald yang terkejut. Duo B yang ada disana menyaksikan itu pu menjadi terkejut. Benita dengan susah payah berdiri sambil memegangi rok nya yang sudah tersobek. Maksud hati mempemalukan Lia, kini malah dia yang malu. Belum lagi hak sepatunya yang terlepas.
Seorang pengawal yang menjaga Benita dan Belinda, maju dan melepaskan jas untuk menutupi rok mini Benita. Kening Benita mengkernyit melihat pria lain yang sama terkejutnya dengan dirinya. Siapa pemuda itu.
"Iya Gerald, ini suamiku Jason. Jason, perkenalkan ini teman ku dari Indonesia, Gerald." Lia memperkenalkan mereka berdua.
"Kau ____sudah menikah?" Suara Gerald tercekat.
"Iya. Dia istriku. Dan sedang mengandung anakku," ujar Jason sambil memeluk Lia.
Sesaat matanya mengunci pada Gerald. Namun, kemudian Jason teringat, bukan Gerald yang menyebabkan masalah ini. Tapi dua rubah betina yang ada dibelakangnya. Rubah betina yang harus dia panggang sampai hangus. Tanpa ampun.
Jason membalikan badannya. Menatap Benita dengan sangat tajam. Sorot mata Jason yang menghujam, membuat tulang belulang yang menyangga tubuhnya terasa lepas semua. Benita menjadi lemas. Dia tidak menyangka jika mata indah itu bisa berubah menjadi mata predator mematikan.
"Kau dalam masalah, nona!" desis Jason dengan geram.
"Sebaiknya kalian pergi dari sini segera, sebelum aku menyakiti kalian. Dan ingat! JANGAN BERANI-BERANI MUNCUL DIHADAPAN KAMI. Jika tidak, ucapkan selamat tinggal pada tubuh dan wajah yang kau anggap cantik."
Jason berbicara dengan tegas dan memberi tekanan pada setiap kata. Wajahnya keras tanpa expressi. Dia sudah tidak akan memberi ampun pada siapapun yang berniat mencelakai istri dan anaknya.
Benita hendak membantah, dia hendak beralasan jika dirinya tidak sengaja. Namun Belinda mencegahnya. Belinda yang sudah terjun dalam dunia politik dan bisnis memahami, akan sangat sulit berkembang jika dia melukai orang penting. Rencana dan keinginan mereka kali ini menjadi sia-sia. Belinda menarik tangan Benita dan pergi meninggalkan Jason tanpa berpamitan apalagi mengucapkan terimakasih.
"Kenapa kau mecegahku untuk menjawab pria sombong itu?" tanya Benita dengan gusar.
"Sudahlah, kita masih bisa mencari mangsa lain. Bukan dia satu-satunya pria yang berkuasa," sahut Belinda dengan tenang.
"Huh! Aku gemas sekali dengan mereka. Bagaimana bisa wanita itu mengejek dada indah kita. Apa mata pria itu tidak bermasalah?" dengus Benita yang masih kesal. Dia lupa jika sebelumnya kedua lututnya sudah gemetaran ketika dibentak oleh Jason.
Sementara itu _______.
"Kita pulang?!" ajak Jason.
"Iya," sahut Lia lemah.
"Gerald. Senang bertemu dengan dirimu. Terimakasih sudah membantuku," ujar Lia dengan tulus.
"Iya Lia. Kalau boleh, bisakah aku meminta nomor telphone istri anda, Jason?" tanya Gerald dengan sopan pada Jason.
Jason mengangguk dan membiarkan Lia memberikan nomor telphonenya. Gerald mencatat dengan cepat dan menyimpan nomor Lia.
"Baiklah, sampai ketemu. Aku harus segera kembali ke rombonganku." Gerald berlalu sambil melambaikan tangan.
Mata Jason dan Lia mengekori kepergian Gerald. Pemuda itu menghampiri rombongan tua dan muda. Ternyata Gerald adalah seorang tour leader. Dia memimpin rombongan untuk menikmati wisata berkelas di Prancis.
Lia memekik tertahan, ketika Jason tiba-tiba mengangkat tubuhnya. Gadis itu secara spontan mengalungkan tangannya keleher Jason. Saat ini Lia sudah ada dalam gendongan suaminya. Tangan Jason melingkar di punggung dan paha Lia. Mereka tampak sangat mesra, membuat setiap yang melihatnya bergumam. Begitu juga Gerald yang memandang mereka dari kejauhan.
Dari jauh dan dengan bergumam, Gerald berbisik pada dirinya sendiri, "Maafkan aku, Lia. Aku harap pria itu lebih bisa menjaga dirimu daripada diriku."
"Apakah kau mengenal mereka? Mantanmu yaaa?" goda salah seorang wanita serengah baya dalam rombongan turis.
"Ooo dia teman kuliah saya dulu. Sudah lama tidak bertemu, ternyata bahagia disini." Gerald tersenyum menanggapi gurauan mereka.
"Wah... beruntung sekali temanmu. Dia memperoleh suami yang sangat tampan dan romantis. Lihat aku sempat memfoto mereka," uajr salah seorang wanita sambil menunjuka foto dari kamera Nicon yang dia pegang.
Gerlad memandang foto itu dan tersenyum. Tampak sekali keintiman dari tatapan mata mereka berdua. Ada cinta yang meluap besar dari cara Jason memandang Lia. Gerald turut bahagia melihatnya. Meskipun ... ada sedikit rasa sesal dalam hatinya
"Gerald. Apakah sekarang waktunya makan? Kami ingin menikmati masakan Prancis yang terkenal."
"Tentu saja. Ayo rapatkan barisan, jangan sampai ada yang hilang disini ya. Sata tidak mau kita semua menghabiskan wakru bermain petak umpet disini. Sekarang waktunya, makannnn!"
Gerald bertepuk tangan perlahan, memberi tanda pada beberapa wanita setengah baya yang masih menyempatkan diri melirik kearah toko dengan harga barang yang menjulang tinggi.
"Ayo, makan! Makan!" Yel - yel mereka, tipikal orang Indonesia. ❤
...❤❤❤❤❤❤❤...
Jangan lupa Vote yaaaa .... Pahala mu besar di Sorga. 😘